Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Bunga dan Duri
Suasana hangat usai makan siang di restoran balkon perbukitan itu masih menyisakan debar manis yang membuncah di dada Aura. Pengakuan cinta Reno yang jujur dan tegas yang menghapuskan batas pernikahan kontrak satu tahun menjadi janji abadi seumur hidup membuat seluruh beban keraguan di hati Aura sirna tanpa sisa.
Di dalam kabin mobil Lexus mewah yang melaju tenang membelah jalanan sore kota, keheningan di antara mereka tak lagi terasa canggung. Keheningan itu kini dipenuhi oleh aura kehangatan dan ketertarikan yang kian dalam.
Reno mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya yang tegap terulur menjangkau jemari Aura. Pria itu menggenggam tangan istrinya di atas paha, menyelipkan jari-jemarinya di antara jemari lentik Aura. Sesekali, saat lampu lalu lintas menyala merah, Reno berpaling, menatap wajah anggun istrinya yang terbalut kerudung berwarna pink lembut.
"Kenapa menatapku seperti itu, Mas?" tanya Aura pelan. Warna kemerahan alami merambat di kedua pipinya yang mulus saat mendapati tatapan mata tajam milik Reno yang penuh akan rasa kagum.
Reno tidak langsung menjawab. Pria itu menarik jemari Aura ke dekat bibirnya, mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di punggung tangan sang istri, membuat desiran halus menjalar dari telapak tangan Aura langsung menuju dadanya.
"Mas cuma masih tidak menyangka," tutur Reno dengan suara baritonnya yang rendah dan terikat emosi mendalam. "Wanita secantik, seanggun, dan sehebat kamu ini sekarang sepenuhnya milik Mas. Resmi, bukan cuma di atas kertas kesepakatan, tapi di dalam hati kita berdua."
Aura menggigit bibir bawahnya pelan, menahan kebahagiaan yang begitu meluap. Ia membawa tangan Reno yang bebas untuk digenggam dengan kedua tangannya, lalu menyandarkan pipinya yang hangat di lengan kekar suaminya itu.
"Aku juga, Mas... Aku bersyukur sekali sama Allah. Di balik ujian berat yang harus aku dan Ibu lewati, Allah ternyata menyiapkan Mas sebagai hadiah terindah dalam hidup aku," bisik Aura tulus. Suaranya selembut sutra, sarat akan kepasrahan dan cinta sejati.
Reno menghentikan mobilnya di area parkir khusus VIP di belakang gedung stasiun TV Adhyastha Media. Tempat itu relatif sepi dari jangkauan lalu lalang staf biasa, memberikan mereka privasi yang utuh di dalam kendaraan.
Meski mesin mobil sudah dimatikan, tak ada satu pun dari mereka yang bergegas membuka pintu. Reno melepaskan sabuk pengamannya, lalu memiringkan tubuhnya menghadap Aura. Tangan kekar pria itu terulur, jemarinya yang hangat dan perkasa menyusuri garis rahang Aura dengan sangat lembut, merapikan sedikit helai hijab yang membingkai wajah jelita istrinya.
Sentuhan fisik yang begitu dekat dan intim itu membuat napas Aura tertahan sejenak. Manik mata mereka bertabrakan, saling mengunci dalam getaran asmara yang tak lagi tertahankan.
"Mas..." bisik Aura tercekat, menatap kedalaman iris mata hitam pekat milik suaminya.
"Iya, sayang?" jawab Reno berbisik lembut. Wajahnya terkikis jarak, mendekat hingga Aura bisa merasakan terpaan napas hangat Reno di kulit pipinya.
Reno mendaratkan kecupan yang sangat lembut namun sarat akan kepemilikan di dahi Aura. Sentuhan bibirnya bertahan di sana selama beberapa detik, seolah menyalurkan seluruh rasa cinta, janji perlindungan, dan rasa syukur yang tak terhingga. Setelah itu, kecupan hangatnya turun perlahan membelai kedua kelopak mata Aura yang terpejam menikmati momen, sebelum akhirnya berlabuh di pipi mulus istrinya.
Aura melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Reno, merapatkan tubuhnya dalam dekapan hangat sang suami. Aroma parfum maskulin khas kayu cendana dan citrus dari tubuh Reno memenuhi indra penciumannya, memberikan rasa aman yang tak tergantikan oleh apa pun di dunia ini.
Reno mempererat pelukan, membiarkan detak jantungnya yang berpacu cepat beradu dengan detak jantung Aura. Ibu jari Reno bergerak perlahan, mengusap bibir bawah Aura yang sedikit terbuka, mengundang tatapan memuja yang semakin dalam. Aura dapat merasakan intensitas yang membara dari tatapan Reno, sebuah binar gairah yang tulus dan penuh penghormatan sebagai seorang suami.
"Kamu sangat indah, Aura. Setiap detik bersamamu membuat Mas merasa menjadi pria paling beruntung," bisik Reno tepat di depan bibir Aura. Kehangatan napas mereka kini menyatu, mengikis sisa jarak yang ada.
Saat bibir Reno akhirnya menyentuh bibir Aura, dunia di luar mobil seolah melebur lenyap. Kecupan itu bermula dengan kelembutan yang memabukkan, sebuah pagutan perlahan yang sarat akan kerinduan yang mendalam. Aura menyambutnya dengan kepatuhan yang manis, mempererat jalinan tangannya di tengkuk Reno, membiarkan dirinya tenggelam seutuhnya dalam gelombang keintiman yang menghanyutkan namun menenangkan jiwa.
"Hari ini siaran yang fokus ya, my news anchor," bisik Reno tepat di dekat telinga Aura, diiringi kehembusan napasnya yang hangat yang membuat bulu kuduk Aura meremang manis. "Mas tidak sabar menunggu jam siaranmu selesai. Begitu kamu turun dari panggung studio, Mas akan langsung jemput untuk bawa kamu pulang ke penthouse kita."
"Janji ya, Mas? Mas jangan telat jemput," sahut Aura seraya merenggangkan pelukan mereka sedikit, menatap penuh manja ke arah suaminya. Momen kemanjaan seperti ini adalah hal baru yang dulu tak pernah berani Aura tunjukkan saat status mereka masih dibatasi oleh dokumen kontrak dingin.
Reno terkekeh pelan, senyum tampannya mengembang sempurna. "Janji, my lady. Apa pun tugas kantor Mas, menyambut dan memeluk istri Mas saat pulang siaran adalah prioritas utama."
Dengan senyum berbinar dan rasa percaya diri yang berlipat ganda usai mendapatkan suntikan kasih sayang dari Reno, Aura merapikan posisi kerudungnya, mencium punggung tangan Reno sekali lagi, lalu melangkah keluar dari mobil menuju pintu masuk khusus staf.
Langkah kaki Aura yang terbalut high heels bernuansa nude terdengar berirama dan mantap menyusuri koridor marmer stasiun TV. Busana kemeja blazer bernuansa pink pastel dipadukan dengan rok panjang anggun dan hijab senada membuat penampilannya malam ini terlihat sangat elegan, berkelas, sekaligus memancarkan pesona bintang.
Sapaan ramah dari beberapa kru studio, kameramen, hingga staf teknis menyambut kedatangan Aura. Kehadirannya sebagai news anchor utama untuk program berita malam kian diperhitungkan setelah siaran perdana kemarin berhasil meraih rating dan pujian tinggi dari jajaran direksi.
Namun, di tengah atmosfer kerja yang dinamis itu, ada mata yang menatapnya dengan tatapan penuh duri.
Aura melangkah masuk ke dalam ruang rias dan ruang tunggu presenter yang bernuansa modern. Di sana, Siska sesama anchor yang sudah lebih lama bekerja di stasiun TV tersebut sedang duduk di depan cermin besar berhiaskan lampu-lampu terang. Siska tampak sengaja memoles ulang lipstiknya dengan gerakan kasar begitu menyadari kehadiran Aura melalui pantulan cermin.
"Wah, lihat siapa yang baru datang dengan gaya bak putri raja," cetus Siska dengan nada pasif agresif yang tajam dan ketus. Ia melempar lipstiknya ke atas meja rias hingga menimbulkan bunyi gertakan kecil. "Makin hari makin dianak emaskan saja ya. Rasanya porsi siaran utama berita malam seperti diborong sendiri tanpa bagi-bagi jadwal."
Aura yang sedang berjalan menuju mejanya untuk meletakkan tas genggamnya sempat terhenti sejenak. Ia menarik napas panjang, menetralkan emosinya agar tidak terpancing oleh provokasi yang kekanak-kanakan. Bagi Aura, ruang siaran adalah tempat membuktikan kualitas diri, bukan arena perdebatan iri hati.
Aura membalikkan badan, menatap Siska dengan raut wajah yang tetap tenang, anggun, dan penuh wibawa. Senyum tipis yang ramah namun berjarak terukir di bibirnya.
"Selamat sore, Mbak Siska," sapa Aura dengan nada suara yang sangat santun dan tenang. "Semua penugasan siaran kan sudah diatur dan ditandatangani langsung oleh Bu Maya dan tim redaksi. Saya hanya menjalankan tugas dan amanah yang diberikan sebaik-baiknya."
Mendengar Aura menyebut nama Bu Maya pimpinan redaksi wanita yang terkenal tegas, disiplin, dan sangat membenci politik kantor yang tidak profesional wajah Siska seketika berubah agak pucat. Bibirnya bergetar menahan kekesalan karena tahu ia tak bisa membantah kepemimpinan Bu Maya.
"Halah, tidak usah pura-pura polos begitu, Aura!" desis Siska pelan tapi penuh penekanan, berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Aura. Tangannya bersedekap di dada. "Semua orang di gedung ini juga tahu kalau kamu itu anak emas baru. Tapi ingat ya, di dunia penyiaran ini, popularitas instan itu bisa runtuh dalam sekejap kalau kamu buat satu saja kesalahan fatal di depan kamera live!"
Aura tidak sedikit pun gentar atau mundur dari gertakan Siska. Binar matanya tetap jernih dan tajam, memancarkan kedewasaan seorang wanita yang telah ditempa oleh berbagai ujian hidup.
"Terima kasih atas pengingatnya, Mbak Siska. Itu sebabnya saya selalu fokus bersiap penuh sebelum siaran, agar tidak melakukan kesalahan apa pun," jawab Aura mantap namun tetap sopan, membuat Siska makin gigit jari karena serangannya sama sekali tidak membuat Aura goyah.
Tepat saat ketegangan dingin itu menggantung di udara, pintu ruang rias terbuka lebar. Maya melangkah masuk dengan berkas berita di tangannya. Tatapan mata pimpinan redaksi yang tajam itu menyapu seluruh ruangan.
"Aura, Siska. Lima belas menit lagi siaran Live Program Berita Utama dimulai. Aura, masuk ke studio satu sekarang untuk cek mikrofon dan teleprompter!" perintah Maya tegas dan tanpa kompromi.
"Baik, Bu Maya. Saya segera ke studio," jawab Aura sigap dan profesional.
Sebelum melangkah keluar ruangan, Aura sempat menoleh dan memberikan anggukan sopan pada Siska yang hanya bisa berdiri kaku menahan rasa malu dan dengki di tempatnya.
Di balik senyum anggunnya, Aura sadar betul bahwa jalannya di stasiun TV ini tidak akan pernah sepi dari ganjalan iri hati. Namun dengan dukungan cinta yang tak terbatas dari Mas Reno, perlindungan dari Allah, serta ketulusan niatnya demi kesembuhan Ibunya, Aura siap bersinar dan menghadapi gelombang tantangan apa pun di hadapannya.