Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Mandul?
Satu Tahun Kemudian...
Suasana ruang makan yang biasanya hangat berubah menjadi begitu menyesakkan.
Kania baru saja meletakkan semangkuk sayur bening dan telur dadar di atas meja. Sejak subuh ia sudah berkutat di dapur, memastikan sarapan suami dan ibu mertuanya siap sebelum Firman berangkat bekerja.
"Silakan dinikmati sarapannya, Ma, Mas Firman," ucapnya lembut sambil menarik kursi.
"Sudah setahun menikah, kan?" sahut Tuti melirik sinis ke arah menantunya. "Perutmu masih juga kosong?"
Ruangan mendadak sunyi. Firman menghela napas pelan. Ia sudah hafal ke mana arah pembicaraan ibunya.
"Ma..."
"Apa?" potong Tuti. "Mama cuma ngomong kenyataan." Tatapan tajam wanita itu kembali mengarah pada Kania.
"Percuma saja rajin masak, rajin beres-beres rumah. Kalau tugas utama seorang istri saja tidak becus."
Jari-jari Kania mengepal di bawah meja.
"Maaf, Ma...."
"Maaf terus!" bentak Tuti. "Sampai kapan mama harus nunggu cucu?"
Firman meletakkan sendoknya. "Ma, soal anak itu rezeki. Jangan selalu menyalahkan Kania."
"Lho, memang siapa lagi yang harus disalahkan?" sahut Tuti ketus. "Firman sehat. Badannya kuat. Yang bermasalah kan istrimu."
Kania menundukkan kepala semakin dalam. Dadanya sesak, tetapi ia memilih diam.
Tuti belum berhenti. "Dari awal mama sudah bilang, pilih perempuan itu jangan yang punya kekurangan."
"Ma!" tegur Firman dengan nada meninggi.
"Apa Mama salah?" Tatapan Tuti menyapu kaki kiri Kania. "Sudah kakinya bermasalah, sekarang rahimnya juga jangan-jangan ikut bermasalah. Kamu mandul?"
Deg!
Kalimat itu menghantam hati Kania tanpa ampun. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia buru-buru menahannya. Ia tidak ingin menangis di depan ibu mertuanya.
Firman mengusap wajahnya kasar.
"Ma, cukup."
"Belain saja terus istrimu."
"Aku bukan membela. Tapi Mama sudah keterlaluan."
Tuti mendengus.
"Kamu itu terlalu dimabuk cinta. Perempuan seperti dia banyak kurangnya."
Kania buru-buru menyela. "Mas sudah, jangan bertengkar karena aku."
Firman menoleh. "Kamu diam saja, Sayang."
Tuti tersenyum sinis. "Nah, lihat. Selalu pasang wajah memelas."
"Mama!"
"Belum lagi dia itu dari keluarga miskin." Tuti menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Apa yang dibawa ke rumah ini? Tidak ada."
Kania menelan ludah. Kalimat itu jauh lebih menyakitkan dibanding hinaan tentang dirinya.
"Aku memang bukan berasal dari keluarga kaya, Ma."
"Syukurlah kalau tahu diri."
"Tapi aku selalu berusaha menjadi menantu yang baik."
"Halah." Tuti mencibir. "Kalau memang mau membantu ekonomi rumah ini, kerja sana!"
Kania terdiam. Kalimat itu membuatnya teringat sesuatu. Dulu, beberapa bulan setelah menikah, ia pernah mengutarakan keinginannya bekerja. Namun Firman menolaknya.
"Kamu di rumah saja. Aku sanggup menafkahi keluarga kita. Aku tidak mau kamu kelelahan."
Sejak saat itu Kania tak pernah lagi membahas pekerjaan. Kini, justru ia dihina sebagai wanita miskin yang hanya bergantung pada suami.
Firman kembali bersuara. "Ma, Kania sebenarnya mau bekerja."
Tuti mengangkat alis. "Lalu?"
"Aku yang melarang."
Kania menoleh cepat ke arah suaminya.
Firman melanjutkan, "Aku ingin dia fokus mengurus rumah. Jadi jangan salahkan dia."
Bukannya merasa bersalah, Tuti malah mendecak.
"Itu salahmu sendiri. Sekarang lihat. Menantu cuma bisa makan uang anakku."
"Ma!"
"Coba kalau kamu menikah dengan perempuan kaya. Minimal bisa bantu modal usaha."
Firman bangkit dari kursinya. "Sudah cukup."
Wajah pria itu tampak menahan marah.
"Aku capek setiap pagi harus mendengar Mama menyakiti hati istriku."
Tuti ikut berdiri. "Mama melakukan ini demi kebaikanmu."
"Tidak." Firman menggeleng. "Mama hanya sedang menyakiti orang yang tidak pernah melawan Mama."
Suasana menjadi semakin tegang. Kania buru-buru memegang lengan suaminya.
"Mas, sudah."
Firman menarik napas panjang. Ia tahu percuma berdebat. Ibunya selalu merasa paling benar.
"Aku berangkat kerja dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Firman mengambil tas kerjanya lalu melangkah keluar rumah. Kania segera menyusul meski langkahnya sedikit pincang.
"Mas tunggu!"
Firman yang baru membuka pintu mobil menoleh. "Ada apa?"
Kania berdiri di hadapannya sambil tersenyum kecil, seolah kejadian di meja makan tadi tidak meninggalkan luka apapun.
"Kamu mau mengeluh soal sikap Mama?"
Kania menggeleng pelan.
Firman mengusap pipinya lembut. "Sudah kubilang jangan dipikirkan. Mama memang begitu, Sayang. Lama-lama juga akan berubah."
Kania hanya mengangguk. Sebenarnya ia tidak yakin. Namun ia tak ingin menambah beban pikiran suaminya.
"Bukan soal itu, Mas."
"Lalu?"
"Aku butuh uang untuk belanja."
Firman tampak heran. "Belanja?"
"Iya. Beras tinggal sedikit. Sayur habis. Minyak juga tinggal seperempat botol."
Kening Firman berkerut. "Lho, bukannya uang belanja bulan ini sudah aku titipkan ke mama kemarin?"
Kania membeku. "Sama mama?"
"Iya." Firman mengangguk santai.
"Kata mama sekalian saja dititip saja. Mama juga mau bayar arisan, nanti sisanya diberikan ke kamu."
Firman tersenyum.
"Kamu tanyakan saja baik-baik ke Mama, ya."
"Iya, Mas."
Firman mengecup kening istrinya. "Jaga kesehatan."
"Iya." Kania mencium tangan suaminya. "Hati-hati di jalan."
Firman melambaikan tangan sebelum mobilnya melaju meninggalkan halaman. Senyum di wajah Kania perlahan menghilang. Ia menoleh ke arah pintu rumah.
Dadanya mendadak dipenuhi firasat buruk. Jika benar uang belanja itu sudah berada di tangan Tuti, akankah ibu mertuanya benar-benar menyerahkannya?
"Gimana ini?" gumam Kania ragu.
Kania menarik napas panjang sebelum kembali melangkah masuk ke dalam rumah.
Begitu tiba di ruang makan, ia melihat Tuti masih duduk santai sambil menikmati potongan pepaya setelah menghabiskan sarapannya. Wanita itu tampak begitu lahap, seolah pertengkaran beberapa menit lalu tak pernah terjadi.
Menyadari kehadiran Kania, Tuti buru-buru menyuapkan potongan terakhir ke mulutnya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi.
"Ada apa lagi?" tanyanya datar.
Kania meremas ujung bajunya, berusaha tetap sopan.
"Ma, boleh aku bicara sebentar?"
"Bicara apa?"
"Soal uang belanja."
Alis Tuti langsung terangkat. "Kenapa?"
"Kebutuhan dapur sudah mulai habis. Tadi aku sempat minta uang ke Mas Firman, tapi katanya uang belanja bulan ini sudah dititipkan ke Mama."
Bukannya mengambil dompet, Tuti justru menyilangkan tangan di dada.
"Uang?"
"Iya, Ma."
"Uang bulan kemarin sudah habis lagi?"
Kania mengangguk cepat.
"Iya, Ma."
"Halah, alasan."
"Tapi memang benar."
"Kamu itu boros!" Suara Tuti meninggi. "Baru pegang uang sudah minta lagi. Memangnya Firman itu pohon uang?!"
Kania menggigit bibir.
"Aku benar-benar butuh uang itu Ma. Jadi, bolehkah aku minta sekarang?"
"Tidak." Jawaban itu meluncur begitu saja.
Kania mengangkat wajahnya perlahan. "Tapi, Ma, beras tinggal sedikit."
"Masih ada."
"Minyak goreng juga hampir habis."
"Pakai seperlunya."
"Sayurnya...."
"Kalau tidak ada sayur ya makan tempe. Jangan manja!"
Kania menelan ludah. Ia berusaha tetap tenang.
"Ma, uang itu untuk kebutuhan rumah."
Tuti malah tersenyum sinis.
"Rumah ini sudah puluhan tahun Mama yang urus. Tidak usah mengajari Mama mengatur uang."
"Tapi aku hanya—"
"Cukup!"
Bentakan itu membuat Kania tersentak.
"Kamu pikir jadi istri Firman enak? Tinggal minta uang terus!"
"Aku tidak pernah minta untuk diriku sendiri, Ma."
"Lalu buat siapa?"
"Buat belanja, supaya kita bisa makan."
Tuti mendengus.
"Alah, paling nanti kamu sisihkan buat keluargamu yang miskin itu."
Mata Kania membelalak.
"Ma, jangan bicara seperti itu. Aku tidak pernah mengambil uang mas Firman untuk Ibu atau adikku kecuali atas izinnya."
"Siapa yang tahu isi hatimu?" ketusnya.
Kania hanya mampu menundukkan kepala. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak. Ia sadar, berdebat dengan Tuti hanya akan memperpanjang masalah.
TPI dia bilang adik satu satunya
dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...