"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Ruang Ajaib yang mempertemukan mereka
Dinda mengembuskan napas panjang, bersandar pada dinding kamar yang terbuat dari jalinan bambu, lalu jemari lentiknya perlahan mulai mengetik di atas layar ponsel.
Dinda: "Oke. Jadi awalnya tuh aku mau menyeberang jalan. Tapi... siang itu suasana jalan raya tuh lagi sepi banget, enggak ada kendaraan satu pun. Anehnya, saat aku sudah menyeberang sampai ke tengah, aku dikejutkan dengan mobil truk tronton besar yang melaju kencang banget mau menabrakku. Aku pikir tubuhku bakalan hancur ditubruk mobil segede rumah, tapi enggak tahunya aku masih hidup. Aku ngerasa tubuhku melayang, kayak terbang gitu. Pas buka mata, aku kaget karena diriku sudah berada di dalam hutan belantara..."
Pesan panjang itu terkirim. Tak butuh waktu lama, respons dari seberang dimensi langsung beruntun masuk.
Amanda: "What?! Di dalam hutan? Serius?!"
Lalita Sari: "Terus bagaimana? Nasib kamu gimana sekarang di sana, Dinda?"
Melihat perhatian dari teman-teman barunya, Dinda tersenyum tipis. Ia kembali mengetik dengan cepat, menyisipkan sedikit kebanggaan di dalamnya.
Dinda: "Yah, untungnya ada pemburu tampan yang menolongku. Namanya Wirandu, dia ganteng banget! 😍 Dia yang merawatku. Awalnya dia mengira aku ini dewi atau makhluk halus, karena kata dia... dia melihatku jatuh langsung dari atas langit."
Arya Setiono: "Hah? Jatuh dari langit? Macam bidadari saja 😂"
Dinda: "Yes! Dan yang paling bikin kagetnya lagi, aku pikir Wirandu itu pria kuno asli di zaman ini. Tapi ternyata, dia rupanya juga jiwa yang terdampar di zaman ini! 🤣 Dia cerita sama aku, nama aslinya di dunia modern dulu Wira Wicaksono. Tapi setelah jiwanya terlempar ke zaman ini dan masuk ke tubuh orang lain, namanya jadi Wirandu."
Dinda mengirimkan pesan itu lengkap dengan emoji tertawa terpingkal-pingkal.
Arya Setiono: "🤣🤣🤣"
Lalita Sari: "🤣 Ngakak banget cerita kamu! Tapi tunggu, berarti si Wira itu pasti enggak menyangka juga kan kalau kamu asalnya dari zaman modern?"
Dinda: "Yah, tadinya dia enggak tahu. Tapi karena dia memperhatikan pakaianku yang terlalu bagus untuk zaman ini, ditambah barang-barang modern yang aku keluarkan dari ruang ajaib... dia akhirnya bertanya terus terang, dan aku jawab jujur."
Namun, setelah Dinda mengirimkan pesan tersebut, suasana grup chat yang tadinya penuh tawa mendadak berubah serius. Seseorang tampaknya menangkap satu kata kunci yang krusial.
Raditya: "Tunggu, tunggu... Tadi kamu bilang 'Ruang Ajaib'? 🤔"
Lalita Sari: "Oh iya, ruang ajaib! Kamu punya ruang ajaib juga, Dinda?"
Amanda: "Eh, jangan-jangan...?"
Arya Setiono: "Kamu punya juga?"
Dinda: "Iya, aku punya! 🙂 Emangnya kalian semua juga punya? 🤨"
Raditya: "Modelnya gimana? Maksud aku, ruang itu terkoneksi dalam bentuk apa? Apa kayak gini... 👇"
Ting!
Sebuah pesan gambar masuk ke dalam ruang obrolan. Raditya mengirimkan sebuah foto.
Duarrr!
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Dinda terkejut bukan main. Napasnya seketika tercekat di tenggorokan, dan matanya membelalak sempurna menatap layar ponsel. Di sana, di dalam foto yang dikirimkan oleh Raditya, terpampang nyata sebuah cincin logam kuno berbentuk bulan sabit yang sangat, sangat familier. Modelnya, guratannya, bahkan atmosfer magis yang terpancar dari cincin itu... sama persis dengan cincin yang melingkar di jari tengahnya dan jari Wira!
Di dalam grup, pesan-pesan terus mengalir karena Dinda mendadak geming.
Amanda: "Eh, halo... Dinda? Kok malah hilang?"
Lalita Sari: "Dinda, jawab dong. Sama enggak?"
Arya Setiono: "Wah, jangan-jangan si Neng lagi syok nih."
Dinda masih didera rasa syok yang teramat sangat. Sekujur tubuhnya mendadak lemas. Dengan jari-jari yang gemetar hebat, ia mencoba menguasai dirinya, lalu menekan tombol kamera untuk memotret cincin di jarinya sendiri.
Dinda: "Iya guys, mirip banget... 😰"
Ting!
Dinda menekan tombol kirim, melampirkan foto cincin bulan sabit miliknya ke dalam grup "Pasar Pasebahan Jagad", menunggu ledakan reaksi selanjutnya dari orang-orang yang berada di seberang dimensi sana.
••••••••••••••••••
Amanda: "Gilaaaa! 😱 Sama persis, Guys...!" Amanda membalas dengan emotikon syok bukan main.
Arya Setiono: "Sebenarnya apa yang terjadi sih di antara kita? Kok bisa kebetulan banget? 😐"
Raditya: "Jangan bertanya padaku, akupun tak tahu 😑"
Lalita Sari: "Sudah, sudah... Jangan panik! Untuk sekarang kita ikuti saja dulu alurnya. Yang penting kita bisa saling komunikasi lewat chat room ini. Oke? Jangan panik, Guys!"
Amanda: "Iya, Guys. Lagian untung juga, kan? Dapat ruang ajaib yang isinya barang gratisan melimpah luah begini 😂"
Dinda menggigit bibir bawahnya, menatap lekat layar ponsel. Rasa penasarannya sebagai mantan anak zaman modern tidak bisa dibendung lagi.
Dinda: "Guys, ruang ajaib kalian modelnya gimana? Isinya sama juga?"
Lalita Sari: "Emang kenapa, Dinda? 🤨"
Dinda mengembuskan napas panjang. Ia memutuskan untuk membuktikannya sendiri. Sembari memegang ponselnya, Dinda perlahan menautkan jemari dan mengusap cincin bulan sabit di jari tengahnya, lalu memejamkan mata.
Wuzzzh!
Seketika itu juga, tubuh ramping Dinda berpindah tempat, bermaterialisasi di atas hamparan tanah hijau dalam ruang ajaib cincin. Dengan tangan yang sedikit bergetar karena sensasi aneh, Dinda membuka fitur kamera, memotret area sekitar termasuk pemandangan pohon buah, mata air, dan rumah minimalis di kejauhan, lalu mengirimkannya ke grup.
Dinda: "Apa tempatnya sama begini? 😶"
Detik berikutnya, layar ponsel Dinda seolah hendak meledak oleh rentetan pesan yang masuk.
Arya Setiono: "😱😱😱😱 Anjirrrr! Sama persis dong!"
Lalita Sari: "Dindaaaa! Kamu sekarang masih ada di dalam ruang itu, kan?!"
Dinda: "Iya, aku masih di dalam."
Lalita Sari: "Tunggu, aku nyusul! 🏃♀️"
Amanda: "Aku juga ikut masuk!"
Arya Setiono: "What?! Tunggu, gue ikut... Guys, tungguin!"
Raditya: "........?"
Dinda merasakan debaran aneh yang kian menggila di dalam dadanya. Ponselnya ia turunkan perlahan. Atmosfer di dalam ruang ajaib yang biasanya sunyi mendadak terasa bergetar, disusul dengan desiran angin yang berembus kencang dari berbagai sudut.
Wuzzzh! Wuzzzh! Wuzzzh!
Udara di sekitar hamparan rumput hijau itu mendadak bergejolak. Dinda reflek memutarkan kepalanya, memindai sekeliling dengan pandangan waspada sekaligus takjub.
"Dindaaaa...!"
Tiba-tiba, sebuah teriakan melengking memecah kesunyian. Dari balik pendar cahaya yang memudar, muncul sesosok wanita muda cantik yang mengenakan kemben kemewahan khas putri kerajaan berwarna biru gelap, lengkap dengan sanggul dan tusuk konde yang berkilauan.
Wanita itu berlari kecil menghampiri Dinda. "Kamu Dinda, kan?" tanyanya dengan napas sedikit terengah.
Dinda mengangguk kaku, masih terlalu syok untuk bersuara.
Wanita berbaju kemben itu langsung tertawa lepas, wajahnya tampak begitu lega. "Aku Lalita!" jawabnya riang.
Mata Dinda membelalak sempurna. Ia melangkah mendekat dengan perasaan tidak percaya. "Gila... Jadi kita beneran bisa ketemu secara fisik di sini?!" tanya Dinda girang, rasa takutnya langsung sirna.
"Heiiiii, Guys...!" teriak satu suara wanita lagi dari arah sisi kiri.
Kali ini, yang muncul adalah seorang gadis yang memakai setelan baju kebaya kutubaru berwarna hijau tua dengan kain jarik batik yang membalut pinggangnya.
Dinda dan Lalita serempak menoleh. Gadis berkebaya hijau itu—Amanda—berlari terengah-engah hingga berhenti tepat di depan Dinda dan Lalita.
"Guys, aku bener-bener enggak nyangka... Ternyata di dalam ruang cincin ini kita bisa saling ketemu langsung!" ucap Amanda sembari memegangi dadanya, matanya berbinar-binar menatap kedua temannya.
"Wahhhh, itu kalian ya?!"
Belum sempat mereka meredakan rasa takjub, suara bariton seorang laki-laki kembali terdengar. Dari arah kanan, melangkah seorang pemuda tegap yang mengenakan pakaian zirah prajurit kerajaan lengkap dengan pelindung dada. Tidak jauh di belakangnya, menyusul seorang pria tampan berwajah tenang yang mengenakan pakaian mewah khas keluarga bangsawan tinggi yang memancarkan aura sangat berwibawa. Itu adalah Arya dan Raditya.
"Aduh... beneran enggak nyangka, Guys. Kita yang cuma bisa chat-an di aplikasi, sekarang bisa kumpul begini," ucap Lalita dramatis, menatap satu per satu anggota grup yang kini berdiri melingkar.
Namun, setelah rasa antusias itu perlahan mereda, Dinda mulai menyadari ada sesuatu yang ganjil. Ia memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh teman-teman barunya satu per satu.
"Pakaian kalian... sama-sama kuno juga ya?" ucap Dinda, menyuarakan keanehan yang menggelitik otaknya. "Tapi modelnya agak berbeda-beda."
Dinda menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat ke dalam manik mata mereka semua. "Oh iya, omong-omong... sebenarnya kalian ini terdampar di daerah atau kerajaan mana saja sih?" tanya Dinda penasaran.
Mendengar pertanyaan polos dari Dinda, senyuman di wajah Lalita, Amanda, Arya, dan Raditya seketika menyusut. Mereka semua saling pandang satu sama lain, lalu mendadak terdiam seribu bahasa. Keheningan yang intens langsung menyelimuti ruang ajaib tersebut, menyadari sebuah kenyataan besar yang siap terungkap.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍