Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Penyergapan Senyap di Alun-Alun Fatahillah
Bab 24: Penyergapan Senyap di Alun-Alun Fatahillah
Gerimis tipis mulai membasahi kawasan Kota Tua Jakarta, membungkus deretan bangunan berarsitektur kolonial Belanda dengan kabut malam yang dingin. Di bawah kegelapan tirai hujan, sesosok bayangan melesat keluar dari sebuah lubang ventilasi utilitas tua di gang samping Museum Fatahillah.
Arkana Wijaya berdiri tegak, tudung jaketnya terpasang rapat. Mengandalkan persepsi batin dari ranah Spirit Gathering Tingkat Tiga yang baru saja ia kuasai, radius deteksi indranya kini meluas hingga radius seratus meter tanpa celah. Ia bisa mendengar detak jantung, ritme napas, hingga dengung konstan dari mesin-mesin siber yang dibawa oleh pasukan khusus di ujung alun-alun.
"Target terdeteksi," bisik Arkana pada dirinya sendiri.
Di tengah alun-alun Fatahillah yang sepi, lima prajurit dari faksi elit pemerintah bergerak dalam formasi taktis. Berbeda dengan pasukan infanteri mekanis yang dihadapi Arkana di Sentul, unit ini bergerak tanpa suara berisik. Mereka mengenakan zirah rian (Light Exo-Suit) berbahan serat karbon hitam yang menyerap cahaya. Di tengah formasi, dua prajurit sedang menyetel sebuah perangkat tripod logam raksasa yang memancarkan gelombang laser pulsa biru vertikal ke dalam tanah—Geo-Radar Kuantum.
"Sinkronisasi frekuensi geo-radar selesai. Memulai pemindaian struktur bawah tanah sedalam lima puluh meter," ucap sang kapten regu melalui mikrofon tenggorokan, suaranya terdengar datar melalui enkripsi radio. "Jika ada ruang kosong ilegal atau anomali energi E-01 di bawah Kota Tua, alat ini akan langsung mengirimkan koordinatnya ke satelit pusat."
Kecepatan Kilat Perak
Arkana tahu ia hanya punya waktu kurang dari dua menit sebelum pemindaian radar menembus langit-langit aula bawah tanah tempat Dani dan Lisa bersembunyi.
WUUUUUSSS!
Mengaktifkan Teknik Langkah Angin Kaisar, tubuh Arkana melesat maju laksana kilatan perak di tengah kegelapan malam. Kecepatannya di ranah Tingkat Tiga telah melampaui batas tangkapan mata telanjang manusia fana.
BZZZZT!
"Ada distorsi udara di arah jam dua! Tembak—"
Kalimat kapten regu itu terputus selamanya. Sebelum ia sempat menarik pelatuk senapan serbu energinya, sebuah telapak tangan yang diselimuti cahaya Qi Primordial perak keemasan telah menghantam dadanya dengan lembut namun mematikan.
BUM!
Gelombang kejut internal langsung melumpuhkan sistem saraf motorik dan mematikan suplai daya zirah serat karbonnya seketika. Sang kapten ambruk ke lantai batu tanpa sempat mengeluarkan suara teriakan.
Empat prajurit sisanya terkejut, namun refleks militer mereka yang telah dimodifikasi secara genetika membuat mereka langsung menembak secara membabi buta ke arah bayangan Arkana. Puluhan peluru plasma biru membelah air hujan, menciptakan garis-garis cahaya yang membakar udara.
Namun, Arkana bergerak lebih dinamis. Ia meliuk di antara jalinan peluru dengan keanggunan seorang master sejati. Efisiensi gerakan seorang kultivator murni jauh melebihi kalkulasi mekanis zirah fana.
Arkana muncul tepat di depan perangkat Geo-Radar Kuantum. Dengan satu tebasan tangan kosong yang dialiri energi batin tajam, ia memotong tripod logam tersebut menjadi dua bagian.
KRAAAK!
Ledakan arus pendek listrik memercik liar saat perangkat kuantum seharga miliaran rupiah itu hancur berantakan, memutus transmisi data ke satelit militer secara permanen sebelum pemindaian bawah tanah sempat diselesaikan.
Peringatan Terbuka
Dalam sisa waktu sepuluh detik, Arkana menyelesaikan pertempuran. Menggunakan pangkal telapak tangannya, ia menghantam titik akupunktur di leher dan punggung keempat prajurit elit tersisa secara beruntun. Kecepatan dan presisi serangannya membuat para prajurit itu tumbang satu per satu seperti jajaran kartu domino yang runtuh.
Alun-alun Fatahillah kembali sunyi, hanya menyisakan suara rintik hujan yang memukul lantai batu dan tubuh lima prajurit elit yang terkapar pingsan dengan zirah yang berasap rusak.
Arkana berdiri di tengah reruntuhan radar, menatap dingin ke arah kamera pengawas siber (CCTV) militer yang terpasang di sudut gedung museum yang masih aktif berkedip merah. Ia sengaja tidak menghancurkan kamera tersebut.
Sambil melangkah maju, Arkana mengangkat wajahnya yang tertutup tudung, membiarkan sepasang mata perak mistisnya menatap lurus ke dalam lensa kamera—mengirimkan pesan visual yang jelas kepada Jenderal Besar dan seluruh petinggi Biro Keamanan Khusus yang sedang menonton dari pusat komando Jakarta.
Ia mengangkat tangan kanannya, menunjukkan Cincin Kaisar Abadi yang melingkar di jarinya, sebelum akhirnya tubuhnya memudar dan lenyap sepenuhnya ke dalam kegelapan malam, meninggalkan kepanikan baru bagi otoritas militer tertinggi negara.