NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:114
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Rencana Busuk Kapten Hartono

Tiga hari terasa terlalu singkat bagi Hartono.

"Anak itu tetap mau pulang," katanya sambil melempar ponsel ke meja. "Dia mulai bertanya nama Bara."

Bu Yatmi menutup tirai rumah dinas Prasetyo. "Kenapa kamu tidak bilang saja Arum kabur dengan lelaki itu? Reyhan pasti marah kepadanya."

"Karena begitu pulang, dia akan datang ke Blok C-3 dan mendengar semuanya langsung."

"Arum tidak akan berani bicara."

Hartono menatap istrinya. "Arum yang sekarang membuat laporan ke POM, menerima perlindungan Danyon, dan dibela satu kantin. Jangan samakan dengan anak yang dulu tidur di dapur kita."

Yatmi mendengus. "Semua karena Bara. Sejak dekat dengan Mayor itu, dia lupa diri."

"Justru itu masalahnya."

Hartono berjalan ke lemari dan membuka laci bawah dengan kunci kecil. Di dalamnya tersimpan map cokelat berisi salinan dokumen lama. Nama mendiang Letda Suryadi Wijaya tercetak di bagian atas. Ada catatan santunan gugur, ASABRI, serta tunjangan anak yang seharusnya diterima ahli waris.

Di belakang dokumen tersebut, beberapa bukti transfer lama menunjukkan rekening yang tidak pernah dikenal Arum.

Hartono menutup map cepat, seolah nama orang mati dapat melihatnya.

Delapan tahun lalu, ia meyakinkan petugas bahwa dirinya mengurus kepentingan anak mendiang rekannya. Sebagian dana dipakai untuk biaya awal Arum, tetapi jumlah terbesar masuk ke rekening yang dikuasainya. Setiap tahun ia berkata kepada Arum bahwa membesarkannya adalah beban yang tak pernah lunas.

Kini Bara mulai bertanya.

Sejak kunjungan ke Blok C-3, Hartono mendengar Danyon itu meminta data lama keluarga Arum secara tidak resmi. Belum ada pemeriksaan, belum ada surat. Namun, seorang prajurit seperti Bara tidak mengucapkan ancaman kosong.

"Kalau Reyhan bicara dengan Arum, dia bisa bertanya kenapa bantuan orang tuanya tidak pernah sampai," kata Hartono.

Yatmi memucat. "Reyhan tidak tahu soal itu."

"Karena itu dia tidak boleh bebas bicara."

"Kita tahan dia di rumah."

"Dia sudah dewasa. Kalau dipaksa, dia justru makin curiga."

Yatmi duduk. "Lalu apa rencanamu?"

Hartono mengeluarkan selembar kertas kosong dari laci meja. "Kita gunakan perjodohan lama."

"Bukankah kita yang membatalkannya?"

"Tidak ada surat pembatalan. Secara sosial, orang masih bisa menganggap Arum calon menantu keluarga Prasetyo."

"Tapi dia sudah diusir."

"Orang tidak perlu tahu bagian itu."

Hartono mulai menulis beberapa poin.

Pertama, sebarkan bahwa Bara mengambil gadis yang masih terikat perjodohan dengan anak bawahannya.

Kedua, gambarkan Arum sebagai pekerja muda yang tak mungkin menolak Danyon.

Ketiga, tunggu Reyhan pulang dan memancing pertengkaran di depan saksi.

Hartono membuka laptop lama milik keluarga dan membuat draf surat tanpa nama. Ia tidak menuliskan tuduhan sebagai fakta. Ia memakai kalimat licin seperti `mohon diperiksa`, `diduga`, dan `menimbulkan keresahan`, seolah hanya seorang anggota satuan yang peduli moral.

Ia memasukkan kejadian kantin sebagai “kemesraan terbuka antara atasan dan pekerja”, malam pipa pecah sebagai “perempuan muda berada di rumah perwira sampai larut”, serta perkelahian pasar sebagai “penggunaan kekuatan demi urusan pribadi”. Semua fakta dipotong sebelum bagian yang menjelaskan keadaan sebenarnya.

"Kalau dikirim sekarang, mereka akan tahu sumbernya keluarga kita," kata Yatmi.

"Karena itu kita tunggu Reyhan membuat keributan. Setelah ada saksi tambahan, surat ini terlihat seperti kekhawatiran banyak orang."

Hartono menyimpan draf di perangkat penyimpanan terpisah, lalu menghapus riwayat dokumen dari laptop. Ia belum mengirim apa pun. Benih fitnah harus ditanam lebih dulu agar surat anonim tampak tumbuh dari tanah yang subur.

"Kalau Bara terpancing memukul Reyhan," katanya, "kita punya bukti seorang Danyon menyalahgunakan kekuasaan untuk urusan perempuan."

Yatmi tersenyum. "Lalu kita laporkan ke atasannya."

"Bukan atas nama kita. Surat anonim lebih aman. Tuduhan soal perilaku dan penyalahgunaan wewenang cukup untuk menahan kenaikan pangkatnya sementara. Saat dia sibuk membela diri, pemeriksaan data Arum berhenti."

"Kalau Reyhan justru memilih Arum?"

"Kita buat dia percaya Bara memaksa. Reyhan punya harga diri. Dia tidak akan diam kalau merasa calon istrinya direbut."

Yatmi berjalan mendekat. "Lastri masih benci kepada Arum. Dia bisa menyebarkan omongan di Persit."

"Lastri sudah pernah dipaksa minta maaf. Dia akan hati-hati."

"Ada Nunung. Dia sepupumu. Orang koperasi kenal dia, dan mulutnya tidak pernah diam."

Hartono mengetuk meja. Nunung dapat memulai bisik-bisik tanpa terlihat terkait langsung dengan keluarga Prasetyo. Lastri tinggal mengulang sebagai “kabar yang sudah beredar”.

"Hubungi Nunung," katanya. "Jangan sebut soal uang. Katakan hanya bahwa Arum mempermalukan keluarga dan menggoda atasan."

"Lalu Lastri?"

"Biarkan dia mendengar dari orang lain. Semakin panjang jalurnya, semakin sulit ditelusuri kembali kepada kita."

Yatmi mengambil ponsel. "Saya kirim pesan sekarang."

Hartono menahan tangannya. "Jangan dari nomor utama. Temui langsung besok di koperasi. Tidak ada jejak chat."

Untuk pertama kalinya, Yatmi tampak kagum pada kehati-hatian suaminya.

"Kamu pikir Bara sudah tahu berapa banyak?"

Hartono memandang lemari terkunci. "Belum cukup. Kalau sudah tahu, Iwan pasti datang membawa surat pemeriksaan."

"Map itu sebaiknya dibakar."

"Jangan bodoh. Dokumen asli ada di arsip ASABRI dan satuan. Kalau salinan kita hilang saat pemeriksaan, itu justru mencurigakan."

Ia mengeluarkan map lagi, memisahkan satu lembar bukti transfer, lalu memasukkannya ke amplop berbeda. Amplop tersebut diselipkan di balik papan lemari.

"Kalau keadaan buruk, kita bilang semua dana dipakai untuk Arum."

"Dia hidup dari sisa makanan. Siapa yang akan percaya?"

"Kuitansi sekolah dasar masih ada," kata Hartono. "Biaya itu bisa kita besarkan."

"Bagaimana dengan tunjangan yang masuk setelah dia berhenti sekolah?"

Hartono terdiam. Itulah bagian paling sulit. Selama beberapa tahun, dana tetap dicairkan, sementara Arum tidak menerima pendidikan lanjutan atau perawatan mahal apa pun.

"Kita bilang disimpan untuk biaya pernikahan."

"Tapi uangnya tidak ada."

"Mereka belum tahu itu."

Jawaban tersebut tidak menenangkan Yatmi. Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa kebohongan mereka tidak lagi berdiri di atas ingatan seorang anak yang mudah ditekan. Di seberang mereka ada arsip negara, catatan rekening, dan seorang Danyon yang tak takut membuka keduanya.

Hartono menatap istrinya dingin. "Karena itu mulai sekarang, kamu harus ingat cerita yang sama. Biaya sekolah, kesehatan, makan, dan pakaian. Jangan pernah bilang dia bekerja untuk membayar semuanya."

Yatmi mengangguk, tetapi jarinya gelisah meremas ujung baju.

Dari luar rumah terdengar motor lewat. Keduanya langsung diam. Bayangan seseorang bergerak di balik tirai, lalu menghilang.

Hartono menutup lemari dan memutar kunci dua kali.

"Besok," katanya, "omongan harus mulai beredar sebelum Reyhan menginjakkan kaki di Malang."

Yatmi menyimpan ponsel.

Di atas meja, kertas rencana mereka tergeletak di samping foto keluarga. Dalam foto itu, Arum berdiri paling belakang membawa nampan, seperti barang yang dipakai tetapi tak pernah diakui.

Kali ini mereka berniat memakai namanya sekali lagi.

Namun, mereka belum tahu bahwa Bara sudah mulai menghitung jejak yang selama ini mereka anggap terkubur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!