Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
"Arka," Bianca berkata pelan, tetapi nadanya jelas memperingatkan.
Ia tahu kemampuan Arka tidak biasa. Namun Empu Wira bukan orang yang bisa diperlakukan seperti lawan bicara biasa. Satu kalimat salah, pintu kerja sama bisa tertutup selamanya.
Arka justru tampak tenang.
"Empu, saya dengar Anda berkali-kali mengalami mati suri. Benar?"
Empu Wira meletakkan pancing bambunya di samping kursi.
"Benar."
"Setiap kali itu terjadi, biasanya setelah Anda menghabiskan tenaga untuk mengukir karya besar. Sebelum jatuh, kepala Anda sakit seperti ditusuk dari dalam, lalu tubuh kehilangan rasa, napas hampir hilang, dan detak jantung turun sampai orang mengira Anda meninggal."
Penjaga yang tadi galak langsung kaku.
Mata Empu Wira berubah.
"Siapa yang memberitahumu?"
"Tidak ada."
"Gejala itu tidak kuceritakan pada banyak orang."
"Karena itu saya bilang Anda sakit."
Bianca menatap Arka. Di wajahnya yang dingin, ada ketegangan yang tidak bisa ditutupi. Jika Arka benar, ini kesempatan besar. Jika salah, mereka akan diusir.
Empu Wira berdiri perlahan. Tubuhnya kurus, tetapi punggungnya tetap tegak.
"Banyak dokter pernah memeriksa. Rumah sakit di Singapura, Jepang, sampai Jerman. Ada juga kiai, biksu, orang pintar, tabib kampung, semua pernah datang. Ada yang bilang kutukan, ada yang bilang karunia, ada yang bilang umurku dipinjam dari alam."
Ia menatap Arka.
"Kamu mau mengatakan mereka semua salah?"
"Tidak semuanya." Arka tersenyum tipis. "Mereka hanya melihat dari pintu yang berbeda, tapi tidak ada yang membuka ruang utamanya."
Penjaga mengerutkan kening. Ia tidak suka gaya bicara Arka, tetapi Empu Wira belum memberi perintah mengusir.
Arka melanjutkan, "Masalah Empu ada pada otak dan otot. Dalam istilah modern, ada gangguan listrik saraf yang mirip epilepsi langka, ditambah kekakuan otot bawaan yang selama ini tertutup karena latihan fisik dan napas yang Empu jalani puluhan tahun."
Penjaga tampak bingung.
Bianca juga tidak sepenuhnya paham, tetapi ia mendengar logika dalam nada Arka.
Empu Wira tidak tertawa. "Aku memang pernah belajar olah napas di pesantren tua dan padepokan."
"Itu yang membuat gejala di tubuh tidak terlihat seperti pasien biasa. Tangan Empu tetap stabil, napas panjang, otot tidak kaku di luar. Tapi di dalam, dua hal itu saling menahan."
Arka menunjuk kepala Empu Wira.
"Saat Empu mengukir, seluruh pikiran masuk ke satu titik. Tekanan saraf naik. Gangguan listrik di otak membesar. Orang biasa mungkin kejang atau pingsan, tapi tubuh Empu punya kekakuan tersembunyi yang membuat jantung bekerja di tingkat sangat rendah, seperti lampu yang kelihatan mati padahal arus kecil masih berjalan."
Ia menurunkan tangan.
"Maka napas dan denyut turun sampai alat medis biasa sulit membaca. Orang mengira Empu meninggal. Setelah beban saraf mereda, tubuh kembali memanggil napas. Itulah sebabnya Anda bangun lagi."
Pendopo sunyi.
Air kolam bergerak pelan. Seekor ikan muncul ke permukaan, lalu hilang lagi.
Empu Wira menatap Arka lama.
"Bukan kutukan?"
"Bukan."
"Bukan keajaiban?"
"Kalau mau disebut keajaiban, keajaibannya adalah tubuh Empu menemukan cara paling aneh untuk bertahan hidup."
Empu Wira tiba-tiba tertawa.
Tawanya tidak keras, tetapi membuat penjaga di belakangnya terkejut. Bianca juga ikut menahan napas. Sejak tadi pria tua itu seperti batu tua; sekarang, untuk pertama kalinya, ada cahaya di matanya.
"Puluhan tahun orang datang membawa dupa, doa, alat medis, dan teori langit. Kamu datang membawa kalimat kurang ajar, tapi justru paling masuk akal."
"Saya hanya menyampaikan yang saya lihat."
"Kamu bisa menyembuhkan?"
"Bisa."
Penjaga langsung maju. "Empu, jangan percaya begitu saja. Anak ini--"
Empu Wira mengangkat tangan.
"Diam."
Penjaga mundur lagi.
Bianca memandang Arka, lalu Empu Wira. Ia tahu ini saatnya mendorong peluang.
"Empu, Arka pernah menyembuhkan saya. Penyakit saya juga tidak bisa dijelaskan dokter biasa."
Empu Wira menoleh pada Bianca. Ia mengenal nama Lestari. Wanita muda ini tidak membangun perusahaan besar dengan mulut ringan. Jika ia berani memberi kesaksian, berarti Arka memang pernah melakukan sesuatu.
"Anak muda," kata Empu Wira, "kalau kamu bisa menyembuhkan penyakit mati-hidupku ini, aku akan mengukir batu milik Lestari. Gratis."
Wajah Bianca sedikit berubah. Untuk ukuran Empu Wira, janji itu sudah seperti membuka brankas sejarah. Sekali ia mengukir imperial green itu, nama Lestari akan naik di kalangan kolektor batu mulia dan perhiasan kelas atas.
Namun Arka malah tertawa.
"Empu, tawaran itu terlalu kecil."
Penjaga hampir meledak. "Kamu gila?"
Bianca langsung memegang lengan Arka. "Arka."
Arka tidak menatapnya. Ia tahu Bianca khawatir, tetapi justru di titik seperti ini ia harus menawar besar. Kalau hanya mendapat satu ukiran, Lestari menang sekali. Kalau mendapat Empu Wira sebagai nama yang terikat, Bianca menang berkali-kali.
Empu Wira menyipitkan mata.
"Terlalu kecil?"
"Saya menyembuhkan penyakit yang sudah membuat Empu mati suri berkali-kali. Itu bukan menukar satu karya. Itu menukar sisa hidup Empu."
"Kamu ingin apa?"
"Jadi penasihat ukir batu mulia untuk Lestari Intimates. Secara terbuka."
Bianca menahan napas.
Penjaga benar-benar membeku.
Empu Wira menatap Arka seolah baru melihat anak muda yang berani mencabut kumis harimau.
"Aku pernah menolak kementerian. Aku pernah menolak konglomerat yang membawa uang tunai satu koper. Aku pernah menolak keluarga kerajaan kecil dari luar negeri. Kamu ingin aku mengikat nama pada perusahaan?"
"Bukan mengikat. Memilih tempat untuk mewariskan nilai."
"Mulutmu pintar."
"Saya sopir. Kalau tidak pintar bicara, susah bertahan."
Bianca hampir ingin menutup wajah. Di saat hidup mati kerja sama, Arka masih sempat bercanda.
Arka melanjutkan sebelum Empu Wira memotong, "Masalah Empu suatu hari akan gagal menjaga keseimbangan. Kalau salah satu penyakit ditangani sembarangan, penyakit lain bisa langsung membunuh. Kalau dibiarkan, setiap karya besar adalah undian nyawa."
Kali ini tawanya hilang.
Empu Wira mendengar dengan serius.
"Teknik Empu terlalu berharga untuk ikut terkubur bersama cerita mati suri. Dengan Lestari, karya Empu bisa masuk pasar yang tepat, dikurasi, dilindungi, dan dikenal generasi baru. Empu tidak perlu mengejar uang. Lestari butuh nama. Keduanya saling lengkap."
Arka berhenti sebentar.
"Saya menyembuhkan Empu. Empu memberi Lestari bukan hanya satu ukiran, tapi legitimasi. Itu baru adil."
Bianca tidak bicara. Di dalam dadanya, sesuatu berdebar keras. Ia sudah datang dengan persiapan panjang, hadiah mahal, dan kemungkinan ditolak. Arka dalam beberapa menit justru membuat negosiasi yang bahkan tidak berani ia minta.
Empu Wira berjalan ke tepi kolam. Ia menatap air cukup lama.
Penjaga tampak gelisah. "Empu..."
"Aku pernah bersumpah tidak menjadi nama di bawah perusahaan mana pun."
Bianca menunduk sedikit. Itu kalimat penolakan.
Namun Empu Wira belum selesai.
"Tapi sumpah dibuat oleh orang yang masih mengira hidupnya panjang. Setelah berkali-kali bangun dari kematian, aku mulai bosan pada keras kepala sendiri."
Ia berbalik.
"Kalau kamu benar-benar bisa menyembuhkan aku, aku akan menjadi penasihat ukir batu mulia Lestari Intimates. Nama dan wajahku boleh diumumkan."
Bianca hampir tidak percaya.
"Empu..."
"Tapi satu hal." Empu Wira menatap Arka. "Kalau kamu gagal, jangan pernah muncul di rumah ini lagi."
Arka tersenyum.
"Kalau saya gagal, Empu tidak perlu mengusir. Saya sendiri malu datang."
Empu Wira tertawa lagi, kali ini lebih lepas.
"Baik. Anak muda, tunjukkan."