Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Menjelajahi Kedalaman Hutan Angker
Setelah pertarungan sengit melawan para penjaga bertopeng emas, Tim Barat yang dipimpin Arya Wiguna tidak membuang waktu.
Aroma darah dan anyir kabut tebal menyelimuti area pertarungan, namun mereka harus terus melangkah maju.
Matahari kini telah naik lebih tinggi, tetapi sinarnya nyaris tak mampu menembus rimbunnya pepohonan tua dan lapisan kabut pekat yang tak kunjung menipis di kedalaman Hutan Angker.
Hawa dingin yang menusuk tulang semakin terasa, menciptakan suasana mencekam yang seolah menelan setiap suara.
"Kita harus lebih hati-hati sekarang," bisik Nyi Kembang Sore, pandangannya menyapu sekeliling dengan cermat. Matanya yang tajam seperti elang terlatih, tak pernah luput dari setiap detail kecil.
"Aura gelap di sini semakin pekat. Ilmu hitam Bagasandra pasti lebih kuat di area ini."
Anggun Sari mengangguk, menggenggam erat tangan Arya. Ia bisa merasakan denyutan energi tak menyenangkan dari dalam hutan.
"Rasanya seperti ada yang mengawasi kita dari balik pepohonan," bisik Anggun Sari pada Arya, suaranya sedikit bergetar karena aura angker yang mencekam.
Arya mengangguk setuju. Indranya jauh lebih peka. Ia bisa merasakan hawa jahat yang begitu kuat, seolah ribuan roh tersiksa bersemayam di setiap sudut hutan.
"Tetap waspada, Anggun," ujar Arya pelan, menenangkan.
"Kita akan bergerak sesuai rencana. Aku akan memimpin di depan. Ki Bayu Wulung, Nyi Kembang Sore, kalian jaga sisi dan belakang," kata Arya, waspada.
Ki Bayu Wulung mengangguk sigap, pedang di tangannya tetap terhunus.
"Baik,, Tuan Arya. Saya akan pastikan tidak ada yang luput," sahut Ki Bayu Wulung.
Mereka kembali bergerak. Hutan Angker benar-benar sesuai namanya.
Jalur setapak yang semula samar kini nyaris tak terlihat, ditutupi akar-akar raksasa yang menjalar dan semak belukar berduri.
Pohon-pohon raksasa dengan dahan-dahan yang bengkok dan berlumut seolah membentuk gerbang-gerbang menuju kegelapan yang lebih dalam.
Suara-suara aneh mulai terdengar: gemerisik daun yang bukan karena angin, bisikan-bisikan samar yang tak jelas asalnya, dan terkadang lolongan panjang yang membuat bulu kuduk berdiri.
Arya melangkah dengan penuh perhitungan. Setiap pijakannya diatur dengan cermat, matanya menyapu sekeliling, tidak hanya mencari jebakan fisik, tetapi juga merasakan perubahan aura.
Arya bisa merasakan adanya ilus-ilusi tipuan yang mencoba menyesatkan mereka, membuat mereka berputar-putar di tempat yang sama.
"Hati-hati!" seru Arya tiba-tiba. Ia melompat ke samping, menarik Anggun Sari bersamanya.
SRAAAK!
Sebuah sulur akar tebal, yang tadinya terlihat seperti akar pohon biasa, melesat cepat dari tanah dan menyambar tempat mereka berdiri sebelumnya. Ujung sulur itu tajam seperti tombak, mampu menembus batu sekalipun.
"Jebakan akar!" seru Ki Bayu Wulung, segera menebas sulur itu dengan pedangnya. Bilahnya beradu dengan akar, menimbulkan percikan.
"Bukan hanya jebakan fisik," kata Nyi Kembang Sore, matanya memicing. "Ada energi hitam yang menggerakkan akar-akar itu. Ini adalah ilmu hitam Bagasandra yang merasuki alam."
Mereka terus diuji dengan berbagai jebakan alam yang telah dirasuki ilmu hitam.
Beberapa kali, kabut di sekitar mereka tiba-tiba menebal, membentuk dinding tak terlihat yang seolah memisahkan mereka.
Arya harus menggunakan konsentrasi penuh untuk menembus ilusi itu, memancarkan aura tenaga dalamnya untuk membimbing rekan-rekannya.
Ada pula area di mana tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba berubah menjadi lumpur hisap yang lengket dan berbau busuk, atau di mana dahan-dahan pohon tiba-tiba mengulur seperti tangan hantu untuk mencengkeram mereka.
Namun, dengan koordinasi yang baik dan kesigapan Arya yang luar biasa, mereka berhasil mengatasi setiap rintangan.
"Tempat ini benar-benar gila!" gumam Anggun Sari, sambil menebas dahan berduri yang mencoba melilit kakinya.
"Sepertinya Bagasandra ingin agar tidak ada yang bisa mencapainya."
"Itu berarti kita semakin dekat," jawab Arya, matanya tetap waspada.
Setelah berjalan cukup lama, mereka merasakan hawa di sekitar mereka semakin dingin, meskipun udara terasa lembap dan pengap.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah area yang lebih terbuka, sebuah lembah kecil yang dikelilingi tebing-tebing curam dan ditutupi oleh pepohonan mati tanpa daun.
Di tengah lembah itu, terdapat sebuah kuil tua yang rusak, terbuat dari batu hitam, sebagiannya runtuh, ditutupi lumut tebal dan sulur-sulur tanaman merambat. Aura gelap dan busuk yang pekat keluar dari kuil itu, seolah sarang dari segala kejahatan.
"Itu pasti sarang Bagasandra!" bisik Ki Bayu Wulung, wajahnya menegang.
"Aura yang sangat pekat," Nyi Kembang Sore menambahkan, tangannya mengepal erat, siap bertarung.
"Aura ribuan nyawa tak berdosa yang dikorbankan."
Arya menatap kuil itu. Di antara reruntuhan batu, ia bisa melihat sebuah gerbang besar yang terbuat dari kayu hitam, dihiasi ukiran makhluk-makhluk mengerikan.
Dari balik gerbang itu, samar-samar terdengar suara-suara aneh, seperti gumaman, erangan, dan tawa yang memekakkan telinga.
Tiba-tiba, dari kegelapan di dalam kuil, muncul empat sosok berjubah hitam.
Mereka adalah para tetua pengikut setia Bagasandra, dikenal sebagai Empat Penjaga Naga Hitam.
Masing-masing memancarkan aura tenaga dalam yang kuat dan berbeda.
Salah satunya bertubuh gemuk dengan cengiran kejam, yang lain bertubuh kurus dengan tatapan mata dingin, yang ketiga membawa tongkat panjang berukir tengkorak, dan yang keempat adalah seorang perempuan tua berwajah keriput dengan rambut putih panjang terurai yang memegang kendi kecil.
"Hoohohoho! Ada lagi tikus-tikus yang berani masuk ke sarang Naga Hitam!" seru tetua gemuk, suaranya parau dan melengking.
"Kalian pikir bisa mengalahkan kami? Jangan mimpi! Kalian akan menjadi korban ritual tuan kami!"
"Kami tidak akan membiarkan kejahatan kalian berlanjut!" seriak Anggun Sari, pedangnya teracung tinggi. "Serahkan gadis-gadis yang kalian culik!"
"Gadis-gadis itu sudah menjadi persembahan bagi Tuan Bagasandra!" balas tetua kurus dengan tatapan dingin.
"Mereka akan menjadi bagian dari kekuatan kami!"
Mendengar itu, amarah Anggun Sari memuncak. Begitu pula dengan Arya. Ia tidak bisa lagi menahan diri.
"Bersiaplah!" kata Arya kepada kelompoknya.
"Mereka ini bukan lawan sembarangan. Serang dengan kekuatan penuh!"
Pertarungan sengit pun dimulai. Arya langsung melesat ke arah tetua gemuk yang paling banyak bicara.
"Harimau Putih Menerkam!" Arya melancarkan pukulan gajah purba yang diperkuat aura harimau putih.
BLARR! BUG!
Tetua gemuk itu mengelak dengan gesit, namun pukulan Arya masih mampu menghempaskannya beberapa langkah ke belakang.
Arya terkesiap, tidak menyangka kekuatan Arya begitu dahsyat. "Ilmu apa itu, bocah?!"
Anggun Sari menghadapi tetua perempuan tua.
"Tarian Mawar Membelah Langit!" Pedangnya berkelebat cepat, melancarkan serangkaian tebasan indah namun mematikan.
Perempuan tua itu memegang kendi kecilnya, dari kendi itu keluar asap hitam tebal yang berusaha membungkus pedang Anggun Sari, mencoba melumpuhkan serangannya. Anggun Sari merasa pedangnya sedikit melambat, namun ia tetap memaksa.
Ki Bayu Wulung berhadapan dengan tetua pembawa tongkat.
"Kilatan Elang Menyambar!" Ki Bayu Wulung bergerak secepat kilat, menghindari ayunan tongkat tengkorak yang berat dan melancarkan tebasan cepat ke arah titik vital.
Namun tetua itu memiliki pergerakan yang tak terduga, melenting dan memutar tongkatnya dengan sangat cepat.
Nyi Kembang Sore berhadapan dengan tetua kurus.
"Jebakan Akar Wangi!" Nyi Kembang Sore melepaskan sejenis bubuk dari kantongnya yang menciptakan ilusi akar-akar tajam di sekitar tetua kurus, mencoba menjebaknya dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
Tetua kurus itu terkejut, namun dengan cepat ia melesat ke atas, menghindari jebakan Nyi Kembang Sore.
Arya tidak memberi ampun pada tetua gemuk. Ia tahu, semakin lama pertarungan, semakin banyak nyawa yang akan menjadi korban Bagasandra.
Arya melesat lagi, kali ini ia melancarkan Tendangan Bayangan Harimau Putih. Kakinya berkelebat cepat, menciptakan beberapa bayangan seolah ada banyak kaki yang menyerang.
WHUSSS! DUAGH!
Tendangan itu menghantam kepala tetua gemuk. Topeng emasnya retak. Tetua itu menjerit tertahan, tubuhnya ambruk ke tanah, tak bergerak. Arya melumpuhkannya dalam dua serangan, tanpa memberinya kesempatan bernapas.
Melihat pemimpin mereka dilumpuhkan begitu cepat, ketiga tetua lainnya terkejut.
"Dia terlalu kuat!" teriak tetua pembawa tongkat.
Anggun Sari memanfaatkan momen ini. Ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, melontarkan
"Hujan Kelopak Mawar Beracun". Pedangnya memancarkan cahaya merah muda, lalu ribuan kelopak mawar beracun melesat ke arah perempuan tua itu.
Perempuan tua itu menjerit, kendi di tangannya pecah, dan ia jatuh terkapar, tubuhnya membengkak dan menghitam.
Ki Bayu Wulung, melihat celah, melancarkan "Serangan Jantung Elang" ke arah tetua pembawa tongkat.
Pedangnya menusuk langsung ke jantung. Tetua itu roboh, tongkatnya terlepas dari genggamannya.
Nyi Kembang Sore, dengan gerakan cepat, mengunci pergerakan tetua kurus yang mencoba melarikan diri.
"Kuncian Daun Berduri!" Sebuah sulur duri tak terlihat melilit kaki tetua kurus, membuatnya terjatuh.
Nyi Kembang Sore mendekat dan memberikan pukulan telak ke tengkuknya, membuatnya pingsan.
Pertarungan sengit melawan Empat Penjaga Naga Hitam berakhir dalam waktu singkat, berkat kecepatan dan kekuatan luar biasa Arya, serta kerja sama tim yang efektif.
Arya melihat ke dalam kuil. Suara-suara mengerikan itu kini terdengar lebih jelas. Ia tahu, Bagasandra menanti di sana.
"Kita harus masuk," kata Arya, suaranya dipenuhi tekad. "Gadis-gadis itu pasti ada di dalam."
Anggun Sari mengangguk, napasnya masih terengah-engah, namun matanya memancarkan keberanian.
Ki Bayu Wulung dan Nyi Kembang Sore juga siap. Mereka berempat, tanpa ragu, melangkah memasuki gerbang kuil hitam yang gelap dan angker itu, siap menghadapi iblis yang bersemayam di dalamnya.
Bersambung....
makin seru kisahnya