NovelToon NovelToon
Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ulfa Zahra

Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di kediaman Ardian.

Setelah beberapa hari tinggal di kota S rencananya Ardian dan Nalda akan kembali ke kota B. Bagaimanapun Ardian harus kembali bekerja setelah beberapa hari memberikan pekerjaannya ke sekretarisnya. Tapi seperti pagi-pagi sebelumnya, nalda muntah-muntah akibat morning sickness. Hingga rencana itu harus ditunda lagi.

"Hati-hati sayang." Ucap Ardian menuntun istrinya yang saat ini terlihat sangat lemas akibat morning sickness.

"Hubby rasanya pusing sekali," ucap Nalda menyadarkan kepala di bahu Ardian."Masyaallah ternyata senikmat ini jika mengandung by,"

"Kata dokter hanya trimester pertama setelah itu kamu kembali normal sayang." Jawab Ardian. Dengan penuh perhatian, ardian membantu memberikan tubuh Nalda ketempat tidur.

"Maaf merepotkanmu by." Ucap Nalda merasa tidak enak dengan suami nya itu.

"Jangan minta maaf, sayang. Kita sama-sama melewati nya." Jawab ardian lembut seraya mengusap kepala sang istri."Tidurlah. Aku mau menemui Harum, dia harus pergi sekolah."

"Iya." Nada memejamkan mata nya, karena memang kepalanya terasa pusing setelah muntah-muntah tadi. Ardian memperbaiki selimut yang Nalda pakai setelah itu dia melangkah keluar dari kamarnya menuju kamar sang putri. Saat dia membuka pintu kamar itu, Ardian tidak menemukan keberadaan Harum. Hal itu membuatnya menjadi cemas."Kemana Harum?"

Tidak ingin berpikir buruk Ardian melangkah menuruni anak tangga untuk mencari keberadaan Harum. Pandangannya menelusuri setiap ruangan mencari keberadaan sang anak, sampai pendengarannya menangkap sesuatu di dapur. Kakinya terayun mendekati dapur dan disana dia melihat putrinya sedang sibuk menuang sesuatu di gelas. Tangan mungil itu sangat lihai saat memindahkan rebusan air panas kedalam gelas serta memasukan madu sebagai tambahannya.

"Lagi ngapain, Rum?" Panggilnya pelan tapi berhasil membuat remaja berusia sebelas tahun itu terkejut.

"Astaghfirullah, pa. Harum terkejut." Ucap harum memegang dadanya. Bahkan wajahnya saat ini sudah berbuah kesal tapi tetap terlihat menggemaskan.

"Maaf sayang, papa mengejutkanmu. " Ucap ardian merasa bersala, tapi bibirnya tetap tersenyum."Kenapa pagi-pagi sudah sibuk di dapur. Bukannya siap-siap dikamar?"

"Itu pa. Aku lihat sejak kemarin bunda mual dan juga pusing, makanya Harum berinisiatif membutkan bunda  air jahe hangat. Yang harum baca di internet kalau itu bagus untuk ibu hamil." Jelasnya, tentu membuat Ardian teharu. Perkataan putrinya berhasil menyentuhnya. Dia tidak berpikir sampai kesana, tapi harum sudah dan pagi-pagi sekali. Remaja perempuan itu sudah sibuk untuk membuatkan minuman hangat untuk istrinya.

"Kenapa kamu pintar sekali, sayang." Ucap Ardian mengusap lembut kepala harum."Kenapa kamu nggak ngomong sama papa, biar nanti papa yang buatkan. Bukan maksud papa larang, hanya saja papa takut harum terkena air panas. Apalagi tanpa pengawasan orang dewasa. Itu terlalu berbahaya." Lanjut Ardian selembut mungkin, mencoba menjelaskan kalau apa yang putrinya lakukan itu baik, tapi Ardian khawatir putrinya akan terluka nantinya.

"Maaf papa, harum hanya ingin membantu. Mengingat papa pasti harus membantu bunda saat ini."

"Jangan meminta maaf, Papa tidak menyalahkan Harum, malah papa banga denganmu. Terima kasih sudah mau mengerti papa sayang." Uap Ardian tersenyum."Sini biar papa bawakan ke bunda, Harum siap-siap sana. Nanti telat ke sekolahnya."

"Iya, papa." Jawab harum sebelum pergi ke kamarnya.

Setelah harum pergi, Ardian mengambil minuman yang putrinya itu buat. Lalu mengantarnya ke kamar.

"Sayang, bangun sebentar." Nalda membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa pusing dan rasa mual itu masih ada.

"Hubby, aku mual." Wajahnya kehilangan rona, berubah pucat pasi. Ia terus-menerus menelan ludah secara paksa, mencoba menekan sesuatu yang bergejolak di tenggorokannya.

Ardian yang khawatir bergegas menggendong tubuh Nalda dan buru-buru mengantarnya kedalam kamar mandi. Nalda langsung muntah saat itu juga setibanya didalam kamar mandi. Tidak ada yang keluar selain busa putih bercampur air liur.

"Kamu tidak apa-apa, sayang. Kita kerumah sakit ya?" Ucap ardian panik serta ketakutan saat melihat istrinya benar-benar lemas dan wajahnya pucat sekali.

"Jangan by. Aku baik-baik saja, hanya mual nanti agak siangan baikan koh." Ucap Nalda menenangkan agar pria itu tidak terlalu cemas. Nalda menggenggam jari-jari besar itu mencoba mencari kekuatan disana. Nalda berkumur-kumur membersihkan sisa-sisa rasa pahit yang menjalar di tenggorokannya. sementara ardian dengan telaten membersihkan sisa-sisa muntahan tanpa rasa jijik sama sekali.

"Sudah?" Nalda mengangguk kecil sebagai jawaban. Ardian yang mengerti bergegas menggendong Nalda kembali ke tempat tidur dan pembaringan wanita itu di sana.

"Minumlah ini, ini akan membuatmu lebih mendingan." ucap Ardian sambil memberikan segelas minuman yang Harum buatakan tadi.

Nalda mengambil cangkir itu lalu meminumnya, rasa manis dari madu dan panas dari jahe serta hangatnya air berhasil membuat tenggorokannya terasa jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Perutnya yang tadi bergejolak perlahan membaik walaupun dia masih merasakan pusing.

"Terimakasih by."

"Sama-sama, sayang." Jawab ardian mengusap-usap kepala istrinya yang saat ini sedang berbaring."Apa kamu tau, siapa yang membuat minuman ini."

"Hubby yang membuatnya?" Ucap Nalda, karena setahunya Ardian yang membuatkan minuman itu.

"Bukan sayang, tapi putri kita Harum. Dia khawatir denganmu karena itulah dia membuatnya." Ungkap Ardian membuat Nalda terkejut mendengarnya.

"Ya allah kenapa, hubby membiarkannya. Kalau sampai dia terkena air panas bagaimana." Ucap nalda cemas.

"Aku datang dia sudah selesai sayang. Tapi tadi aku sudah menjelaskan ke dia kalau mau buat apa-apa ngomong dulu ke aku." Ucapnya lagi membuat rasa khawatir Nalda sedikit berkurang.

"Syukulah, by. Aku tenang mendengarnya. Kalau nanti dia buat lagi tolong awasi dia. Aku takut terjadi sesuatu dengannya."

"Iya sayang." Jawab Ardian."Tidurlah nanti aku akan membangunkamu setelah selesai menganatar harum ke sekolah."

"Iya by."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!