Penjara cinta yang suaminya ciptakan membuat Firda tak tahan lagi . Ia hidup namun tak bisa hidup dengan bebas seperti manusia pada umumnya . Suaminya itu menyuruhnya melakukan hal hal yang tak ia sukai mulai dari Memakai softlens berwarna biru setiap hari , menghadiri les memasak juga menghadiri les piano .
Bukan hanya itu saja , setiap ia pergi keluar dari rumah .Para bodyguard selalu mengikuti dirinya , ia merasa tak nyaman namun ia berusaha berpikir positif bahwa itu semua suaminya lakukan demi keselamatan nya .
Namun semakin hari ia semakin tak nyaman , ia seperti seorang boneka yang hanya bisa pasrah di mainkan dan di atur oleh orang lain . Kebebasan nya seakan terenggut saat ia menikah dengan suaminya itu . Karena merasa lelah dan muak dengan itu semua akhirnya Firda mulai tak menuruti apa mau suaminya . Ia mulai lupa mengenakan softlens biru yang suaminya suruh pakai setiap hari .
Awal nya ia kira suaminya tak akan marah namun justru ia salah . Suaminya murka dan mengamuk hingga berakibat kekerasan dalam rumah tangga yang ia alami .Hal itu semakin membuat Firda tak kuat lagi menjalankan rumah tangga nya , keinginan nya untuk mengakhiri rumah tangga nya semakin kuat setelah mengetahui fakta bahwa suaminya menikahi dirinya hanya karena ia mirip dengan istri laki aki itu yang sudah meninggal . Hatinya semakin hancur kala mengtahui jika perintah perintah yang suaminya berikan hanya lah agar dia terlihat semakin mirip dengan mendiang istrinya .
Hingga akhirnya wanita itu memilih pergi mulai dari meminta cerai yang suaminya tolak mentah mentah. Hingga memalsukan kematian nya sendiri agar terbebas dengan dari cengkraman sang suami .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. pergi menjauh darinya.
2 hari sudah setelah melepaskan perbannya akhirnya Firda di perbolehkan untuk pulang, wanita itu mengemasi barang barang nya dengan resah. 2 hari ini Farel tak mengunjungi nya sama sekali, dokter muda itu menghindari dirinya dan entah apa penyebabnya ia pun tak tau.
Kini ia bingung harus bagaimana, apa ia harus kembali tinggal di rumah Farel atau justru pergi saja dari rumah nya. Ia tak ingin terus terusan merepotkan laki laki itu, namun ia juga tak memiliki uang ataupun ponsel untuk menghubungi rekan kerja nya dulu.
"Aku harus bagaimana, apa aku tinggal saja di jalanan sana." lirih Firda pada dirinya sendiri.
"Permisi mbak, ini surat kepulangan mbak sudah jadi. Mbak Firda sudah di izinkan pulang oleh dokter Farel." ucap Novi memberikan surat di tangan nya kepada Firda.
"Ternyata dia memang tak mau bertemu dengan ku lagi, jadi untuk apa aku harus tinggal di rumah nya. Aku akan mencari tempat tinggal sendiri setelah aku mendapat pekerjaan." batin wanita itu seraya menenteng tas berisi pakaian nya.
"Terimakasih ya suster Novi. Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu." Pamit Firda pada perawat di hadapannya itu, sedangkan Novi wanita itu hanya tersenyum palsu.
"Pergilah, pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah lagi ganggu kehidupan dokter Farel." ucap Novi dalam batin nya.
Dengan langkah berat, Firda berjalan meninggalkan kamar rawat itu. Ia berjalan menyusuri lorong klinik tersebut. Saat tak sengaja melewati ruangan Farel, wanita itu berhenti sejenak dan menatap pintu kayu yang masih tertutup dengan rapat itu dengan pandangan nanar.
"Selamat tinggal dokter Farel ...aku harap kita bisa bertemu lagi." ucap Firda dengan hati berdenyut nyeri. Ia memang sudah nyaman dengan laki laki yang membantunya dan memberikan tumpangan tempat tinggal untuk nya sementara waktu itu.
Namun ia tak bisa terus terusan merepotkan Farel, dokter tampan itu memiliki kehidupan nya sendiri. Ia juga memiliki masalah sendiri yang harus ia urus jadi tak ada alasan untuk nya tetap tinggal bersama dengan Farel.
Setelah mengatakan hal tersebut, Firda kembali melanjutkan langkah nya. Ia akan memulai hidup baru dengan identitas baru serta wajah barunya.
"Di mana Firda?" Tanya Farel ketika bertandang ke kamar rawat yang kemarin di tempati oleh Wanita bernama Firda itu.
Kamar itu nampak kosong dan bersih tak ada satu pun barang Firda yang tertinggal di sana, sementara Novi yang sedari tadi membersihkan ranjang di ruangan itu pun langsung mengembangkan senyum nya saat melih'at kedatangan Farel.
"Seperti pasien yang lain ketika mereka sudah menginap 2 hari setelah pelepasan perban. Maka saya memberikan nya surat pemulangan jika kondisi pasien memungkinkan untuk pulang."
Rahang Farel seketika mengeras mendengar hal tersebut, mata laki laki itu menyorot tajam pada wanita di hadapannya.
"Kamu lancang sekali, aku belum memutuskan apa Firda boleh pulang sekarang atau tidak. Kenapa kamu bertindak sewenang wenang sendiri." Ucap Farel dengan nada tinggi memarahi Novi.
"Kenapa dokter marah, bukan kah selama ini saya yang mengurus dan menentukan mana pasien yang sudah boleh pulang mana yang belum." ucap Novi kecewa dengan perkataan Farel. Bisa bisanya Farel memarahi dirinya padahal dulu laki laki itu sendiri yang menyuruhnya untuk mengambil alih tugas dan menentukan mana pasien yang bisa pulang mana yang belum di perbolehkan pulang.
Tapi kini laki laki itu memarahi dirinya hanya karena ia mengizinkan Firda pulang. Ia merasa memang laki laki di hadapannya itu sudah jatuh hati pada pasien nya sendiri. Sehingga laki laki itu marah ketika ia memulangkan Firda tanpa memberi tahu laki laki itu terlebih dahulu.
"Memang aku mengizinkan mu, tapi seharusnya kamu memberitahu ku dulu sebelum kamu bertindak seperti itu."
"Oh dokter menyalahkan saya soal itu, dulu saya juga tak memberi tahu dokter saat pasien lain saya pulangkan tapi kenapa sekarang dokter marah. Apa dokter memang ada hati dengan pasien dokter sendiri sehingga dokter marah seperti ini kepada saya?" tanya Novi melupakan kekesalan nya yang sudah sampai di ubun ubun. Ia kesal marah dan cemburu karena Farel memperlakukan Firda berbeda dari pasien lainnya, dan ia semakin kesal saat Farel memarahi dirinya demi wanita itu.
Farel terdiam, laki laki itu memijit dahinya perlahan, ia begitu khawatir dengan Firda. Pasti wanita malang itu mengira dirinya menjauhi wanita itu, dan pastinya wanita itu tak enak hati untuk pulang kerumahnya.
"Kemana dia pergi, dia pasti sedang lintang Lantung di jalan saat ini." Ucap Farel mengacak rambutnya frustasi.
"Kosongkan jadwal operasi saya hari ini, saya harus pergi sekarang." Ucap Farel menatap Novi sesaat kemudian ia beranjak dari kamar itu. Novi mengejar nya, tangan nya terulur perlahan memegangi tangan Farel.
"Dokter mau kemana?" Tanya Novi tak ingin Farel pergi dan mencari wanita yang entah kemana perginya itu. Farel tertegun, laki laki itu menatap tangan nya yang di pegang dengan begitu kuat oleh Novi, ia merasa risih melihat hal tersebut. Dengan perlahan Farel menjauhkan tangan Novi dari tangan nya.
"Saya harus mencari nya." Setelah mengatakan hal tersebut Farel pergi meninggalkan Novi sendirian.
"Aku harus secepatnya menagih janji dokter Varo untuk mendekatkan ku pada dokter Farel, aku tak rela jika laki laki itu jatuh ke pelukan wanita lain." Ucap Novi tersenyum licik, menatap punggung Farel yang semakin menjauh dari pandangan nya.
"Kamu di mana Fir." Ucap Farel seraya mengendarai mobilnya, ia khawatir dan sedih juga merasa bersalah pada wanita itu.
Sementara Firda, wanita itu tengah berjalan kaki menyusuri jalanan perkotaan yang nampak lengang. Di saat ia berjalan dengan perlahan, beberapa orang berpakaian hitam berlalu lalang di hadapannya.
Firda kenal siapa orang orang itu, orang orang itu adalah orang orang suruhan suaminya.
"Apa laki laki itu ada disini." Batin Firda mulai tak enak, ia melihat Ke sisi kanan di mana seorang laki laki tengah duduk termenung di bawah pohon rindang seraya memegang sebuah foto.
Tubuh Firda seketika menegang melihat hal itu, rasa takut menjalar masuk kedalam relung hatinya. Saking takut melihat sosok Suami nya itu Firda tak sadar mulai memundurkan langkahnya secara perlahan.
Karena tak melihat jalanan di belakang nya, wanita itu menubruk laki laki di belakang nya dan membuat selembaran kertas di tangan laki laki laki itu berceceran.
"Maaf aku tak sengaja, maaf." Ucap Firda menangis, wanita itu begitu takut dan tak tau harus bagaimana. Dengan tangan gemetar Firda membantu laki laki itu memunguti kertas yang bertaburan di jalanan.
"Sudah tak apa nona, kenapa kamu malah menangis. Saya tak apa apa kok.Saya sudah memaafkan kamu." Ucap orang itu berusaha menenangkan Firda yang masih saja menangis.
"Ada apa ini?" Suara bariton yang Firda kenal membuat Firda semakin takut. Seketika Firda menundukkan kepalanya, ia melirik kaki orang itu yang begitu dekat dengan dirinya.
Ia kenal sepatah siapa itu, dulu setiap hari ia membersihkan sepatu itu dan menyiapkan nya untuk orang yang ia benci.
"Ini tuan, gadis ini tak sengaja menabrak saya dan membuat kertas pencarian nona Firda jatuh berserakan." Ucap laki laki yang Firda tabrak tadi menjelaskan.
"Angkat kepala nya aku ingin lihat dan bertanya padanya. Kenapa ia bisa begitu ceroboh dan gugup seperti itu!" Perintah brian membaut Firda memilih ujung roknya, wanita itu begitu khawatir dan takut jika Brian akan mengenali dirinya.
..
..
...
Jangan lupa berikan like komen vaf dan hadiah ya.
Dukungan kalian sangat berarti untuk kami para author.
tapi seru juga ....
semangat otor.