“Ed, kamu jangan macam-macam. Jangan lupa posisi kita! Kamu belum lulus sekolah, belum siap menghadapi dunia ini!”
Edgar menghela napas panjang, namun tetap mendekat. Ia menatap Ana dalam-dalam. “Saya sudah siap bu. Saya sudah menjadi suami anda. Apa itu nggak cukup untuk membuktikan kedewasaan saya?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter
Ana terduduk lemas di tanah. Sungguh ia sangat khawatir jika semua orang akan tahu tentang statusnya itu. Bagaimana hal tadi benar-benar terjadi? Ana sudah membayangkan akan ada banyak masalah yang akan menerpa dirinya dan orang-orang sekitarnya termasuk suami mungilnya itu. Ana kali ini benar-benar bertekad, akan mencari jalan agar hubungan mereka tetap tertutup dan terjaga.
Anita dan Edgar bergerak cepat mendekat dengan ikut duduk berjongkok di sisi samping Ana.
“Ibu baik-baik aja 'kan?” tanya Edgar sembari memegang bahu Ana. Ia cemas dengan kondisi istrinya saat ini. Pucat pasih dan ketakutan, melukisi di wajah cantik itu.
“Kamu jangan takut Na. Ada kami yang selalu mendukung kamu.” ucap Anita mengelus punggung Ana untuk memberikan motivasi dan semangat, bahwa keadaan akan baik-baik saja.
Ana melihat Anita, ia harus menjelaskan kepada sahabatnya itu. “Maafkan aku ya Nit. Aku belum sempat cerita sama kamu tentang kondisi kami saat ini.” ucapnya lirih dengan Ana memegang kedua tangan sahabatnya itu.
“Aku sudah dengar kok Na dari Edgar. Kamu jangan takut soal itu. Sekarang pikirkan juga hubungan pernikahan kalian berdua. Soal masa depan Edgar akan baik-baik aja kok. Nikmati aja masa-masa kalian berdua.” balas Anita penuh keyakinan.
“Tapi Nit, kayak tadi aja sudah buat aku lemes begini. Bagaimana aku bisa menjalankan pernikahan ini dengan tenang?” Ana mengeluarkan apa yang sekarang ia pikirkan tanpa memandang ada Edgar di sisi sampingnya.
“Kalau ibu masih takut dan enggak tenang, aku bisa kok berhenti dari sekolah dan membawa ibu pergi dari kampung ini.” ucap Edgar memikirkan kondisi rumah tangga mereka.
“Maaf Ed, tapi saya enggak bisa memikirkan kita aja. Bagaimana mama dan papa kita? Aku takut Ed mereka menjadi cemoohan para warga kampung di sini dan mengakibatkan banyaknya masalah.” ucap Ana sembari memegang tangan Edgar.
“Ana dengarkan aku. Kamu itu jangan terlalu berlebihan memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Jika terjadi pun semuanya akan baik-baik aja, walau ada sebuah kerikil terletak di antara setiap jalan. Setiap hubungan pernikahan pasti ada-ada aja masalahnya. Sekarang itu nikmati aja pernikahan kalian. Jangan menunda-nunda lagi untuk memiliki sebuah hubungan mau pun keturunan.” ucap Anita menasehati.
Sekita wajah Ana berubah mendengar perkataan Anita. Ia risih dengan ucapan kalimat akhir sahabatnya itu. “Kamu jangan ikut-ikutan kayak orang tua kami deh Nit. Edgar masih sekolah dan harus lulus serta bekerja dulu.” Ana langsung memperingati Anita, ia pun menoleh ke Edgar. “Kamu juga dengar ya Ed. Jangan sampai hal kayak begini terulang kembali.” oceh Ana memperingati suami mungilnya itu.
“Ya elah Na, lagian—”
Mata Ana melebar saat Anita ingin membahas sesuatu yang dirinya larang saat ini. “Kita ngomong di lain waktu aja Nit, jangan di sini. Entar pikiran Edgar lengser dari tempat yang bagus ke tempat yang salah.” Ana tidak mau membahas soal rumah tangga di hadapan suami mungilnya itu.
Edgar melirik Anita dengan mengulum senyuman.
Mata Anita melingkari susana yang terbilang sahabatnya itu terlalu pesimis.
“Sekarang lebih baik kalian berdua jelaskan. Kenapa bisa juga kamu tidur di samping aku?” Ana masih penasaran bagaimana hal itu bisa terjadi. Kapan Edgar yang sedari awal tidur di sampingnya berubah menjadi sahabatnya itu?
“Saya sebenarnya menyadari akan ada orang yang menyebarkan isu tersebut bu. Saya enggak sengaja melihat ada lampu handphone menerangi satu titik. Makanya saya menemui bu Anita saat anda sudah tidur.” jelas Edgar dengan sedikit melirik ke Anita yang mana sebenarnya wanita cantik itu sangat syok dengan kabar itu.
Tapi pikiran Anita yang terbilang dewasa, bisa langsung memahami kondisi sahabat serta anak muridnya itu. Ia sangat bersyukur bahwa Edgar-lah yang menjadi suami Ana, bukan anak murid lainnya yang belum berpikiran dewasa seperti Edgar.
Anita mengangguk pelan, bahwa apa yang di sampaikan Edgar benar.
“Syukurlah kalau begitu.” Ana lebih lega mendengar penjelasan kedua insan di sampingnya itu. “Lain kali Ed jangan kayak begini. Saya enggak mau kamu melakukan sesuatu sebelum izin dari saya.” ucap Ana yang harus lebih berhati-hati dalam bertindak.
“Enggak apa-apa juga kali Na. Lagian Edgar suami kamu, pantas dia mau mengajak kemana aja istrinya. Apalagi di dalam kamar.”
Plak!
Ana memukul pelan Anita dengan Anita tertawa puas menjahili sahabatnya itu. Sedangkan Edgar ikut tertawa kecil melihat reaksi Ana yang terus ketakutan akan berurusan dengan rumah tangga mereka.
Ana tidak mau lagi membahas dirinya dan Edgar kalau bersama Anita. Sahabatnya itu pasti akan semakin melantur kemana-mana dan terus saja menjahili dirinya. “Sudahlah lebih baik kita beresin ini semua, dan segera kumpul dengan mereka. Entar kita di gosipin lagi.” gerutu Ana yang tidak ingin menambah masalahnya.
“Biarkan aja bu, entar ada yang bereskan. Lebih baik kita langsung berkumpul sama yang lain.” ucap Edgar.
“Emang siapa yang membersihkan ini semua Ed?” tanya Ana sembari melihat lingkungan yang sangat sepi.
“Jin! Iya orang-lah bu! Ibu enggak usah banyak pikiran. Lebih baik kita segera menemui yang lainnya.” jawab Edgar.
“Eh kalian berdua masih panggil ibu dan anak? Sudah suami istri itu panggilannya sedikit romantis. Kayak Ayang, Sayang, My—”
“Anita!” panggil Ana sembari memegang bahu sahabatnya itu. Ia tidak ingin membahas lainnya lain.
Anita kembali tertawa. “Terserah kalianlah pusing aku.” ucap Anita berjalan duluan. “Setidaknya sebelum kalian punya anak puas- puaskan dulu. Kayak aku nih kalau pak suami pulang beronde-ronde mainnya.”
“Eh mulut di jaga ya! Masih ada Edgar di sini!” teriak Ana mendekati sahabatnya itu.
“Aku hanya memberikan petunjuk aja sama Edgar. Biar bisa menjadi bapak-bapak muda.” ucap Anita sembari melirik Edgar.
Edgar mengulum tawa mendengar wali kelasnya yang diam-diam ternyata brutal juga soal rumah tangganya.
“Eh Ed, banyak-banyak belajar kamu-nya. Jangan bisa menang dalam bergelut taekwondo aja. Bergelut di atas ranjang juga harus memang. Biar—”
Ana langsung menutup mulut Anita agar tidak banyak berbicara. “Lebih baik kamu diam! Jangan banyak bicara lagi! Entar Edgar nggak lulus sekolah gara-gara pikirannya penuh dengan hal-hal negatif.” oceh Ana sembari menjauhi Anita dari Edgar.
“Nanti saya belajar lebih mendalam akan hal itu bu.” jawab Edgar santai.
Ana berhenti melangkah di ikuti Anita. “Kalian berdua,” ia menunjuk Anita dan Edgar yang masihnya tertawa puas di dalam batin mereka masing-masing. Ana sangat geram dengan penampakan dua insan di hadapannya itu, membuatnya langsung melangkah lebih cepat untuk meninggalkan Edgar dan Anita. Sungguh hati Ana benar-benar kesal saat ini.
“Banyak-banyak bersabar menghadapi wanita kayak Ana. Yakinlah anak kalian akan banyak.” ucap Anita saat Edgar sudah mendekatinya.
“Ibu enggak boleh ngomong kayak begitu sama anak kecil. Entar bulu saya yang belum tumbuh, tibanya lebat.” ucap Edgar meninggalkan Anita.
Anita sontak saja tertawa kecil mendengar ucapan Edgar yang lebih monohok dari sahabatnya itu. “Kalian berdua ternyata sama aja. Sama-sama aneh.” bisik batinnya sembari melangkah mengikuti dua insan yang berjalan cepat meninggalkannya.
Guru hlo itu tp skeptisnya ya Allah...