Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Unggun, Jarak Usia, dan Peringatan Bagas
Malam merayap makin pekat di atas tebing Puncak Guha. Angin malam yang bertiup dari arah laut lepas kini terasa berkali-kali lipat lebih dingin dan menusuk tulang, memaksa siapa saja untuk merapatkan jaket mereka. Namun, dinginnya malam itu sedikit terhalau oleh kobaran api unggun kecil yang sengaja dibuat oleh gabungan kedua tenda. Suara gemeretak kayu yang terbakar berpadu syahdu dengan suara deburan ombak raksasa di bawah tebing.
Teman-teman kantor Tiara sudah masuk ke dalam tenda mereka lebih dulu karena tidak kuat menahan kantuk dan angin malam. Sementara Bagas, sengaja melipir agak jauh dengan dalih ingin menyeduh kopi instan lagi di dekat motor, memberikan ruang bagi Rian dan Tiara yang kini duduk berdampingan di atas sebatang kayu log besar menghadap api unggun.
Tiara merapatkan kedua telapak tangannya di depan api, mencari kehangatan sembari melirik Rian dari samping. "Kamu beneran gak berubah ya, Yan. Masih kuat sama angin malam. Dulu aja kalau kita motoran malam-malam, kamu cuma pake kaus oblong tapi aku yang udah menggigil pake jaket tebel."
Rian terkekeh pelan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket parka. "Tuntutan hidup, Ra. Di Jakarta kalau gak kuat angin malam bisa tipes duluan gara-gara lemburan kantor."
Tiara tersenyum manis, tatapannya beralih menatap lidah api yang menari-nari. Suasana hening sejenak sebelum Tiara berdehem kecil, memecah kecanggungan yang mulai merayap. "Ngomong-ngomong... kamu ke sini cuma bareng Bagas, Yan? Gak bawa... seseorang gitu?"
Rian menoleh, mengangkat sebelah alisnya. "Seseorang siapa maksudnya?"
"Ya... pacar kamu, atau mungkin calon?" Tiara memancing dengan nada bercanda, namun matanya menatap Rian dengan lekat, mencari jawaban. "Masa cowok se-perhatian kamu sekarang masih jomblo sih?"
Rian mendengus geli, menggelengkan kepalanya pelan. "Gak ada, Ra. Jangankan pacar, hilalnya aja gak kelihatan. Gue lagi fokus kerja dulu sekarang. Kalau kamu sendiri gimana? Cewek sesukses kamu di Jakarta, mustinya antreannya udah panjang dong?"
Tiara menghela napas panjang, sebuah senyuman getir terukir di bibirnya. Ia menggeleng. "Gak ada juga, Yan. Aku belum punya pacar lagi sampai sekarang. Setelah kita putus dulu... jujur, aku beberapa kali nyoba buka hati buat cowok lain. Tapi entah kenapa, rasanya selalu ada yang kurang. Ternyata nyari cowok yang bisa bikin nyaman dan klop itu gak semudah membalikkan telapak tangan."
Mendengar pengakuan Tiara, ada sesuatu yang berdesir aneh di dalam dada Rian. Ego cowoknya yang selama seminggu ini hancur lebur akibat pesona Adrian si sedan mewah, mendadak seperti mendapat suntikan energi instan. Fakta bahwa Tiara—mantannya yang kini menjelma jadi cewek karier yang sukses dan modis—ternyata masih sendiri dan secara tidak langsung merindukan kenyamanan bersamanya, membuat Rian merasa "berharga" kembali.
Tanpa sadar, Rian menggeser duduknya sedikit lebih dekat, memberikan senyuman termanisnya. "Masa sih? Ya mungkin kamu kriterianya kemahalan sekarang, Ra."
Tiara menoleh, mata mereka beradu di antara pendar cahaya jingga api unggun. "Nggak kok. Kriteria aku masih sama kayak dulu. Cuma kamunya aja yang sekarang makin susah ditebak," bisik Tiara dengan nada suara yang melembut.
"Heh, Malih! Sini lu bentar!"
Panggilan ketus dari arah belakang memutus momen magis tersebut. Bagas berdiri di dekat tenda mereka sambil memegang cangkir stanles, memberikan isyarat mata yang sangat tidak santai kepada Rian.
Rian mendesah pelan, lalu menoleh ke Tiara. "Bentar ya, Ra. Si Bagas manggil, kayaknya air kopinya udah mateng."
"Oh, iya santai aja, Yan," jawab Tiara dengan senyuman maklum.
Rian bangkit berdiri dan melangkah mendekati Bagas yang langsung menarik kerah jaket Rian ke balik bayangan tenda, menjauh dari jangkauan pendengaran Tiara.
"Lu ngapain sih, Yan?!" semprot Bagas setengah berbisik, matanya melotot tajam. "Gue perhatiin dari tadi sore gaya lu udah kayak fakboy senior ya. Modus-modus tipis, geser-geser duduk. Lu jangan plin-plan jadi cowok, Rian goblok!"
Rian mengernyitkan dahi, merasa tidak bersalah. "Plin-plan apanya sih, Gas? Gue cuma ngobrol biasa sama mantan, silaturahmi!"
"Silaturahmi dengkul lu mendelep!" ketus Bagas, menoyor bahu Rian gemas. "Lu jangan bohongin gue deh. Lu tuh lagi manfaatin Tiara buat pelarian kan? Gara-gara kemarin lu cemburu setengah mati lihat Bu Arini sama mantannya di lobi, sekarang lu nemu Tiara yang masih jomblo, terus lu gunain dia buat naikin harga diri lu yang lagi minder? Jangan jahat, Yan. Kalau lu sukanya sama Bu Arini, ya kejar Bu Arini. Jangan Tiara lu baperin lagi!"
Mendengar nama Arini disebut di tengah dinginnya Garut, wajah Rian langsung mengeras. Ia mendengus kasar, membuang mukanya ke arah laut lepas yang gelap gulita.
Rasa sesak yang sempat hilang sore tadi, mendadak kembali menyumbat dadanya.
"Gue gak ada niat jahat sama Tiara, Gas," sahut Rian dengan nada suara yang mendadak berubah dingin dan datar. "Dan soal Bu Arini... tolong stop bawa-bawa nama dia lagi. Dia itu atasan langsung gue di kantor. Lu tahu sendiri prinsip gue dari awal: gue haram pacaran sesama rekan kerja, apalagi sama atasan sendiri. Kerja pusing, ditambah drama asmara sekantor? Yang ada karier gue tamat."
Bagas bersedekap, menatap Rian skeptis. "Halah, alasan klasik! Bilang aja lu minder!"
"Bukan cuma soal posisi kantor, Gas!" sela Rian, suaranya agak meninggi namun tetap ia tahan agar tidak terdengar ke tenda sebelah. Napasnya berembus membentuk uap tipis di udara dingin. "Ada hal lain yang bikin gue sadar diri. Jarak usia gue sama Bu Arini itu lumayan jauh, Gas. Age gap kita itu enam tahun! Enam tahun, lu bayangin!"
Bagas sempat tertegun sejenak mendengarnya. "Hah? Enam tahun? Serius lu?"
"Iya! Gue baru dua puluh empat, baru ngerintis karier, masih ngontrak kostan sempit. Sementara Bu Arini udah dua puluh delapan, mapan, punya jabatan, tinggal di apartemen," lanjut Rian dengan tawa getir yang dipaksakan. "Dia itu wanita matang yang dunianya udah jauh di depan gue. Cowok yang pantas buat dia ya sejenis Adrian itu, yang udah setara. Bukan bocah ingusan kayak gue yang kalau akhir bulan pusing mikirin kuota internet. Jadi, mending gue tahu diri sebelum makin hanyut."
Rian menarik napas dalam-dalam, menepuk bahu Bagas yang kini terdiam seribu bahasa karena tidak tahu harus mendebat apa lagi.
"Makanya, Gas, kehadiran Tiara di sini... bikin gue ngerasa menapak ke tanah lagi. Semesta gue ya di sini, sama orang-orang yang seumuran dan sehobi sama gue. Bukan di lantai lima gedung korporat itu," pungkas Rian pelan. Tanpa menunggu jawaban Bagas, Rian membalikkan badannya dan kembali melangkah menuju api unggun, kembali duduk di samping Tiara dengan senyuman yang ia paksakan untuk kembali merekah.
Di belakangnya, Bagas hanya bisa menatap sahabatnya itu dengan helaan napas berat, tahu betul bahwa Rian sedang menuntun dirinya sendiri menuju jurang patah hati yang jauh lebih rumit.