Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan suami sebenarnya
Salsa tidak pernah menjadi wanita yang naif. Ia tahu persis apa yang ia hadapi ketika memutuskan untuk mengikat Arkan dalam rantai pernikahan ini.
Kalimat-kalimat tajam yang dilontarkan Arkan beberapa jam lalu, tentang dirinya yang menyerupai wanita murahan, tentang kebencian yang mendalam, memang sempat membuat dadanya sesak hingga sulit bernapas.
Namun, setelah keheningan malam mulai mengambil alih kamar hotel yang megah itu, rasa sesak itu perlahan menguap, digantikan oleh dinding pertahanan ego yang kokoh.
Bagi Salsa, semua makian Arkan hanyalah kerikil kecil.
Itu adalah risiko yang sudah ia perhitungkan sejak awal. Ia sangat yakin, sekeras apa pun batu karang, jika terus-menerus dihantam oleh ombak, maka lambat laun akan terkikis juga. Begitu pula dengan hati Arkan.
Pria itu hanya butuh waktu untuk menyadari keberadaannya. Arkan harus tahu, dan suatu hari nanti pasti akan mengakui, bahwa tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang bisa mencintainya sebesar cinta yang Salsa miliki.
Arkan sering kali mencemooh perasaannya. Pria itu selalu mengatakan bahwa apa yang Salsa rasakan bukanlah cinta, melainkan sebuah obsesi gila yang egois dan merusak. Namun, Salsa menutup telinga rapat-rapat dari penilaian itu.
Di matanya, batas antara cinta yang agung dan obsesi yang membakar sangatlah tipis. Cinta yang sejati tidak selamanya harus berjalan di atas jalan yang lurus dan suci.
Jika ia harus menempuh jalan yang kotor, licik, dan penuh paksaan untuk mempertahankan pria yang dipujanya, maka ia akan melakukannya tanpa ragu.
Orang-orang bodoh di luar sana sering kali mengatakan bahwa cinta adalah pengorbanan. Mereka bilang, cinta yang tulus adalah ketika kita rela melepaskan dan melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain, meskipun hati kita sendiri harus hancur berkeping-keping.
Salsa selalu menganggap filosofi itu sebagai bualan terbesar kaum pecundang. Baginya, pemikiran seperti itu sangat menjijikkan. Cinta sejati tidak pernah mengajarkan kerelaan untuk kalah.
Untuk apa Arkan bahagia jika bahagianya bukan bersamanya?
Logika hidup Salsa sangat sederhana namun mutlak, jika ia mencintai Arkan, maka ia harus bahagia bersama dengan cintanya itu.
Tidak boleh ada skenario lain. Nabila tidak berhak mendapatkan setitik pun kebahagiaan dari pria yang sudah sah menjadi suaminya.
Keheningan kamar hotel malam itu tiba-tiba terusik oleh gerakan kasar dari sisi ranjang. Salsa yang sedang melamun dengan posisi duduk bersandar pada kepala ranjang, langsung menoleh. Ia melihat Arkan dengan sentakan kasar merenggut dua buah bantal besar dan selimut tebal dari atas tempat tidur berukuran king size itu.
"Kamu mau tidur di mana Arkan?" Tanya Salsa dengan kening berkerut. Nada suaranya terdengar heran, sekaligus terselip rasa tidak suka yang tertahan.
Arkan menghentikan gerakannya sesaat. Ia menatap Salsa dengan sepasang mata yang menyalang tajam, memancarkan kebencian yang begitu pekat hingga ruangan yang ber-AC dingin itu terasa semakin membeku.
"Jangan kira aku sudi untuk tidur satu ranjang denganmu!" Jawabnya dengan suara rendah yang penuh penekanan, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah racun yang harus disemburkan.
Salsa tidak langsung membalas. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap suaminya dengan pandangan menantang yang tidak mau kalah. Rasa manja dan keras kepalanya mulai terusik.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini Mas? Kita sudah menikah. Kita sudah sah secara hukum dan agama. Tidak ada kesempatan lagi untukmu kembali sama Nabila!"
Mendengar nama Nabila disebut dari bibir Salsa, rahang Arkan mengetat dengan keras hingga urat-urat di lehernya menegang. Ia melangkah satu tindakan lebih dekat ke arah ranjang, menunjuk wajah Salsa dengan bantal yang dipegangnya.
"Segala cara akan aku lakukan untuk bisa berpisah denganmu Salsa! Ingat itu!" Desis Arkan dengan nada mengancam yang sangat serius.
"Tunggu saja waktunya. Aku pasti bisa membalikkan keadaan dan menyeretmu keluar dari hidupku. Dan satu lagi, jangan pernah panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu! Aku tidak akan pernah sudi menjadi suamimu yang sebenarnya"
Setelah menumpahkan kemarahannya, Arkan berbalik dengan kasar, melangkah menuju sofa panjang yang terletak di sudut ruangan dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta.
Ia menghempaskan bantal dan selimutnya di sana, lalu merebahkan tubuh tegapnya dengan posisi memunggungi ranjang.
Salsa hanya bisa terdiam, menatap punggung tegap itu dengan kepalan tangan yang tersembunyi di balik selimut sutranya. Di dalam hati, Salsa ingin sekali mengutuk sofa kulit mewah itu.
"Mengapa benda mati itu harus ada di sana? Mengapa Arkan lebih memilih meringkuk di atas permukaan sofa yang sempit dan keras daripada tidur di atas kasur empuk yang nyaman di sampingku?"
Keangkuhan Salsa merasa tercoreng, namun ia memaksakan dirinya untuk tetap tenang.
Malam itu, tidak ada drama teriakan dari Salsa. Ia tidak bangkit dari ranjang, tidak menghampiri sofa itu, dan tidak menyeret Arkan dengan paksa agar kembali ke tempat tidur bersamanya. Kebanggaan dirinya sebagai seorang wanita sombong menahannya untuk mengemis secara fisik malam ini.
Salsa hanya diam. Ia duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di dada, dan matanya menatap lurus, tertuju pada punggung pria yang sudah memejamkan mata sejak satu jam yang lalu itu.
Entah apa yang berkecamuk di dalam kepala Salsa selama berjam-jam keheningan itu berlalu. Matanya sama sekali tidak berkedip memperhatikan setiap tarikan napas Arkan yang teratur
Apakah ia sedang merencanakan kelicikan baru? Atau apakah ia sedang menghitung sisa kesabarannya? Yang pasti, tatapan mata Salsa malam itu begitu intens, penuh gairah kepemilikan yang gelap, mengunci sosok Arkan dalam dunianya sendiri hingga fajar perlahan menyingsing di ufuk timur.
Keesokan paginya, sinar matahari yang cerah menembus celah-celah gorden hotel yang mewah. Namun, kehangatan pagi itu sama sekali tidak menyentuh atmosfer di dalam kamar.
Tidak ada ucapan selamat pagi yang hangat. Tidak ada sapaan manis atau pelukan erat dari seorang suami untuk istrinya, seperti skenario indah yang sejak bertahun-tahun lalu selalu Salsa dambakan dalam mimpinya.
Ketika kelopak mata Salsa perlahan terbuka karena silau matahari, pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah wajah tampan Arkan yang tertidur pulas, melainkan sosok suaminya yang ternyata sudah berpakaian sangat rapi.
Arkan sudah mengenakan kemeja bersih dan jasnya, berdiri di dekat meja kaca sambil merapikan jam tangan. Pria itu sudah sepenuhnya siap untuk melangkah keluar dan meninggalkan kamar hotel tempat mereka menghabiskan malam pertama.
Salsa langsung menegakkan tubuhnya, rasa kantuknya hilang seketika digantikan oleh detak jantung yang memburu karena rasa tidak terima.
"Mau ke mana kamu pagi-pagi seperti ini?" Tanya Salsa, suaranya agak serak khas orang baru bangun tidur, namun nadanya menuntut penjelasan.
Arkan membalikkan tubuhnya perlahan. Tidak ada sedikit pun binar ramah di wajahnya, hanya ada tatapan dingin yang sama seperti malam sebelumnya. Ia menatap Salsa seolah wanita di atas ranjang itu hanyalah tumpukan barang yang mengganggu pemandangannya.
"Sudah cukup kau menahanku semalaman di kamar ini dengan segala ancaman sialanmu itu, Salsa" Ucap Arkan, suaranya terdengar sangat sinis dan penuh kemenangan karena akhirnya bisa lepas dari kurungan. Ia melangkah menuju pintu utama tanpa berniat mendekati ranjang.
"Sekarang aku harus pergi. Terserah kau mau pulang atau tidak dari hotel ini. Kalau kau mau bertahan di sini lebih lama lagi, aku justru akan jauh lebih senang!"
Salsa terpaku, matanya melebar menatap ketidakpedulian yang begitu nyata dari suaminya.
"Arkan, kita baru saja menikah kemarin! Apa kata orang tua kita kalau kamu pergi begitu saja?!" Seru Salsa, mencoba menggunakan nama keluarga untuk menahannya.
Namun, Arkan bahkan tidak menghentikan langkahnya. Ia membuka pintu kamar dengan sekali sentakan, lalu menoleh sedikit tanpa memandang mata Salsa.
"Katakan pada mereka apa pun yang kau mau. Aku tidak peduli lagi"
Blam....
Pintu hotel tertutup dengan keras, meninggalkan bunyi klik pengunci otomatis yang menggema ngilu di dinding kamar.
Arkan benar-benar pergi, meninggalkan Salsa sendirian di tengah kemewahan kamar pengantin yang kini terasa seperti sebuah penjara yang sunyi dan dingin.
Salsa menatap pintu yang tertutup itu selama beberapa detik dengan napas yang memburu. Rasa manja dan egoisnya bergejolak hebat, membuatnya ingin melempar vas bunga di samping ranjang untuk meluapkan amarah. Namun, kesadaran lain yang lebih tajam segera menghantam kepalanya.
Sebuah kesimpulan langsung terbentuk di benaknya. Pagi-pagi sekali seperti ini, dengan ketergesaan yang begitu kentara. Arkan tidak mungkin hanya pergi ke kantor.
"Dia pasti menemui wanita sialan itu!" Gumam Salsa, suaranya bergetar menahan luapan cemburu yang membakar seluruh dadanya. Pikirannya langsung tertuju pada wajah Nabila.
Arkan pasti berlari kembali ke pelukan kekasihnya untuk mengadu, untuk mencari penghiburan setelah terpaksa menikahinya.
Salsa menyibak selimut sutranya dengan kasar, lalu berdiri di samping ranjang. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya yang dihias cantik menancap sakit ke telapak tangannya sendiri. Matanya berkilat penuh amarah yang berbahaya, memancarkan aura kegelapan dari seorang wanita yang terobsesi.
"Nabila, kamu pikir kamu bisa merebut suamiku setelah semua ini?" Desis Salsa pada ruangan yang kosong. Rahangnya mengatup rapat, dan giginya gemertak karena rasa geram yang tak tertahankan.
"Aku sudah mengorbankan harga diriku untuk berada di posisi ini. Aku tidak akan membiarkan wanita miskin sepertimu merusak apa yang sudah menjadi milikku. Aku harus mencari cara untuk membuatmu pergi sejauh mungkin dari kehidupan Arkan. Selamanya!"
Dengan tekad yang bulat dan hati yang semakin mengeras, Salsa melangkah menuju kamar mandi. Ia tidak akan tinggal diam dan menangis meratapi kepergian suaminya. Jika Arkan bisa bertindak kasar, maka Salsa bisa bertindak jauh lebih kejam untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya.
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
harus kuat...
sudah jadi resiko..
Semoga Arkan menjadi Gila
dan semua harta nya buat Ayu
itu rasa nya baru setimpal 🔥😡
anak usia 5 thn sekritis iniiiii
Dunia memaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya