Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Sejak tadi malam, rasanya Alice tidak bisa tidur dengan tenang. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Tapi ketika menghubungi Bu Neni, dan menanyakan tentang keadaan putranya semua baik-baik saja.
Bahkan Neil sudah tidur, setelah lelah bermain seharian katanya. Sudah mengetahui hal itu belum juga membuatnya tentang hingga saat ini.
"Elisa, ada apa?" tanya Andika melihat Elisa yang terlihat gelisah seperti itu.
"Oh, maaf Pak Andika. Saya tidak tahu Bapak di sini." ujarnya ketika melihat laki-laki itu.
Andika sendiri masih memperhatikan Elisa, apa ini berkaitan dengan kejadian beberapa waktu lalu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Andika memastikan.
Elisa terlihat mengangguk, Dia merasa bahwa dirinya baik-baik saja dan harus baik-baik saja. Dia tidak boleh membuat orang-orang yang berada di sekitarnya merasa khawatir.
"Saya baik-baik saja Pak. Kalau begitu Saya permisi." pamitnya pada Andika.
Alice kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Berharap perasaan yang bisa jauh lebih baik.
Hingga waktu makan siang, ponselnya berdiri dan itu panggilan masuk dari Bu Neni.
"Ya, halo Bu. Ada apa Bu?" ucap Alice ketika ponselnya tersambung.
"Bu?" panggil Alice lagi, ketika tidak ada jawaban apapun dari si penelpon.
"Apa ini anaknya pemilik ponsel ini?"
Deg!
Jantungnya langsung berdebar kencang ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu. Kenapa tiba-tiba ada orang lain yang menghubunginya dan bertanya apakah dia anak yang Bu Neni atau bukan.
"Ya, Saya anaknya. Ada apa, Pak? apa terjadi sesuatu pada ibu saya?" tanya Alice yang berusaha untuk tetap tenang, walau rasanya sangat sulit untuk melakukan semua itu.
"Saya dari kepolisian sektor 4. Terjadi kecelakaan seorang wanita berusia 54 tahun bernama Neni Sartika, dan seorang anak kecil berusia kurang lebih 7 tahun di sekitarnya sekolah Kejayaan, dan saat ini berada di rumah sakit Umum Kota."
Jeder!
Tubuhnya menegang kaku. Sumpah demi apapun, Alice tidak ingin percaya hal ini. Dia berharap bahwa dia tidak mendengar hal itu. Tidak, ini tidak mungkin terjadi.
"Halo?"
"Pak, apa Bapak tahu apa Bapak katakan saat ini? jangan main-main pak, ibu dan anak saya -"
"Silahkan datang ke rumah sakit umum kota. Korban sudah di bawa ke rumah sakit saat ini." ucap laki-laki tersebut yang mana membuat Alice langsung berlari dengan menggenggam ponselnya.
Andika yang melihat Alice berlari seperti itu langsung menyusulnya.
Brugh...
"Aahhrrrggg..." Alice terjatuh ketika berlari, karena hellsnya patah.
Kakinya terkilir, membuat Andika yang melihat itu langsung berusaha menolongnya.
"Alice, kamu baik-baik saja? kenapa berlari?" tanya Andika penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya nggak membuat wanita ini langsung berlari.
"Maaf, Pak. Saya harus pergi sekarang." ucapnya pada Andika.
"Tapi Alice, kaki kamu?"
"Permisi, Pak." pamitnya pergi dari sana menahan rasa sakit di kakinya.
Tujuan Alice saat ini adalah rumah sakit Umum Kota, seperti yang di katakan orang itu tadi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, dia benar-benar berharap bahwa ini semua tidak benar. Neil, bagaimana dengan keadaan putranya. Bagaimana dengan keadaan Neil sekarang?
"Neil?" panggilnya dengan berlinang air mata.
Sungguh, Alice tidak ingin hal ini terjadi. Putranya, Neil harus baik-baik saja. Ya, Neil harus baik-baik saja.
Sesampainya di rumah sakit, Alice langsung mencari keberadaan ibu angkat dan anaknya itu. Dia mencari keberadaan mereka, sampai bertemu dengan sosok yang memegang ponsel ibunya.
"Apa anda keluarga korban?" dengan berat hati Alice mengganggukan kepalanya.
Dia masih berharap bahwa semua ini tidak benar. Dia benar-benar berharap untuk semua.
"Silahkan ikut saya." kata dokter yang baru saja bicara dengan pihak kepolisian.
Alice mengikuti dokter menuju ruangannya, jantungnya tidak tenang, entah apa yang akan di jelaskan dokter ini padanya.
"Bagaiman dengan keadaan anak dan ibu saya, dokter?" tanya Alice dengan suara yang bergetar hebat.
Tangannya kebas, jantungnya berdebar tak menentu. Bukan karena jatuh cinta, tapi karna terlalu takut dengan kenyataan yang harus dia dengar.
"Ibu anda baik-baik saja, hanya tangannya yang patah. Selain itu tidak ada luka serius." ujar dokter berusaha menjelaskan.
"Lalu, anak saya?" tanya Alice lagi.
Kali ini jantungnya berdebar lebih kencang lagi.
"Untuk anak anda, kita harus segera melakukan operasi karena benturan di bagian kepalanya dan kehilangan banyak darah. Kita segera membutuhkan golongan darah AB- secepatnya, karena stok di rumah sakit hanya dua kantong dan kita membutuhkan lebih banyak lagi." ucap dokter membuat tubuh Alice luruh seketika.
Air matanya lolos begitu saja yang berusaha dia tahan sejak tadi.
***