NovelToon NovelToon
Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.

"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter: 34

Matahari mulai bergerak condong ke barat, memancarkan pendar keemasan di atas lapangan rumput luas yang terletak di bagian belakang rumah mewah Kevin.

Di sana, suasana terasa begitu dingin dan mencekam.

Puluhan pria bertubuh tegap dengan seragam taktis hitam pekat dan senjata laras panjang modular berdiri dalam posisi istirahat di tempat.

Mereka berbaris dengan simetri sempurna, membentuk tiga blokade regu yang memancarkan disiplin tempur tingkat tinggi.

Kevin Wijaya melangkah perlahan di depan barisan tersebut, didampingi oleh Tishon, Zidan, dan Eros.

Dengan kemampuan Tubuh Baja Dewa, Kevin bisa merasakan energi dan kesiapan tempur dari setiap personel warisan kakeknya, Jenderal Wijaya.

Ini bukan sekadar satpam penjaga ruko; mereka adalah tentara bayaran profesional yang loyalitasnya terkunci mati pada darah Keluarga Wijaya.

"Pasukan siap diinspeksi, Tuan Besar!"

seru Tishon,

suaranya yang menggelegar bagai guntur membuat dedaunan di sekitar lapangan bergetar.

Kevin mengangguk puas, berhenti tepat di depan barisan Regu Dua yang dipimpin oleh Zidan.

Pria metroseksual itu langsung menegakkan tubuhnya, membusungkan dada, dan memasang ekspresi paling karismatik yang dia miliki.

"Bagaimana kesiapan regumu, Zidan?" tanya Kevin tenang.

"Lapor, Tuan Besar! Regu Dua bukan cuma siap tempur, tapi juga siap meruntuhkan mental musuh dengan visual standar idola Korea,"

 jawab Zidan dengan nada penuh percaya diri, sembari memberikan hormat militer yang estetik.

"Kami baru saja memperbarui pelindung taktis kami dengan lapisan pelindung uv ekstra, agar kulit para personel tidak kusam saat patroli siang hari."

Eros yang berdiri di sisi kiri Kevin langsung mendengus sinis tanpa menoleh.

"Tuan Besar, saya menyarankan agar Regu Dua ditempatkan di barisan paling belakang saat pertempuran."

'Saya takut musuh tidak mati tertembak, melainkan mati ketawa melihat ada tentara yang membawa sunscreen di kantong amunisinya."

"Heh, Mantan Jagal! Menjaga penampilan itu bagian dari taktik psikologis!" balas Zidan tidak terima,

 matanya mendelik tajam ke arah Eros.

"Kalau muka kita mulus dan berkilau, musuh akan silau dan bidikan mereka meleset! Itu namanya sains militer modern!"

"Sudah, diam," potong Kevin dengan satu lambaian tangan.

Seketika, baik Zidan maupun Eros langsung menutup mulut mereka rapat-rapat. Kevin menoleh ke arah Tishon.

"Tishon, ada hal penting yang ingin kamu sampaikan tadi?"

Tishon melangkah maju, wajahnya yang sekeras batu gunung tampak berubah menjadi sangat serius.

Dia mengeluarkan sebuah gawai tablet militer dan membukanya di hadapan Kevin.

"Benar, Tuan Besar."

"Saat melakukan inventarisasi ulang terhadap seluruh dokumen lama peninggalan kakek Anda, Jenderal Wijaya, kami menemukan sebuah catatan hukum yang krusial," ujar Tishon,

 jarinya menggeser layar yang menampilkan cetak biru sebuah kawasan industri masif.

"Ini adalah kawasan pabrik peleburan baja dan perak seluas dua puluh hektar di daerah Bekasi."

"Aset ini... sebenarnya adalah milik sah almarhum ayah Anda."

Kevin mengernyitkan dahi, matanya menatap tajam ke arah layar.

"Milik ayah saya? Lalu kenapa aset itu tidak pernah sampai ke tangan Ibu Sri atau saya?"

"Karena aset tersebut telah direbut secara ilegal oleh Arta Group, salah satu konsorsium konglomerat hitam yang dulu memanfaatkan runtuhnya pengaruh keluarga kita setelah kakek Anda wafat,"

 jawab Tishon dengan nada suara yang memendam amarah.

"Saat ini, mereka menggunakan pabrik itu sebagai ladang uang utama mereka di koridor timur, memproduksi material konstruksi ilegal tanpa membayar sepeser pun hak royalti kepada keluarga Wijaya."

Mendengar nama Arta Group dan fakta bahwa mereka telah menindas ibunya dengan mencuri warisan ayahnya, rahang Kevin seketika mengeras.

Ding!

Sebuah layar hologram berwarna emas terang tiba-tiba muncul di depan pandangan Kevin, memutus keheningan dengan suara lonceng digital yang megah.

[Misi Utama Baru Diaktifkan: 'Ekspansi Koridor Timur & Rejuvenasi Warisan Ayah'!]

[Deskripsi Misi: Rebut kembali kawasan pabrik peleburan di Bekasi dari cengkeraman Arta Group. Hancurkan dominasi finansial mereka di wilayah tersebut dan kembalikan hak milik sah atas nama Ibu Sri dan Wijaya Holding dalam waktu 72 jam!]

[Hadiah Penyelesaian Misi: 51% Kepemilikan Saham Mayoritas Mutlak atas 'Grand Batavia Mall'—Pusat Perbelanjaan Mewah Terbesar di Jantung Kota Jakarta (Otomatis menjadikan Pengguna sebagai Raja Properti Segitiga Emas Jakarta).]

[Hukuman Kegagalan: Hak kepemilikan ruko Margonda dibekukan selama satu tahun.]

Kevin menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman dingin yang sangat berbahaya.

Hadiah dari Sistem kali ini benar-benar gila. Saham mayoritas mall termewah di Jakarta? Itu artinya derajatnya tidak hanya akan berada di puncak Kota Depok, melainkan langsung melesat menembus jajaran taipan elite tingkat nasional di ibu kota.

"Bekasi, ya? Jauh juga dari Depok, tapi sepadan dengan harganya," batin Kevin puas.

"Sistem, siapkan rute tercepatnya."

Kevin kembali menatap ketiga kepala regunya.

"Tishon, siapkan tiga puluh personel terbaik. Malam ini juga, kita berangkat ke Bekasi untuk mengambil kembali apa yang menjadi milik ayah saya."

"Eros, siapkan intelijen perimeter. Zidan, pastikan regumu tidak merepotkan."

"Siap, laksanakan, Tuan Besar!" seru ketiganya serempak.

Dua jam sebelum keberangkatan, di area garasi bawah tanah yang dipenuhi barisan mobil taktis lapis baja, kekonyolan dua kepala regu Kevin kembali pecah.

Zidan tampak sibuk menyemprotkan cairan dari botol kaca kecil berlogo mewah ke seluruh permukaan rompi anti-peluru miliknya.

Eros yang sedang membersihkan laras senapan runduknya di atas meja kayu, menatap kelakuan rekannya itu dengan pandangan jijik yang amat sangat.

"Zidan, apa yang sedang kamu lakukan pada rompi level IV itu?" tanya Eros, suaranya sedingin es.

"Oh, ini? Ini parfum khusus beraroma white musk dicampur ekstrak teh hijau, Eros," jawab Zidan dengan nada santai, kembali menyemprot bagian pundak rompinya.

"Bekasi itu terkenal panas dan berdebu luar biasa. Kalau kita bertempur dalam kondisi bau badan, fokus dan konsentrasi kita akan menurun drastis."

"Dengan parfum ini, setiap kali peluru musuh menyerempet rompi gue, aroma mewah akan menguar dan membuat musuh merasa inferior secara kasta sosial!"

Eros berdiri, menyarungkan pisaunya dengan sentakan keras yang menimbulkan suara klik yang tajam.

"Jika peluru Arta Group menembus kepalamu malam ini, Zidan... aku akan memastikan di batu nisanmu tertulis: 'Di sini bersemayam tentara paling wangi yang mati karena terlalu banyak bersolek'. Dan aku sendiri yang akan memimpin lagu pemakamannya."

"Heh! Mulut lu ya, Mantan Jagal! Bilang aja lu iri karena muka lu gak punya nilai jual di drakor!"

amuk Zidan sambil mengacungkan botol parfumnya bagai senjata api.

Sebelum pertengkaran mereka berubah menjadi baku hantam fisik, langkah kaki tegap terdengar menggema di koridor garasi.

Kevin Wijaya masuk dengan mengenakan jaket kulit hitam khusus dan celana taktis, memancarkan aura seorang komandan tertinggi yang tak terbantahkan.

Di belakangnya, Nabila dan Amanda ikut mengantar dengan tatapan penuh dukungan.

"Semua sudah siap?" tanya Kevin, menatap Zidan dan Eros secara bergantian.

Keduanya langsung menyimpan mainan mereka masing-masing dan berdiri dalam sikap tegap sempurna.

"Siap, Tuan Besar! Pasukan dan armada telah siap bergerak menembus jalur perbatasan timur!"

Kevin menoleh ke arah Nabila dan Amanda, memberikan kecupan lembut di kening kedua istrinya secara bergantian.

"Jaga Ibu di rumah. Mas pergi dulu untuk mengambil kembali warisan ayah."

"Hati-hati di jalan ya, Mas."

"Nabila sama Kak Amanda tunggu Mas pulang membawa kemenangan,"

ujar Nabila dengan senyuman tulusnya, sementara Amanda mengangguk mantap, memberikan kilatan mata penuh kepercayaan pada kekuatan suaminya.

Kevin melangkah masuk ke dalam mobil SUV lapis baja hitam paling depan.

Dengan raungan mesin yang bertenaga monster, konvoi kendaraan taktis Wijaya Holding melesat keluar dari gerbang benteng Depok, membelah kegelapan malam menuju Bekasi.

Babak baru ekspansi kekayaan dan pembalasan warisan darah sang mantan beban keluarga kini telah resmi dimulai, dan Arta Group sama sekali tidak tahu bahwa pemilik sah tanah mereka sedang datang untuk meratakan kesombongan mereka!

1
Alfan
👍👍👍
Seti Dean
Up lagi Thor cepet
Seti Dean
pengen jadi Nabila🤭
Le Meneral
Semngat terus Thor,
saran dong kalau bisa bikin cerita dengan genre komedi atau genre dewasa gtu hehehehe......
Dhewa Shaied
ceritanya ok cm izin thor.. sejak kapan orang ditaro di bagasi 😭😭😭😭
irena
lanjut thor
Tri Wahyuni
iya maaf kak ada kesalahan untuk penamaan karakternya, Skrang sudah di perbaiki,makasih udah ngasih tau ya kak👍
ラマSkuy
wait bukannya di bab sebelumnya nama ayahnya Viola itu Herman ya kok dibab ini jadi Wijaya 🤔🤔
ラマSkuy
awalan yang menarik untuk di baca Thor semangat terus berkarya 👍
Hentri Gunawan
lanjut Thor walupun beda dr yg kemarin
Tri Wahyuni: iya maaf ya soalnya kak soalnya kena revisi total
total 1 replies
Tri Wahyuni
jangan lupa kasih likenya ya kak
Hentri Gunawan
lanjut lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!