Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Girls Suport Girls
Di atas pelaminan megah berhiaskan ribuan mawar putih, Gavin dan Aruna baru saja menyelesaikan sesi foto formal bersama para kolega bisnis Dominic.
Saat antrean tamu berikutnya sedang diatur oleh pihak wedding organizer, Ethan melangkah naik ke undakan pelaminan dengan gaya kasualnya yang santai, menghampiri sepasang pengantin baru tersebut.
"Vin, Aruna," sapa Ethan sembari bersandar ringan pada pilar dekorasi di dekat kursi pelaminan.
"Kenapa, Kak Ethan? Ada masalah lagi di gerbang luar?" tanya Aruna siaga. Insting manajer korporatnya langsung aktif setiap kali melihat sepupunya itu mendekat di tengah penjagaan ketat barikade baja.
"Bukan masalah keamanan, Na. Ini masalah internal dinasti Sterling," kekeh Ethan.
Matanya melirik ke arah Gavin yang sedang menenggak air mineral. Ethan kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekat ke telinga Gavin dan berbisik dengan suara yang cukup keras agar Aruna juga bisa mendengar.
"Gue baru aja jadi saksi pembantaian harga diri di dekat meja bar. Kembaran lo, Bianca, baru aja sukses dapet nomor Narendra."
Gavin langsung menurunkan botol minumnya. Ia menaikan sebelah alisnya tipis dengan ekspresi tidak percaya.
"Hah? Si singa betina itu bisa kenalan normal sama cowok? Mukanya tadi kan kaku banget pas turun dari limosin Kak Dom."
"Normal apanya? Cara kembaran lo minta nomor itu bener-bener gila, Vin," bisik Ethan lagi, sekuat tenaga menahan tawa di dadanya.
"Dia nyodorin ponselnya ke depan dada Narendra pake gaya interogasi transaksi gelap. Terus dia ngasih Narendra dua pilihan, pertama ketik sendiri nomornya secara sukarela, yang kedua dalam waktu lima belas menit seluruh data pribadi, alamat kantor, sampai isi rekening bank Narendra bakal dilacak total pake jaringan intelijen Kak Dom biar Bianca bisa teror duluan."
Mendengar bisikan detail dari Ethan, Gavin seketika tertegun selama satu detik, berusaha mencerna kegilaan yang baru saja dilakukan oleh kembaran rahimnya tersebut.
Detik berikutnya, Gavin langsung tertawa terbahak-bahak hingga tubuh tegapnya terguncang hebat di atas kursi pelaminan. Suara tawanya yang renyah dan menggelegar memenuhi area panggung, menarik perhatian beberapa fotografer dan tamu undangan di barisan depan. Gavin sampai harus memegangi perutnya dengan tangan kanan, sementara kepalanya mendongak menatap langit-langit ballroom dengan tawa penuh kemenangan.
"Hahaha! Sialan! Itu bukan minta nomor, Than, itu namanya pemerasan berkedok asmara!" seru Gavin di sela tawa hebohnya. Matanya sampai sedikit berair karena saking lucunya membayangkan wajah perfeksionis Narendra yang kaku harus menghadapi gertakan maut Bianca.
"Gila si Bianca, urat malunya bener-bener udah putus semenjak mendarat dari negeri tetangga!"
Aruna yang berada di sebelahnya langsung menyenggol siku Gavin dengan keras, meskipun bibirnya sendiri tidak bisa menahan senyum geli mendengar kelakuan ipar barunya itu. "Gavin, ini di atas pelaminan, banyak tamu penting yang lagi lihat!"
"Nggak bisa, Kak, ini terlalu lucu," sahut Gavin. Tawanya berangsur mereda menjadi kekehan rendah yang sangat menyebalkan khas dirinya. Ia menyugar rambutnya yang tertata rapi, lalu melirik ke arah sudut lobi VVIP tempat Bianca sedang berdiri anggun memegang ponselnya dengan senyum miring penuh kemenangan.
"Gue harus kasih tahu Kak Dom nih. Bianca bener-bener mewakili garis keras keluarga Sterling kalau soal berburu mangsa." Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menepuk bahu Ethan.
"Tapi gue salut sama nyali Narendra. Berani-beraninya dia bikin kembaran gue sampai harus pakai cara radikal begitu cuma buat dapet kontak. Permainan mereka bakal seru banget setelah malam ini."
"Semua keluarga besar Caspian dan Erros mohon bersiap naik ke atas panggung untuk sesi foto bersama!" seru pihak wedding organizer melalui pengeras suara.
Bianca melangkah anggun menaiki undakan pelaminan dengan dagu terangkat. Gaun malam merah marunnya bergoyang mengikuti ritme langkahnya yang berkelas. Namun, begitu ia berdiri di sebelah barisan kursi pengantin, Gavin langsung menyambutnya dengan senyum miring yang paling menyebalkan.
"Wajah lo kelihatan cerah banget, Bi," ledek Gavin dengan suara setengah berbisik. Matanya melirik ke arah tas pesta kecil tempat Bianca menyimpan ponselnya.
"Gimana? Transaksi gelap di dekat meja bar tadi berjalan sukses? Nggak ada baku tembak, kan?"Bianca melotot tajam ke arah kembaran rahimnya itu.
"Lo diam ya, Gavin. Urus saja urusan rumah tanggamu yang baru seumur jagung itu."Aruna yang berdiri anggun ikut mencondongkan tubuh, menahan senyum geli di sebelah Gavin.
"Bianca, jujur saya kagum sama nyali kamu. Di Mahesa Group, manajer paling galak pun nggak ada yang berani memeras nomor telepon pria pakai ancaman pelacakan aset intelijen dalam waktu lima belas menit. Apalagi pria itu sang CEO Mahesa Group sendiri."
"Kak Aruna, jangan ikut-ikutan Gavin deh," gerutu Bianca.
Pipinya mendadak merona merah karena rahasia pengejarannya sudah bocor ke telinga sang pengantin baru.Sebelum Bianca sempat membela diri lebih lanjut, formasi foto keluarga mendadak bergeser karena keluarga besar mempelai wanita mulai berdatangan naik ke pelaminan. Dari arah kanan, Ethan berjalan mendampingi seorang wanita muda berwajah sangat cantik, modis, dan memiliki struktur rahang yang sangat mirip dengan Narendra. Wanita itu adalah Nareswari, kembaran dari Narendra.Rupanya, selama sesi foto transisi tadi, Ethan sudah menceritakan seluruh kronologi aksi nekat Bianca yang memeras nomor Narendra di dekat meja bar kepada Nareswari.
Nareswari melangkah mendekati posisi Bianca berdiri di barisan belakang foto. Bukannya marah karena saudaranya diancam, Nareswari justru menatap Bianca dengan binar mata yang dipenuhi rasa takjub sekaligus geli yang luar biasa.
"Nona Bianca?" sapa Nareswari ramah, setengah berbisik di antara kebisingan fotografer yang mulai mengatur posisi berdiri tamu.
'Ya?" jawab Bianca formal.
Nareswari terkekeh pelan, mendekatkan wajahnya ke telinga Bianca sembari pura-pura berpose menghadap kamera depan.
"Ethan baru aja cerita semuanya ke gue. Sumpah, gue sebagai kembarannya Narendra mau ngasih lo penghargaan setinggi-tingginya. Belum pernah ada cewek yang bisa bikin muka kaku abang gue jadi segusar itu cuma gara-gara dimintain nomor."
Bianca menaikkan sebelah alisnya, jiwa kompetitifnya kembali terusik.
"Abang lo itu jual mahalnya kelewatan, Nares. Makanya gue pakai cara keluarga Sterling."
"Dan cara lo itu seratus persen berhasil narik perhatian dia, percaya sama gue," bisik Nareswari penuh semangat, memberikan dukungan terselubung bagi sang putri mafia.
"Karena lo udah punya nomornya, gue bakal kasih satu bocoran rahasia berharga buat lo, Bi."Bianca langsung menoleh, matanya berkilat antusias.
"Bocoran apa?"
"Narendra itu pria perfeksionis yang super membosankan dan lurus. Dia selalu risih sama cewek-cewek manja yang menye-menye atau agresif dengan cara murahan," bisik Nareswari dengan senyum konspirasi yang manis.
"Tipe wanita idamannya dari dulu itu terstruktur banget. Dia suka wanita yang tegas, mandiri, punya dominasi kuat, dan berani menantang keteraturannya. Jadi, gaya mafia lo yang dingin dan penuh ancaman tadi... tanpa lo sadari sebenernya udah masuk dalam kriteria 'wanita berbahaya' yang diam-diam selalu bikin dia penasaran. Terusin aja gertakan lo, jangan kasih dia kendor."
Mendengar bocoran emas langsung dari kembaran targetnya, senyum miring kemenangan Bianca kembali terukir dengan sangat sempurna di bibirnya. Gavin dan Aruna yang melihat interaksi bisik-bisik itu dari kursi pengantin hanya bisa menggelengkan kepala, menyadari bahwa takdir Narendra tampaknya benar-benar sudah dikunci mati oleh aliansi baru antara Bianca dan Nareswari.
"Oke, semua menghadap kamera! Satu... dua... tiga... cheers!"
Cret!
Lampu kilat kamera fotografer menyala, mengabadikan momen pernikahan megah Gavin dan Aruna, sekaligus menandai dimulainya babak baru perburuan asmara Bianca Alexandra Sterling yang kini telah memegang kartu as terbesar untuk melunakkan es di hati Narendra Langit Mahesa.
***