Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 - Permintaan Gavin
"Aww pelan-pelan, lo mau gue hajar hah, rambut gue nih malah lo jambak," keluh Alea menggeplak tangan Ayumi.
"Eh, elo yang gak bisa diem Mahmud, gue bantuin keringin rambut elo nih."
Merasa capek menangisi orang, Alea memilih mandi mendinginkan emosi, emang aneh sih tapi itu Alea. Kalau sedang lelah lebih suka mandi air hangat.
Ayumi juga dengan baiknya mau membantu Alea mengeringkan rambut Alea, dia yang inisiatif sendiri tanpa diminta siapapun.
"Woi, kalian berdua dari tadi berantem mulu dah, bisa diem gak? Pantas saja anaknya sering berantem sama Ayumi eh kalian juga sama aja suka berantem," tegur Vale duduk manis di sofa seraya membuka aplikasi belanjanya.
"Berantem tipis mah hal biasa Val, asal jangan nikung temen aja," sahut Ayumi di benarkan oleh Alea.
"Eh tapi gue gak tahu Mahmud tuh apa? Nama gue Azalea bukan mahmudin."
"Eh, yang bilang nama elo mahmudin siapa? Gue cuman ngasih nama lo Mahmud alias singkatan dari mamah muda," jelas Ayumi seraya menyimpan pengering rambut ke atas meja rias.
"Oh kirain apa."
"Kalau lo udah cerewet gini artinya lo udah baik Lea, jangan sedih lagi ya, ada kita yang akan selalu ada buat elo." Vale berubah serius, menyimpan ponsel di kursi lalu beranjak mendekati Alea yang duduk di tepi ranjang.
Raut wajah Alea berubah sendu namun sedetik kemudian tersenyum mengangguk, ia bersyukur masih punya teman baik seperti Valerie.
"Makasih Val udah mau jadi sahabat gue sampai ikut pindah kesini juga, gue merasa tuhan baik sama gue dapat temen kayak elo," ucap Alea tersenyum tulus.
"Gue gak dianggap nih? Segede patung Pancoran masa gak kelihatan," keluh Ayumi pura-pura merajuk.
"Termasuk elo Ay, meski kita baru kenal lo udah bikin gue nyaman dekat elo," kata Alea.
"Betul, jarang-jarang kita nyaman sama orang artinya elo spesial."
Ayumi tersenyum kemudian memeluk Alea. "Makasih ya karena udah mau jadi temen gue, jujur gue baru punya teman seperti kalian."
Vale ikut memeluk Alea juga. "Janji ya kita temenan sampai tua, kalau perlu saat punya anak kita jodohkan aja."
"Ck, pacar aja gak punya lo udah mikirin jodoh anak aja, minimal cari jodoh dulu lah baru bikin anak," celetuk Alea.
"Sombong amat, mentang-mentang udah punya anak nyindirnya bikin anak mulu," balas Vale mencebik kesal.
"Aduh belicik, tidul ku telganggu nih, malang kali nacib ku," sahut Azka tiba-tiba.
Mereka bertiga menoleh ke atas ranjang, rumahnya Azka sudah duduk seraya mengucek mata sesekali menguap.
Pelukan ketiganya terlepas.
"Eh bocah, mau tidur mah tinggal tidur aja, kita gak ganggu loh, suara kita aja pelan," balas Ayumi dengan biasa suka mengusili Azka.
Mata bening Azka mendelik lucu. "Tidul ku telganggu gala-gala Tante ay ngecelin."
"Lah malah nyalahin, tuh mama mu bocah."
"Ihh jangan panggil atu bocah." Azka mendengus sebal.
Vale dan Alea terkekeh, mata Alea menatapnya sayang dan bersyukur anaknya bisa kembali ceria.
"Masih pakai pempers mah masih bocah, cil."
"Mama atu bukan bocah huaaa ..."
"Ayumiii!" tegur Alea melotot kesal beranjak berdiri menghampiri Azka. Membawa kepangkuannya.
"Hahaha, gue gemes sama anak lo." Bisa bertengkar sama anak kecil bawel seperti Azka menyenangkan bagi Ayumi, kehidupannya jadi lebih berwarna sejak mengenal Alea dan keluarganya.
**********
Cafe.
"Lo tahu kan Al secinta apa gue sama dia? Dia orang pertama yang berhasil mencuri hati gue dari lama, dan sejak tahu dia deketin gue perasaan gue gak bisa bohong sangat bahagia. Dia yang gue inginkan, dia yang gue cintai, gue sempat kecewa sama cara dia ternyata gue yang lebih jahat daripada cara dia jebak gue. Dia gadis cupu itu sayangnya gue gak ngenalin dia waktu masuk kampus, penampilan dia yang dulu jauh dari penampilannya sekarang. Gue akui Alea sekarang sangatlah cantik mempesona dan jujur gue tidak suka sama mata para pria menatapnya penuh damba, dan sekarang gue sadar saat pertengkaran Alea dan Susan yang menyebabkan dia buka kemejanya membuat gue cemburu. Gue gak suka dia dilihat banyak orang, Alea milik gue."
Setelah pertemuannya dengan Gavin, cara pikir pandang Fathan berubah terhadap Alea, tekatnya pun kian berubah, benci yang sempat tumbuh kini menjadi cinta kian membesar. Rasa bersalahnya pun makin bertambah, ada perasaan ingin bertemu namun takut mendapat penolakan.
Aldi diam mengangguk paham, Fathan telah banyak cerita mengenai masa lalunya dengan Alea.
"Tapi lo emang harus di kasih pelajaran, perbuatan lo gak bener."
"Makanya sekarang gue bingung harus gimana? Sekalipun om nya Alea dukung gue tapi Alea? Dia pasti udah marah banget dan kecewa sama gue, mulut gue kurang ajar banget Al sampai ngatain anak gue sendiri ..."
Fathan menghela nafas kasar, mengusap wajahnya kasar bingung harus berbuat apa sekarang.
"Gue harus apa sekarang? Pikiran gue seketika buntu, yang ada di otak gue cuman bayangan kesedihan dan kekecewaan Alea saat natap gue." Membayangkannya saja Fathan tak sanggup, hatinya benar-benar sakit dan hancur setelah mengetahui semuanya.
"Tenangkan diri dulu sampai semua keadaan lebih baik. Biarkan dia tenang dulu dan lo juga harus tenang, berjuang boleh tapi untuk sekarang jangan dulu, Alea masih syok kayaknya."
"Gue takut Al ..." Fathan menjeda ucapannya. "Takut kehilangan dia untuk yang ke dua kalinya."
Fathan kembali teringat permintaan Gavin sebelum pergi dari rumahnya.
"Jika kamu menjadi salah satu alasannya bahagia tolong jangan sakiti dia, tolong bahagiakan dia dan perjuangkan dia. Alea memang salah sama kamu dan saya menyayangkan perbuatan Alea, tapi semua itu semata-mata karena dia takut kehilangan lo, ingin memperjuangkan orang yang dia cinta, pahlawannya, meski caranya salah. Fathan, saya berani menjamin anak itu bukan anak haram, Azka anakmu bahkan saya sudah tes DNA dan hasilnya Azka anak kamu."
Ya, setelah mengetahui Alea hamil, Gavin mengumpulkan helai rambut di kamar Alea yang diyakini rambut Fathan. Dia mencocokkan nya dengan Azka selepas Azka lahir untuk membuktikan ayah biologisnya, untuk berjaga-jaga di masa depan. Hasilnya nyata, tidak diragukan lagi anak itu keturunan Fathan, bahkan Gavin juga bertanya mengenai status Azka pada ustad-ustad yang ia temui, hasilnya melegakan Azka terlahir sah dalam pernikahan meski hanya pernikahan siri.