NovelToon NovelToon
MY WORLD

MY WORLD

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: アリシア

Eta namanya, seorang siswi di SMA 17 yang terkenal di seantero sekolah dengan panggilan Peta. Teman seangkatannya bahkan memberikannya julukan Si Penggila Atlas.

Eta sangat mencintai pelajaran geografis sampai - sampai membuat daftar negara impian yang ingin dikunjunginya suatu hari nanti.

Mungkin, selain mencintai geografis. Eta juga mencintai Ketua OSIS di sekolahnya, perasaan luar biasa itu ia simpan rapat - rapat bahkan dari teman terbaiknya.

"Apa kau menyukai Atlas?"

"Ya, sangat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon アリシア, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 - Yang Tiada Terasa Berharga

Ketika bangun di esok paginya. Rasanya kedua mata Eta berat sekali untuk dibuka. Sejenak dia melamun sebelum mengambil posisi duduk dan memakai kacamatanya.

Eta melirik ke arah jam dinding, pukul tujuh pagi. Hari ini dia akan izin sekolah. Ibu Devan pasti sudah menginformasikan terkait ketidakhadirannya kepada wali kelasnya. Eta mendengar dari ibu Devan, Pak Rahmat akan datang hari ini. Kemarin Pak Rahmat tidak bisa datang karena ada di luar kota.

Agendanya hari ini adalah mengunjungi kakak perempuannya di rumah sakit ditemani Ibu Devan. Kakaknya akan dipindahkan ke ruang rawat inap setelah berhasil melewati masa kritis. Eta sangat bersyukur Rea masih bertahan.

Dia benar-benar bersyukur.

Sejak kemarin mulut Eta terasa kering. Dia hanya minum sedikit saja. Padahal idealnya manusia itu harus minum air putih sebanyak dua liter setiap harinya. Atau setara dengan delapan gelas. Tetapi semua kejadian itu membuatnya lupa untuk makan dan minum.

"Di mana gelasnya?"

Keluar dari kamarnya, Eta mencium aroma yang begitu enak dari arah dapur. Mata Eta membulat. Bergegas ia berlari ke dapur. Ternyata di sana ada ibu Devan yang sedang memasak nasi goreng. Sederhana memang, tapi itu cukup. Lagi pula Eta tidak nafsu makan, dia takkan makan banyak. Tiga sendok pun sudah terasa kenyang.

"Bibi?"

Mendengar suara serak Eta, ibu Devan berbalik badan. Memandang teduh anak gadis dari kedua sahabatnya. Apalagi Rea masih terbaring lemas di rumah sakit.

"Duduklah, sayang. Bibi sudah buatkan sarapan untukmu, lumayan sebagai pengganjal perut. Eta 'kan semalam tidak makan."

Eta mengangguk. Badannya lemas sejak semalam. Bahkan tidur pun tidak nyenyak karena perut yang keroncongan.

Eta menarik kursi ke belakang dan duduk. Di depannya sudah tersaji sepiring nasi goreng yang masih hangat. Asapnya masih mengepul.

"Terima kasih, Bibi."

Ibu Devan menarik sudut bibirnya ke atas. Sorot matanya memancarkan kelembutan. Kedua anaknya, Ida dan Devan mungkin akan seperti ini jika ditinggalkan olehnya dan suaminya. Yah, ia tak boleh memikirkan hal buruk.

Eta sedikit terperanjat saat merasakan tepukan pelan di pucuk kepalanya. Kemudian tepukan itu berubah menjadi usapan lembut.

"Rea pasti akan mampu melewati masa kritisnya. Kamu hanya perlu memberikannya dukungan."

Eta mengangguk. Setelah sarapan, dia bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ibu Devan telah menunggu di luar rumah.

Saat Eta mengambil sendalnya di rak samping pintu. Sesuatu mengalihkan perhatiannya. Bingkai foto yang diletakkan di atas meja bersamaan dengan telepon kabel.

Eta terdiam memandangi foto. Tangannya terangkat ke arah bingkai dan mengubah posisinya menjadi menghadap ke bawah.

Tidak ada lagi yang tersisa.

...****...

Bukan hal aneh bagi bangunan serba putih itu memiliki aroma obat begitu kuat. Karena bualan para orang tua, anak-anak bahkan ketakutan jika mendengar kata 'rumah sakit'. Sampai rumah sakit dijadikan sarang hantu di film-film horor.

Eta sama sekali tidak terganggu dengan atmosfer rumah sakit yang berat atau bau darah yang menyengat. Tidak heran karena ini adalah ruang IGD.

Biaya perawatan Rea ditanggung oleh uang simpanan Eta. Uang tabungan yang akan digunakan oleh Eta untuk terbang ke Singapura. Semua uang di rekening ayahnya belum bisa dicairkan. Dan lagi, masalah rekening ayahnya adalah urusan ayah Devan. Eta yang tak paham tidak mungkin ikut campur.

Dengan tatapan kosong dia menyaksikan keseluruhan aktivitas para perawat yang bergerak cepat memindahkan kakaknya dari IGD.

Kondisi Rea begitu mengenaskan. Salah satu kakinya hancur tak berbentuk, dokter bilang hanya amputasi yang bisa 'memperbaiki' Rea. Bukan hanya itu, kepala Rea yang terbentur keras saat kecelakaan kemungkinan besar akan mengakibatkan stroke sebab pembuluh darah di kepala yang pecah.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Eta. Lidahnya begitu kelu. Ia menggigit bibirnya tanpa sadar. Sudah tak terbendung lagi air matanya.

Aku tidak bisa membencimu.

Di samping Eta, ibu Devan menariknya masuk ke dalam pelukannya. Saat ini, Eta sangat rapuh. Menangis adalah satu-satunya cara bagi Eta untuk melampiaskan emosinya.

"Nak Eta?"

Suara yang Eta kenali. Itu adalah wali kelasnya, Pak Rahmat. Ternyata Pak Rahmat langsung mengunjungi Eta di rumah sakit. Segera setelah melihat Pak Rahmat mendekat, Eta menghapus air matanya dengan kasar.

"Apakah anda ibunya Devan?"

"Itu benar, Pak. Untuk saat ini juga saya adalah wali Eta." Ibu Devan mengatakannya dengan nada pelan. Khawatir Eta yang mendengarnya akan bereaksi buruk.

"Begitu."

Pak Rahmat lalu menatap ke arah Eta. Wajahnya yang merah, mata bengkak serta hidung yang berair. Tak lupa dengan pakaian yang lecek dan celana longgar. Lengkap sudah penampilan berantakan Eta.

Sebagai seorang guru, Pak Rahmat harus bertindak sebijaksana mungkin. Dia adalah figur orang tua Eta di sekolah.

Pak Rahmat tersenyum tipis.

"Kamu adalah anak yang kuat, Eta."

Eta menarik sudut bibirnya, senyum formalitas.

...****...

"Aku khawatir pada Peta, kenapa kemarin kita tidak melayat?"

Gabriel menatap tanya pada Alan. Namun Alan malah hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Niat mereka juga ingin melayat ke rumah Eta. Tetapi kemarin ada sembilan periode, alias mereka pulang begitu sore. Dan pastinya mayat kedua orang tua Eta telah dimakamkan.

Etika melayat sendiri haruslah ketika mayat itu masih ada di rumah duka. Tidak sopan jika mereka datang beramai-ramai ke rumah Eta sedangkan kedua orang tuanya telah dimakamkan. Terlebih lagi, Eta pasti membutuhkan waktunya untuk sendiri.

"Situasinya sama sekali tidak pas."

"Benarkah?"

"Kudengar Pak Rahmat mengunjungi Peta langsung di rumah sakit."

"Kenapa Pak Rahmat malah ke sana?" Mendadak Salsa ikut nimbrung dan duduk di antara Gabriel dan Alan.

"Kakaknya Eta selamat dari kecelakaan itu. Tapi dia mendapatkan luka yang sangat parah dan dirawat di rumah sakit."

Gabriel menautkan alisnya, "Dari mana kau tahu semua itu?"

"Tidak penting dari mana aku mengetahuinya. Yang lebih penting adalah apakah kalian mau ikut denganku menjenguknya?"

"Tentu saja! Kapan?" Tanya Salsa antusias.

"Hari ini, setelah pulang sekolah kita akan langsung ke sana."

TBC

1
Fit Ta
suka ceritanya gk melulu soal percintaan
oke lanjut baca
Livia Ava: Sip 👌
total 1 replies
Fit Ta
masih nyimak semangat yuk thor
Chan Baek
padahal ni novel bagus banget ,tapi kenapa yang baca sedikit?
Livia Ava: Sampul novel ini dibuat sesuai dengan isinya, yah sesuailah dengan cerita. Eta kan suka peta sama atlas. Kalau beda nanti pembaca merasa tertipu,
total 3 replies
sunshinegyspy
Saya suka kalau alur dan ceritanya jelas kayak gini nih! Semangka! Semangat kakaaaak~
SongbirdGarden
up dunk ku tunggu yhaaaa semoga sukses
Kekasih Dropper
ditiunggu kelanjutannya thor
SugaryHeaven
cerita ya bagus tapi harus lebih hati hati dengan tulisanya. jangan sampai salah Dan tertukar.
saltsanddanmoothies
thooorr.he authorrr😆 up lge dong thorr. yg bnyakk😍😍 smangattt thorrr😘
Respati Wijaya
Keren kak 🤩🤩 Semangat terus...
Rose
Penulisannya rapi banget thor. Lanjutkan karyamu!
Rania Luthfi
Next thor!
Rania Luthfi
Next thor
Rania Luthfi
Karyanya bagus thor, lanjutkan!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!