RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Di ruang kerja Kepala Sekolah Bina Bangsa, udara terasa begitu padat hingga rasanya sulit bernapas. Setiap detik yang berlalu terasa seperti berjalan di atas permukaan es yang tipis. Sara berserta Chelsea dan sekelompok pengikutnya duduk berjejer menghadap kepala sekolah dengan wajah mereka yang babak belur kecuali Sara yang terlihat baik-baik saja tanpa sedikitpun goresan. Ia hanya duduk diam dengan ekspresi datar, seolah dunia di sekitarnya tidak ada artinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Siapa yang mau menjelaskan?!" Pak Gunawan, Kepala Sekolah yang dikenal tegas tanpa memandang bulu, mengucapkan kalimat itu sambil menatap setiap muridnya bergantian. Matanya yang tajam seolah-olah bisa menembus ke dalam jiwa mereka untuk mencari kebenaran.
Chelsea langsung menyambar dengan nada penuh drama, tangannya menunjuk ke arah wajah teman-temannya yang kini sedang meringis kesakitan. "Ini semua karena ulah anak baru ini, Pak! Dia tiba-tiba saja menyerang, lihat saja bagaimana wajah kami sekarang!" Suaranya terdengar keras dan penuh kesaksian, seolah dirinya benar-benar menjadi korban yang tak berdosa.
Setelah melontarkan ucapannya, dia menatap sekilas ke arah Sara dengan senyum sinis yang hanya bisa dilihat oleh mereka berdua. "Heh... Kau pikir bisa lepas begitu saja hanya karena Raven yang membelamu? Kau salah besar, gadis kampung!" gumamnya dalam hati, sambil menyembunyikan rasa dendamnya di balik wajah yang meminta belas kasihan.
Pak Gunawan mengangguk perlahan, seolah sedang memproses setiap kata yang keluar dari mulut Chelsea. Kemudian matanya tertuju pada Sara, yang masih duduk dengan wajah tanpa emosi seolah apa yang terjadi bukanlah hal penting baginya.
"Apakah yang dikatakan Chelsea itu benar, Savira?" tanya Pak Gunawan dengan nada sama tegasnya.
Sara mengangkat bahu dengan santai, lalu menjawab dengan tenang. "Iya, Pak. Saya yang menghajar mereka semua."
"Lihat kan, Pak! Dia sendiri mengakuinya! Kami tidak berbohong!" timpal Chelsea dengan cepat, matanya bersinar penuh kepuasan. Seolah perkara sudah selesai dan dia telah memenangkan pertempuran ini.
"Tapi saya punya alasan mengapa saya melakukan itu!" sambung Sara dengan nada yang tidak sedikitpun tergesa-gesa. Ia masih tetap duduk dengan tenang, seolah sedang membicarakan hal yang biasa saja.
"Baiklah, coba jelaskan apa alasanmu menghajar mereka semua!" ujar Pak Gunawan, dengan tatapan penasaran.
"Karena mereka yang duluan berniat jahat pada saya! Chelsea dan teman-temannya tiba-tiba menghadang jalan saya lalu menyeret saya ke gudang tua. Disini saya hanya membela diri, apakah itu salah, Pak?!" Sara akhirnya menaikkan nada suaranya, dan di tatapan kalemnya mulai muncul percikan amarah yang tertahan.
"Dia bohong, Pak! Kami hanya ingin mengingatkan aturan sekolah karena dia anak baru pindahan. Kami semua berniat baik, tapi tiba-tiba saja dia menyerang kami dengan sangat brutal!" timpal Rina sahabat setia Chelsea, disusul dengan kepala anggukan dari komplotannya yang lain.
"Buktinya sudah sangat jelas, Pak! Jika kami yang ingin menyakiti dia, bagaimana mungkin kami yang terluka parah seperti ini, sementara dia justru terlihat baik-baik saja tanpa sedikitpun luka!" tambah Chelsea dengan nada yang penuh keyakinan, seolah argumennya tak terbantahkan.
Pak Gunawan mengerutkan kening, matanya bolak-balik menatap Sara dan kelompok Chelsea. Ia mengangguk perlahan, apa yang dikatakan Chelsea memang masuk akal, membuat suasana ruangan semakin terasa tegang.
"Apakah kamu bisa menjelaskan hal ini, Savira?" tanyanya penuh selidik.
Sara hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi malas, seolah sudah bosan dengan drama yang dimainkan oleh Chelsea dan teman-temannya. "Itu karena mereka sendiri yang terlalu lemah, Pak," jawabnya dengan lugas, membuat beberapa orang di ruangan itu terkejut mendengarnya.
"Jika Bapak ingin tahu kebenaran sebenarnya, kenapa tidak memeriksa rekaman CCTV di sekolah? Jangan bilang sekolah sebesar dan se-'elite' Bina Bangsa tidak memiliki fasilitas seperti itu!" sambung Sara dengan nada yang sedikit menantang, membuat Pak Gunawan terkejut dengan keberaniannya.
"Dasar bodoh! Tentu saja tidak ada CCTV di gudang tua itu. Tempat itu sudah lama tak terawat dan tidak tercakup oleh sistem keamanan sekolah!" desis Chelsea dalam hati, sambil tetap memasang wajah menyedihkan.
"Sekolah memang memiliki CCTV di sebagian besar area, namun di bagian gudang tua itu memang tidak ada yang terpasang," ujar Pak Gunawan dengan jujur, melihat ekspresi Sara yang mulai berubah.
"Tetapi tenang saja. Saat orang tua kalian datang nanti, saya akan memeriksa rekaman CCTV yang mengarah ke koridor menuju gedung, mungkin ada yang bisa menjelaskan bagaimana kalian semua sampai di sana," tambahnya, membuat wajah Chelsea dan antek-anteknya mendadak pucat.
"Gawat! Jika Pak Kepala melihat rekaman CCTV di koridor itu, pasti akan terlihat kita yang menyeret dia ke arah gudang!" bisik Rina pelan pada Chelsea, matanya penuh rasa khawatir.
"Tenang saja! Aku sudah menyuruh seseorang untuk menghapus rekaman itu! Mereka tidak akan menemukan bukti apapun," bisik Chelsea dengan suara rendah namun penuh percaya diri.
Tak berapa lama kemudian, pintu ruangan terbuka perlahan dan masuk sepasang suami istri yang tampak glamor. Wanita itu mengenakan gaun mewah dengan aksesoris yang berkilau, sementara pria di sisinya mengenakan jas hitam yang rapi. Mereka langsung mendekat dan duduk di depan meja Pak Gunawan, dengan pandangan yang penuh kekhawatiran pada Chelsea.
"Aduh, Chelsea sayang... kenapa wajah kamu bisa seperti ini? Babak belur begini! Siapa yang berani melakukan hal kejam pada anakku?!" tanya Maya, tak terima.
"Siapa yang berani menyentuh putri saya?! Saya akan pastikan orang itu mendapatkan hukuman yang setimpal!" teriak Ricky, dengan wajah yang memerah karena marah. Matanya melotot tajam ke sekeliling ruangan seolah mencari siapa yang menjadi pelakunya.
Chelsea langsung mengangkat tangannya dan menunjuk tepat pada arah Sara, yang masih duduk dengan tenang seperti sebelumnya. "Itu dia, Pa, Ma! Dia yang melakukan semua ini pada kami!"
"Jadi kamu yang melakukan kekerasan pada anak saya?! Kamu tidak tahu siapa saya?!" tanya Ricky dengan nada yang penuh kemarahan, melangkah sedikit mendekati Sara.
"Enggak tahu. Emang Bapak siapa?" tanya balik Sara dengan wajah polos yang membuat Ricky semakin geram. Ekspresinya seolah benar-benar tidak tahu dengan siapakah dia sedang berbicara.
"Kamu! Berani sekali bicara begitu sama suami saya! Siapa namamu?! Dimana orang tuamu? Saya ingin melihat wajah mereka, bagaimana bisa mereka punya anak yang liar dan tidak tahu sopan santun seperti kamu!" timpal Maya dengan cepat.
Ketika nama orang tuanya disebut dengan cara yang merendahkan, ekspresi wajah Sara yang tadinya tenang tiba-tiba berubah. Di matanya memerah menahan emosi, dahinya tampak muncul urat kecil, dan tangannya yang berada di bawah meja mulai menggenggam erat hingga kulitnya memucat. "Pak! Bu! Perkenalkan saya Savira Aurelia Putri! Kalian tidak akan mudah bertemu dengan orang tua saya... kecuali..." ujarnya dengan suara yang rendah namun penuh dengan makna, membuat semua orang di ruangan itu terdiam dan menatapnya dengan rasa penasaran.
"Siapa sebenarnya gadis ini? Nama dia sama persis dengan nama anak yang hilang 12 tahun yang lalu... bahkan garis wajahnya juga sangat mirip dengan dia! Apa mungkin dia... ah, tidak mungkin! Jika dia benar-benar anak itu, pasti dia akan mengenal kami!" bisik Maya dalam hati, wajahnya menunjukkan rasa terkejut dan sedikit ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
"Jangan bicara omong kosong yang tidak jelas! Cepat panggil orang tua kamu ke sini sekarang juga!" tegas Ricky dengan nada yang tidak sabar lagi, menganggap kata-kata Sara hanyalah omong kosong seorang anak yang ingin menghindari tanggung jawab.
"Papa! Dia cuma gadis yatim piatu pindahan dari luar negeri yang tinggal sendiri!" ceplos Chelsea dengan nada merendahkan, ingin menunjukkan bahwa Sara tidak memiliki siapa-siapa untuk membela dirinya.
"Oh! Begitu ya! Pantas saja kamu tumbuh jadi gadis liar yang tidak tahu aturan! Kalaupun orang tuamu masih hidup, aku yakin mereka akan sangat malu punya anak yang seperti kamu! Hahaha!" sindir Maya dengan mulut pedasnya tanpa belah kasih.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan keras yang membuat semua orang terpana dan menoleh ke arahnya. Disusul sebuah suara yang tegas dan penuh kuasa menggema di seluruh ruangan:
"SIAPA YANG BERANI MENGHINA PUTRI KESAYANGANKU?!"
Semua mata langsung tertuju pada sumber suara tersebut, termasuk Sara yang tiba-tiba menunjukkan ekspresi terkejut yang sangat jelas di wajahnya. Saat melihat sosok yang datang masuk ke ruangan.
Bersambung...
Ayo Sara, kumpulkan semua bukti-bukti itu/Determined/, Ku menunggu pembalasanmu pada mereka, orang yang telah membunuh keluargamu, dan juga mengambil semua hak-hak yang seharusnya menjadi milikmu/Determined//Determined/