"Aku menyukaimu oppa, aku senang berada di sampingmu. Tapi apa kita bisa tetap bergandengan tangan seperti ini?" Batin Samira seraya menoleh laki-laki yang berjalan di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya_handa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembutt...
Jam pelajaran kedua, tidak ada guru yang masuk karena semua guru sedang rapat. Samira membuka buku pelajaran di jam tersebut, dahinya tampak berkerut tak mengerti dengan materi yang dibacanya. Bagas yang sejak tadi memperhatikannya, seolah mendapat celah baru untuk mendekati samira.
“Hay sam…” sapa Bagas dengan hangat. Samira hanya menoleh dengan ekspresi datarnya. “Lo udah paham belum materi yang dari bu sonya?” tanya bagas basa basi.
“Lo gag usah ngeledek, lo tau samira lagi semedi pas bu sonya nerangin.” Sahut Selly yang tidak suka dengan Bagas yang seolah menyindir.
Samira menepuk tangan Selly. Samira berfikir, mungkin ada untungnya juga kalo Bagas mau membantunya belajar.
“Belum… Lo mau bantu gue belajar?” tanya Samira dengan terus terang.
Bak gayung bersambut, air muka Bagas berubah seketika. “Boleh kalo lo mau. Diperpus aja gimana? Mumpung jam pelajaran kosong.” Ujar Bagas dengan semangat. Samira mengangguk setuju. “Yes!” Bagas terlihat begitu senang. “Ya udah, gue ngambil dulu buku catetan gue bentar ya…” lanjutnya dengan semangat. Samira kembali mengangguk. Bagas pun berlalu.
“Sam, lo cari mati ya? Itu si bagas lagi pedekate sama lo. Kalo pak barra tau, bisa perang lagi mereka.” Bisik Selly dengan gemasnnya.
“Iisshh lo berisik yaa. Gue cuma butuh dia bantuin belajar. Lagian, emang lo bisa jelasin materi bu sonya ke gue?” tantang Samira.
“Ya enggak, gue emang ngerti materi bu sonya, tapi gue gag bisa jelasinnya ke lo.” Sahut Selly.
“Ya udah, lo diem. Gue cuma belajar, catet!” tandas Samira dengan serius. Selly hanya bisa pasrah, membiarkan sahabatnya pergi bersama Bagas.
“Yuk sam!” ujar Bagas dengan senyum penuh kemenangan.
Samira pergi bersama Bagas, perasaan Selly mulai tak menentu.
Ternyata, bukan hanya Selly yang merasakan perasaan tak menentu, Intan yang sejak tadi memperhatikan pun ikut merasa kesal melihat Bagas yang pergi bersama Samira.
Intan berjalan menghampiri Selly. “Tumben lo gag ikut, lo gag di ajak?” ujar Intan dengan sinis.
“Mereka mau belajar, ngapain gue ikut.” Sahut Selly acuh.
“Belajar? Hahaha itu sih alesan temen lo doang. Yang gue tau, si samy lagi berusaha deketin bagas. Lo liat aja ntar.” ungkap Intan dengan wajah menyebalkan.
“Lo gag usah sok tau. Mendingan lo pergi dan tutup mulut lo.” Usir Selly yang mengibas-ibaskan tangannya mengusir Selly.
Intan tersenyum sinis seraya memandangi arah berlalunya Samira. “Bagian mana yang gue gag tau? Gue tau, samira itu cantik, tapi kalo kelakuannya minus, mana ada cowok yang mau. Dan gue juga tau, kalo samira itu anak yang gag diinginkan orangtuanya!” Ujar Intan dengan suara cukup keras. Sontak semua perhatian tertuju pada Selly dan Intan. Intan tersenyum seolah kemenangan ada di tangannya.
“Berisik lo! Pergi sana!” Selly mendorong Intan cukup keras.
“Sialan lo! Lo liat aja, lo bakalan nyesel ngebelain cewek nakal kayak samira. Lo tunggu aja kejutan lainnya dari gue.” tantang Intan dengan wajah kesal.
"BUK!!" Selly memukul mejanya dengan keras membuat Intan terdiam di tempatnya Seraya mengerlingkan matanya malas, Intan berlalu pergi meninggalkan Selly yang sedang menatapnya sinis.
****
Sementara itu, samira masih serius belajar dengan tuthor Bagas. Setiap penjelasan Bagas bisa ia mengerti dengan baik.
“Kalo yang ini gas?” tanya Samira sambil menunjuk salah satu point di materi tersebut.
“Oh kalo yang ini, lo bisa lihat halaman ini supaya lo ngerti maksudnya.” Bagas semakin mendekatkan tubuhnya pada Samira. Samira membuka-buka bukunya, mencari korelasi dari penjelasan Bagas, tidak memperdulikan sekali maksud bagas.
Samira mulai membaca materi yang ada di tangannya. Pikirannya mencatat semua yang di lihatnya.
“Gue kemana aja, materinya ada di sini semua tapi kok perasaan gue gag pernah liat…” batin Samira.
Samira kembali fokus pada buku dan alat tulisnya. Bagas bisa melihat dengan jelas wajah Samira yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Sangat cantik dan menggemaskan. Bibirnya bergumam membuat Bagas menggigit bibirnya sendiri.
“Sam, hari ini gue tanding final, lo bisa nonton kan?” tanya Bagas di sela-sela waktunya.
“Hem...” sahut Samira tanpa menoleh sedikitpun.
Bagas tersenyum senang. Semangatnya terasa mulai bertambah mendengar Samira akan datang.
“Oh iya, materi ini juga detailnya ada di buku lain.” Bagas menulis judul buku yang dimaksudnya. Tenaga ekstranya untuk membantu Samira belajar mendadak berkobar. “Nih, ini ada di toko buku mana pun.” Sambung bagas.
“Oh okey, nanti gue cari.” Sahut Samira.
“Gue bisa nemenin lo nyari bukunya kok sam.. Kebetulan deket rumah gue juga ada toko buku yang lengkap, gue sering beli buku di sana.” Terang Bagas sambil terus menatap Samira yang masih tertunduk.
“Hem..,,,” sahut Samira lagi agar tidak terlalu banyak bicara.
Bagas benar-benar bahagia. Ia sudah mendapatkan 2 kesempatan untuk pergi bersama Samira. Ia terus memandangi Samira tanpa berkedip dengan jiwa muda yang bergejolak dalam dadanya.
Handphone samira bergetar. Ia segera mengeceknya. Sebuah pesan masuk, dan membuat samira tersipu.
“Lagi dimana sam?” _ Mr G
“Perpus.”_ Sam
“Sama?”_ Mr G
“Temen”_ Sam
Barra tersenyum melihat balasan samira. Ia bisa menebak Selly lah yang menemani Samira di perpustakaan.
“Goodluck! Semangat sam…” _ Mr G. Samira membalasnya dengan emiticon love. Senyum Barra semakin melebar. Ia sudah tak sabar menunggu jam pelajaran berakhir. Ia ingin mengajak samira untuk makan siang bersama.
***
Bell akhir pelajaran berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Samira membereskan buku pelajarannya dengan cepat.
“Sam, jadi nonton kan?” tanya Bagas yang sudah berada di hadapan Samira.
“Iya…” sahut Samira.
“Kemana sam?” tanya Selly yang juga kebingungan.
“Nonton basket. Lo juga ikut!” timpal Samira santai.
Senyum Bagas mulai memudar. Ia tidak menyangka kalau Samira akan mengajak Selly. Padahal ia ingin sekali pergi berdua bersama Samira.
“Okey!” seru Selly.
“Samira, lo di suruh ke ruang BK.” Ujar salah seorang siswa.
“Ruang BK?” tanya Samira yang berharap semoga salah dengar.
“Iyaa… buruan lo di tungguin.” Ujar siswa tersebut.
“Iyaa, tar gue ke sana.” Sahutnya. “Kalian ke depan duluan, tar gue nyusul.” imbuh Samira yang bergegas membereskan barang-barangnya.
“Lo kena masalah apalagi sam?” tanya Selly yang sedikit gelisah melihat Samira yang lagi-lagi di panggil ke ruang BK.
Samira hanya mengangkat bahunya. Ia sudah pasrah kalau sudah ruang BK yang menunggunya.
Samira berjalan dengan cepat menuju ruang BK. Ia juga sudah penasaran, kesalahan apalagi yang akan membuat dia terkena hukuman.
Samira mengetuk pintu ruang BK perlahan.
“Masuk!” ujar seseorang di dalam sana. Samira memutar handle pintu dan mendorongnya perlahan. Terlihat Barra sedang duduk menunggunya.
“Selamat siang pak. Bapak manggil saya?” tanya Samira khawatir yang lain melihat jika ia tak bersikap sopan pada Barra.
“Iya, masuk. Sekalian tutup pintunya.” Titah Barra seraya tersenyum.
Samira berjalan mendekat menuju Barra yang sedang duduk di sofa. Terlihat Barra menepuk tempat di sampingya.
“Emang gag ada yang liat?” bisik Samira. Barra menggelengkan kepala. Samira kembali berjalan mendekati Barra, tiba-tiba Barra menarik tangan Samira, membuatnya terjatuh di pangkuan Barra. “Kak barra, ihh…” Samira mendorong pelan tubuh Barra.
“Kenapa?” Barra menatap Samira dengan tajam.
“Ini di sekolah tau. Kalo ada yang liat bisa bahaya.” bisik Samira yang ketakutan.
“Gag ada yang liat, ruangan ini jadi ruangan pribadiku.” Terang Barra sambil menarik pinggang Samira agar lebih mendekat.
“Kok bisa? Pantesan suasananya berubah jadi barra banget.” Ujar Samira seraya terkekeh.
“Barra banget? Maksudnya?” Barra mengernyitkan dahinya.
“Iyaaa,, rapi, wangi dan detail.” Puji samira yang menatap seisi ruangan penuh kekaguman.
Barra hanya terkekeh. Ia kembali mendekati samira, memeluknya dari samping, dengan tangan melingkar di pinggang Samira. Perlahan ia mencium rambut Samira yang terasa begitu harum.
“Gimana tadi test susulannya?” tanya Barra yang perlahan mulai mencium tengkuk Samira. Samira bergidik geli merasakan bibir lembut Barra mencium tengkuknya.
“Lancar. Tadi ujiannya sehabis pelajaran matematika. Untungnya jam pelajaran berikutnya kosong jadi ada tambahan waktu.” Ujar Samira sambil terus menggeliat dan berusaha menjauh dari Barra.
“Diem dong sam…” bisik Barra dengan lembut.
“Geli kak…” ujar Samira perlahan.
“Apanya?” tanya Barra sambil tersneyum gemas.
“Ini tangan kakak, bibir kakak…” ujar Samira seraya menoleh.
Bak mendapat kesempatan, Barra segera mengecup bibir Samira tiba-tiba. Mendapat serangan mendadak Samira hanya terdiam. Matanya mengerjap dengan pikiran yang mendadak kosong.
Merasa tidak mendapat respon, Barra melepaskan kecupannya.
“Kenapa?” tanya Barra dengan nafas menderu.
“Kaget,” ujar samira sambil tersenyum.
Barra ikut tersenyum. Ia kembali mendekati dan mengecup Samira, kali ini lebih lembut. Samira mulai membalasnya. Terdengar bunyi kecupan yang membuat Barra semakin bergairah. Perlahan tangannya mulai mengusap punggung Samira dengan lembut. Samira menggelinjang geli dan Barra semakin bersemangat.
Samira berusaha menahan tangan Barra, agar tidak semakin jauh. Bagaimana pun status mereka baru berpacaran, ia tidak mau melakukan hal yang belum seharusnya mereka lakukan. Barra mengakhiri kecupannya. Nafasnya masih menderu cepat.
“Kamu takut?” tanya Barra seraya menangkup wajah Samira. Samira mengangguk. “Maaf, harusnya aku gag lewat batas dan bikin kamu takut.” Lirih Barra seraya memeluk Samira.
“Jangan di ulang kak, aku gag mau kita hilang kendali…” tutur Samira yang masih memejamkan mata.
Barra mengangguk. Barra sadar, ia sedang benar-benar dimabuk cinta. Di tambah usianya yang sudah tidak muda lagi, membuat cara berfikirnya tentu mulai berubah. Sementara Samira masih terlalu muda, Barra tidak ingin membuat gadisnya trauma.
“Kak, aku mau nonton basket yaaa…” Samira berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Sama siapa?”
“Selly.”
“Tadinya aku mau ngajak kamu makan siang, tapi papah nyuruh buru-buru ke kantor. Kamu gag pa-pa kan?” ujar Barra seraya mengusap kepala Samira.
“Gag pa-pa, nanti aku makan bareng selly.” Sahut Samira dengan senyum manisnya.
“Okey, kabarin kalo mau pulang. Nanti di jemput.” Ujar Barra seraya mengecup pucuk kepala Samira.
Samira hanya mengangguk ia bergegas meninggalkan Barra. Bagas dan Selly pasti sedang menunggunya.
****