Memiliki Kekasih yang di gilai banyak fans bisa membuat gila. Tak hanya itu saja, Kekasihnya juga sibuk berorganisasi.
Merasa terabaikan dan selalu di nomor duakan itu pasti.
Sang Kekasih memberanikan diri untuk melamar dan bertunangan.
lalu bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Lukas membawa Yumna ke tempat makan yang sederhana. Waluapun Lukas adalah anak orang kaya, tapi ia lebih suka makan di tempat yang biasa saja. Di sebuah warung tenda yang berda di sekitaran jalan arah pulang ke rumah Yumna.
Motor Lukas berhenti dan pasrkir tepat di depan warung tenda. Lalu mematikan mesin motor itu.
"Gak apa -apa makan di tempat seperti ini? Atau mau di tempat lain?" tanya Lukas pada Yumna. Lukas tahu, Yumna adalah gadis manja yang sepertinya agak pilih -pilih makanan.
Yumna tersenyum saat Lukas menoleh ke arahnya dan mengangguk kecil.
"Gak masalah. Yumna suka kok. Sering juga makan di warung tenda begini," ucap Yumna pelan.
Yumna pun turun dari motor besar Lukas dan melepaskan helm yang ia pakai. Lukas juga sudah turun dari motor besarnya dan membantu melepaskan pengait helm yang masih terpasang di kepala Yumna.
"Hah ... Lepas juga. Helmnya berat banget, Kas," ucap Yumna pada Lukas. Sejak tadi kepala mungilnya harus menahan berat helm di kepalanya dan tidak bisa bernapas lega karena kaca helm yang tertutup rapat. Belum lagi motor yang melaju kencang, Kepala Yumna serasa terbawa angin dan harus tetap menahan agar kepala dan helmnya tetap stabil tegak lurus. Yumna mengehla napas dalam, ia benar -benar kesulitan bernapas tadi.
Lukas sengaja menggandeng tangan mungil Yumna untuk masuk ke dalam warung tenda.
"Maaf ya Kas. Yumna gak biasa di gandeng begini. Yumna berjalan di belakang Lukas aja biar aman," ucap Yumna pelan.
Lukas menatap Yumna dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya sambil tersenyum manis pada Yumna.
"Maaf ya Na. Bukan mau bersikpa kurang aja, tapi aku hanya ingin menjaga kamu saja," ucap Lukas pelan dan berbalik masuk ke dalam wraung tenda itu terlebih dahulu dan d i ikuti oleh Yumna yang ada di belakangnya.
Lukas sudah memesan makanan untuk dirinya sendiri dan bertanya pada Yumna yang mau makan apa malam ini.
"Kamu mau pesen apa, Na?" tanya Lukas pada Yumna yang terlihat bingung. Fix, Yumna tidak pernah makan di tempat sederhana seperti ini.
Kedua mata Yumna mengedar melihat ke arah tempat makanan yang sedang di masak dan di bagian etalase kaca yang hanya menampilkan beberapa potong ayam, tahu, tempe dan jeroan.
"Bingung ya? Ayam goreng aja ya? Samain kayak aku? Mau?" tanya Lukas pada Yumna.
"Iya udah. Gak apa -apa. Ayam goreng aja," jawab Yumna pelan.
Lukas sudah memesan dua nasi ayam goreng dan dua gelas teh manis panas. Lalu mengajak Yumna memilih tempat duduk di ujung tenda yang terbuka. ya, tempat itu terbuka dan bisa menatap langsung jalan raya yang mulai sepi dan kosong.
"Ini kamu bisa keluar? Katanya gak boleh keluar malam -malam?" tanay Lukas. Lukas duduk bersila dan menghadap ke arah Yumna.
"Ya , kan tadi perginya sama Kak Jone, jadi di bolehin sama Ayah dan Bunda," jawab Yumna pelan.
"Terus gimana hasi nilai semesteran kamu? Pastui bagus dong?" tanya Lukas tersenyum.
"Bagus dan memuaskan. Kamu gimana?" tanya Yumna kembali.
"Ya gitulah," jawab Lukas santai.
"Gitu gimana? Pasti bagus ya? Kamu kan jenius, Kas," ucap Yumna pelan.
"Sudahlah gak usah membicarakan aku. Ekhem ... Kamu ikut LDK gak, Na?" tanya Luka spada Yumna.
Yumna menatap lekat Lukas. Lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak ikut. Tapi pengen ikut, masih bisa gak sih?" tanya Yumna pelan.
"Masih bisa. Kamu mau ikut? Kalau kamu ikut, aku juga mau ikut," ucap Lukas pada Yumna.
"Boleh juga. Oke besok kita daftar bareng ya?" ucap Yumna senang.
"Oke. Aku jemput ke rumah kamu? Boleh kan?" tanya Likas pelan.
"Boleh deh," jawab Yumna agak ragu.
"Makasih ya, Na," ucap Lukas pelan.
"Makasih untuk apa?" tanya Yumna pelan.
"Makasih untuk malam ini dan besok. Jujur aku seneng, bisa deket sama kamu kayak begini," ucap Lukas pelan.
Yumna tersenyum manis, "Sama -sama."
Tak lama pesanan mereka datang dan mereka mulai menimati makanan itu dengan santai sambil mengobrol.
***
Setelah menelepon Ayah Roby, Duta bergegas menyusuri Mall yang tadi mereka kunjungi. Setidaknya Duta harus bertanggung jawab atas Yumna. Kalau tidak ketemu Yumna, entah alasan apa yang akan di berikan kepada AYah Roby.
Duta mengusap wajahnya kasar dan ia sangat gusar. Sudah du kali ia mengitari Mall dan sekitaran taman tapi tak ada tanda -tanda keberadaan Yumna.
Mobil Duta kembali berjalan sangat lambat menyusuri jalan raya yang sering ia lewati untuk mengantar Yumna. Mungkin saja, Yumna berjalan di kegelapan, lalu? Argh ... Tak bisa membayangkan bila sesuatu terjadi pada kekasihnya itu.
Tepat di pinggiran trotoar ada beberap warung tenda yang masih ramai di kunjungi orang. Ada beberapa motor terparkir di sana dan beberap pasang orang duduk di tikar sambil makan dan bercnada. Kedua mata Duta menatap satu per satu orang -orang yang ada di sana.
Deg ...
Duta menatap satu pasangan yang tidak asing lagi di matanya. Ya, jelas itu Yumna dan Lukas, teman sekelas Yumna. Mereka sedang bercanda dan bergurau sambil menikmatimakan malam mereka dengan bahagia. Senyum Yumna yang terpancar senang dan tulus terlihat sangat manis sekali dari kejuhan. Yumna juga nampak seperti sudah biasa dan lihat, ia nyaman memakai jaket besar yang bukan miliknya, tentu itu milik Lukas.
Hati Duta panas, berkali -kali ponselnya menelepon Yumna tapi ponsel itu tak kunjung mneyambung. Ponsel Yumna benar -benar mati. Kedua matanya tak sanggup melihat kebahagiaan Yumna dengan pria lain selain dirinya. Tangan Duta terkepal erat dan kesal sekali. Rasanya ingin memukul wajah Lukas yang jelas menginginkan Yumna.
Duta sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari warung tenda dan turun dari mobil lalu menghampiri Yumna.
Langkah Duta begitu tegas dan kini sudah berada di depan trotoar menatap Lukas dan Yumna yang tak mengetahui kedatangannya.
"Yumna, Ayo kita pulang!" tegas dan lantang suara Duta memanggil nama tunangannya itu.
Yumna dan Lukas langsung menoleh ke arah asal suara. Jelas, itu suara Duta. Bagi Yumna, suara itu sudah tidak asing lagi di telinga Yumna. Tapi kali ini, suara itu terdengar marah dan sanat kesal.
Lukas berbisik pada Yumna, "Dia, Ketua BEM? Kekasihmu?"
"Iya. Tapi Yumna mau putus saja," jawab Yumna lirih.
"Kenapa?" tanya Lukas kembali berbisik.
"Yumna lelah, kayaknya Yumna bukan tipe perempuan yang di inginkan, Kak Duta," jawab Yumna lirih.
Keduanya terdiam saat Duta kembali berteriak dan kali ini suaranya makin keras dan kencang. Wajah Duta juga memerah karena marah menatap tajam ke arah Yumna yang juga menatap Duta dengan wajah kesal.
"Pulang Na!! Ayah sudah menelepon berkali -kali. Beliau marah," ucap Duta lantang.
Tatapan Yumna begitu sinis dan kesal. Lukas menatap Yumna, biar Yumna yang menentukan pilihannya. Ingin pulang bersama Duta atau dengan dirinya yang usdah menolongnya tadi.
dan jangan jangan Lukas korban dari perbuat Yoshua