Apakah dengan merenggut nyawa seseorang yang tidak bersalah membuatmu hidup tenang dengan bergelimang harta??
Jika hal itu dapat menghantarkan setiap orang ke surga dunia dan surga akhirat, tentu kau sudah tidak hidup di dunia ini. Melainkan sudah menjadi tumbalku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona ribka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Tumbal Pesugihan
Isna yang bingung dengan pikirannya sendiri hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Tak lama Isna menangis Dion dan Johan yang baru dari kantin rumah sakit, berencana ingin duduk di depan ruangan Rasty sembari menunggu Becca dan Hanum yang masih menjaga Rasty pun mengurungkan niatnya. Melihat Isna yang duduk dengan tatapan kosong membuat Dion dan Johan pergi dan memutuskan menunggu Hanum dan Becca di dalam mobil.
Sedikit lega mencurahkan air matanya Isna masuk ke dalam ruang perawatan Rasty. Becca dan Rasty sudah tertidur, sementara Hanum dan Arum sedang mengobrol. Isna menghampiri mereka.
"Bagaimana suamimu??" tanya Arum.
"Ya begitulah mbak, strokenya parah mbak lumpuh total sampai gak bisa bicara." Jawab Isna dengan tatapan kosong.
Hanum hanya mendengarkan pembicaraan itu tanpa ikut campur di dalamnya.
"Setelah ini kamu mau gimana??" tanya Arum yang mulai bingung dengan keadaan sang adik.
"Aku mau tinggal di rumah ibu aja ya mbak, aku takut kembali ke rumahku. Biar aku mengurus suamiku di rumah ibu saja, setelah itu aku mau bercerai mbak." Ucap Isna.
Hanum yang mendengar pembicaraan itu semakin dalam, memutuskan untuk mengakhiri kunjungan dan pulang membawa Becca. Selain untuk menghindar menguping pembicaraan yang cukup sensitif, Hanum memikirkan putrinya yang sudah semalaman di rumah sakit menemani Isna.
Di tengah pembicaraan itu Hanum berkata, "Na aku permisi balik ya sama Becca, kasian dia sudah semalaman disini." Ucap Hanum.
"Oh iya Num, pulanglah, terimakasih banyak ya. Maaf aku sudah sangat merepotkan kalian." Jawab Isna.
"Tidak apa-apa Na, semoga suami dan anakmu cepat sembuh ya. Kalau ada apa-apa dan butuh bantuan telepon aku ya." Ucap Hanum mengingatkan Isna.
Isna menganggukkan kepalanya dan setelahnya Becca dan Hanum pergi meninggalkan rumah sakit, mencari Dion dan Johan untuk segera pulang.
Karena tidak melihat keberadaan suaminya di rumah sakit, Hanum menelepon Johan.
"Yah dimana, kami sudah mau pulang ini??" tanya Hanum di depan rumah sakit sembari mengamati sekelilingnya, melihat apakah ada suaminya disana.
"Di parkiran bu, ke parkiran saja." Jawab Johan.
Parkiran rumah sakit itu tidak berada di depan namun berada di belakang rumah sakit. Jelas membuat Hanum sedikit jengkel karena ulah suaminya yang tidak memberitahu lebih dulu dimana mereka berada.
Dari depan rumah sakit ke belakang rumah sakit cukup jauh, rumah sakit ini adalah rumah sakit yang di kategorikan cukup besar di kota mereka.
"Kenapa gak bilang dari tadi yah, ibu sama Becca udh jalan di depan ini. Sebentar kalau begitu, kami jalan kesana." Ucap Hanum dengan sedikit kesal.
Hanum dan Becca pun berjalan kembali ke arah belakang rumah sakit. Becca yang memang sudah sangat sensitif akan kehadiran makhluk halus tidak menyadari bahwa dia memiliki kemampuan itu.
Awalnya memang hanya suara-suara dengung, suara aneh yang tertangkap oleh telinganya. Namun hari ini untuk pertama kalinya dia melihat sosok dengan nyata sampai dia tidak tau bahwa sosok itu bukanlah manusia.
Saat Hanum dan Becca berjalan, Becca melihat ke kanan ke kiri karena sepinya rumah sakit di pagi hari. Namun ada satu lorong yang di lewati mereka dan spontan membuat Becca berhenti dari jalannya.
Hanum yang menyadari bahwa putrinya berhenti dan sedang mengamati sesuatu pun menghampiri putrinya, bertanya.
"Kak ada apa?? kenapa kamu kok berhenti??" tanya Hanum sambil melihat lorong kosong yang di pandangi putrinya.
"Bu sebentar bu, kakak mau nolong nenek itu dulu ya. Kok bisa dia nyasar sampai sini ya pakai kursi roda." Ucap Becca.
Deq, jantung Hanum berdetak kencang, dengan cepat dan spontan Hanum langsung memegang tangan putrinya Becca yang hendak menghampiri nenek yang di lihatnya.
"Tidak usah kak, ayo kita pulang saja." Ucap Hanum yang memang tidak melihat apapun di lorong itu.
"Bu tapi kasian." Ucap Becca setengah memaksa.
"Tidak usah kak, pasti ada susternya itu sudahlah ayo kita pulang." Ucap Hanum dan langsung menarik tangan Becca dengan kencang.
Hanum pun mulai menyadari ada hal aneh yang terjadi kepada putrinya. Sampainya mereka di mobil, Becca dan Hanum langsung naik. Hanum yang duduk di samping suaminya pun menghela nafas dengan kasar.
"Kamu kenapa bu, kok pucat banget. Masih sakit ya??" tanya Johan yang terus melihat wajah istrinya.
"Tidak yah, sudah ayo kita pulang. Buruan ibu lapar." Jawab Hanum dengan gelisah.
Walaupun bingung dengan tingkah sang istri, Johan tetap menurutinya mereka langsung pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan menuju rumah Johan yang merasa ada hal yang di sembunyikan istrinya. Tak sabar menunggu sampai rumah, di tengah perjalanan Johan pun bertanya.
"Ibu kenapa sih, gelisah banget dari tadi, wajahnya tegang gitu. Ada apa sih??" tanya Johan.
"Tanya putri kamu tuh, tadi dia lihat apaan." Ucap Hanum sambil melirik Johan.
Becca yang mendengar perkataan Hanum pun mengernyitkan dahinya, karena memang dia merasa tidak melihat hal yang aneh.
"Kenapa bu?? lihat apaan emangnya??" Ucap Becca yang kebingungan.
Tiba-tiba terlintaslah nenek-nenek yang dia lihat di lorong rumah sakit.
"Oh itu bu nenek tadi, emang kenapa dengan nenek tadi??" tanya Becca kembali.
"Kakak tau gak sebenarnya di lorong itu gak ada siapapun, ibu gak lihat ada nenek-nenek yang kamu lihat. Lorong itu kosong kak, gadak siapa-siapa makanya ibu tarik kamu karena ibu jadi merinding." Ucap Hanum.
Becca pun berkeras dengan ibunya kalau dia melihat nyata nenek-nenek itu. Hanum tetap menyangkal hal itu, di tengah berkerasnya Becca, dia pun menyadari satu hal yang membuatnya terdiam dan jadi ikut merinding.
Setelah Becca mengingat kembali ada satu hal ganjil, bahwa nenek yang dia lihat duduk di kursi roda membelakanginya mengenakan baju lusuh seperti kotor dengan rambut yang berantakan mengembang ke atas.
Setelah berpikir kembali, Becca setuju dengan ibunya sepertinya yang dia lihat bukanlah manusia nyata. Becca yang gelisah mulai berkeringat dingin, merasa ada yang salah pada dirinya.
Becca memutuskan untuk mengobrol dengan pamannya dari telepon begitu sampai di rumah. Becca takut apa yang dia lihat bisa membahayakan hidupnya, karena rasa trauma yang hampir merenggut nyawa sang ibu masih menghantuinya.
Bersambung...
Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca dan terus mengikuti cerita saya. Semoga teman-teman dapat terhibur dengan cerita-cerita saya, tetap sehat dan selalu semangat untuk kita semua. Love you all ❤️.