NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. ( Musang Birahi)

Pundak Andrea lunglai begitu keluar dari restoran. Dia kemudian menoleh, menatap sendu pada bangunan bagus yang baru saja memupuskan harapannya.

"Ternyata mencari uang di kota tidak gampang ya. Padahal aku sudah bekerja keras seharian, tapi kenapa malah diberhentikan?"

Mengira akan mendapat bonus besar, Andrea harus berpuas diri setelah menerima fakta kalau dirinya tak lagi diizinkan untuk membagi selebaran. Entah apa sebabnya, bos restoran menolak memberi penjelasan.

"Ini tidak adil. Sekalipun dipecat aku harus tetap mendapatkan alasan yang jelas. Harus!" tekad Andrea pantang mundur. Dengan penuh keyakinan dia kembali masuk ke dalam restoran menemui si pemilik. "Bos, kita perlu bicara."

Orang yang dipanggil bos oleh Andrea menoleh lalu mengembuskan napas dalam-dalam. Bebal juga gadis ini.

"Apalagi sekarang?"

"Jelaskan dulu alasan kenapa kau memberhentikanku. Kalau tidak, aku tidak akan pergi dari sini."

"Memangnya yang tadi masih kurang jelas?"

Andrea mengangguk cepat. "Aku merasa tak ada yang salah dengan tugasku. Selebaran habis lebih cepat dari waktu yang kau berikan, pengunjung yang datang kemari juga kebanyakan atas rekomendasi dariku. Lantas kenapa aku dipecat? Kesalahan apa yang telah ku perbuat?"

Pertanyaan beruntun yang dilontarkan Andrea membuat pemilik restoran terdiam. Raut keraguan tercetak jelas di wajahnya. Hal ini membuat Andrea jadi curiga. Dia lalu menyipitkan mata, mencoba menebak alasan dibalik nasib buruk yang menimpanya.

"Kenapa menatapku seperti itu? Sedang menggodaku apa bagaimana?" tanya pemilik restoran gugup.

"Matamu yang mana yang melihatku sedang menggodamu, bos?" sahut Andrea spontan. "Aku melihat ada kebohongan di matamu. Katakan! Apakah seseorang datang lalu memintamu agar memecatku?"

"D-dariman kau tahu?"

"Nah, benarkan? Ternyata ada ketidakadilan di sini. Aku didzolimi orang kota."

Pantas saja tak ada angin maupun hujan tiba-tiba dipecat. Rupanya ada yang sedang bermain curang. Untung saja Andrea jeli sehingga kebenaran ini bisa dengan cepat terungkap.

"Bos, beritahu aku siapa pelakunya. Walaupun baru datang ke kota, aku sangat siap melawan kejahatan. Enak saja menjegal kesuksesanku. Pokoknya aku tidak terima!" tandas Andrea berapi-api. Dia bicara sambil menggulung baju ke lengan atas.

"Ee anu, Andrea. Aku ... aku tidak berani membongkar identitas orang itu. Terlalu berbahaya," sahut pemilik restoran panik. Karyawan satu ini membuatnya terjebak dalam bahaya. Padahal, jujur dia akui kinerja Andrea sangat amat memuaskan. Sayangnya ada orang lain yang menyimpan dendam.

"Berbahaya bagaimana? Apa mereka pelaku koruptor?"

"Hah? Ko-koruptor?"

"Ya, koruptor yang suka mencuri uang rakyat."

Jawaban Andrea sukses membuat pemilik restoran melongo syok. Apa-apaan ini. Sejak kapan koruptor peduli pada seorang pekerja serabutan?

"Sudahlah, bos. Lebih baik katakan sejujurnya saja. Siapapun orang itu aku janji akan membereskannya sendiri tanpa melibatkanmu. Tak apa dipecat, tapi aku tidak akan tinggal diam membiarkan ketidakadilan ini menimpaku."

"Memangnya apa yang mau kau lakukan padanya?"

"Tentu saja membuat perhitungan. Uang yang ku dapat dari pekerjaan ini memang tak terlalu besar, tapi aku sungguh-sungguh melakukannya. Ada keringat dan kerja keras yang harus diganti," ucap Andrea penuh percaya diri.

(Benarkah gadis ini pendatang baru di kota? Kok pemikirannya bisa sekeren itu. Andrea sadar betul kalau kerja kerasnya harus dibayar mahal. Hmmm, apa sebaiknya aku beritahu saja ya?)

"Bos, ayolah. Aku jamin ini tidak akan ada kaitannya dengan usahamu. Beritahu aku siapa orangnya," bujuk Andrea gigih. Pekerjaan baru bisa dicari, tapi keadilan harus tetap ditegakkan.

"Janji ya jangan melibatkan aku dalam urusan kalian?"

"Iya janji."

"Mendekatlah. Kita saling berbisik saja."

Patuh, Andrea segera mendekat. Dia menyimak dengan seksama nama pelaku yang disebutkan oleh bosnya.

"Lucien Scott pemilik GS Company. Namanya keren sekali. Apa dia orang hebat?" tanya Andrea penasaran.

"Syuutt, jangan asal menyebut nama itu. Nanti kau kena masalah."

"Baiklah. Lalu di mana aku bisa menemukan orang ini?"

Segera bos pemilik restoran menuliskan catatan di sebuah kertas. Khawatir kena masalah, dia meminta Andrea untuk segera meninggalkan restoran. Entah kenapa fillingnya mengatakan kalau gadis ini bisa membawa badai besar jika tak segera diusir.

"Lucien Scott. Lucien Scott. GS Company. Hmm, tunggu saja besok bagaimana aku akan membuat perhitungan denganmu. Beraninya mengambil untung dari orang kecil."

Rumah neneknya berada di sebuah gang yang lumayan gelap. Meski begitu, Andrea sama sekali tak merasa takut. Pulang malam, dia dengan santai melangkah sambil terus menghafal nama orang yang telah membuatnya kehilangan pekerjaan.

Sreekkk

"Siapa di sana?"

Bunyi seperti ranting kering yang patah terinjak. Andrea seketika waspada. Dalam kegelapan, dia mengawasi keadaan sekitar sambil memegangi kantong celana berisi uang bayaran.

"Hai cantik, sendirian saja. Mau ku temani tidak?"

Dari balik semak muncul dua orang lelaki yang langkahnya sempoyongan sambil memegang botol.

"Owh, musang birahi yang sedang mabuk kecubung ternyata. Ku kira apa," gumam Andrea santai. Di kampungnya ada banyak sekali jenis musang seperti dua orang ini. Hal biasa.

"Apa katanya tadi? Musang birahi yang sedang mabuk kecubung? Hahahaha!"

Gelak tawa dua orang pria itu membahana di dalam kegelapan. Kendati demikian tak membuat Andrea merasa takut. Seujung kukupun dia tak merasa gentar atau ingin melarikan diri.

"Kebetulan aku sedang kesal hari ini. Majulah kalian biar ku beri obat untuk menghangatkan badan," tantang Andrea sembari membunyikan tulang di jari tangan.

"Wah wah wah, si cantik terang-terangan menantang kita kawan. Sayang sekali kalau tidak diladeni. Nanti kita bergiliran ya menikmati tubuhnya. Kalau tidak salah dia itukan cucunya Nenek Erwita yang baru datang dari kampung. Biasanya orang seperti dia masih perawan dan juga polos. Benar tidak?"

"Hihihihi, benar kawan. Ayo kita sikat sekarang saja."

Sayangnya prediksi dua musang birahi ini salah besar. Tumbuh di sebuah desa pedalaman tak membuat Andrea menjadi sosok lemah yang mudah ditindas. Begitu serangan dilancarkan, Andrea dengan mudah menghindar lalu memberikan serangan balik yang mana membuat salah satu dari musang tersebut jatuh terjerembab mencium aspal.

"Sialan! Tenaganya kuat juga. Cepat bunuh saja!"

"Orang desa bukan berarti lemah. Ayo lanjutkan duel kita!"

Alhasil, perkelahian sengit pun tak terelakkan lagi. Andrea yang kebetulan sedang jengkel seperti mendapat samsak gratis tempat dia menyalurkan amarah. Karena kondisi dua musang birahi tersebut sudah setengah mabuk, dia dengan mudah menumbangkan mereka lalu menariknya ke dalam semak.

"Malam ini kalian tidurlah bersama para nyamuk di hutan. Aku lelah, jadi tak membawa kalian ke kantor polisi. Maaf ya membuat wajah kalian jadi babak belur. Siapa suruh asal birahi ke sembarang gadis, jadi kena imbasnya sendirikan?" ejek Andrea sambil mengikat tangan dan kaki kedua musang.

Puas memuji hasil kerja kerasnya, Andrea melanjutkan langkah menuju rumah. Langkahnya gontai saat kembali teringat akan nasibnya yang baru saja kehilangan mata pencaharian.

"Bagaimana cara mencari tahu rupa orang yang bernama Lucien Scott ini ya? Coba saja aku di kampung, Kak Zein pasti bisa membantuku. Hmmm,"

Datang dari desa pedalaman, Andrea kurang mengerti cara berkomunikasi menggunakan teknologi masa kini. Pun dia juga tak memiliki benda tersebut. Jadilah Andrea ketinggalan zaman dan kesulitan saat ingin menghubungi ataupun mencari tahu tentang identitas seseorang.

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!