SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 KEANEHAN GENDIS
"Kuk-kuk-kuruyuuuk"
Suara ayam jago kembali terdengar. Membuat Bu Fitri pun terbangun dari tidurnya.
Dengan rasa mengantuk yang masih ada, ia bergegas turun dari kasur. Dan segera ia menuju kamar mandi untuk mencuci muka terlebih dahulu.
Selesai dari kamar mandi, ia memeriksa sisa makanan yang masih ada di atas meja. Khawatir sayuran dan lauk-lauk menjadi basi setelah semalam ia makan bersama Gendis.
"Syukur lah, gak basi..." ucap Bu Fitri, sambil mencicip sedikit-sedikit sayuran dan lauk-lauk itu.
Kemudian ia mengambil segelas air putih panas dari dalam termos, lalu ia berjalan menuju ruang tamu, menatap ke arah jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04:46 pagi.
Bu Fitri pun duduk sejenak, menaruh segelas air putih panas itu di atas meja. Ia tidak menutup gelas itu, dengan tujuan agar menjadi hangat karena hawa dingin pagi yang masih terasa.
"Kemana ya si Bapak?" tanya nya dalam hati, saat menyadari sang suami belum juga pulang dari rumah Hasan sejak kemarin siang.
Tapi ia tampak tak terlalu khawatir. Hal itu disebabkan oleh sang suami kemarin sebelum berangkat, sudah memberikan sejumlah uang untuk membeli kebutuhan rumah.
Seakan-akan uang yang didapatkan Pak Diki dari mandornya itu menjadi "sogokan", agar Bu Fitri tenang dan tak banyak mempertanyakan apa yang dilakukan suaminya di rumah Hasan.
Tapi, saat sedang duduk sendirian di ruang tamu itu, Bu Fitri terlihat sedikit berpikir.
"Tumben banget ya? Suamiku bisa dikasih uang sebanyak itu kemarin sama mandornya..." gumamnya dalam hati.
"Apa emang beneran sekaya itu ya mandornya?" tanyanya lagi dalam pikiran.
Dan segenap pertanyaan lainnya yang muncul di kepala. Ia tampak beberapa saat terus memikirkan hal itu sendirian.
Tapi, sedetik kemudian, ia mengacuhkan semua pikiran-pikiran anehnya itu. Menganggap bahwa mungkin memang itu sudah menjadi rezeki untuk keluarganya.
"Ah, bodo amat deh, yang penting suamiku bisa dapet uang banyak tiap hari. Dari pada dia harus kerja tapi gak dapet uang yang banyak." katanya dalam hati, mengacuhkan semuanya.
Kini jam dinding menunjukkan pukul 05:16 pagi...
Karena Pak Diki, sang suami nya itu belum juga menunjukkan batang hidungnya di rumah, Bu Fitri pun ingin segera membangunkan Gendis. Khawatir jika sampai anaknya itu kesiangan dan terlambat ke sekolah.
Bu Fitri beranjak dari kursi ruang tamu, segera berjalan menuju kamar.
"Gendis... Bangun Nak..." ucapnya sambil berjalan mendekati Gendis yang masih tampak tertidur.
Bu Fitri akhirnya duduk di pinggir kasur, tepat di sebelah tubuh Gendis.
"Gendis... Bangun... Ayok, udah jam lima lewat Nak..." ucapnya lagi, berusaha membangunkan Gendis.
Akan tetapi, Gendis sama sekali tak bergerak, tak bergeming. Seolah anaknya itu benar-benar sangat pulas tidurnya.
"Aduuuh, tumben banget nih anak susah dibangunin..." gumamnya dalam hati.
Sekali lagi, Bu Fitri berusaha membangunkan anaknya itu.
"Nak, bangun... Ayok bangun ah, nanti terlambat ke sekolah loh kamu Nak." ucapnya sambil menggoyang-goyangkan kaki anaknya itu.
Tapi Gendis masih saja tak bergeming. Tubuhnya tetap lelap tidur di pandangan sang Ibu.
"Ya udah, nanti kalo kamu kesiangan, jangan salahin Ibu loh ya Gendis..." ucapnya agak kesal melihat anaknya susah untuk bangun pagi ini.
Akhirnya, Bu Fitri berjalan keluar kamar meninggalkan Gendis.
Ia segera mengambil handuk yang digantung di dinding depan kamar mandi, dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Segera ia melepas seluruh pakaiannya. Dan mengguyur air yang terasa dingin ke seluruh tubuhnya. Sedikit menggigil Bu Fitri merasakan air yang dingin itu.
Tiba-tiba, ketika sedang mandi itu, Bu Fitri mendengar suara gemerinting dari arah dapur.
"Eh, suara apa itu?" gumam Bu Fitri dalam hati.
Ia sampai mencoba menajamkan pendengarannya. Dan suara gemerinting itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas.
Suaranya seperti sebuah piring dan gelas yang beradu dengan sendok.
"Ah, apa Gendis udah bangun kali ya?" gumamnya lagi.
Dirinya mengira bahwa suara itu berasal dari Gendis yang berusaha mengambil piring dan gelas. Mungkin anaknya itu memang sudah bangun, dan langsung merasa lapar.
Akhirnya Bu Fitri melanjutkan mandinya sampai selesai.
Dan ketika sudah selesai mandi, saat ia membuka pintu kamar mandi itu...
Tiba-tiba...
"AAAHHH!!! Gendis???!!!"
Bu Fitri kaget bukan main saat mendapati Gendis sudah berdiri diam tepat di depan pintu kamar mandi.
Sejenak ia menatap Gendis, dengan jantung yang terasa hampir copot.
"Gendis! Bikin kaget Ibu aja sih kamu Nak?!" ucapnya.
Dan...
Gendis tersenyum, tapi terlihat datar ekspresi senyumnya itu...
Sambil menatap sang Ibu dengan dua mata putihnya...
Lalu, Gendis berkata pada sang Ibu...
"Buuu... Aku lapaaar... Aku mau makaaan..." suaranya terdengar datar. Tak seperti biasanya.
Akan tetapi, entah apa yang terjadi dengan Bu Fitri, seolah-olah dirinya tidak bisa menyadari perbedaan aneh pada anaknya itu.
Di mata Bu Fitri, Gendis tampak seperti biasanya...
Padahal, Gendis berdiri kali ini tanpa memegang tongkatnya...
"Ya kalo kamu mau makan, duduk di kursi meja makan sana! Ngapain kamu malah berdiri depan pintu kamar mandi begini Nak?" respon Bu Fitri.
"Bikin Ibu kaget kamu tuh... Kalo jantung Ibu copot gimana?" tambahnya.
Dan Gendis hanya merespon dengan senyuman yang masih terlihat datar...
Dan Bu Fitri masih saja tak bisa menyadari anehnya senyum Gendis itu...
"Awas ah, jangan halangi Ibu. Sana... Duduk di kursi meja makan sana..." kata Bu Fitri.
Dan dengan segera ia berjalan melewati Gendis yang masih berdiri di depan kamar mandi.
Bergegas Bu Fitri menuju kamar, dan segera memakai baju yang masih bersih di dalam lemari.
Setelah itu, ia kembali menuju dapur. Hendak membantu anaknya mengambil makanan.
Terlihat sudah ada piring dan gelas bersih di atas meja makan. Dan Gendis sudah duduk di kursi meja makan.
Tapi, Gendis duduk dengan tegak...
Tanpa gerakan sedikitpun...
Tanpa senyuman...
Tatapan mata putihnya lurus ke depan...
Bahkan, tongkatnya yang selama ini selalu ia pakai, tak ada di dekatnya...
Akan tetapi, lagi-lagi, Bu Fitri seolah "tertutup" matanya. Ia tak bisa melihat keanehan gelagat pada anaknya itu.
Bu Fitri malah merasa takjub, dan ia memuji anaknya itu...
"Waaah... Udah bisa ya kamu ambil piring sama gelas sendiri Nak... Pinter deh anak Ibu... Hehehe..." ucap Bu Fitri.
Gendis pun tak merespon sama sekali...
Dengan sigap, Bu Fitri mengambilkan nasi, kemudian menaruh sayuran, dan juga lauk di atas piring Gendis.
Tak lupa juga ia mengambil piring untuk dirinya, dan segera makan bersama Gendis.
Dan betapa anehnya Bu Fitri, lagi dan lagi, ia tak bisa melihat keanehan berikutnya pada diri Gendis.
Bu Fitri makan dengan lahap, namun masih tampak normal dan seperti biasanya saat ia makan.
Akan tetapi, Gendis...
Gendis makan dengan lahap, malah terlihat sedikit rakus...
Bahkan sendok yang ada di atas meja sama sekali tak disentuh oleh Gendis...
Gendis hanya menggunakan "tangan kiri" nya untuk melahap semua makanan yang ada di atas piring itu.
Padahal sebelumnya, jika Bu Fitri sampai melihat anaknya makan dengan tangan kiri, seketika ia akan menegur anaknya itu.
Bu Fitri bersama Gendis, melanjutkan sarapan pagi ini...
Dengan semua keanehan pada Gendis yang tak bisa "dilihat" oleh sang Ibu...
.....
.....
.....
Singkat waktu, jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 06.34 pagi...
Gendis pun berangkat ke sekolah...
Kali ini ia tak di antar oleh Bapaknya, karena sang Bapak belum juga pulang.
Sedangkan Bu Fitri, juga tak bisa mengantar anaknya itu ke sekolah. Karena kebetulan pagi ini, ada dua orang tetangganya yang datang ke rumah. Meminta tolong agar Bu Fitri membantu pekerjaan rumah dua tetangganya itu.
Terpaksa, Gendis berangkat sendiri ke sekolah dengan berjalan kaki.
Selama di jalan, Gendis memegangi tongkatnya dengan tangan kanan seperti biasa.
Akan tetapi, langkah kakinya kali ini terlihat lebih lancar dan agak cepat, meskipun masih dibantu dengan tongkatnya itu.
Dan ketika sampai di gerbang sekolah, Gendis segera disambut oleh satpam penjaga gerbang sekolah.
"Loooh... Kamu gak dianter sama Bapakmu?" tanya si satpam.
Gendis hanya menjawab dengan gelengan kepala pelan. Tanpa ada suara sedikitpun.
"Ya udah kalau gitu, buruan sana kamu masuk ke kelas. Sudah hampir jam 7. Sedikit lagi jam belajar mau dimulai." ucap si satpam.
Kondisi sekolah SD Gendis itu selalu terasa ceria dan penuh canda tawa dari seluruh murid-muridnya.
Sama seperti pagi ini, semua murid tampak bahagia, saling bercanda, bermain, dan apa saja tingkah mereka menjadi satu.
Namun, terlihat satu sosok murid yang berbeda di hari ini, yaitu Gendis.
Langkah kakinya yang masih dibantu tongkat, terlihat lebih lihai dan cepat dari biasanya...
Wajahnya terkadang senyum, namun dengan senyuman yang terasa datar...
Tatapan mata putihnya tampak seperti biasa, tapi terasa lebih tajam...
Dan...
Tak ada satu pun dari seluruh murid dan warga sekolah di sekolah SD itu yang menyadari, bahwa telah terjadi sesuatu pada Gendis saat tengah malam tadi...
Bahkan Ibu Gendis sendiri pun tak mengetahui semua kejadian mengerikan itu...
DAN TAK ADA YANG BISA MENGETAHUI...
BAHWA SEBENTAR LAGI AKAN TERJADI SESUATU YANG MENGERIKAN DI SEKOLAH SD ITU...
😆😆 lanjut kak👍👍👍