Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Aleta melangkah pasrah mengekor di belakang Alden. Langkah kaki tegap cowok itu membawanya membelah area koridor yang mulai sepi, menuju ke arah area parkir khusus pengurus sekolah di samping aula.
"Kak Alden, sebenarnya saya mau dihukum apa sih?" tanya Aleta akhirnya, tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang membuncah.
"Kalau disuruh bersihin ruangan, sekarang udah sore banget."
Alden menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah motor sport berkapasitas mesin besar berwarna hitam legam yang terparkir gagah. Cowok itu berbalik, menatap Aleta datar sembari merogoh saku celananya untuk mengambil kunci motor.
"Hukuman kamu simpel," ucap Alden tenang. "Ikut saya pulang, dan jadilah alasan saya untuk menolak perjodohan dari orang tua saya sore ini."
"Hah?!" Aleta membelalakkan matanya sempurna, rahangnya nyaris jatuh ke lantai. "Perjodohan?! Kak, tapi saya kan cuma anak baru di sini! Kenapa jadi bawa-bawa urusan keluarga?!"
"Karena kamu punya utang sama saya, Leticia. Dan saya yang menentukan jenis pembayarannya," jawab Alden mutlak, tidak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.
Tanpa memedulikan wajah Aleta yang sudah campur aduk antara syok dan bingung, Alden langsung naik dan menduduki motor sport-nya yang tinggi dan besar. Mesin motor itu menyala dengan suara deruman bas yang menggelegar, memecah keheningan area parkir.
"Naik," perintah Alden, melirik Aleta dari balik kaca helmnya yang dibuka sedikit.
Aleta menatap motor besar itu dengan ngeri. Bodi motor bagian belakangnya menukik sangat tinggi, khas motor balap. Dengan tinggi badannya yang mungil, menaiki motor ini sudah menjadi sebuah perjuangan tersendiri.
Sambil merutuk dalam hati, Aleta memegang pundak tegap Alden sebagai tumpuan, lalu bersusah payah mengangkat kakinya untuk naik ke jok belakang. Setelah berhasil duduk dengan posisi yang sangat tidak nyaman karena jok yang menanjak, motor itu tiba-tiba tersentak maju karena Alden sengaja menarik gasnya tanpa aba-aba.
Wush!
"Aaa!" pekik Aleta kaget.
Refleks karena tubuhnya terdorong ke belakang, kedua tangan Aleta langsung melingkar erat di pinggang kokoh Alden. Ia memeluk punggung tegap cowok itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam di balik punggung Alden demi keselamatan nyawanya.
Deru mesin motor sport besar milik Alden membelah jalanan sore dengan bising yang berwibawa. Di atas jok belakang yang menukik tinggi, Aleta hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Angin sore menerpa seragam olahraga mereka dengan kencang seiring dengan jarum speedometer yang terus bergerak naik.
Alden sengaja memacu motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak hanya itu, cowok itu bahkan sengaja memutar arah, memilih rute jalan yang paling jauh dan memutar untuk menuju ke rumahnya. Sebuah rute yang memakan waktu dua kali lebih lama dari jalur biasanya.
Setiap kali Alden sengaja menarik gas lebih dalam atau meliuk tajam membelah tikungan, tubuh mungil Aleta otomatis terdorong ke depan. Mau tidak mau, Aleta semakin merapatkan tubuhnya, menempelkan dadanya ke punggung tegap Alden seerat mungkin. Kedua tangan mungilnya mencengkeram jaket atau pinggang Alden bagai enggan terlepas. Aleta terlalu takut untuk jatuh.
Di balik helm full face-nya, Alden bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana eratnya pelukan Aleta di pinggangnya. Rasa hangat dari dekapan gadis itu menembus seragamnya, mengalirkan sebuah perasaan asing yang belum pernah Alden rasakan sebelumnya.
Nyaman. Sebuah rasa nyaman yang teramat sangat, bercampur dengan desiran halus yang aneh di dalam dadanya.
Alden, yang biasanya selalu ingin segalanya berjalan cepat dan efisien, sore ini justru egois. Rasa nyaman yang disalurkan oleh Aleta dari belakang punggungnya membuat Alden ingin menahan waktu sedikit lebih lama. Ia ingin berada di posisi seperti ini lebih lama lagi, membiarkan gadis itu terus mendekapnya di sepanjang jalanan kota yang mulai temaram oleh senja.
Sementara itu, Aleta yang menyembunyikan wajahnya di balik punggung lebar Alden mulai merasakan detak jantungnya sendiri berdegup abnormal. Aroma maskulin dari tubuh Alden yang menguar di sela-sela angin sore entah kenapa membuat rasa takutnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa hangat yang aman, meskipun ia tahu cowok yang sedang didekapnya ini adalah singa sekolah yang paling ditakuti.
Setelah hampir empat puluh menit memutar jalan, motor besar itu akhirnya melambat saat memasuki sebuah kawasan perumahan elit yang sangat tenang dan mewah. Motor Alden berbelok, berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi.
Aleta perlahan membuka matanya dan sedikit melonggarkan pelukannya. Ia mendongak, menatap rumah bak istana di hadapannya dengan rasa was-was yang kembali menyerang.
"Turun," suara berat Alden terdengar saat cowok itu mematikan mesin motor dan membuka kaca helmnya. "Kita sudah sampai."
Aleta perlahan menurunkan kedua kakinya ke aspal, membiarkan tubuhnya terlepas dari dekapan hangat di punggung Alden. Namun, begitu ia berdiri tegak dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis.
Aleta melongo seketika, menatap tanpa berkedip pada bangunan megah di hadapannya.
Rumah ini luar biasa besar. Jika dibandingkan dengan rumah minimalis miliknya, kediaman Alden jelas sepuluh kali lebih besar—atau mungkin lebih. Tadi, saat motor besar Alden melewati gerbang besi hitam yang menjulang tinggi, Aleta sudah dibuat takjub oleh hamparan taman depan yang begitu luas dengan rumput hijau yang dipangkas rapi bak lapangan golf mini. Belum lagi keberadaan beberapa pria berbadan tegap berpakaian safari hitam yang berjaga ketat di pos depan, membungkuk hormat menyambut kedatangan Alden.
Tidak pernah terbersit sedikit pun di dalam pikiran polos Aleta bahwa suatu hari kaki kecilnya akan menginjakkan kaki di kawasan perumahan elit ini. Kompleks perumahan yang selama ini hanya sering ia dengar lewat desas-desus sebagai "kawasan terlarang" karena di dalamnya hanya dihuni oleh pejabat, pengusaha konglomerat, dan orang-orang penting negara.
Dan sekarang, singa sekolah yang paling ditakuti di SMA-nya ternyata adalah pangeran dari istana mewah ini.
"Kenapa? Takut?"
Suara bariton Alden membuyarkan lamunan Aleta. Cowok itu sudah turun dari motornya, meletakkan helm hitamnya di atas spion, lalu menatap Aleta yang masih berdiri mematung dengan tas ransel yang didekap erat di dada.
Aleta menelan ludah berat, mendongak kaku menatap Alden.
"K-Kak Alden... saya mending pulang aja deh. Saya naik angkot atau ojek online aja dari depan kompleks," cicit Aleta dengan suara bergetar. Nyalinya benar-benar ciut sampai ke dasar bumi. Berada di sini membuatnya merasa seperti sebutir debu yang tidak sengaja terbawa angin masuk ke dalam istana.
Alden tidak membalas ucapan Aleta dengan kata-kata. Ia justru melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka, lalu dengan santai meraih pergelangan tangan Aleta.
"Sudah terlambat untuk kabur, Leticia," bisik Alden dingin namun ada nada tegas yang tak terbantahkan.
Tanpa memedulikan penolakan halus dari gadis itu, Alden langsung menarik lembut tangan Aleta, menuntunnya menaiki tangga marmer menuju pintu jati kembar yang besar, siap membawa mangsanya masuk ke dalam pusaran masalah keluarganya.
🌍🌍🌍