Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KHAS ANAK MUDA
Pevita balik kamar cukup larut, hampir tengah malam, dan selama itu pula Kala menunggunya. Badannya sudah mulai berangsur pulih, begitu Pevita masuk. Kala mencoba memberi senyum tipis, namun tak dibalas.
"Kok lama? Dari mana?" tanya Kala basa-basi. Pevita tidak menjawab langsung, ia masuk ke kamar mandi, gosok gigi dan ganti baju, baru beranjak ke kasur. "Nonton di bawah?" tanya Kala lagi.
"Kerjain tugas di bawah, selamat malam," ujar Pevita masih ngambek, malah berselimut dan memunggungi Kala. Sang suami hanya bisa pasrah, menatap punggung Pevita. Seperti biasa, Kala si peka, tak peduli nanti Pevita berontak atau malah tambah ngambek, yang jelas Kala harus memeluk sang istri. Tahu banget, Pevita gak bakal bisa tidur nyenyak tanpa pelukan Kala.
"Maaf ya, gara-gara aku yang egois, kamu kena omelan nenek, janji deh ke depannya bakal sering dengerin saran kamu. Udahan yuk marahannya, aku habis sakit loh, mau disayang-sayang sama istri, gak dapat pelukan nanti malah demam lagi aku," bisik Kala sembari merapatkan pelukan. Pevita masih diam. Kala pun tak memaksa, ia tetap memeluk sang istri, hingga keduanya tidur.
Pagi menjelang, Kala bangun lebih dulu, dan dia tersenyum lebar melihat Pevita justru yang memeluknya sekarang, entah tadi malam pergerakan tidurnya bagaimana, yang jelas pelukan istrinya kini cukup erat. "Love you," ucap Kala sembari mencium pucuk kepala sang istri.
"Mau sampai kapan peluk aku, Yang. Waktunya sholat shubuh," ujar Kala sembari menusuk pipi mulus sang istri. "Sayang, istrinya Mas Kala ganteng. Bangun, yuk!"
"Bentar, 5 menit lagi!"
"Udah jam 5 lewat loh, ini mau sholat shubuh apa mau sholat dhuha!" lagi-lagi Kala berusaha membangunkan sang istri. Entah kecapekan, atau malu karena terciduk memeluk Kala makanya gak bangun-bangun, yang jelas sangat menggemaskan.
"Yang, tangannya turun dikit dong, dah bangun loh 'adikku'," celoteh Kala kesekian kalinya. Biasanya kalau urusan itu, Pevita sok-sok an menolak dan langsung bangun. Ogah bercumbu di pagi hari di hari aktif kuliah.
Bingo! Pevita langsung bangun, ancaman terjitu, Kala tertawa bahagia, melihat sang istri salah tingkah. "Mau mandi bareng?" tawar Kala dengan menoel pundak sang istri.
"Mandi cepetan ah, keburu sholat shubuhnya habis!" sentak Pevita kembali goleran di kasur.
Pagi ini keduanya ada mata kuliah pagi, alhasil jam 6 sudah harus berangkat, kalau tidak bakal telat karena kuliah pagi dimulai jam 7. "Aku bareng kamu aja ya, udah telat nih kalau bawa mobil," pinta Pevita sembari memasang jam tangan.
"Oke, asal dipeluk!"
"Ck, aku cium sekalian tengkuk kamu!" tambah Pevita hanya sebuah ancaman belaka, Kala tertawa dibuatnya. Keduanya pun skip sarapan, bunda menawarkan bekal tapu ditolak juga.
"Kelar sesi pagi jam berapa?" tanya Kala sembari memasangkan helm.
"Jam setengah 9," jawab Pevita.
"Oke, sama. Nanti sarapan di kantin fakultas kamu aja. Aku samperin!" ucap Kala, biasanya kalau skip sarapan, Pevita pasti lupa makan sampai jam makan siang. Kalau keterusan bisa kena gerd, dan Kala menghindari hal itu. Dia saja yang merasakan perihnya kena asam lambung, angkat tangan, tak mau Pevita merasakan hal itu.
"Oke!" jawab Pevita.
Pevita benar-benar memeluk pinggang sang suami, Kala ngebut, karena harus mengantar Pevita dulu ke gedung kuliahnya, baru ke Fakultas Teknik. Jangan sampai Kala telat juga.
"Salim!" sengaja Kala menggoda dengan menyodorkan tangannya ke arah Pevita. Istri cantik itu cemberut karena di tempat umum begini. Belum terbiasa. "Cepetan, Sayang. Aku juga harus segera masuk kelas!" paksa Kala, mau tak mau Pevita langsung menyambar tangan suami.
"Cium!" pinta Kala makin menjadi. Pevita langsung mendelik dan memberikan bogeman pada sang suami. Kala jelas tertawa, dia mengalah dan langsung meluncur ke gedung kuliahnya sendiri. Pevita pun berlari menuju kelas yang terletak di lantai 2.
"Itu suami brondong kamu, Pev?" tanya Andro, salah satu kakak tingkat dari jurusan DKV, di kampus Pevita. Jurusan DKV, boga, busana, dan juga tata rias masuk dalam satu Fakultas Pendidikan Vokasi. Para mahasiswa jurusan tersebut sering kali ada kelas di gedung kuliah bersama (GKB) seperti saat ini, Andro bertemu dengan Pevita saat menaiki tangga menuju lantai dua.
Dulu sebelum Pevita kenal dengan Refan, ia lebih dulu dekat dengan Andro dari kegiatan OSPEK, hanya dekat, belum sampai pacaran. "Iya, Kak!" jawab Pevita sedikit jutek. Dulu, Andro pernah PHP pada Pevita, eh malah menembak teman seangkatan Pevita, pret. Mulut buaya.
"Gimana rasanya brondong? Kamu pasti yang mengajari ya?" kalau saja Pevita tak buru-buru masuk ke kelas, sudah ditabok tuh mulut, omongan Andro barusan sudah termasuk pelecehan bukan? Pevita berhenti sebentar menatap wajah Andro dengan senyum sinis.
"Kepo ya? Ya setidaknya meski brondong, tapi dia sangat dewasa dan gak buaya seperti laki-laki yang berumur di atasku, permisi!" ucap Pevita menohok, segera mempercepat langkahnya, mata kuliah akan dimulai 10 menit lagi.
Bagaimana eskpresi Andro? Jelas kesal, dianggap buaya. Bukankah saat kegiatan OSPEK begitu, kakak tingkat sudah biasa mencari mangsa ya. Sialan, sedikit tak terima dibilang buaya.
Kala memenuhi janjinya, kelar kelas langsung ke kantin fakultas sang istri, begitu sampai Pevita melambaikan tangannya. Kala pun langsung menuju ke meja yang telah dibooking Pevita.
"Sudah keluar dari tadi?" tanya Kala sembari menurunkan ranselnya.
"Barusan, kamu pesan apa?" tanya Pevita berniat melayani sang suami.
"Soto ayam aja deh, sama jeruk hangat!" ucap Kala. "Pesan sendiri? Berani?" ledek Kala dengan terkekeh, Pevita hanya mendengus kesal. Ini area gue, begitu tatapan Pevita berbicara.
"Kamu kalau praktik di mana, Yang?" tanya Kala saat Pevita sudah kembali, nanti pesanan akan diantarkan.
"Di sana!" tunjuk Pevita pada gedung bertingkat, sekitar 800 meter dari kantin. Kala mengangguk.
"Di kelas kamu ada yang cowok?" tanya Kala penasaran, jurusan yang diambil sang istri identik dengan jurusan perempuan, ya siapa tahu ada cowoknya.
"Ada, di kelasku ada 8 anak cowok! Jangan salah, chef di restoran kan kebanyakan cowok juga!" Kala mengangguk setuju. Seperti halnya di jurusan teknik, porsi perempuannya juga lebih sedikit. Mereka pun mengobrol santai seputar kuliah, teman dan tugas, tawa dan tabokan tak luput meramaikan obrolan keduanya.
"Yang, jangan noleh ya, kayaknya cowok di seberang kamu terus lihatin ke arah kita deh," Kala menangkap mata seseorang tertuju pada meja keduanya, dan itu sudah tiga kali tertangkap oleh Kala.
Kalau tadi, posisi yang dimaksud Kala memang ditempati oleh Andro, mungkin saja memang dia. "Pengagum rahasiaku mungkin, cowok?"
Kala mengangguk. "Dunia kampus, pasti ada cerita cinta. Kayaknya dia naksir kamu," tebak Kala.
"Biarin saja, kita tidak bisa melarang orang buat jatuh cinta. Yang penting gak obses saja. Apalagi menyukai aku yang cantik, wajar!" duh tingkat percaya diri Pevita perlu diacungi jempol, dan Kala hanya membalas dengan berdecih.
"Eh kenyataan, bahkan brondong pun cinta mati sama aku," sindir Pevita dan diiringi tawa Kala.
yuk bisa yuk kita lakban bntar aja
besok jadwal latihan Zumba lo