Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADIK DI PUNGGUNGKU
“Nira. Nira, buka mata.”
Aku menepuk pipinya dengan ujung jari. Tubuhnya lemas di lenganku. Napasnya ada, tetapi pendek. Aku memanggil lagi sampai suaraku pecah.
Tidak ada rumah di tanjakan itu. Rumah terdekat berada di balik kebun singkong, kira-kira setengah kilometer dari jalan. Aku mengangkat Nira ke punggung. Kedua lengannya kujadikan lingkaran di leherku, lalu kupegang pahanya.
Tubuhnya tidak berat ketika berdiri diam. Setelah sepuluh langkah, rasanya seperti membawa sekarung jagung basah. Lututku gemetar. Sepatu kiriku terbuka lagi dan lumpur masuk sampai ke tumit.
Aku meninggalkan kedua tas di bawah pohon randu. Tongkat bambu kuselipkan di antara semak agar mudah ditemukan. Saat itu aku hanya memikirkan rumah yang ada asapnya.
Jalan menuju kebun singkong menanjak. Aku beberapa kali berhenti, membungkuk agar Nira tidak jatuh. Pipinya menempel di bahuku. Panas tubuhnya terasa melalui baju.
“Tolong,” teriakku. “Ada orang?”
Seekor anjing menyalak dari balik pagar. Seorang laki-laki keluar sambil membawa sabit. Aku mengenalnya sebagai Pak Darsa, petani yang sesekali lewat di sungai.
“Kenapa itu?”
“Nira jatuh. Dia habis demam.”
Pak Darsa menjatuhkan ikatan rumput dari tangannya. Ia membantu menurunkan Nira dan membawanya ke teras. Istrinya mengambil air dan kain. Setelah wajah Nira dibasuh, kelopak matanya bergerak.
“Kak?” suaranya nyaris tidak terdengar.
“Aku di sini.”
“Aku sampai sekolah?”
Aku ingin membentaknya. Yang keluar hanya, “Tidak.”
Pak Darsa mengambil gerobak kecil yang biasa dipakai mengangkut singkong. Bagian dasarnya dilapisi karung. Nira dibaringkan di atasnya, lalu ditutup kain. Aku berjalan di samping gerobak sambil memegang lengannya.
“Kita ke rumahmu,” kata Pak Darsa.
“Tas kami tertinggal.”
“Nanti diambil.”
“Tapi buku—”
“Buku tidak lari.”
Di bawah pohon randu, aku mengambil tas dan tongkat. Nira membuka mata sebentar ketika melihat tongkat buatan Ayah tergeletak di gerobak.
“Patah?” tanyanya.
“Enggak.”
“Kita terlambat?”
Aku tidak menjawab.
Ibu berdiri di depan rumah ketika suara roda gerobak terdengar dari pematang. Wajahnya berubah sebelum kami sampai halaman. Ia berlari tanpa sandal dan hampir jatuh saat menuruni dua anak tangga.
“Apa yang terjadi?”
“Nira pingsan,” kataku.
Ibu menatapku, lalu sepatu dan seragam Nira. “Kalian sampai mana?”
“Tanjakan randu.”
Tangannya berhenti di udara, seolah ingin memegangku dan Nira sekaligus. Pak Darsa membantu membawa Nira masuk. Ibu menyuruhku memanggil Bu Kemuning.
Aku berlari lagi, kali ini tanpa tas. Rumah Bu Kemuning berada di sisi lain dusun. Ketika kami kembali, Nira sudah sadar dan sedang minum sedikit-sedikit. Bu Kemuning memeriksa matanya, napasnya, dan suhu tubuhnya.
“Tubuhnya belum siap,” katanya. “Sudah kubilang jangan jauh dulu.”
Ibu menunduk. Ayah belum pulang.
“Aku yang mau,” kata Nira dari tikar.
Bu Kemuning menatapnya. “Kamu boleh mau. Badanmu tetap bisa menolak.”
Nira memalingkan wajah ke dinding.
Setelah Bu Kemuning pergi, aku duduk di bawah pohon nangka. Kedua tanganku masih gemetar. Di telapak tanganku ada garis merah dari kuku Nira ketika aku menggendongnya.
Nira keluar menjelang siang dengan selimut di bahu. Ia duduk di anak tangga, jauh dariku.
“Kak.”
Aku mengorek lumpur dari sepatu dengan ranting.
“Kak.”
“Apa?”
“Maaf.”
Aku berhenti mengorek. “Untuk apa?”
“Bikin Kakak enggak sekolah.”
Aku melempar ranting ke tanah. “Kamu pikir aku peduli satu hari?”
Nira menunduk. “Kakak pernah bilang nilai matematika turun.”
“Itu bukan karena kamu.”
“Tapi hari ini—”
“Tidak ada pelajaran yang lebih penting daripada kamu.”
Kalimat itu keluar terlalu keras. Nira terkejut. Matanya penuh air.
Aku langsung menyesal. “Maksudku...”
“Aku cuma mau sekolah.”
“Aku tahu.”
“Aku enggak mau jadi beban.”
“Kamu bukan karung singkong.”
“Aku tadi digendong kayak karung.”
“Karung enggak banyak bicara.”
Nira menangis sambil tertawa kecil. Aku menunduk agar ia tidak melihat mataku. Kami duduk begitu sampai Ibu memanggil dari dalam. Sebelum masuk, Nira menyentuh bahuku, tepat di tempat pipinya tadi menempel.
Sore itu Bu Satya datang bersama Gala. Mereka menemukan dua tas kami masih penuh lumpur. Gala membawa tongkat bambu sambil memainkannya seperti tombak sampai Bu Satya menyuruhnya berhenti.
“Kenapa tidak mengirim kabar dulu?” tanya Bu Satya.
“Aku kira Nira kuat,” jawabku.
“Dia yang memaksa,” kata Ibu.
Bu Satya tidak menyalahkan siapa pun. Ia duduk di dekat Nira dan bertanya bagian mana yang paling membuatnya takut tertinggal. Nira menjawab pelajaran membaca dan dikte.
“Baik,” kata Bu Satya. “Kalau kamu belum bisa datang ke kelas, sebagian kelas yang datang ke sini.”
Nira mengerutkan dahi. “Kelasnya dipindah?”
“Bukan semuanya. Teman-temanmu bergantian membawa tugas.”
“Pak Sasmita boleh?”
“Aku akan bicara.”
Gala mengangkat tangan seolah berada di kelas. “Aku bisa datang hari Minggu.”
“Kamu kelas lima,” kata Nira.
“Aku bisa memastikan Kakakmu enggak salah mengajar berhitung.”
Aku menendang ujung sandalnya. Gala tertawa, lalu melihat wajah Ibu dan segera diam.
Dua hari kemudian Windu datang bersama seorang anak bernama Rini. Mereka membawa buku tugas dan sebatang kapur. Perjalanan membuat rok mereka terkena lumpur sampai lutut. Windu tidak mengeluh. Ia hanya memandang sungai lama sekali sebelum masuk rumah.
Kami menyandarkan papan kayu bekas di dinding. Nira duduk di tikar dengan selimut menutup kaki. Windu menulis lima kata yang harus dibaca. Hurufnya kecil dan rapi. Rini membacakan cerita dari buku kelas dua, terlalu cepat sampai Nira menyuruhnya mengulang.
Ibu menyediakan air hangat dan singkong rebus. Windu makan satu potong. Rini makan tiga.
“Jalannya memang setiap hari begitu?” tanya Rini ketika hendak pulang.
“Kalau hujan lebih jelek,” jawabku.
Ia melihat sepatunya sendiri yang baru dan mengelap lumpur dengan daun. Setelah itu ia tidak bertanya lagi.
Dua hari berikutnya Gala datang bersama seorang anak kelas dua. Gala terpeleset di pematang dan masuk dengan celana kotor. Ia menceritakan kejatuhannya tiga kali, setiap kali menambahkan bagian baru yang tidak terjadi. Nira tertawa sampai batuk.
Rumah kami menjadi lebih ramai daripada biasanya. Papan kayu penuh angka, dinding ditempeli gambar, dan buku-buku bertumpuk dekat tikar. Nira masih cepat lelah, tetapi ia tidak lagi bertanya apakah kursinya akan dipakai untuk menaruh sapu.
Bu Satya datang setiap sore kedua untuk memeriksa tugas. Ia tidak selalu memuji. Jika tulisan Nira terlalu miring, ia menyuruh mengulang. Jika aku memberi jawaban terlalu cepat, ia menutup buku dengan telapak tangan.
“Biarkan dia berpikir,” katanya.
“Aku cuma bantu.”
“Kamu sering membantu sampai orang lain tidak sempat mencoba.”
Nira menjulurkan lidah kepadaku ketika Bu Satya tidak melihat.
Pada sore terakhir minggu itu, matahari sudah hampir turun ketika terdengar suara seseorang di luar pagar. Aku mengira Gala datang lagi. Namun, yang berdiri di dekat pohon pisang adalah Jalu.
Seragamnya masih rapi. Ia membawa sebuah buku tebal di dada. Ketika melihatku, ia mundur satu langkah.
“Mau apa?” tanyaku.
Jalu mengangkat buku itu sedikit, tetapi tidak masuk ke halaman.
“Ini... buat Nira.”
Ia tetap berdiri di luar pagar, seperti ada sesuatu yang lebih sulit diseberangi daripada sungai kami.