❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 - Night Changes
Langit cerah telah berganti menjadi gelap.
Setelah selesai menunaikan salat isya, aku melipat mukena dan meletakkannya kembali di tempat semula. Baru saja aku hendak beranjak, ponselku berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Pesan itu dari Lila.
[Nay, drama oppamu tayang bulan depan nih.]
Aku langsung membuka pesan itu dan mengklik tautan yang ia kirimkan. Sebuah trailer drama terbaru Lee Jun-ha pun muncul di layar ponselku. Di pojok kiri bawah tertulis jadwal penayangannya. Bulan depan, pukul sembilan malam waktu Korea.
Mataku berbinar.
Lee Jun-ha benar-benar terlihat keren mengenakan jas rapi sebagai seorang jaksa. Tatapannya yang tajam dan pembawaannya yang tenang membuatku semakin tidak sabar. Sementara itu, Park Mina tampil sebagai reporter televisi yang gigih mengungkap kebenaran.
Padahal trailer itu hanya berdurasi beberapa menit.
Namun berhasil membuatku semakin menantikan dramanya.
Setelah selesai menonton, aku segera membalas pesan Lila.
[Aku nggak sabar pengen nonton. Mas Juna keren banget jadi jaksa.]
Tak lama setelah mengirim pesan itu, aku tiba-tiba teringat seseorang.
Pandu.
Tadi siang dia memintaku menghubunginya.
Aku segera membuka daftar kontak dan menemukan nomor yang baru kusimpan beberapa jam lalu.
[Hai, Pandu. Ini Naya.]
Pesan itu terkirim.
Sambil menunggu balasan, aku berjalan menuju ruang tamu dan kembali memutar trailer drama Lee Jun-ha.
Namun baru beberapa saat kemudian, ponselku berdering.
Bukan pesan balasan.
Pandu langsung menelepon.
Aku sedikit terkejut.
Kenapa langsung menelepon?
Aku pun menggeser tombol jawab.
"Halo..."
—Halo, Nay. Aku kira kamu nggak bakal hubungi aku.
Aku tersenyum kecil.
“Lah, kamu kan temanku.”
—Soalnya... siapa tahu kamu udah nggak mau temenan sama aku lagi. Atau mungkin ada alasan lain.
"Aku nggak gitu, kok. Kamu kan bukan teman yang nyebelin atau suka ngebully. Kalau kamu tipe teman begitu, udah pasti aku ogah kenal lagi."
Pandu tertawa pelan.
—Ternyata kamu jahat juga, ya.
Aku ikut tertawa.
"Aku ini tipe orang yang nggak suka mengingat hal-hal buruk. Jadi kalau ada orang yang nyakitin aku, mending nggak usah ketemu lagi. Biar nggak terluka dua kali."
—Emang pernah ada yang jahat sama kamu?
"Yang sampai bikin aku nggak mau ketemu lagi sih nggak ada."
—Oh...
Suasana hening sesaat.
Lalu Pandu kembali membuka percakapan.
—Ngomong-ngomong, kamu udah lama jadi teller di Sina Bank?
"Iya, udah lumayan lama. Eh, kamu sendiri selama ini ke mana? Nggak pernah ada kabar."
—Aku kerja di Korea.
"뭐?! (Apa?!)"
Aku terkejut
"Kamu kerja di Korea?"
—Iya. Aku dua kali perpanjang kontrak di sana. Total udah sepuluh tahun. Sekarang aku mutusin pulang karena tabunganku udah cukup. Lagian orang tuaku juga makin tua. Aku nggak tega ninggalin mereka terus.
"Wah..."
Aku benar-benar kagum.
"Seru banget pasti kerja di Korea. Aku juga pengen ke sana suatu hari nanti."
Di saat yang bersamaan, suara mobil Javier terdengar memasuki halaman rumah.
Aku sempat melirik ke arah jendela, tetapi pembicaraanku dengan Pandu masih berlanjut.
Beberapa detik kemudian, pintu depan terbuka.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam," jawabku refleks tanpa menghentikan telepon.
—Siapa, Nay?
Aku sontak panik.
Pandangan refleksku beralih ke Javier yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Aku tidak mungkin mengatakan kalau pria itu suamiku.
Entah kenapa, aku belum siap jika Pandu mengetahui kenyataan bahwa aku sudah menikah. Apalagi pernikahan itu terjadi karena perjodohan.
"Oh... itu..." aku berdeham pelan. "Ayah. Ayahku baru pulang."
Javier yang mendengar jawabanku langsung menoleh dengan dahi berkerut.
Aku pura-pura tidak menyadarinya.
"Eh, lanjut. Gimana Korea? Menyenangkan, kan?"
Javier masih menatapku beberapa saat sebelum akhirnya masuk ke kamar, lalu menuju kamar mandi.
—Senangnya ada. Nggaknya juga ada.
"Maksudnya?"
—Namanya juga tinggal di negara orang. Seenak-enaknya di sana, tetap lebih nyaman di negara sendiri. Belum lagi cuacanya. Musim dingin benar-benar dingin. Musim panas juga panas banget, bahkan lebih panas daripada di Indonesia.
Aku tertawa kecil.
"Haha... iya sih. Aku pernah dengar juga. Tapi tetap aja, kamu udah pernah ke Korea. Aku iri, deh."
Pandu ikut tertawa.
—Kamu ternyata masih suka Korea.
"Masih, lah. Korea itu negara impianku. Drama Korea juga masih jadi hiburanku."
—Hmm... jangan-jangan kemampuan bahasa Koreamu masih sama kayak dulu. Yang cuma tahu 뭐, 네, 아니, 안녕하세요, 감사합니다. (apa, iya, tidak, halo, terima kasih)
Aku mendengus kesal.
"아니! 난 한국어 할 수 있어! (Nggak! Aku bisa bahasa korea!)"
Pandu tertawa keras.
"왜 웃어? (Kenapa tertawa?)"
—Ternyata sekarang kamu udah bisa bahasa Korea.
"Tentu saja. Manusia itu berkembang."
—Hahaha... kamu udah dewasa. Udah nggak berkembang lagi.
"Pengetahuannya yang berkembang."
—Iya, iya.
Pandu kembali tertawa sebelum berkata,
—Ternyata sekarang kamu jauh lebih asyik daripada dulu.
Aku tersenyum kecil.
"Masa sih?"
—Iya. Dulu kalau ngobrol sama aku atau teman-teman cowok yang lain, seperlunya aja. Kamu lebih sering kumpul sama anak-anak cewek.
"Ya iyalah. Kan sama-sama cewek. Lagian dulu aku memang lebih nyaman ngobrol sama cewek daripada sama cowok."
—Kalau sekarang?
Aku berpikir sejenak.
"Masih."
—Ya udah deh. Aku tutup dulu, ya.
"Eh? Kok tiba-tiba ditutup?"
—Katanya tadi masih lebih nyaman ngobrol sama cewek.
Aku langsung menggeleng meski Pandu tidak bisa melihatnya.
"Ya beda dong. Aku lebih nyaman ngobrol sama cewek bukan berarti aku nggak mau ngobrol sama kamu."
—Oh... kirain.
"Ayo, dong. Ceritain lagi kehidupanmu waktu di Korea."
—Sebetulnya nggak ada yang spesial. Jauh dari cerita di drama-drama.
Saat itu pintu kamar mandi terbuka.
Javier keluar.
Kupikir dia akan langsung masuk ke kamar.
Ternyata tidak.
Ia mengambil segelas air putih di meja makan, meminumnya perlahan, lalu duduk di kursi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku sempat melirik sekilas ke arahnya.
Namun karena Pandu masih bercerita, aku kembali memusatkan perhatian pada percakapan kami.
"Tapi... gimana rasanya tinggal di Korea? Orang-orangnya, makanannya, budayanya. Kamu pernah dirasisin nggak?"
—Alhamdulillah nggak. Orang-orang yang kutemui baik-baik. Makanannya juga enak, walaupun aku lebih sering cari makanan Indonesia. Yang lebih aman.
Aku tersenyum.
"Syukurlah. Memang paling aman tetap makan makanan negara sendiri."
—Iya.
Pandu terdiam sejenak sebelum kembali bersuara.
—Eh, Nay. Udahan dulu, ya. Orang tuaku manggil nih.
"Oh, iya. Nggak apa-apa."
—Besok kita lanjut lagi.
"Ya."
Telepon pun berakhir.
Aku baru saja meletakkan ponsel di meja ketika suara Javier terdengar.
"Siapa?"
Aku menoleh.
"Teman."
"Teman biasa... atau teman spesial?"
Aku mengernyit.
"Teman biasa. Teman SMA."
Javier mengangguk pelan.
"Nay, sebenarnya aku nggak mau ikut campur urusan pertemananmu."
Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata-kata yang tepat.
"Tapi sekarang kamu itu istriku. Aku nggak mau orang lain berpikir yang macam-macam tentang kamu."
"Maksud kamu... mereka bakal ngira aku selingkuh?"
"Iya."
Aku mengembuskan napas pelan.
"Ya ampun... meskipun kita cuma nikah di atas kertas, aku nggak akan melakukan hal begitu. Lagian aku juga nggak suka sama dia. Orang yang aku suka itu Lee Jun-ha."
Javier hanya menatapku.
"Tapi tadi kamu kelihatan nyaman banget ngobrol sama dia."
"Ya karena dia teman SMA-ku. Aku udah kenal dia dari dulu."
"Hanya itu?"
Aku menggeleng.
"Dia juga punya satu hal yang bikin kami nyambung."
"Apa?"
"Korea."
"Korea?"
"Iya. Ternyata selama ini dia kerja di Korea. Aku kan memang pengen ke sana."
Javier menghela napas pelan.
"Astaga... jadi kamu semangat ngobrol sama dia cuma karena dia pernah kerja di Korea?"
"Iya."
Aku mengangkat bahu.
"Terus kenapa? Memangnya itu masalah buat kamu?"
"Nggak."
Javier menggeleng.
"Aku cuma heran."
"Heran apa?"
"Ternyata kamu bisa seakrab itu sama cowok."
Aku tersenyum tipis.
"Ya karena ada yang bikin kami nyambung. Kalau udah bahas Korea, bahkan ngobrol sama orang asing pun aku bisa betah."
Javier mengusap tengkuknya pelan.
"Astaga... ternyata separah itu."
"Namanya juga penyuka Korea. Orang yang suka Jepang, sepak bola, atau otomotif juga pasti bakal semangat kalau ketemu orang yang hobinya sama."
Javier mengangguk pelan.
"Berarti..."
Ia menatapku beberapa detik.
"Kalau mau akrab sama kamu, orang itu harus tahu banyak tentang Korea."
"Iya."
"Oke."
Aku terdiam.
Kata itu lagi.
Entah kenapa, setiap Javier mengucapkan kata sederhana itu, aku selalu merasa dia sedang menyimpan sesuatu di dalam pikirannya.
"Mas..."
Aku memecah keheningan yang mulai terasa canggung.
"Dari sekian banyak kata di dunia ini, kenapa kamu ngomong 'oke' terus sih?"
Javier menoleh.
"Lha terus aku harus ngomong apa? 'Oke' kan artinya aku paham."
"Ya cari kata lain kek. Pokoknya jangan 'oke'. Aku nggak suka."
"Kenapa?"
Aku menggeleng.
"Pokoknya aku nggak suka."
Javier mengembuskan napas pelan.
"Astaga... kamu ini memang susah dimengerti. Perasaan dulu Ina nggak kayak kamu, deh."
Lagi.
Nama itu lagi.
Entah kenapa, setiap nama itu keluar dari mulut Javier, dadaku langsung terasa sesak.
"Kalau gitu nikah aja sana sama dia! Sekalian ceraikan aku sekarang!"
Javier berdiri, tampak panik.
"Hei... jangan teriak. Nanti kedengeran tetangga."
Ia mendekat beberapa langkah.
Namun aku justru semakin kesal.
"Biarin! Biar semua orang tahu kalau ternyata kamu masih belum bisa move on dari mantan kamu!"
Javier mengusap wajahnya pelan sebelum akhirnya duduk di sampingku.
"Nay... jangan asal ngomong. Aku udah move on dari Ina."
"Kalau udah move on, kenapa nama dia masih sering kamu sebut?"
Javier terdiam.
Ia menatapku cukup lama.
Tatapan yang membuatku sedikit gugup.
"Nay..."
Suaranya lebih pelan dari sebelumnya.
"Kamu sebenarnya cemburu, ya?"
Aku langsung menggeleng keras.
"Nggak!"
Tanpa sadar bahasa Koreaku ikut keluar.
"아니야! 몇 번을 말해야 해? 난 질투 아니야! (Nggak! Berapa kali aku harus bilang? Aku nggak cemburu!)
"Apa?"
"Aku nggak cemburu."
Javier masih menatapku.
"Kalau nggak cemburu, kenapa setiap aku nyebut nama Ina kamu selalu marah?"
Aku terdiam.
Benar juga.
Kenapa setiap mendengar nama Devina, emosiku langsung berubah?
Kenapa aku selalu kesal?
Aku sendiri tidak mengerti.
"Nggak tahu."
Aku menggeleng pelan.
"Pokoknya aku nggak cemburu. Cemburu itu kan tanda cinta."
Aku menatap Javier lurus-lurus.
"Dan aku nggak cinta sama kamu."
Aku menarik napas.
"I don't love you."
Kuberikan jeda sejenak sebelum mengucapkan kalimat terakhir.
"Never."
Tatapan Javier berubah.
Aku tidak sanggup mengartikannya.
Aku memilih mengakhiri percakapan ini.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berdiri hendak menuju kamar.
Namun, pergelangan tanganku ditahan.
Aku menatap tanganku yang dipegang Javier.
Perlahan ia melepaskan tanganku.
Kupikir ia akan membiarkanku pergi.
Ternyata tidak.
Javier berdiri di depanku lalu tangannya justru bergerak pelan hingga membingkai wajahku.
Aku membeku.
"Mas..."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku...
Javier menundukkan kepalanya.
Bibirnya menyentuh bibirku.
Mataku langsung membelalak.
Otakku kosong.
Aku bahkan lupa cara bernapas.
Yang kudengar hanya suara detak jantungku sendiri yang berdentum begitu keras.
Beberapa saat kemudian Javier menjauh.
Tatapan kami kembali bertemu.
Plak!
Tanganku bergerak lebih cepat daripada pikiranku.
Sebuah tamparan mendarat di pipinya.
Javier terpaku.
Aku sendiri ikut terkejut.
Dadaku naik turun.
Air mataku hampir keluar karena campuran marah, malu, dan panik.
"왜 나를 키스해?! (Kenapa kamu cium aku?!)
Javier tetap diam.
Seolah belum sepenuhnya sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Aku menyentuh bibirku dengan ujung jari.
"아이고... (Astaga...)"
Suaraku bergetar.
"내 첫 키스... Ciuman pertamaku...)"
Aku menggeleng pelan, masih sulit mempercayainya.
"내 첫 키스였는데... (Itu ciuman pertamaku...)"
Aku menatap Javier dengan mata yang mulai memanas.
"난 널 미워! (Aku benci kamu!) I hate you!"
Tanpa menunggu jawaban apa pun, aku berlari menuju kamar.
Brak!
Pintu kututup rapat.
Tubuhku langsung bersandar di baliknya.
Tanganku kembali menyentuh bibirku.
Lalu berpindah ke dada.
Jantungku masih berdetak begitu cepat.
Kenapa Javier tiba-tiba menciumku?
Bukankah dia tidak menyukaiku?
Atau...
Memang seperti itukah Javier?
Mudah mencium seseorang meski tanpa perasaan?
Aku memejamkan mata.
Entahlah.
Yang jelas, sejak ciuman itu terjadi, ada sesuatu di dalam hatiku yang terasa berbeda.
Perasaan asing.
Perasaan yang bahkan tidak mampu kujelaskan dengan kata-kata.