Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Menjemput Ketenangan
Setelah merasa cukup menumpahkan semua hal yang menjadi beban di hatinya, Arini kembali melajukan mobilnya. Dadanya masih terasa sesak, tetapi setidaknya kini ia bisa bernapas sedikit lebih lega.
Tujuannya kini jelas. Panti Asuhan Al Amanah. Tempat yang selalu menjadi rumah baginya. Tempat di mana ia dibesarkan setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat dirinya masih kecil.
Di sana ada seorang wanita yang selama ini menjadi pengganti ibu dalam hidupnya. Ibu Khadijah.
Perempuan sederhana yang membesarkan puluhan anak yatim dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang meski hidup serba terbatas.
Sejak dulu, setiap kali Arini merasa bahagia, sedih, bingung, atau kehilangan arah, kakinya selalu melangkah ke tempat itu.
Di sana ia merasa dibutuhkan. Di sana ia merasa dicintai. Dan yang paling penting, di sana ia merasa berharga.
Sebelum tiba di panti, Arini sempat berhenti di sebuah supermarket besar. Ia mendorong troli sambil menyusuri setiap lorong.
Makanan ringan, susu, biskuit, buah-buahan, minuman, alat tulis, buku gambar, dan pensil warna, Tak lupa berbagai mainan untuk anak-anak yang lebih kecil.
Troli yang semula kosong perlahan penuh hingga meluap. Arini bahkan harus menambah satu troli lagi. Entah mengapa, setiap kali membeli sesuatu untuk anak-anak panti, hatinya selalu terasa hangat. Seolah sebagian luka di dalam dirinya ikut terobati.
Setelah semua selesai, ia kembali melanjutkan perjalanan. Tepat pukul sepuluh pagi, mobilnya memasuki gerbang Panti Asuhan Al Amanah.
Beberapa anak yang sudah cukup besar terlihat sedang menyiapkan makanan ringan di teras.
Begitu melihat mobil Arini, wajah mereka langsung berbinar.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam!"
"Kak Ariniii!"
Beberapa anak langsung berlari menghampirinya.
Arini bahkan belum sempat menutup pintu mobil ketika tubuhnya sudah dipeluk dari berbagai arah.
"Kak Arini datang."
"Kak, aku kangen."
"Kak Arini bawa apa?"
Tawa kecil akhirnya terbit dari bibir Arini. Tawa yang sejak pagi nyaris tak muncul sama sekali.
"Pelan-pelan, nanti Kakak jatuh."
Anak-anak itu tertawa riang. Di antara keramaian itu, seorang wanita paruh baya berjalan mendekat dengan senyum lembut yang selalu sama sejak belasan tahun lalu.
"Ibu..." Arini segera menyalami tangan Bu Khadijah lalu menciumnya dengan takzim.
Sesaat kemudian ia memeluk wanita itu erat. Bu Khadijah membalas pelukannya. Hangat. Menenangkan. Persis seperti yang selalu Arini ingat.
"Dari matamu, Ibu tahu kamu lagi ada masalah."
Kalimat itu membuat pertahanan Arini runtuh. "Iya, Bu..."
Suaranya bergetar. Ia kembali memeluk Bu Khadijah sambil menahan tangis. Namun air mata itu tetap lolos.
"Sudah, Nak. Yuk masuk ke dalam!"
"B-baik, Bu."
Arini mengusap wajahnya cepat-cepat. Sebelum masuk, ia memanggil salah satu pengurus panti.
"Mbak Ana."
"Ya, Mbak?"
"Di mobil ada beberapa makanan dan juga mainan. Tolong dibawa buat anak-anak. Ini kuncinya."
Arini menyerahkan kunci mobil. Mata Mbak Ana membelalak.
"Banyak lagi ya, Mbak?"
Arini tersenyum tipis. "Untuk adik-adik."
"Baik, Mbak. Terima kasih."
Arini mengangguk lalu mengikuti Bu Khadijah menuju kantor panti.
Ruangan itu cukup nyaman. Ada meja kayu jati yang cukup mewah, lemari arsip yang kelihatan masih terlihat baru, juga foto-foto anak panti yang memenuhi dinding. Ruangan itu baru saja direnovasi oleh Arini tiga bulan yang lalu.
Di tempat itulah, yang dulu sangat sederhana, tapi selalu membuat Arini merasa nyaman, Arini mencurahkan isi hatinya.
Bu Khadijah menuangkan segelas teh hangat lalu meletakkannya di depan Arini. "Minum dulu!"
Arini mengangguk. Tangannya menggenggam cangkir itu erat seolah mencari kekuatan. Bu Khadijah tidak langsung bertanya. Wanita itu hanya duduk di hadapannya dengan sabar. Memberi ruang agar Arini siap berbicara.
Dan ketika kesunyian terasa cukup panjang, Arini akhirnya membuka suara.
"Bu..."
"Iya, Nak."
"Rumah tanggaku hancur."
Kalimat itu keluar bersama air mata yang kembali jatuh. Bu Khadijah tetap diam. Mendengarkan.
Arini lalu menceritakan semuanya. Tentang Galang.
Tentang Mayang. Tentang cinta pertama yang tiba-tiba muncul kembali. Tentang ibu mertuanya yang mendukung hubungan itu. Tentang bagaimana dirinya dipermalukan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tentang semua pengorbanan yang selama ini ia lakukan. Dan tentang rasa sakit yang tak lagi mampu ia simpan sendiri.
Semakin banyak yang ia ceritakan, semakin deras air matanya mengalir.
"Aku capek, Bu..." Suara Arini pecah.
"Aku benar-benar capek."
Bu Khadijah bangkit dari kursinya lalu berpindah duduk di samping Arini.
Wanita itu mengusap punggungnya perlahan.
"Menangislah kalau memang ingin menangis."
Arini menutup wajahnya. Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah tanpa sisa.
"Aku selalu berusaha jadi istri yang baik." Tangisnya semakin keras. "Aku berusaha menghormati suami. Menghormati mertua. Aku bekerja keras. Aku mengurus semuanya. Tapi kenapa balasannya seperti ini, Bu?"
Bu Khadijah memeluknya erat. "Karena hidup tidak selalu adil, Nak."
Arini menangis di bahu wanita yang sudah dianggapnya ibu itu.
"Kadang orang yang paling tulus justru paling sering disakiti."
"Tapi percayalah, Allah tidak pernah tidur."
"Butuh waktu memang. Tapi Allah selalu punya cara untuk mengembalikan hak hamba-Nya."
Perlahan tangis Arini mereda. Meski matanya masih sembab. Meski hatinya masih terluka.
Namun setidaknya kini ia tidak lagi menanggung semuanya sendirian.
Bu Khadijah menatapnya lembut. "Lalu sekarang, bagaimana langkah kamu selanjutnya, Rin?"
Arini terdiam beberapa saat. Tatapannya kosong menembus jendela. Seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan keputusan terbesar dalam hidupnya.
Air matanya kembali jatuh. Namun kali ini sorot matanya terlihat jauh lebih tegas. Ia mengangkat wajahnya. Menatap Bu Khadijah lurus-lurus.
"Aku mau menggugat cerai, Bu. Aku tidak bisa berbagi suami dengan wanita itu. Aku sakit, aku hancur, aku tidak dihargai. Menurutku cerai adalah jalan keluar terbaik. Walaupun Allah tidak menyukainya, tapi aku mau menghindari lebih banyak mudharat."
Kalimat itu akhirnya keluar. Kalimat yang sejak tadi berputar-putar di dalam kepalanya. Dan kini Arini merasa dirinya benar-benar sedang memilih dirinya sendiri.
Bu Khadijah terdiam beberapa saat setelah mendengar keputusan itu.
Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya.
Tidak ada pula usaha untuk langsung melarang atau menyetujui.
Wanita itu hanya menatap Arini dengan penuh kasih sayang, seolah sedang membaca seluruh luka yang tersimpan di balik mata sembab anak yang dibesarkannya itu.
"Aku mau menggugat cerai, Bu."
Suasana ruangan mendadak hening. Bu Khadijah menggenggam tangan Arini dengan lembut.
"Apakah keputusan itu kamu ambil karena marah?"
Arini menggeleng pelan. "Tidak, Bu."
"Karena kecewa?"
Arini kembali menggeleng. "Aku sudah melewati tahap kecewa."
"Lalu karena apa?"
Air mata Arini kembali jatuh. "Karena aku lelah terus-menerus menjadi satu-satunya orang yang berjuang mempertahankan pernikahan ini."
Bu Khadijah mengangguk pelan. Ada kebanggaan sekaligus kesedihan di matanya.
"Nak, Ibu selalu mengajarkan bahwa pernikahan itu harus diperjuangkan."
Arini menunduk.
"Tapi Ibu juga mengajarkan bahwa perjuangan harus dilakukan oleh dua orang, bukan satu orang."
Arini perlahan mengangkat wajahnya. Bu Khadijah mengusap punggung tangannya.
"Kalau hanya kamu yang berjuang sementara yang lain sibuk menyakiti, itu bukan lagi mempertahankan rumah tangga. Itu namanya mengorbankan dirimu sendiri."
"Kamu tahu, Rin?" lanjut Bu Khadijah. "Dalam hidup ini, sabar bukan berarti membiarkan orang lain terus-menerus menginjak harga dirimu."
"Sabar juga bukan berarti bertahan di tempat yang setiap hari melukai hati dan jiwamu."
Arini terisak. Bu Khadijah tersenyum lembut.
"Allah menciptakan perempuan dengan hati yang lembut, tetapi bukan berarti perempuan harus menjadi lemah."
"Perempuan juga berhak memilih kebahagiaannya. Perempuan juga berhak menjaga martabatnya. Dan perempuan juga berhak pergi ketika keberadaannya tidak lagi dihargai."
Arini menunduk sambil menangis. Selama dua tahun terakhir ia berusaha menjadi istri yang sempurna. Namun ternyata semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
"Lalu... apakah Ibu kecewa kalau aku memilih bercerai?"
Pertanyaan itu keluar dengan suara bergetar.
Bu Khadijah langsung menggeleng. "Kenapa Ibu harus kecewa?"
"Tugas Ibu bukan memaksamu bertahan dalam penderitaan."
"Tugas Ibu adalah memastikan kamu mengambil keputusan dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih."
Bu Khadijah lalu menggenggam kedua tangan Arini.
"Kalau setelah kamu istikharah, berpikir matang, dan mempertimbangkan semuanya, kamu merasa perceraian adalah jalan terbaik, maka Ibu akan mendukungmu."
Arini menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca. "Sungguh, Bu?"
"Tentu."
Bu Khadijah tersenyum. "Kamu sudah kehilangan orang tua sejak kecil."
"Tapi jangan pernah berpikir kamu sendirian. Tidak peduli apa keputusanmu, Al Amanah akan selalu menjadi rumahmu. Dan Ibu akan selalu menjadi ibumu."
Kalimat itu menghantam benteng pertahanan Arini yang tersisa. Ia langsung memeluk Bu Khadijah erat sambil menangis. Tangis yang kali ini bukan hanya karena sedih. Melainkan karena ada seseorang yang mengerti perasaannya.
Tidak menyuruhnya mengalah. Tidak menyuruhnya menerima dimadu. Seseorang yang memilih mendengarkan dan memeluk luka-lukanya.
Bu Khadijah mengusap kepala Arini penuh kasih sayang. "Menangislah hari ini kalau memang perlu.
Tumpahkan semua kesedihanmu. Tapi setelah itu, bangkitlah!"
Arini mengangguk di sela tangisnya. Bu Khadijah tersenyum hangat.
"Ingat satu hal, Nak."
"Apa, Bu?"
"Jangan pernah menangisi seseorang yang membuatmu merasa tidak berharga. Karena nilai dirimu tidak ditentukan oleh siapa yang meninggalkanmu. Tetapi oleh seberapa kuat kamu berdiri setelah ditinggalkan."
Arini memejamkan mata. Kini dadanya terasa sedikit lebih ringan. Mungkin jalan di depannya masih panjang. Mungkin badai yang akan datang masih besar. Namun setidaknya sekarang ia tahu satu hal. Ia tidak sendiri.
__________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.