GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Drama Bangsawan, Logika Kurir, dan Tembakan Pengecut
"Membantumu?" Pipi memiringkan kepalanya, memindai dua alien berwajah pucat di depannya dengan saksama. "Apa kalian habis diserang perampok?"
Belum sempat pertanyaan itu dijawab, suara deru mesin anti-gravitasi yang memekakkan telinga terdengar semakin dekat.
NGGGGNNNG
BROM!
Kendaraan lapis baja pengejar itu akhirnya menerobos pepohonan, berhenti dengan kasar hanya belasan meter dari posisi drop-ship GPS. Moncong-moncong senjata laser yang masih berasap menyembul dari balik jendela baja kendaraan tersebut.
Melihat pengejar mereka telah tiba, alien pria ras Mizura itu langsung menempatkan dirinya sebagai tameng di depan si perempuan.
"Yang Mulia, pergilah bersama mereka!" desak pria itu dengan napas tersengal, darah biru merembes dari bahunya. "Biar hamba yang memancing mereka ke arah lain!"
"Tidak, Jin!" perempuan ras Mizura itu menggeleng kuat-kuat. Tangannya mencengkeram lengan si pria. "Kau terluka parah. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian!"
"Tidak, Yang Mulia! Anda harus selamat bagaimanapun caranya!" balas Jin, matanya menatap panik ke arah mobil lapis baja.
"Tapi, Jin...!"
Pipi, yang berdiri tepat di sebelah mereka, menatap adegan sinetron tragis itu dengan dahi berkerut keras.
"Hei, kalian ini ngomong apaan sih? Yang Mulia? Hamba? Ini lagi syuting film atau gimana?" sela Pipi, benar-benar merusak suasana dramatis kedua pelarian tersebut.
Dari kendaraan lapis baja di seberang sana, pintu penumpang perlahan terbuka. Turunlah sang pemimpin komplotan, sesosok alien dari ras Varkan. Tubuhnya dilapisi kulit eksoskeleton mirip serangga berwarna cokelat kemerahan, dengan empat mata hitam legam yang menatap tajam ke arah kelompok Pipi.
Salah satu anak buahnya, alien kurus bersisik abu-abu, melongok dari jendela mobil. "Bos! Itu drop-ship logistik milik GPS. Mending langsung kita hajar aja, Bos!"
Si bos Varkan itu belum sempat menjawab ketika teman di sebelahnya langsung menjitak kepala si alien abu-abu.
"Buta mata kau ya?!" desis temannya panik sambil menunjuk gemetar ke arah Pipi. "Kau nggak lihat tanduk cewek seragam keamanan itu?! Itu Grovax! Belum pernah kau ngerasain tulangmu dibikin bubur sama ras Grovax?!"
Mendengar kata 'Grovax', si bos Varkan menelan ludah. Namun, gengsinya sebagai pemimpin komplotan memaksanya untuk tetap terlihat tenang. Ia mengangkat sebelah tangannya.
"Sudah, kalian diam di mobil," perintah si bos dengan suara berderak pelan. "Biar aku yang urus ini pakai jalur diplomasi."
Si bos Varkan berjalan perlahan mendekat, mencoba menunjukkan wibawa tanpa memegang senjata. Melihat hal itu, Pipi pun membusungkan dada dan ikut melangkah maju.
"Aku nggak tahu persis kalian kena masalah apa," ucap Pipi sambil meregangkan otot-otot lehernya hingga berbunyi krek, "tapi, aku nggak bisa biarin ada orang yang lagi dirampok begitu aja di depan mataku. Jadi... kalian diam di sini aja. Biar aku yang ngomong sama preman-preman itu."
Pipi menoleh ke belakang, melirik ke arah rekan-rekannya. "Zor, jagain mereka. Har, kau masuk aja ke drop-ship, amankan paketnya."
"Siap, Bos," jawab Razor datar. Pria kadal itu langsung melangkah maju, memposisikan dirinya sebagai perisai hidup di depan Jin dan perempuan Mizura itu dengan senapan siaga.
"O-oke! Aku masuk! Bahaya kalau sampai ada laser nyasar ke paket ini!" Harry tidak butuh disuruh dua kali. Pemuda botak itu langsung lari terbirit-birit menaiki bibir palka drop-ship dan mencari tempat sembunyi paling aman.
Perempuan ras Mizura itu menatap Pipi dengan mata berkaca-kaca. "T-terima kasih..."
"Tunggu, Pipi!" suara Arka mendadak menyela dari alat komunikasi, nadanya terdengar frustrasi. "Kita aja nggak tahu mereka itu orang baik atau enggak! Jangan main masuk ke urusan orang lain gitu dong! SOP, Pi! SOP!"
Pipi memutar bola matanya. "Mau dilihat gimanapun, orang-orang Mizura inilah yang lagi terluka, Kapten. Berarti kan yang jahat yang onoh yang bawa-bawa senjata. Masa gitu aja nggak paham."
"Nggak gitu konsepnya, Pipi!" erang Arka dari kapal induk.
"Ah, udah ah. Aku udah di depan mereka nih," balas Pipi santai, lalu memutus saluran radionya dengan tepukan pelan di telinga.
Pipi kini berdiri berhadapan dengan bos Varkan tersebut, menyisakan jarak sekitar lima meter.
Di luar, si bos Varkan berpura-pura tenang. Padahal di dalam hati, empat matanya menatap otot Pipi dengan keringat dingin. Ia paham betul reputasi Grovax. Senjata laser biasa tidak akan cukup melumpuhkan ras barbar ini sebelum tinju Pipi mendarat dan meremukkan kepala serangganya.
"K-k-kami..." bos Varkan itu berdeham, mencoba menghilangkan suara getar di tenggorokannya. "Kami dari Perusahaan Dagang Hyperson. Kami di sini untuk... menjemput Putri Kahlia. Jadi, bisakah kalian menyerahkannya pada kami dengan damai? Kami sama sekali tidak bermaksud mencari masalah dengan armada GPS."
Pipi menaikkan sebelah alisnya. "Hyperson?"
Di ruang kemudi Andromeda, Arka yang terus menyadap percakapan itu langsung mengetukkan jarinya ke konsol. "Hyperson... itu nama perusahaan farmasi multinasional raksasa yang berbasis di Galaksi Triangulum, Pi."
"Oh, anak farmasi rupanya," gumam Pipi. "Terus tadi kau bilang Putri?"
Bos Varkan itu mengangguk cepat. "B-benar. Putri Kahlia."
Pipi melangkah maju dua langkah. Jarak mereka kini semakin menipis.
Melihat Pipi mendekat, eksoskeleton si bos Varkan mulai mengeluarkan keringat dingin. Empat matanya mulai membuang pandangan ke arah lain, tak berani membalas tatapan intimidasi dari mata merah muda Pipi.
"Apa kau pikir aku ini bodoh, hah?" desis Pipi tajam, aura membunuhnya menguar tipis. "Mana ada orang 'menjemput' putri kerajaan sampai yang dijemput berdarah-darah begitu? Pakai acara tembak-tembakan laser segala lagi. Jemput macam apa itu?"
"I-itu karena..." si bos tergagap, otaknya berputar keras mencari alasan.
Sementara itu, di kokpit kapal kargo Andromeda yang jauh dari hiruk-pikuk permukaan planet, kepanikan lain sedang terjadi.
"YUI!" panggil Arka cepat, matanya terpaku pada layar monitor. "Coba cek, apa ada database tentang putri bernama Kahlia di galaksi ini?"
YUI, yang sedang memutar-mutar ujung kabel di kepalanya, menekan udara kosong memunculkan proyeksi holografik. Matanya memindai jutaan baris data dalam sepersekian detik.
"Hmm... nggak ada, Bos," jawab YUI santai. "Tapi kalau di galaksi sebelah, ada."
"Apa? Beneran ada? Kerajaan apa?"
"Lebih tepatnya kekaisaran sih," jawab YUI sambil memunculkan logo lambang air menyilang. "Itu putri dari Kaisar Fontain, penguasa koalisi dua belas planet besar yang seluruh penduduknya didominasi alien berunsur Hydro."
Arka mematung. Kepalanya perlahan menunduk, menepuk dahinya pasrah ke atas panel kendali.
"Aduuuuh..." erang Arka putus asa. "Jadi kita murni berurusan dengan politik antar-galaksi tingkat tinggi begini nih?"
"Kayaknya sih gitu, Bos," sahut YUI datar.
Kembali ke daratan Gun'Mar.
Pipi mendengus sinis ke arah bos Varkan itu. "Alasan macam apa itu? Maksa banget kau ngasih alasan, hah?"
"I-itu benar!" elak bos Varkan itu cepat, mengambil celah. "Mereka duluanlah yang menembak kami saat kami mau menjemput! Makanya kami membalas menembak untuk melumpuhkan. Kami ini korban provokasi!"
Pipi menoleh ke belakang. "Woii!" teriaknya ke arah drop-ship. "Kata serangga jelek ini mereka cuma mau jemput kalian! Kenapa kalian malah nembakin mereka duluan?!"
Kahlia, yang kini identitas dan gelarnya sudah terbongkar, langsung melangkah maju dari balik punggung Razor. Wajahnya memerah karena marah. "Itu bohong! Mereka mencegat kami! Mereka ingin membunuh kami untuk..."
Ucapan Kahlia menggantung di udara.
Selama sepersekian detik, suasana di tepi hutan itu mendadak hening. Hanya terdengar suara deru angin Gun'Mar yang menyapu sela-sela pepohonan. Pipi memalingkan wajahnya sepenuhnya dari si bos Varkan untuk mendengarkan Kahlia.
Sebuah celah fatal telah tercipta.
Senyum culas perlahan mengembang di wajah bos Varkan tersebut. Ini adalah kesempatan emasnya. Tanpa bersuara, ia memberikan kedipan kode cepat ke arah mobil lapis bajanya.
Di dalam mobil, si alien abu-abu menyeringai lebar. Ia yang sedari tadi membidik menggunakan Ion-Piercer Cannon, senjata anti-material ilegal yang larasnya kini telah berpijar seputih matahari.
Senjata itu dirancang untuk menembus apa pun dalam sekali tembak, bahkan cangkang reaktor kapal tempur.
Udara di sekitar mereka mendadak mendengung dengan nada yang sangat tinggi dan menyakitkan telinga. Ujung laras senjata di jendela mobil itu menyala seputih matahari.
Razor, yang memiliki insting bertahan hidup sangat tajam, menyadari perubahan udara itu. Sisiknya meremang.
"KAPTEN PIPI, AWAS!" teriak Razor.
Namun, waktu seakan berhenti. Semuanya terjadi terlalu cepat.
VZZZZZT
KRAK!
BOOOOOOOOOOOOOM!
Sebuah ledakan plasma biru raksasa menyapu bersih titik tempat Pipi dan bos Varkan itu berdiri. Gelombang kejutnya begitu dahsyat hingga membuat palka drop-ship penyok ke dalam, dan melemparkan tubuh Jin, Kahlia, serta Razor mundur bergulingan di atas tanah berlumpur.
Asap pekat bersuhu ribuan derajat langsung mengepul tebal ke udara, menutupi lokasi ledakan sepenuhnya, menyisakan keheningan mencekam dan bau logam hangus yang menyengat.