Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Arthur
"Arthur, kau sedang bercanda, kan?” tanya Sonja begitu memasuki kamarnya. Arthur masuk beberapa langkah di belakangnya, lalu menutup pintu dengan tenang.
Kini mereka berdiri saling berhadapan.
Sonja masih memasang raut bingung, sedangkan Arthur tetap dengan wajah datarnya yang sulit ditebak. Tatapan mereka saling bertaut, tak ada satu pun yang mau mengalah lebih dulu.
Ucapan Arthur beberapa saat lalu masih terngiang di kepala Sonja. Tanpa pernah membicarakannya terlebih dahulu, pria itu tiba-tiba memutuskan bahwa mereka akan menikah. Karena tak ingin memperdebatkannya di depan Alea dan Elleanor, Sonja memilih menahan diri hingga mereka berada di dalam kamar.
“Aku tidak pernah bercanda,” jawab Arthur dingin.
“Arthur... kumohon.”
“Keputusanku sudah final. Minggu depan kita menikah.”
Napas Sonja seketika tertahan. Rasa terkejut yang semula memenuhi dadanya perlahan berubah menjadi amarah.
“Keputusan siapa yang kau maksud?” tanyanya dengan suara meninggi. “Aku bahkan tidak tahu apa-apa!”
“Jangan pernah berbicara dengan nada seperti itu kepadaku, Sonja,” ujar Arthur tegas.
“Aku tidak peduli! Bahkan kalau perlu aku akan berteriak!”
Tatapan tajam Arthur sama sekali tidak membuatnya gentar.“Pernikahan bukan perkara sepele, Arthur. Kau tidak bisa memutuskannya sendirian.”
“Siapa bilang aku menganggapnya sepele?” Arthur menyahut sinis.
“Kalau begitu kenapa kau tidak pernah membahasnya sedikit pun. Lalu tiba-tiba datang dan berkata kita akan menikah?”
“Karena aku tahu kau mencintaiku.” Arthur melangkah mendekat. “Dan aku juga mencintaimu. Jadi, berhentilah mencari alasan.”
Sonja mengepalkan kedua tangannya. Dadanya terasa sesak. Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan Arthur? Mengapa pria itu tiba-tiba begitu terobsesi pada pernikahan?
“Aku belum siap menikah,” ucap Sonja mantap.
Sorot mata Arthur langsung berubah dingin.“Jadi kau menolakku?” Suaranya nyaris seperti bisikan, tetapi justru terdengar lebih mengancam. Dia kembali melangkah hingga jarak mereka nyaris tak tersisa.“Kau menolakku, Sonja?” ulangnya pelan.
Sonja tetap menatap kedua mata kelam itu. Jantungnya berdebar kencang, tetapi bukan karena takut. Ia hanya bingung. Sonja memang mencintai Arthur sepenuh hati, tetapi pernikahan belum pernah terlintas dalam pikirannya. Semuanya terasa terlalu mendadak.
“Bukan menolak...” lirih Sonja. “Aku hanya belum siap. Beri aku waktu. Kenapa kau tiba-tiba ingin menikah?”
Tatapan Arthur sedikit melunak.“Aku ingin kau menjadi milikku.” Kepalanya menunduk hingga dahi mereka saling bersentuhan. Kedua lengannya melingkari pinggang Sonja, menarik gadis itu semakin dekat.
Sonja mengangkat wajahnya.“Aku sudah menjadi milikmu, Arthur. Dari dulu. Aku selalu menjadi milikmu.”
Arthur menggeleng pelan.“Belum.” Dia mengusap lembut pipi Sonja.“Aku ingin kau menjadi milikku, seutuhnya.”
Kalimat itu membuat pipi Sonja memanas. Dia memahami dengan jelas makna di balik setiap kata yang diucapkan Arthur.
“Aku sudah terlalu lama menahan diri,” bisik Arthur dengan nada frustrasi.
Sonja memejamkan mata. Mencoba mencerna keputusan yang sangat tiba-tiba ini. Sementara itu, pikiran Arthur dipenuhi tujuan lain yang tak pernah diketahui Sonja. Dia harus bergerak secepat mungkin. Sebelum semuanya terlambat.
Pernikahan adalah satu-satunya cara untuk memastikan Sonja tetap berada di sisinya. Selain itu, ikatan tersebut akan membebaskan kekuatan hitam yang selama ini tersegel dalam dirinya. Begitu kekuatan itu kembali, Arthur akan menghancurkan seluruh klan Dark Moon.
Setelah semuanya berakhir, ia akan membawa Sonja pergi jauh, ke tempat yang tak akan pernah bisa dijangkau siapa pun.
Keheningan kembali menyelimuti kamar itu.
“Arthur...”
“Hm?”
“Beri aku waktu.”
“Seminggu.”
“Aku serius.”
“Aku juga serius.” Tatapan Arthur kembali mengeras. “Aku memberimu waktu satu minggu. Tidak lebih.”
Sonja menelan ludah.“Arthur.”
“Tidak ada tawar-menawar.” Arthur memotong ucapannya.“Siap atau tidak, kau tetap akan menjadi istriku.” Nada suaranya terdengar begitu tenang, tetapi justru itulah yang membuat Sonja bergidik.“Aku tidak peduli kau setuju atau tidak.”
Sonja membuka mata lebar-lebar. Dengan kesal ia mendorong dada Arthur, berusaha menjauh. Namun, tubuh pria itu sama sekali tidak bergeming. Rasanya seperti mendorong tembok batu. Arthur menangkap kedua pergelangan tangan Sonja dengan mudah.“Berhenti memberontak.”
Sonja terus berusaha melepaskan diri.
Tatapan Arthur semakin gelap.“Atau...” bisiknya pelan di dekat telinga Sonja, “aku akan mengambil semua yang kuinginkan malam ini juga. Tanpa menunggu pernikahan itu.”
Tubuh Sonja langsung membeku.
Arthur sebenarnya mampu menyentuh Sonja kapan saja jika dia menginginkannya. Namun, ia tahu betul gadis itu tidak akan pernah memaafkannya jika ia melakukan hal tersebut. Karena itulah ia masih memilih menunggu, meski kesabarannya mulai berada di ambang batas.
“Kau benar-benar pria egois,” gerutu Sonja sambil memalingkan wajah.
Sudut bibir Arthur terangkat tipis.“Dan kau wanita paling keras kepala yang pernah kutemui.”
Meski saling melempar sindiran, tak satu pun dari mereka berniat melepaskan satu sama lain, karena di balik pertengkaran itu, keduanya sama-sama takut kehilangan.
***
Setelah Arthur meninggalkan kamar, suasana kembali sunyi. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Alea bersama Elleanor masuk ke dalam kamar yang luas itu.
"Ada apa ini?" goda Elleanor sambil terkekeh. Ia langsung menjatuhkan diri di samping Sonja yang tengah duduk di tepi ranjang dengan wajah kusut. "Kenapa calon pengantin malah cemberut begitu?"
Sementara itu, Alea memilih tetap berdiri di dekat pintu. Kedua tangannya bersedekap, tubuhnya bersandar santai pada dinding. Meski tampak tenang, sorot matanya yang dingin terus mengawasi Sonja.
"Dia pria yang sangat menyebalkan," gerutu Sonja pelan.
Sudut bibir Elleanor langsung terangkat."Menyebalkan, tapi juga sangat tampan," bisiknya sambil menyenggol pelan lengan Sonja.
Sonja hanya mendengus pelan.
"Aku bisa membawamu kabur dari sini kalau kau benar-benar tidak ingin menikah dengannya," ucap Alea tiba-tiba dengan nada datar.
Sonja mengangkat kepalanya menatap Alea, lalu mengembuskan napas panjang."Bukan tidak mau, Lea." Ia tersenyum hambar. "Hanya saja, semuanya terjadi terlalu cepat. Aku bahkan belum sempat mencerna semuanya."
"Itu memang aneh." Elleanor menyandarkan dagunya di telapak tangan. "Kupikir vampir seperti Arthur tidak akan pernah tertarik pada ikatan yang menurut mereka merepotkan seperti pernikahan." Dia lalu memiringkan kepala, menatap Sonja dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu."Sonja..."
"Hm?"
"Jangan-jangan kau sedang hamil?"
"A,apa?!" Sonja sontak membelalak. Wajahnya berubah merah padam dalam sekejap."Ti-tidak! Tentu saja tidak! Kami tidak pernah melakukan hubungan seperti itu. Bagaimana mungkin aku hamil?"
Elleanor hanya menyeringai jahil."Jangan bohongi aku, gadis manis. Kau pikir aku akan percaya?" godanya. "Arthur itu vampir dewasa. Mana mungkin dia bisa terus menahan hasratnya. Alea saja sulit menahannya, apalagi pria itu."
"Hentikan omong kosongmu, Elle." Nada suara Alea terdengar lebih tajam dari biasanya. Tatapan dinginnya membuat Elleanor hanya mengangkat kedua bahu tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Memangnya aku salah?" gumam Elleanor pelan.
Sonja berkedip beberapa kali."Benarkah para vampir seperti itu?"
Elleanor mengangguk mantap."Tentu saja. Hasrat vampir jauh lebih besar daripada manusia. Itu sudah menjadi naluri kami." Dia sengaja mengucapkannya sambil melirik Alea yang kini terlihat semakin kesal.
"Dengan siapa Lea.." Sonja bertanya lirih, "melakukan itu?"
Elleanor langsung menjawab tanpa ragu."Dengan Pangeran Alex. Siapa lagi?"
"Elle!"
Suara Alea meninggi untuk pertama kalinya."Kalau kau tidak bisa menjaga mulutmu, dengan senang hati aku sendiri yang akan membungkamnya."
Elleanor mendengus kesal."Galak sekali."
Sonja kembali terdiam. Ucapan Elleanor membuatnya mengingat sesuatu.
Dulu Arthur memang pernah hampir kehilangan kendali. Saat itu mereka hampir melangkah lebih jauh. Namun Sonja menolak dengan halus. Ia mengatakan bahwa dirinya ingin menjaga hubungan mereka sampai resmi menjadi suami istri.
Yang membuat Sonja bersyukur, Arthur tidak pernah memaksanya. Meski terlihat kecewa, pria itu tetap menghormati keputusannya.
"Kami benar-benar belum pernah melakukannya," ucap Sonja sekali lagi, kali ini dengan nada lebih tegas.
Elleanor menggeleng sambil berdecak."Kasihan sekali Arthur. Pasti dia sangat tersiksa menahan semua itu."
"Sudah cukup, Elle." Alea memijat pelipisnya, merasa percakapan itu semakin tidak masuk akal. "Lebih baik kita pergi."
"Kemana?"
"Aku mendengar ada sekelompok manusia yang sedang mengadakan pesta di pinggir hutan. Bukankah kau tadi ingin berburu?"
Mata Elleanor langsung berbinar."Itu baru ide bagus!"
Sonja yang sejak tadi hanya mendengarkan mendadak berdiri.
"Aku ikut, Lea."
Alea dan Elleanor menoleh bersamaan.
"Aku bosan terus berada di dalam kastil."
Elleanor langsung menggeleng."Itu ide yang buruk."
"Kenapa?"
"Kau tahu sendiri bagaimana sifat kekasih tampanmu itu." Elleanor menghela napas. "Kalau tahu kau keluar tanpa izinnya, dia bisa mengamuk."
Sonja mengerucutkan bibir."Aku tidak peduli." Dia berjalan menghampiri Alea dengan wajah memelas."Ayolah, Lea. Izinkan aku ikut. Aku benar-benar jenuh terus berada di kamar. Aku hanya ingin menghirup udara segar."
Alea menatap wajah Sonja beberapa detik. Tatapan memohon itu membuat pertahanannya perlahan runtuh. Wanita vampir itu akhirnya mengembuskan napas pelan."Baiklah."
Wajah Sonja langsung berseri.
"Tapi kau harus selalu berada di dekatku. Jangan pergi sendirian, apa pun yang terjadi."
Sonja mengangguk cepat."Aku janji."
Alea lalu mengalihkan pandangannya kepada Elleanor."Ayo, Elle."
Elleanor tersenyum lebar."Semoga malam ini menyenangkan."