Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Kayla mengetuk pintu ruang Direktur HRD beberapa kali. Setelah terdengar suara yang mempersilahkannya masuk, ia perlahan membuka pintu lalu melangkah ke dalam dengan sikap sopan.
"Selamat siang, Pak," sapa Kayla sambil sedikit membungkukkan badan.
"Oh, Kayla." Doni tersenyum ramah. "Silakan duduk."
"Terima kasih, Pak."
Kayla duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerja Doni. Namun, yang membuatnya mulai merasa tidak nyaman, Doni justru bangkit dari kursinya. Bukannya kembali duduk di balik meja, pria itu malah berjalan mendekat lalu duduk di atas sisi meja kerja sehingga jaraknya dengan Kayla menjadi sangat dekat.
"Perusahaan sedang melakukan optimalisasi karyawan," ucap Doni santai sambil menatap Kayla tanpa berkedip. "Dalam waktu dekat akan ada PHK besar-besaran."
Kayla hanya menganggukkan kepala pelan. Jemarinya saling menggenggam di atas paha, menunggu maksud pembicaraan itu.
"Kalau dilihat dari hasil evaluasi, kamu termasuk salah satu karyawan dengan nilai kinerja terbaik."
Kayla masih tetap diam. Entah mengapa, pujian itu justru membuat bulu kuduknya meremang.
Doni mengembuskan napas panjang sebelum kembali berbicara.
"Tapi sayang sekali... kamu melakukan kesalahan yang sangat besar."
Jantung Kayla langsung berdegup lebih cepat.
"Kesalahan apa, Pak?" tanyanya dengan suara mulai bergetar.
"Kamu hamil."
Deg!
Wajah Kayla langsung pucat. Ia refleks berdiri ketika melihat Doni kembali turun dari meja dan melangkah semakin mendekatinya.
"Kenapa Bapak bisa tahu?" tanyanya, sama sekali tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Itu tidak penting."
Doni menyeringai tipis.
"Kamu belum menikah, tapi sudah hamil. Anak itu anak siapa? Terus terang saja, aku kecewa. Kukira kamu perempuan yang bisa menjaga diri."
Semakin lama Doni berbicara, wajahnya semakin dekat ke wajah Kayla. Refleks, Kayla melangkah mundur untuk menjaga jarak.
"Maaf, Pak. Itu urusan pribadi saya. Bapak tidak berhak mencampuri kehidupan pribadi saya."
"Hamil memang urusan pribadimu." Suara Doni terdengar pelan, tetapi penuh tekanan. "Tapi citra perusahaan adalah urusanku."
Kayla menatap Doni tanpa gentar.
"Sejak kapan karyawan hamil merusak citra perusahaan? Setahu saya, undang-undang ketenagakerjaan justru melindungi pekerja perempuan yang sedang hamil. Perusahaan tidak bisa memecat mereka hanya karena sedang mengandung."
Sudut bibir Doni terangkat membentuk senyum licik.
"Peraturan di hotel ini aku yang menentukan."
Ia kembali mendekat hingga Kayla nyaris tak memiliki ruang untuk mundur.
"Kalau kamu ingin tetap bekerja, bahkan naik jabatan dan naik gaji, ada satu cara."
"Apa maksud Bapak?"
"Melayani aku."
Belum sempat Kayla bereaksi, Doni tiba-tiba meraih pinggangnya dan menarik tubuh wanita itu hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Lepaskan saya!" bentak Kayla sambil berusaha melepaskan diri.
"Kayla!"
Suara Rina tiba-tiba terdengar nyaring dari arah pintu.
Doni buru-buru melepaskan pelukannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Rina masuk bersama Mila dan Mira. Ketiganya memandang Kayla dengan tatapan penuh kemenangan.
"Jadi benar ya," ucap Rina dengan senyum sinis. "Demi tidak dipecat, kamu sampai menggoda Pak Doni yang sudah punya istri dan anak."
"Benar-benar memalukan," timpal Mila sambil mencibir.
"Pantas saja akhir-akhir ini dia selalu dapat perlakuan istimewa. Rupanya memang punya cara sendiri mengambil hati atasan," tambah Mira sambil tertawa mengejek.
Wajah Kayla memerah karena marah.
"Kalian jangan asal menuduh! Dia yang lebih dulu memeluk saya."
"Masih berani mengelak?" Rina menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kami bertiga melihat sendiri apa yang terjadi."
Suasana ruangan semakin tegang. Tepat saat itulah terdengar suara langkah kaki mendekat dari luar.
"Ada apa ini?"
Suara Adrian terdengar dingin dan penuh wibawa.
Semua orang spontan menoleh ke arah pintu.
Adrian berdiri di sana bersama Aldo dan dua orang pengawal pribadinya. Tatapan tajamnya langsung menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti pada wajah Kayla yang masih terlihat pucat.
Entah mengapa, melihat wajah Kayla yang ketakutan membuat rahang Adrian perlahan mengeras.
"Pak Adrian, untung sekali Anda datang!" seru Rina dengan wajah penuh kepura-puraan. "Kayla sedang menggoda Pak Doni supaya tidak dipecat. Tadi saya melihat sendiri mereka sampai berpelukan."
Rahang Adrian mengeras. Tatapannya perlahan beralih kepada Doni. Sorot matanya begitu tajam hingga membuat pria itu tanpa sadar menelan ludah.
"Pak Adrian," ujar Doni dengan suara setenang mungkin. "Saya sudah mengatakan kepada Bu Kayla kalau saya sudah beristri dan memiliki anak. Tapi dia tetap memaksa mendekati saya."
Adrian tidak langsung percaya. Ia justru mengalihkan pandangannya kepada Kayla.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Kayla menggeleng cepat. Wajahnya masih pucat akibat kejadian barusan.
"Saya tidak menggoda Pak Doni. Justru beliau yang mencoba melecehkan saya. Saya hanya berusaha melepaskan diri."
"Bohong!" bentak Rina buru-buru sebelum Adrian sempat menanggapi. "Saya melihat sendiri semuanya. Mira dan Mila juga menjadi saksi."
"Iya, Pak," jawab Mira dan Mila hampir bersamaan. "Kami melihat sendiri."
Ruangan mendadak dipenuhi ketegangan. Tidak ada lagi yang berbicara. Semua orang menunggu keputusan Adrian.
"Diam."
Satu kata itu keluar dari mulut Adrian dengan nada datar, tetapi mampu membuat seluruh ruangan membeku.
Tatapannya perlahan beralih ke arah kamera pengawas yang terpasang di sudut ruangan.
"Sejak kemarin seluruh ruangan ini sudah dipasang CCTV baru." Suara Adrian terdengar tenang, tetapi semakin membuat suasana mencekam. "Kamera itu bukan hanya merekam gambar, tetapi juga suara."
Rina langsung membelalak.
Begitu pula Doni, Mila, dan Mira.
Mereka sama sekali tidak mengetahui kalau kamera baru itu memiliki fitur perekam suara.
"Aldo."
"Siap, Tuan."
"Periksa rekaman CCTV sekarang."
"Baik, Tuan."
Aldo segera keluar. Hanya beberapa menit kemudian ia kembali sambil membawa sebuah tablet.
"Pak Adrian, rekamannya sudah berhasil saya ambil."
Adrian menerima tablet itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dengan tenang ia memutar rekaman tersebut di hadapan semua orang.
Suasana kembali sunyi.
Video itu memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana Doni terus mendekati Kayla. Beberapa detik kemudian terlihat pria itu meraih pinggang Kayla hingga memaksanya masuk ke dalam pelukan.
Tak lama setelah itu, suara Doni terdengar jelas dari rekaman.
"Peraturan di perusahaan ini aku yang menentukan. Kamu akan aman dan bisa naik gaji asal mau melayani aku."
Lalu terdengar suara Kayla yang dipenuhi kemarahan.
"Lepaskan saya!"
Tidak ada lagi yang bisa membantah.
Wajah Doni berubah sepucat kertas.
Rina, Mira, dan Mila juga saling berpandangan dengan jantung berdebar kencang.
Rahang Adrian mengeras. Urat di pelipisnya tampak menonjol. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Memanfaatkan jabatan untuk menindas dan melecehkan bawahan." Suara Adrian terdengar dingin. "Sungguh tindakan yang sangat memalukan."
"Pak... ini tidak seperti yang Bapak lihat," ucap Doni tergagap.
"Cukup."
Adrian memotong tanpa memberinya kesempatan menjelaskan.
"Aldo."
"Siap, Tuan."
"Mulai detik ini Doni Pratama dipecat dari jabatannya."
Wajah Doni langsung kehilangan warna.
"Dan laporkan dia ke polisi atas dugaan pelecehan seksual serta penyalahgunaan wewenang. Rekaman CCTV itu jadikan barang bukti."
"Baik, Tuan."
Dua orang pengawal Adrian langsung maju membekuk kedua lengan Doni.
"Tidak... Pak Adrian! Tolong dengarkan penjelasan saya!"
Tidak ada seorang pun yang memedulikannya.
Melihat keadaan berbalik, Rina langsung panik. Ia buru-buru menunjuk Doni.
"Dasar bodoh! Gara-gara kamu aku ikut salah paham!"
Ia kemudian menoleh kepada Kayla dengan senyum yang dipaksakan.
"Kayla... maaf. Aku benar-benar mengira kamu yang menggoda Pak Doni."
Kayla hanya menatap Rina sekilas tanpa menjawab. Baginya, permintaan maaf itu sama sekali tidak tulus.
"Semuanya keluar."
Suara Adrian kembali terdengar tegas.
Rina, Mira, dan Mila segera meninggalkan ruangan. Tidak ada lagi keberanian untuk membela diri. Lagi-lagi rencana mereka gagal total, membuat Rina semakin membenci Kayla.
Tak lama kemudian, ruangan itu hanya menyisakan Adrian, Aldo, Kayla, dan dua orang pengawal.
Kayla menarik napas panjang sebelum menundukkan kepala.
"Pak Adrian... terima kasih sudah menyelamatkan saya."
Tanpa menunggu jawaban, Kayla segera berbalik. Ia ingin secepat mungkin keluar dari ruangan itu sebelum Adrian mengingat kejadian malam di hotel dua bulan lalu.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, suara Adrian menghentikannya.
"Kayla."
Langkah Kayla langsung terhenti.
"Kita perlu bicara."
Deg!
Jantung Kayla seolah berhenti berdetak. Jemarinya perlahan mengepal, sementara napasnya mulai terasa berat.
Di dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.
"Apa dia akan membahas kejadia malam itu?"