Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Nasi Goreng Tengah Malam
Sendok itu menyentuh mangkuk hanya sekali, tetapi bagi Tan Ardian, suaranya terdengar terlalu keras.
Ia berhenti.
Dapur kecil di dekat ruang tengah gelap, hanya lampu bawah kabinet yang menyala tipis. Rumah Tan sudah sepi. Tidak ada Darren yang berisik, tidak ada pengasuh nomor delapan puluh delapan yang menjawab kalimatnya dengan wajah polos menyebalkan.
Di atas meja, semangkuk nasi goreng masih hangat.
Ardian menatapnya seperti menatap perangkap.
Tidak ada catatan. Tidak ada tulisan manis. Tidak ada kalimat, "Pak Tan harus makan." Justru karena tidak ada apa-apa, mangkuk itu terasa lebih mengganggu.
Seolah Sekar tahu ia akan datang.
"Terlalu percaya diri," gumamnya.
Perutnya menjawab dengan bunyi kecil.
Ardian memejamkan mata sebentar. Ia bisa saja kembali ke kamar. Ia bisa saja menekan tombol dan menyuruh orang membuang makanan ini. Ia bisa saja bertahan sampai pagi, hanya untuk membuktikan bahwa Budiman Sekar tidak menang.
Masalahnya, nasi goreng itu wangi.
Wangi bawang putih tipis, telur yang baru dimasak, dan ayam suwir yang tidak terlalu kering. Tidak berlebihan. Tidak memaksa. Seperti diletakkan di sana bukan untuk membujuk, hanya untuk memberi pilihan.
Ardian mengambil sendok.
Suapan pertama ia makan dengan wajah datar, seolah sedang menguji kualitas proyek. Suapan kedua lebih cepat. Suapan ketiga membuat bahunya yang tegang turun sedikit.
Ia tidak suka mengakui apa pun, apalagi pada pengasuh baru yang berani mencabut baterai kursi rodanya.
Tapi nasi goreng itu enak.
Bukan enak yang mewah. Bukan enak restoran. Lebih seperti sesuatu yang hangat dan menyebalkan karena datang tepat saat ia lapar.
Ia makan sampai dasar mangkuk terlihat.
Setelah itu, Ardian duduk diam cukup lama.
Di meja samping ada tumpukan sticky notes kuning dan pulpen. Mungkin milik staf dapur. Mungkin memang sengaja ditinggalkan di sana. Dengan perempuan bernama Budiman Sekar itu, hal-hal sederhana pun mulai terlihat seperti jebakan.
Ardian mengambil satu lembar.
Ia menulis pelan.
Dada ayam panggang dengan irisan tomat dan selada dalam wrap gandum.
Ia berhenti, menatap tulisan itu, lalu menambahkan satu titik di akhir. Terlalu kaku. Bagus. Permintaan makanan harus terdengar seperti instruksi, bukan pengakuan kalah.
Mangkuk kosong ia dorong sedikit ke tengah meja. Sticky note ia tempel di sisi mangkuk.
Sebelum pergi, ia sempat melihat bayangannya di pintu kaca dapur. Pria di kursi roda itu tampak pucat, dingin, dan sedikit lebih manusiawi daripada siang tadi.
Ardian membuang muka.
"Bukan karena dia," katanya pada dapur kosong.
Dapur tentu saja tidak menjawab.
Keesokan paginya, Sekar menemukan mangkuk kosong itu saat hendak mengambil air.
Ia berhenti di depan meja.
Mangkuk bersih dari nasi. Sendok diletakkan rapi di sampingnya. Sticky note kuning menempel seperti bukti kriminal yang terlalu sombong untuk disembunyikan.
Sekar membaca tulisan itu sekali.
Lalu dua kali.
"Dada ayam panggang dengan irisan tomat dan selada dalam wrap gandum," gumamnya.
Darren yang baru masuk dapur sambil mengucek mata langsung menoleh. Rambutnya berantakan, kaus tidurnya bergambar sapi hitam putih.
"Koko nulis apa?"
Sekar mengangkat sticky note.
Darren membacanya, lalu wajahnya berubah penuh haru. "Dia minta makan?"
"Dia minta nama baru untuk sandwich yang kemarin dia hina."
Darren memegang dada. "Mbak Sekar, ini kemajuan besar. Biasanya kalau Koko kalah, dia pura-pura tidak ikut pertandingan."
Sekar menempelkan sticky note itu di sisi kulkas sementara. "Berarti kita pura-pura percaya dia menang."
"Strategi Kucing Lapar tahap dua?"
"Strategi Menyelamatkan Harga Diri Kucing."
Darren mengangguk serius, seperti sedang menerima arahan komisaris utama.
Pagi itu, Sekar membuat wrap gandum sesuai tulisan. Dada ayam dipanggang tipis, tomat diiris rapi, selada dikeringkan supaya tidak membuat roti lembap. Ia tidak menambahkan saus berlebihan. Hanya sedikit garam, lada, dan minyak zaitun.
Ketika ia membawa piring ke ruang makan, Ardian sudah duduk di tempatnya. Koran terbuka di tangannya. Wajahnya lebih segar, meski tetap dingin.
Sekar meletakkan piring di depannya.
"Dada ayam panggang dengan irisan tomat dan selada dalam wrap gandum," katanya dengan nada profesional.
Ardian menurunkan koran sedikit. "Kenapa kamu mengulang semuanya?"
"Agar tidak tertukar dengan sandwich ayam ala Prancis yang gagal kemarin."
Darren mengeluarkan suara tertahan.
Ardian menatap Sekar. "Aku tidak bilang itu sama."
"Tentu tidak, Pak Tan. Yang ini punya nama lebih panjang, jadi lebih berkelas."
Ardian diam. Lalu, di bawah tatapan dua orang yang pura-pura tidak memperhatikan, ia mengambil potongan wrap itu dan menggigitnya.
Sekar tidak tersenyum.
Darren juga tidak tersenyum, meski pipinya bergerak aneh.
Ardian menelan. "Lumayan."
Untuk ukuran pria yang semalam menyebut nasi goreng beraroma usaha terlalu keras, "lumayan" terdengar seperti ulasan bintang lima.
Sekar menunduk sedikit. "Baik, Pak Tan. Akan saya catat."
Ardian membuka koran lagi, tetapi kali ini korannya agak terlalu tinggi. Telinganya, yang tidak tertutup koran, tampak sedikit merah.
Mungkin karena lampu pagi.
Mungkin.
Baru saja Sekar hendak kembali ke dapur, bel rumah berbunyi.
Suara interkom dari pos satpam menyala.
"Pak Darren, ada tamu. Namanya Susanto Kevin."
Darren yang masih menahan tawa langsung membeku.
Koran di tangan Ardian turun perlahan.
Di wajahnya, sisa hangat dari sarapan menghilang begitu saja.
Sekar memandang keduanya bergantian. Satu nama saja cukup membuat ruang makan yang tadi hampir terasa normal kembali dingin.
Berarti Susanto Kevin bukan sekadar teman lama.
Dan apa pun yang ia bawa pagi ini, pasti bukan kabar baik.