Dijodohkan dengan kakak sepupu, Mysha yang berusia dua puluh tiga tahun sangat bahagia. Karena sejujurnya, dia sudah sangat lama menyukai kakak sepupunya itu.
Namun sayangnya, rasa suka yang Mysha punya tidak terbalas. Karena kakak sepupunya telah menyukai perempuan lain. Dan hanya menganggap dia hanya sebagai adik saja.
Bagaimana kisah cinta Mysha selanjutnya? Apakah pernikahan itu akan terlaksana, atau akankah hati kakak sepupu berubah? Atau ... malah menikah dengan perempuan yang kakak sepupunya sukai?
Temukan jawabannya di sini! Di Jodoh lah! Yang menentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 34
Ternyata, Kiyan tidaklah pergi ke kamar. Melainkan, pergi ke balkon lantai atas untuk menjauh dari kesibukan pesta yang mamanya adakan.
Namun, siapa sangka kalau Dwi malah terus mengikutinya dari belakang hingga sampai ke atas balkon. Semua itu juga karena persetujuan mama Kiyan. Yang setuju dengan permintaan Dwi untuk mengikuti ke mana Kiyan pergi.
Kiyan terdiam menikmati udara malam yang berhembus menembus kulitnya. Angin sejuk yang berhembus pelan, menambah ketenangan yang hanya bisa dia rasakan ketika dirinya berada di atas balkon ini.
Namun, suara derap langkah kaki yang memakai sendal tinggi itu membuat ketenangan Kiyan sangat terusik. Belum sempat Kiyan menoleh, sebuah tangan langsung melingkar di pinggang Kiyan.
Hal itu langsung membuat Kiyan kaget bukan kepalang. Pelukan yang seseorang berikan dari belakang itu membuat Kiyan reflek mendorong untuk menjauhkan tangan tersebut dari tubuhnya.
"Kak Kiyan kok gitu sih sama aku? Kenapa main dorong-dorong aja," ucap Dwi dengan suara kesal yang dibuat se manja mungkin.
"Kamu yang apa-apaan, Dwi! Kenapa kamu ada di sini sekarang? Naik tanpa izin, lalu memeluk tubuhku dari belakang. Untung aku masih waras dan memikirkan keselamatan kamu. Jika tidak, aku sudah membanting kamu dengan keras karena kamu telah menyentuh tubuhku tanpa meminta izin terlebih dahulu."
"Lah, apakah aku harus meminta izin pada calon suamiku terlebih dahulu, kak Kiyan? Aku rasa, tidak perlu deh."
"Apa? Calon suami?"
"Apa kamu sudah gila, Dwi? Siapa yang kamu sebut calon suami? Aku? Ah, ha ha ha ... kamu mungkin tidak akan pernah mendapatkannya meski hanya dalam mimpi. Mengerti?"
"Turun sekarang juga! Jangan bikin kesabaran ku musnah sekarang," ucap Kiyan lagi dengan wajah galak yang menakutkan.
"Kak Kiyan ngusir aku?"
"Iya. Aku ngusir kamu. Apa kurang jelas apa yang sudah aku katakan barusan? Apakah aku harus narik melintang tubuhmu sekarang?"
Dwi terdiam dengan kata-kata kasar yang Kiyan ucapkan. Sedikit rasa kesal yang tidak pernah bisa dia sembunyikan, sedang bersarang dalam hatinya. Namun, rasa takut yang Dwi rasakan itu sudah cukup besar. Lebih besar dari rasa kesalnya saat ini.
Itulah Kiyan yang sesungguhnya. Tidak ada sikap manis-manisnya jika bicara dengan perempuan yang tidak dia sukai. Apalagi, perempuan yang sudah membuat kesal hatinya seperti Dwi ini.
Kiyan hanya manis pada Mysha. Dan ... pada Laras sebagai perempuan dekat, tapi hanya dia anggap sebagai teman saja. Tidak lebih.
Kiyan baik dan lembut pada Laras juga karena perempuan itu berbeda dengan perempuan lainnya yang pernah dia temui. Laras lebih kepada pendiam dan agak dingin. Namun penuh dengan perhatian juga pengertian.
Meski dia jatuh hati pada Kiyan saat bersama dulu. Tapi dia tidak pernah memaksa Kiyan untuk menerima cintanya. Karena dia tahu bagaimana sikap Kiyan yang sesungguhnya. Kalau sudah benci, tidak akan pernah ingin mengubah rasa itu sampai kapanpun.
Sementara Dwi, dia tidak cukup mengenal Kiyan dengan baik. Meski dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk bersikap layaknya Laras, sang kakak yang sudah lama pergi. Tapi tetap saja, dia tidak bisa mendapatkan simpati dari Kiyan sedikitpun.
"Kak Kiyan. Jangan usir aku yah. Aku datang karena permintaan mama kak Kiyan kok. Aku juga gak akan berani datang ke sini jika mama kakak tidak memintanya," ucap Dwi sebisa mungkin berusaha untuk tetap tenang.
"Kalau begitu, kamu pergi sekarang karena permintaan aku. Kamu datang karena permintaan mama. Jadi aku rasa, tidak akan sulit buat kamu untuk pergi karena permintaan aku. Iyakan?"
"Kak! Kamu ini kenapa sih? Gak bisa sedikitpun berbaik hati padaku. Aku datang ke sini karena undangan dari mama kamu. Bukan aku sendiri yang menginginkannya. Lagian, kamu itu harusnya tahu, kalau kamu punya hutang nyawa pada keluarga kami. Hutang nyawa yang tidak akan pernah bisa kamu bayar dengan harta apapun yang kamu miliki."
Kiyan langsung menatap tajam ke arah Dwi yang ada di hadapannya. Terlihat sekali kalau saat ini, Kiyan sedang sangat marah pada perempuan itu.
"Kenapa? Apa kamu sudah melupakan tentang penyebab dari kematian kakakku, kak Kiyan? Seharusnya, kamu tidak akan lupa dengan kejadian itu bukan? Kau menyebabkan aku kehilangan kakak. Seharusnya, kamu tahu itu dan berbaikan dengan aku. Bukan membenci aku seperti saat ini."
"Karena nyawa harus di ganti dengan nyawa. Kamu beruntung kedua orang tuaku tidak meminta kamu membayar dengan nyawamu. Hanya meminta kamu menikah dengan aku sebagai ganti kepergian dari kakak ku."
"Hah? Keluargamu meminta aku menikah dengan kamu sebagai ganti dari aku yang telah mencelakai kakakmu? Apa aku tidak salah dengar, Dwi?"
"Tentu saja tidak salah dengar. Karena itulah yang sebenarnya kakakku inginkan. Dia ingin kamu tetap berada di sisinya dengan aku sebagai pengganti."
Kata-kata itu membuat Kiyan kembali menatap wajah Dwi dengan lekat. Sementara Dwi yang di tatap merasa sedikit takut, tapi juga sedikit lega.
'Sekarang aku yakin kalau kak Kiyan tidak akan pernah bisa menolak aku lagi. Untung saja aku temukan catatan kak Laras yang sudah lama hilang. Karena catatan itu, aku bisa menemukan kelemahan kak Kiyan. Dia pasti sedang merasakan rasa bersalah, bukan? Semoga saja iya. Karena aku tahu, hubungan kak Laras dengan kak Kiyan itu sangat amat dekat. Selain kak Laras, tidak ada satupun perempuan yang dekat dengan kak Kiyan sejak dulu hingga saat ini.'
'Uh, untung mama juga bisa aku ajak kerja sama. Setelah beberapa hari membujuk mama dengan segala cara, akhirnya, orang tua itu bisa sedikit melupakan soal anak kesayangannya yang telah tiada. Dasar, kak Laras itu pergi sudah sangat lama. Tapi masih saja tidak bisa melupakan kejadian waktu itu. Untung aku berhasil membujuknya. Jika tidak, kesempatan ini pasti akan hilang begitu saja.'
Dwi sibuk dengan pikirannya sendiri. Merasa bangga karena sudah memenangkan pertarungan yang sejak lama dia lakukan. Tapi sayangnya, kebanggan itu sepertinya terlalu cepat dia rasakan. Karena apa yang sesungguhnya terjadi, sebenarnya sangat jauh berbeda dari apa yang dia bayangkan.
Kiyan yang sedang menatap wajah Dwi dengan tatapan tajam itu, kini sudah berada sangat dekat dengan Dwi. Gadis itu malah tersenyum karena Kiyan yang semakin mendekat.
Namun, senyum yang dia ukir mendadak lenyap saat Kiyan mencengkram erat tangannya. Lalu, mengangkat tangan itu dengan kasar.
"Kak Kiyan apa-apaan sih? Ss--sakit tahu gak? Lepaskan aku, kak! Jangan buat aku berteriak sekarang. Kamu akan tahu akibatnya jika aku berteriak."
"Lakukan saja jika kamu ingin merasakan tidur di dalam penjara, Dwi. Aku akan jerat kamu dengan tuduhan pencemaran nama baik. Karena balkon ini punya kamera cctv yang akan membuktikan semuanya."
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Gaza yg keras kepala...
Gaza yg mengikuti hawa nafsu..