NovelToon NovelToon
Dimanjakan Oleh Cintanya

Dimanjakan Oleh Cintanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.

​Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.

​"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke rutinitas perkuliahan

​Waktu berjalan dengan begitu cepat. Beberapa minggu setelah insiden mengerikan di ruang rapat itu berlalu tanpa hambatan berarti. Tiga bulan menjalani masa magang di Wijaya Group memberikan banyak pelajaran berharga bagi Aira, baik tentang dunia kerja maupun tentang bagaimana kedewasaan membentuk dirinya untuk menjadi pendamping yang pantas bagi seorang CEO tertinggi. Sandra dan antek-anteknya sudah lama mendekam di balik jeruji besi, membersihkan sepenuhnya lingkungan kantor dari duri-duri yang beracun.

​Kini, waktu telah bergulir dan usia kandungan Aira sudah resmi memasuki bulan ketujuh. Perutnya yang dulu bisa disembunyikan di balik kemeja flanel longgar, sekarang sudah terlihat bulat sempurna dan membuncit besar, membawa bobot kehidupan baru yang kian aktif bergerak.

​Hari ini adalah hari pertamanya kembali aktif mengikuti kelas di kampus seperti biasa setelah menyelesaikan masa magangnya. Berbeda dengan berbulan-bulan lalu saat dia harus berdesakan di angkutan umum atau memesan taksi daring dengan hati-hati, kali ini keadaan sudah berubah total.

​Mobil Rolls-Royce hitam mewah milik Rayyan berhenti tepat di depan lobi utama gedung fakultasnya. Kehadiran mobil berkelas itu sontak langsung menjadi pusat perhatian ratusan mahasiswa yang sedang berlalu-lalang di koridor kampus.

​"Kita sudah sampai, Sayang," ucap Rayyan lembut.

​Pria itu tidak langsung membiarkan Aira membuka pintu sendiri. Rayyan mematikan mesin mobil, lalu turun terlebih dahulu. Dengan langkah tegap dan berwibawa, sang CEO mengitari kap mobil dan membukakan pintu penumpang untuk istrinya. Tangan besarnya dengan sigap melindungi bagian atas kepala Aira agar tidak terbentur pintu mobil.

​Aira keluar dengan anggun, mengenakan gaun hamil berbahan kaus premium berwarna pastel yang dipadukan dengan flat shoes yang nyaman. Begitu dia berdiri, perut buncit tujuh bulannya terlihat dengan sangat jelas.

​Rayyan tidak memedulikan kasak-kusuk dan tatapan kagum sekaligus penasaran dari para mahasiswa di sekitar mereka. Dia justru menggandeng jemari mungil Aira dengan sangat erat, lalu mengecup kening istrinya di depan umum tanpa rasa ragu sedikit pun.

​"Nanti siang aku akan menjemputmu tepat waktu untuk makan siang bersama. Jangan kelelahan, dan kalau dedek bayi mulai terasa berat atau menendang terlalu kuat, segera telepon aku atau Haris yang berjaga di luar gerbang, mengerti?" pesan Rayyan penuh perhatian, tangannya beralih mengusap lembut perut buncit Aira.

​Aira tersenyum manis, rona bahagia terpancar jelas dari wajah cantiknya yang kian memesona semenjak hamil tua. "Iya, Sayang. Aku mengerti. Kamu juga jangan terlalu lelah di kantor, ya."

​Mendengar perhatian dari sang istri, Rayyan mengangguk hangat. Dia melepaskan kepergian Aira dengan pandangan mata yang begitu protektif, memastikan langkah kaki istrinya benar-benar aman memasuki gedung kuliah. Aira berjalan dengan kepala tegak. Tidak ada lagi ketakutan atau keraguan di hatinya, karena dia tahu, dia berjalan dengan kekuatan penuh dari cinta dan perlindungan mutlak suaminya.

​Bisik-bisik kagum dan pandangan segan mengiringi setiap langkah kaki Aira di sepanjang koridor gedung fakultas. Berita tentang kebenaran status Aira yang ternyata adalah istri sah dari sang penguasa Wijaya Group rupanya telah menyebar luas ke penjuru kampus, terutama setelah insiden pemecatan massal yang sempat menggegerkan dunia korporasi beberapa bulan lalu.

​Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya tampak buru-buru meminggirkan tubuh, merasa segan bahkan takut untuk sekadar menyapa atau menatap langsung mata Aira. Mereka tahu betul, satu helai rambut saja dari Nyonya Besar Wijaya itu terusik, maka seluruh kekuatan hukum dan finansial dari raksasa bisnis negeri ini tidak akan tinggal diam.

​Namun, Aira tetaplah Aira. Kilau harta dan status sosial yang kini melekat padanya tidak sedikit pun mengubah kepribadiannya yang hangat dan membumi.

​Begitu melangkah masuk ke dalam ruang kelas, atmosfer canggung sempat menyelimuti ruangan. Teman-teman sekelasnya yang dulu sering mengobrol dengannya mendadak terdiam dan saling sikut, bingung harus bersikap seperti apa di hadapan istri seorang konglomerat yang kini tengah hamil tua itu.

​Melihat reaksi teman-temannya, Aira justru tersenyum manis tanpa ada ganjalan sedikit pun. Dia tidak sungkan untuk berjalan mendekati barisan bangku tempat teman-teman sekelasnya biasa berkumpul.

​"Selamat pagi semuanya. Wah, kok sepi banget? Belum ada dosen, kan?" sapa Aira dengan nada suara yang ceria dan ramah seperti biasanya.

​Mendengar sapaan akrab itu, ketegangan di dalam kelas perlahan-lahan mencair. Sifat ramah Aira yang sama sekali tidak berubah membuat teman-teman sekelasnya langsung mengembuskan napas lega.

​"Astaga, Aira! Kami kira kamu bakal berubah jadi sombong setelah tahu siapa suamimu!" seru salah satu teman dekatnya sambil menghampiri Aira dengan heboh, namun buru-buru mengerem langkahnya saat melihat perut buncit tujuh bulan Aira. "Eh, maaf... perutmu sudah besar sekali sekarang. Sini, biar aku bantu bawakan tasnya."

​Aira tertawa kecil, membiarkan temannya membantu meletakkan tas kuliahnya di atas meja. "Terima kasih ya. Aku tidak berubah kok, aku tetap Aira yang dulu kelas kita hukum korporasi bareng-bareng."

​"Wah, dedek bayinya pasti pintar banget ya, masih diajak kuliah terus sama mamanya," sahut teman yang lain, mulai berani mendekat dan menatap gemas ke arah perut bulat Aira. "Boleh aku elus perutmu, Ra?"

​"Tentu saja boleh," jawab Aira dengan senang hati.

​Di dalam ruang kelas itu, Aira kembali menikmati masa-masa indahnya sebagai seorang mahasiswi tanpa ada sekat pembatas kemewahan. Kerendahan hatinya membuat semua orang semakin menaruh rasa hormat yang tulus kepadanya. Di saat orang lain mungkin akan memanfaatkan posisi sebagai istri bos besar untuk bersikap angkuh, Aira justru memilih menjadi air yang tenang, membawa kesejukan bagi siapa saja yang berada di sekitarnya sambil menanti waktu persalinan buah hati tercintanya yang kian dekat.

1
Adinda
panggil itu ayang beb, honey, atau mas begitu Aira
Brenda
akhirnya 😄
Ryuu
cepet updateeee
Ryuu
👍
beybi T.Halim
aira payah.,🙈seharusnya dia faham apa yg terbaik untuk dirinya,yg punya suami penguasa bisnis, kesel lah akhirnya babynya jadi korban
Ryuu
Huhhh kerenn bgt
Ryuu
Baguss nggk ngebosenin sejauh ini
Ryuu
Keren bgt thor ceritanyaa
beybi T.Halim
🤭🤭hedeh..berbunga2 kertas tuu...dah bilang cinta aja susah bener lahh😁
beybi T.Halim
masa panggil nama?.,panggil mas kek apa daddy. kan romantis..sekalian jagiya lah🤭
beybi T.Halim
asek...ketahuan deh..lagi baby boom
beybi T.Halim
ada adegan pingsan gak yaa.,br ketahuan aira hamil,kok aku nunggu2 pov kepajikan seorang rayyan wijaya😁
beybi T.Halim
yaa semoga gak ada drama ulat2 lah br terkendali semua keromatisan sang penguasa🤭
beybi T.Halim
kesini dl...suka deh cerita romantis spek2 daddy 🤭😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!