Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percikan Konflik di Lantai Tiga
Kirana menatap jari Tasya yang menunjuk dirinya dengan ketenangan seorang ratu. Sifat pemberani dan otaknya yang pintar tidak akan membiarkan dirinya diintimidasi oleh siapa pun, bahkan oleh seorang putri konglomerat sekalipun.
Sebelum Adrian sempat mengeluarkan kata-kata dinginnya untuk menanggapi Tasya, Kirana sudah melangkah maju dengan gerakan yang sangat anggun.
Ia membungkuk hormat sembilan puluh derajat dengan sempurna, menampilkan etika pelayan kelas tertinggi yang tidak bisa dicela sedikit pun.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda, Nona Tasya," suara Kirana terdengar sangat jernih, merdu, dan penuh dengan kepatuhan yang profesional, namun jika didengarkan lebih saksama, ada nada percaya diri yang kuat di dalamnya.
"Saya Kirana, pelayan pribadi yang ditugaskan khusus oleh Ibu Maya untuk merawat kebutuhan medis dan domestik Tuan Muda Adrian di lantai tiga. Mangkuk ini baru saja selesai digunakan karena Tuan Muda membutuhkan asupan nutrisi tepat waktu demi mempercepat pemulihan luka tembaknya."
Mendengar kata 'pelayan pribadi khusus' dan cara Kirana mengucapkan nama 'Adrian' dengan ketenangan yang matang, dada Tasya bergemuruh naik turun karena marah. Ia merasa otoritasnya sebagai calon tunangan yang dijodohkan oleh keluarga mereka terancam oleh kehadiran pelayan cantik ini.
"Pelayan pribadi? Rumah ini memiliki puluhan pelayan tua yang lebih berpengalaman! Mengapa harus gadis genit sepertimu yang ditempatkan di sini?!" ketus Tasya, melangkah mendekati Kirana dengan tatapan menghina. "Adrian, aku minta kamu memecat pelayan ini hari ini juga. Dia tidak tahu posisinya dan penampilannya terlalu mengganggu fokus kerjamu!"
Adrian mengalihkan pandangannya dari layar tablet, menatap Tasya dengan sepasang mata hitamnya yang kini benar-benar memancarkan aura membunuh yang dingin. Atmosfer kamar seketika turun hingga ke titik beku, membuat Tasya refleks menahan kalimat berikutnya saat merasakan tekanan udara yang pekat dari arah ranjang.
"Di rumah ini, Tasya... tidak ada satu orang pun yang bisa mendikte keputusanku," suara Adrian terdengar sangat rendah, perlahan, namun memiliki bobot ancaman mutlak yang tidak bisa dibantah.
"Kirana berada di sini karena dia melakukan tugasnya dengan sempurna. Dia menyelamatkan pengiriman logistikku dari pengkhianatan kemarin, dan dia adalah orang yang menghentikan pendarahan di rusukku semalam sementara kamu sedang tidur nyenyak di penthousemu."
Tasya tersentak hebat, wajahnya memucat mendengar pembelaan terbuka yang diberikan Adrian untuk seorang pelayan rendahan. Ia tidak pernah melihat Adrian berbicara sepanjang itu untuk membela siapa pun sebelumnya.
"A-Adrian... aku tidak bermaksud..." gagap Tasya, mencoba memperbaiki kesalahannya.
"Keluar dari kamarku, Tasya. Dan jangan pernah menginjakkan kakimu di lantai tiga ini lagi tanpa izin tertulis dariku atau Hendra," potong Adrian dingin, kembali memalingkan wajahnya membelakangi wanita itu.
Tasya menggigit bibir bawahnya dengan kemarahan dan rasa malu yang teramat sangat. Ia melemparkan tatapan penuh dendam yang tajam ke arah Kirana, seolah berjanji bahwa ini bukanlah akhir dari urusan mereka.
Dengan menghentakkan sepatu hak tingginya keras-keras, Tasya berbalik dan melarikan diri dari kamar tidur utama dengan air mata kekesalan yang mulai mengalir.
Setelah pintu kamar kembali tertutup rapat, keheningan yang pekat kembali menguasai ruangan. Kirana berdiri diam di tempatnya, menatap punggung Adrian yang masih kaku di atas ranjang.
Kirana berjalan mendekati ranjang, mengambil nampan perak yang berisi mangkuk kosong, lalu sedikit condong ke depan ke arah Adrian yang sedang berpura-pura sibuk dengan tabletnya.
"Wah, Tuan Muda Adrian," bisik Kirana dengan nada manja yang sangat renyah, membuat binar mata bulatnya yang nakal mengunci perhatian Adrian. "Pembelaan Anda tadi sungguh luar biasa... membuat hati pelayan kecil ini bergetar hebat. Apakah itu tanda bahwa Anda sebenarnya juga tidak rela jika saya didepak dari kamar ini oleh wanita lain?"
Adrian tidak mengangkat kepalanya, tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang sedatar papan tulis, meskipun guratan urat di tangannya yang memegang tablet memperlihatkan seberapa keras ia mencoba menyembunyikan reaksi jantungnya yang kembali berdetak cepat akibat godaan Kirana.
"Jangan terlalu percaya diri, Kirana. Aku hanya tidak suka ada orang luar yang mengatur urusan rumah tangga Arseto," ucap Adrian dingin dengan nada gengsi yang setinggi langit. "Sekarang, bawa mangkuk kotor itu keluar dan jangan ganggu aku lagi sampai makan siang."