Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
Siang itu suasana lobi eksekutif terasa lebih istimewa. Dua orang tamu penting baru saja tiba, Bapak Arya dan Ibu Ratih. Mereka adalah orangtua Andre. Mereka datang bukan untuk urusan bisnis, melainkan sekadar berkunjung sebentar setelah menghadiri acara di gedung tak jauh dari kantor.
Bapak Arya adalah pria berwibawa yang masih tegap meski sudah berusia lanjut, sementara Ibu Ratih tampak anggun dengan dress berwarna biru muda, senyumnya ramah menyapa setiap karyawan yang berpapasan. Andre menyambut mereka di depan pintu lift, lalu mengantar keduanya menuju ruang kerjanya yang tenang.
"Maaf ya Mi, Pi, aku belum sempat berkunjung ke rumah," ucap Andre sopan sambil mempersilakan duduk. "Sibuk sekali dan banyak rapat yang belum selesai."
"Tidak apa-apa Nak," jawab Ibu Ratih sambil menatap sekeliling ruangan. "Kamu kan pemimpin di sini, pasti sibuk sekali. Kami cuma lewat dan ingin melihatmu sebentar, takut kamu lupa makan dan istirahat."
Bapak Arya tertawa pelan sambil menepuk bahu anaknya. "Dia memang begitu, sejak kecil kalau sudah mengerjakan sesuatu tidak mau berhenti sampai selesai. Tapi bagus juga, bertanggung jawab."
Andre tersenyum tipis, lalu menuangkan air putih untuk kedua orang tuanya. Mereka mengobrol sebentar soal kesehatan, soal proyek yang sedang berjalan, sampai akhirnya Ibu Ratih membuka topik yang sudah lama ingin ia bicarakan.
"Ngomong-ngomong," katanya sambil menatap Andre lekat-lekat, "kemarin Clara datang ke rumah. Dia cerita sudah kembali dari luar negeri dan sudah bertemu kamu di sini."
Andre mengangguk pelan. "Iya Mi, dia memang datang beberapa kali untuk urusan kerja sekaligus silaturahmi."
"Dia anak baik sekali Nak," timpal Ibu Ratih dengan nada penuh harapan. "Pintar, berpendidikan tinggi, sopan, dan tentu saja kami sudah mengenalnya sejak bayi. Papi dan Mami rasa dia adalah calon pasangan yang sangat cocok untukmu. Keluarga kita juga sudah lama bersahabat dengan keluarganya, pasti tidak akan ada masalah di kemudian hari."
Bapak Arya ikut menambahkan. "Betul kata mamimu. Tidak ada yang lebih baik daripada bersatu dengan orang yang sudah kita kenal seumur hidup. Minggu depan Papi dan Mami berencana mengundang Papa dan Mamanya Clara makan malam bersama di rumah. Kamu usahakan hadir ya, bicarakan masa depan kalian berdua."
Andre terdiam sejenak. Ia memutar gelas di tangannya, pikirannya berkecamuk. Ia menghormati keinginan orang tuanya, ia menyayangi Clara sebagai saudara dan teman masa kecil, tapi hatinya tidak bisa berbohong.
"Aku mengerti maksud Papi dan mami." jawabnya pelan namun tegas. "Aku akan usahakan hadir. Tapi soal menjadi pasangan, aku harap Papi dan mami beri waktu lebih lama. Aku belum bisa memastikan perasaanku sepenuhnya saat ini."
Wajah Ibu Ratih sedikit kecewa, tapi ia tidak memaksa. "Kamu ini... selalu saja berhati-hati sekali. Padahal semua orang sudah tahu kalian serasi."
Saat itulah, tanpa sadar mata Andre melirik ke arah jendela kaca yang menghadap ke lorong administrasi di lantai bawah. Di sana, terlihat jelas sosok Rima yang sedang sibuk mengangkut tumpukan berkas tebal. Ia berjalan perlahan dengan hati-hati, sesekali berhenti mengusap keringat di dahi, lalu tersenyum ramah menyapa satpam yang lewat.
Pandangannya tertahan lama di sana. Bukan karena tugasnya, tapi karena ketulusan yang terpancar dari wajah gadis itu. Sesuatu yang selalu membuat hatinya terasa tenang sekaligus berdebar aneh.
Bapak Arya menyadari keanehan itu. Ia mengikuti arah pandang anaknya, lalu menatap kembali pada Andre dengan tatapan menyelidik. "Siapa yang kamu lihat itu Ndre? Salah satu karyawanmu?"
Andre tersadar seketika, segera memalingkan wajah dan duduk tegak kembali. "Ah... iya Pa. Itu Rima, anak magang. Sedang bertugas mengantar berkas."
"Hmm," Bapak Arya mengangguk pelan seolah mengerti sesuatu. "Kamu memperhatikannya cukup lama."
"Dia rajin Pa." jawab Andre singkat, berusaha menutupi perasaannya. "Sering membantu tanpa disuruh, dan pekerjaannya makin membaik belakangan ini."
Ibu Ratih tersenyum tipis melihat perubahan sikap anaknya, tapi memilih tidak menekan lebih jauh. "Ya sudah, Papi dan Mami tidak akan lama di sini. Kamu lanjutkan pekerjaanmu. Ingat ya, makan malam minggu depan jangan sampai terlambat."
"Siap Mi. Aku pastikan datang tepat waktu," janji Andre.
Ia mengantar kedua orang tuanya sampai ke lobi. Setelah mobil mereka pergi menjauh, Andre berdiri diam sejenak di depan pintu kaca. Pikirannya kembali pada Rima, pada tatapan orang tuanya, dan pada kebingungan hatinya sendiri.
"Papi benar," gumamnya pelan. "Aku memang tidak bisa berpura-pura lagi. Mataku selalu mencari keberadaannya di mana pun dia berada."
Tak jauh dari sana, Rima baru saja selesai menaruh berkas di meja Bu Tia. Ia melihat Andre berdiri sendirian di lobi dengan tatapan menerawang. Tanpa berpikir panjang, ia menyapa sopan dari kejauhan.
"Selamat siang Pak Andre! Pasti Bapak senang sekali ya dikunjungi orangtuanya!"
Andre menoleh, melihat senyum tulus Rima yang menyapanya dengan begitu wajar tanpa beban. Ia pun tersenyum tipis dan melambaikan tangan pelan sebagai balasan.
"Terima kasih Rima. Hati-hati ya bekerja," jawabnya cukup jelas.
Rima mengangguk antusias, lalu berlari kecil kembali ke ruangannya. Andre menatap punggungnya sampai hilang di balik pintu, lalu berjalan perlahan kembali ke lift.
Ia tahu perjalanan untuk menyatukan perasaannya masih sangat panjang, penuh keraguan orang lain dan ketidaktahuan Rima sendiri. Tapi melihat semangat gadis itu, ia berjanji dalam hati. Suatu hari nanti ia akan berani memilih apa yang diinginkan hatinya.
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏