NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Pertemuan di Batas Keputusasaan dan Kebenaran yang Menghancurkan

Ketukan keras di pintu depan ruko kayu itu terdengar bagai dentang lonceng kematian bagi ketenangan yang selama ini dibangun oleh Viona Adeline di kota kecil ini. Tubuh Viona gemetar hebat, kedua telapak tangannya mendekap erat perutnya yang kini kian kentara membuncit di balik daster longgarnya. Rahasia dua garis merah—janin berusia empat bulan yang merupakan darah daging Arkan Mahendra—kini terancam runtuh dalam hitungan detik.

"Viona... aku tahu kau di dalam. Buka pintunya," suara bariton yang sangat rendah, tegas, namun sarat akan getaran frustrasi menggema dari balik pintu. Itu adalah suara Arkan. Pria posesif yang selama berbulan-bulan ini mengarahkan seluruh kekuasaannya demi melacak jejak pelariannya.

Ibunya memegang pundak Viona dengan cemas. "Viona, apakah itu Tuan Arkan? Apa yang harus kita lakukan, Nak?"

Viona mencoba menelan ludah, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya yang kian sesak. Mengetahui kebenaran dari buku harian mendiang ayahnya bahwa Arkan sebenarnya adalah pelindung mereka, rasa benci di hatinya telah menguap, digantikan oleh penyesalan yang mendalam dan rasa bersalah yang teramat pekat. Namun, melihat Arkan membawa pasukan privat di depan rumahnya membuat ketakutan konstan itu kembali hadir.

Dengan langkah perlahan, Viona membuka grendel pintu. Begitu daun pintu terbuka, sosok tegap setinggi 187 cm langsung mengunci pandangannya. Arkan Mahendra berdiri di sana, menanggalkan keangkuhan berdarah es miliknya. Rahang tegasnya tampak ditumbuhi rambut-rambut halus, dan sepasang mata hitam kelamnya memancarkan kerinduan yang luar biasa pekat sekaligus penyesalan yang menghancurkan egonya.

Namun, sedetik kemudian, tatapan Arkan turun dan terpaku sepenuhnya pada perut Viona yang membuncit. Pria itu mematung, napasnya tertahan, dan kendali isunya runtuh seketika.

"Kau... kau hamil, Viona?" bisik Arkan dengan suara yang mendadak parau, melangkah maju setapak dengan tangan yang gemetar hendak menyentuh perut wanita itu.

Viona refleks mundur setapak, menyembunyikan perutnya di balik pintu. "Jangan mendekat, Tuan Mahendra. Hubungan kontrak kita sudah selesai sejak aku meninggalkan Jakarta. Kenapa Anda masih mengejarku sampai ke mari?"

"Aku mengejarmu karena aku salah, Viona!" ucap Arkan dengan nada mendesak, meletakkan kedua telapak tangannya di sisi pintu, mengurung Viona dalam tatapannya yang penuh keputusasaan. Pria yang semula menolak mengakui cinta itu kini merendahkan suaranya hingga ke titik terendah. "Aku tahu kau sudah membaca berkas akuisisi itu. Aku tahu kau membenciku karena mengira aku menghancurkan ayahmu. Tapi kumohon, dengarkan penjelasanku—"

"Aku sudah tahu kebenarannya, Arkan," potong Viona pelan, air matanya mulai luruh membasahi pipinya yang polos. "Aku sudah membaca buku harian Ayah tadi malam. Aku tahu Ayah yang melakukan korupsi puluhan miliar, dan aku tahu Anda yang mencoba menutupi aib itu dari dewan direksi. Aku... aku minta maaf karena telah memaki dan menuduh Anda sebagai iblis di kantor waktu itu."

Mendengar pengakuan Viona, Arkan terpaku. Rasa lega sempat melintas di wajahnya, namun kilat panik kembali mendominasi sepasang netra kelamnya. Ia meraih pergelangan tangan Viona dengan lembut namun posesif. "Jika kau sudah tahu aku tidak bersalah, kenapa kau tidak kembali kepadaku? Kenapa kau menyembunyikan anak kita di tempat seperti ini, Viona?!"

Viona tersenyum getir, sebuah senyuman penuh penderitaan emosional (angst). "Bagaimana aku bisa kembali, Tuan? Keluargaku telah mengkhianati perusahaan Anda. Harga diriku terlalu hancur untuk kembali menjadi wanita simpanan Anda di apartemen mewah itu, sementara duniaku dan duniamu berbeda jauh."

"Kau bukan wanita simpanan lagi, Viona! Aku mencintaimu! Aku akan menjadikanmu istri sahku dan membatalkan transaksi dengan Clarissa!" seru Arkan dengan emosi yang meledak-ledak, sepenuhnya mengakui perasaan yang selama ini ia sangkal. Pria itu menarik tubuh ramping Viona ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan hangat, mengabaikan penolakan lemah dari wanita itu.

Namun, di tengah momen emosional yang intens tersebut, sebuah tepuk tangan ritmis yang dingin tiba-tiba terdengar dari arah halaman ruko.

Prok... prok... prok...

"Sungguh drama picisan yang sangat menyentuh hati di kota terpencil," sebuah suara wanita bernada sinis memotong keheningan koridor luar.

Arkan langsung melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhnya dengan protektif, menyembunyikan Viona di belakang punggung tegapnya. Sepasang matanya berkilat penuh kebencian mutlak saat melihat Clarissa melangkah masuk ke pekarangan ruko dengan gaun desainer mewahnya, didampingi oleh dua pria asing bertubuh kekar yang memegang senjata api tersembunyi di balik jas mereka.

"Clarissa? Bagaimana bisa kau ada di sini?!" bentak Arkan dengan suara bariton yang sangat berbahaya, sementara tim keamanan privatnya langsung bersiaga dan menodongkan senjata.

"Tentu saja aku mengikuti mobilmu, Arkan Sayang," ucap Clarissa dengan senyuman kepuasan yang dingin. Tatapan matanya yang tajam bak beling kemudian menusuk ke arah Viona yang mengintip dari balik punggung Arkan. Saat matanya menangkap bentuk perut Viona yang membuncit, senyuman Clarissa mendadak berubah menjadi tawa histeris yang sarat akan racun.

"Oh, lihat ini! Jalang kecil ini ternyata sedang mengandung ahli waris Mahendra Group! Pantas saja kau begitu panik mencarinya hingga membatalkan seluruh kerja sama bisnis dengan keluargaku pagi ini, Arkan!" pekik Clarissa dengan nada penuh kebencian.

"Pergi dari sini, Clarissa, sebelum aku benar-benar melenyapkan seluruh keluargamu dari dunia bisnis!" ancam Arkan, auranya mendadak turun drastis menjadi sangat kejam dan haus darah.

Namun, Clarissa tidak tampak takut sama sekali. Di sinilah plot twist yang jauh lebih gelap dan mengerikan akhirnya dibongkar secara gamblang oleh wanita itu di depan mereka semua.

"Kau pikir kau bisa menghancurkanku, Arkan? Kau pikir audit forensik digital yang kau temukan semalam adalah kartu as-mu?" Clarissa maju setapak, matanya berkilat gila. "Kau mengira keluargaku menjebak ayah Viona untuk merampok uang Mahendra Group? Jawabannya adalah salah besar!"

Clarissa menunjuk tepat ke wajah Arkan dengan jari lenturnya. "Yang merancang seluruh skenario penjebakan, korupsi puluhan miliar, hingga pemalsuan surat jaminan utang itu bukanlah keluargaku, Arkan... melainkan ayah kandungmu sendiri, Tuan Besar Mahendra!"

Duar!

Kata-kata Clarissa laksana hantaman godam tak kasat mata yang menghancurkan kesadaran Arkan dan Viona seketika. Seluruh ruangan mendadak sunyi senyap.

"Apa... apa maksudmu?" tanya Arkan dengan rahang yang bergetar, suaranya mendadak kehilangan kekuatan untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

"Ayahmu tahu kalau ayah Viona memiliki hak paten atas tanah manufaktur strategis yang menolak dijual kepada Mahendra Group," ucap Clarissa dengan senyuman penuh kemenangan yang kejam. "Jadi, ayahmu bekerja sama dengan orang tuaku untuk memalsukan aliran dana korupsi, menjebak ayah Viona agar terlihat bersalah, dan memaksa pria tua itu menandatangani surat jaminan hidup untuk menyerahkan Viona kepadamu sebagai bentuk pengikat agar rahasia ini tidak bocor. Ayahmu sengaja menaruh Viona di bawah kontrakmu agar gadis ini berada di bawah pengawasan mutlak keluarga Mahendra! Ayah Viona bunuh diri karena diancam oleh ayahmu sendiri, bukan oleh keluargaku!"

Viona yang mendengar penuturan itu merasakan seluruh tubuhnya lemas tak bertulang, ia jatuh terduduk di lantai marmer ruko sambil menangis histeris. Patah hati dan rasa dikhianati oleh takdir yang teramat kejam kembali meremukkan batinnya. Pria yang dicintainya, pria yang mengandung anaknya, ternyata adalah putra kandung dari pembunuh dan perencana kehancuran keluarganya yang sesungguhnya.

Arkan membalikkan tubuhnya dengan pandangan kosong, menatap Viona yang menangis pilu di lantai. Penyesalan, rasa bersalah, dan badai kebenaran yang baru saja pecah membuat sang alpha male merasa dunianya telah berakhir. Hubungan di antara sang CEO posesif dan wanita pelariannya kini tidak lagi hanya terikat oleh kontrak dan rahasia dua garis merah, melainkan oleh genangan darah dan dosa masa lalu dari keluarga mereka sendiri yang teramat kelam.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!