Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekarang hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 The Alexander's Pearl
Di meja makan yang panjang itu dihiasi oleh berbagai makanan yang sangat banyak dan juga lezat dan siapkan khusus oleh koki mansion. Aroma harum sup daging dan juga ayam panggang rosemary yang harumnya menguar yang sangat menggunggah selera siapa saja yang melihat ataupun mencium aroma masakan itu.
Alvaro pun tampak semangat melihat hidangan yang ada di atas meja makan, karena ia sangat bosan dengan makanan yang ia makan beberapa hari ini yaitu bubur dari rumah sakit dan bubur ayam saat ia sudah pulang di mansion atau pada pagi hari ini.
“Wahh, makanannya kayaknya enak. Akhirnya aku gak makan bubur lagiii” ucap Alvaro dengan nada dibuat mengeluh kepada saudaranya dan juga sang papah dan mereka semua pun hanya bisa menggelengkan kepala mereka saat mendengar ucapan dari Alvaro.
“Astaga Al, kamu makan bubur itu karena lambungmu baru masa pemulihan tauu” ujar Elvano lelah saat mendengar nada mengeluh dari kakak kembarnya itu.
“Iya El aku tau, tap ikan aku juga bisa bosan El” bela Alvaro kepada adik kembarnya.
“Ya sudah kalau gitu makan ya banyak ya Al biar tubuhnya makin berenergi” ucap sang papah saat mendengar berdebatan antara Alvaro dan juga Elvano.
“Ok pahh” ujar Alvaro bersemangat.
“Al mau makan yang mana biar kakak ambilkan?” tanya Erlan kepada Alvaro.
“Al mau ayam panggang, nasi putih dan sup aja kak” jawab Alvaro dan di angguki oleh Erlan.
Erlan pun segera mengambilkan makanan yang di minta oleh Alvaro yaitu ayam panggang, nasi putih dan juga sup, ia pun mengambilkan makanan untuk Alvaro cukup banyak untuk adik pertamanya itu.
“Segini cukup Al?” tanya Erlan kepada Alvaro.
“Sudah cukup kok kak” jawab Alvaro sambil memberikan senyum manisnya kepada kakaknya itu.
“Pelan-pelan ajah Al makannya gak ada yang minta juga kok” tegur Arlan dengan nada yang protektif namun lembut saat melihat adik keduanya itu makn dengan sangat cepat ia takut jika adiknya itu tersedak.
Arlan pun sangat senang saat adik keduanya itu sudah kembali bersemangat dan rona wajahnya sudah kembali tidak seperti beberapa hari yang lalu wajah adiknya sangat pucat dan ia lemas di atas ranjang rumah sakit.
“Hehe iya bang, habisnya makananya enak kok tumben sekali chefnya buat menu ini” ucap Alvaro dengan pipi yang sudah mengembung karena mulutnya yang penuh.
Papah pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah dari keempat anaknya itu dan suasana mansion kini hidup kembali setelah beberapa hari mereka di selimuti oleh rasa cemas dan juga khawatir yang amat besar kepada Alvaro.
Kehilangan istri tercintanya yaitu Elina Mary Alexander beberapa tahun yang lalu meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi mereka semua, dan bayang-bayang kehilangan itu sempat menghantui pikirannya saat mereka melihat Alvaro jatuh sakit.
“Papah emang sengaja suruh chef buat makanan ini biar kalian semua bisa makan malam dengan lahap, terutama buat kamu Alva biar nafsu makanmu meningkat” ucap sang papah sambil mengelus rambut Alvaro.
Dan Alvaro pun hanya bisa tersenyum kepada sang papah saat dirinya di elus oleh sang papah, bagi Alvaro berkumpul bersama seperti ini adalah obat paling mujarab dari segala jenih obat dan ia sangat bersyukur bisa melewati masa kritisnya dari demam berdarah, infeksi paru-paru dan juga penyakit lambungnya.
Namun, perhatian keluarga pun tertuju kepada Arlan sang kakak tertua yang ada di sebrang meja makan tepat di depan Alvaro. Ia langsung memberikan peringatan dengan nada tegas kepada Alvaro namun mereka tau kalau Arlan itu sangan perhatian kepada Alvaro.
“Al setelah makan malam jangan langsung tidur loh ya. Ingat kata dokter Angga kamu harus minum obat tepat waktu dan minum air putih yang banyak loh ya jangan sampai lupa” ucap Arlan dengan nada tegas namun lembut.
“Iya abangku yang sangat cerewet aku tau kok kan dokter Angga juga bilang sama kalian aku juga dengar” gerutu Alvaro saat mendengar ucapan dari Arlan dan gerutunya itu malah membangkitkan tawa dari adik kembarnya itu yaitu Elvano.
Setelah menghabiskan pudding coklat sebagai hidangan penutup, mereka berlima pun langsung beranjak menuju kearah ruang keluarga untuk bersantai dan di ruangan keluarga itu sudah di lengkapi oleh televisi yang sangat besar dan rak-rak buku yang penuh.
Malam ini, merka semua pun sepakat untuk menepikan pekerjaan yang ada di kantor untuk papah, Arlan dan juga Erlan. Dan papah Alaric mengambil posisi di sofa Tunggal yang ada di ruangan tersebut dan sementara keempat anaknya melingkar di sofa besar yang ada di samping sofa Tunggal.
“Nah sekarangkan Alva sudah sehat gimana kalau kita nonton film saja?” usul Elvano cukup antusias.
“Setuju!! Film horor saja kalau gitu enak di tonton” ucap Alvaro bersemangat dan juga mendukung ide adik kembarnya itu.
“Serius Al?” tanya Erlan.
“Iya kak serius, ayo kita nonton” jawab Alvaro dan semua yang ada di sana mengangguk sebagai tanda setuju.
Hati sang papah pun kembali hangat saat melihat anak ketiganya itu kembali tersenyum, dan dengan cepat sang papah pun menyalakan televisi dan mengganti modenya supaya bisa untuk menonton film horor yang di inginkan oleh Alvaro.
Elvano dengan cepat meminta pelayan untuk menyiapkan buah potong, kopi untuk kedua kakaknya, dirinya dan juga sang papah, dan susu khusus untuk Alvaro. Setelah ia menyuruh pelayan untuk membuatkan yang ia minta lanjut Elvano pun berjalan menuju ruang keluarga dan melihat Erlan dengan lembut membantu merapikan bantal sofa untuk Alvaro supaya ia nyaman.
Walau pun Alvaro itu anak ketiga, mereka memperlakukannya selayaknya pangeran yang sangat amat rapuh bak porselen yang gampang retak jika tidak di jaga dengan ekstra hati-hati.
“Permisi tuan muda ini permintaan anda kopi, susu dan ini buah potong khusus untuk tuan muda Alvaro” ucap pelayan itu dengan nada sopan kearah Elvano.
“Makasih ya bi, bibi bisa pergi” ujar Elvano dan pelayan itu pun pergi kearah dapur.
Setelah minuman dan buah potongnya di letakkan di meja dan begitu lampu diredupkan, ruangan itu pun di penuhi oleh suara seram dari dalam film yang mereka tonton. Dan di tengah-tengah film Alvaro menatap satu-persatu keluarganya papah dan bang Arlan yang menonton filmnya dengan muka santai, kak Erlan yang berada di sampingnya sambil memangku bantal sofa dan Elvano yang mengomentari actor yang larinya sangat lambat ia merasa haru karena keluarganya sangat menyayangi dirinya.
“Pah, bang, kak, El” panggil Alvaro pelan, dan mereka pun langsung mengarahkan pandangan mereka yang awalnya kearah film menjadi kearah dirinya seolah-olah panggilannya lebih menarik di bandingkan film yang mereka tonton.
Arlan pun langsung mendekat kearah sofa yang di duduki oleh Alvaro, “Kenapa Al ada yang sakit? Bagian mana yang sakit?”
“Hahaha, tenang lah bang gak ada yang sakit kok ini. Aku cuma mau bilang terima kasih banyak ya karena udah mau jagain aku meskipun aku sering ngerepotin dan maaf juka aku seing ngeluh karena bosen” tutur Alvaro dan Erlan pun hanya tersenyum mendengar tuturan adi Alvaro.
“Jaga kamu dan merawat kamu bukan kerepotan, melainkan kewajiban kami untuk merawatmu, menjagamu dan menyayangimu” ucap Erlan.
“Itu benar Al kamu itu gak pernah ngerepotin kok atau jadi beban” ujar sang papah.
“Betul itu Al jangan merasa kamu itu beban, kalau kamu sakit siapa yang aku goda setiap hari” timpal Elvano sambil merangkul bahu kembarannya.
Dan ucapan Elvano pun membuat mereka semua pun tertawa, jam pun menunjukkan pukul sembilan malam. Film pun juga telah usai Alvaro pun sudah menguap dari tadi karena rasa ngantuknya pun sudah menyerang dirinya dan juga karena pengaruh obat yang ia minum.
“Sepertinya kamu sudah ngantuk berat Al” ujar sang papah saat ia melihat anak ketiganya sudah menguap beberapa kali dan matanya hampir terpejam.
Mereka semua pun mengantarkan Alvaro menuju kearah kamar menggunakan lift mansion, sesampainya di dalam kamar Alvaro yang bernuansa biru langit itu. Elvano dengan sigap membaringkan Alvaro di tempat tidurnya dan menutupi tubuhnya menggunakan selimut sebatas dada.
“Tidur yang nyenyak ya Al, besok kalau tubuhmu benar-benar sudah segar kita keluar ketaman belakang ya” ucap Arlan dengan nada yang lembut kearah Alvaro.
Lalu Arlan pun menyium kening Alvaro dan di ikuti oleh sang papa, Erlan, dan juga adik kembarnya Elvano sebagai ucapan selamat malam. Sebelum mematikan lampu utama kamar Erlan yang berada di samping meja kecil itu segera menyalakan lampu tidur biru yang temaram dan mereka pun keluar dari kamar Alvaro dengan sangat tenang.
Wajah papah Alaric setelah keluar dari kamar Alvaro pun berubah total yang awalnya lembut menjadi dingin dan juga serius, ia pun mengisyaratkan ketiga anaknya untuk mengitunya ke ruang kerjanya.
“Papah mau bicara serius dengan kalian” ucap papah Alaric dengan nada dingin dan juga tajam.
Sesampainya di ruang kerja sang papah, suasana di dalam ruangan itu terasa sangan dingin dan juga sunyi sekaligus mencekam berbeda sekali dengan mereka berada di dalam kamar Alvaro yang hangat.
“Papah sangat bangga kepada kalian bertiga, kalian bisa jaga Alvaro dengan sangat baik. Dan ingat Alvaro masih diincar oleh musuh kita dari dunia gelap dan mereka tau kelemahan kita saat ini adalah Alvaro” jelas sang papah kepada ketiga anaknya denga nada berat dan juga dingin.
Mendengar penjelasan dari sang papah membuat naluri protektif mereka kembali melonjak dengan sangat tajam dan ingin melindungi Alvaro dari bahaya meskipun itu nyawa mereka menjadi taruhannya.
“Kondisi Alvaro juga belum sepenuhnya stabil, papah gak mau terjadi sabotase dari luar” jelas sang papah kembali kepada mereka.
“Dan papah minta kalian buat jadwal untuk jaga Alvaro mulai dari aktivitasnya dan pola istirahatnya jangan sampai lupa, terutama saat papah kerja dan jika Arlan dan Erlan kuliah nanti penjagaan di perketat papah akan suruh uncle Sam. Jangan pernah lepas pengawasan maupun itu di mansion sekali pun” ucap sang papah.
“Baik pah kami mengerti, kami akan buat jadwal pengamanan dengan sangat ketat dan tidak aka nada yang bisa menyentuhnya sedikit saja” jawab Arlan untuk mewakili kedua adiknya.
Rapat dadakan pada malam itu selesai dengan intruksi sang papah untuk mereka bertiga istirahat untuk menjaga stamina mereka. Ketegang kini mulai menyelimuti pikiran mereka, namun tekat mereka semakin bulat untuk menjaga Alvaro dari musuh mereka.
Sementara itu di dalam kamar yang sudah gelap yang cuma di terangi oleh lampu biru temaram, Alvaro tertidur dengan sangat lelap dan tampa ia ketahui ketiga saudaranya dan juga sang papah telah memasang barikade pelindungan tertinggi yang mereka bisa untuk menjaga nyawanya.