Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Ajarkan Aku
"Siapa kamu sebenarnya?"
Liana menekan dua kali pergelangan Renard.
Berhenti.
Tangannya yang hendak menyentuh simpul kain langsung turun. Ia melepaskan pergelangan Liana dan menyandarkan punggung.
"Maaf."
Liana menulis di telapak tangannya. B-e-l-u-m w-a-k-t-u-n-y-a.
"Berarti suatu hari nanti?"
Ia tidak menjawab. Sesi selesai sesuai waktu, tanpa percobaan membuka mata lagi. Saat keluar, Liana tahu satu hal: aroma bukan lagi sekadar petunjuk samar. Renard mulai mengejarnya.
***
Senin sore, tiga hari kemudian, Liana masuk ke kantor membawa dokumen pengembangan parfum baru.
Empat blotter tersusun di meja Renard. Ia mencium blotter pertama, mengerutkan dahi, lalu meletakkannya.
"Semua terasa sama."
Liana tanpa sadar melirik. "Yang kedua lebih berat."
Renard mengangkat mata. "Apa?"
"Maaf."
"Lanjutkan."
Liana mengambil jarak sopan dari meja. "Sampel kedua memakai cedar sintetis terlalu banyak. Seharusnya ingin meniru cendana, tapi drydown-nya menjadi tajam. Sampel keempat lebih seimbang, hanya kenanganya menutup kapulaga di bagian tengah."
Renard melihat label kode yang tertutup. "Kamu membaca catatan lab?"
"Tidak."
"Ikut aku."
Ia membawa Liana ke ruang sampel parfum di sisi lain lantai. Ruangan itu dingin, dindingnya dipenuhi botol kecil berwarna kuning pucat hingga cokelat. Meja stainless steel berada di tengah dengan sarung tangan, pipet, blotter, dan timer.
Sebelum menyentuh bahan, Liana mencuci tangan dengan sabun tanpa aroma dan menunggu alkohol pembersih menguap. Renard memperhatikannya menulis kode waktu di setiap blotter.
"Kamu tahu prosedurnya."
"Hidung yang bagus tidak berguna kalau sampelnya tercampur."
"Siapa yang mengajarimu?"
"Tidak ada satu orang. Buku, forum, video, lalu banyak kesalahan."
Liana teringat botol kecil murah di kamar sewanya dulu. Ia pernah menyisihkan uang makan untuk membeli minyak kenanga, hanya untuk mengetahui bahan itu sudah teroksidasi. Tak ada mentor yang membetulkan. Ia belajar melalui kegagalan yang tak pernah dilihat siapa pun.
Renard mengambil sepasang sarung tangan. "Hari ini tidak perlu membuat kesalahan sendirian."
Kalimat sederhana itu membuat Liana menunduk agar pria tersebut tidak melihat matanya menghangat.
Rizal datang membawa map saat mereka masuk.
"Taruh di meja luar," kata Renard.
Rizal melihat Liana, melihat pintu lab, lalu mencoba menyembunyikan senyum. "Baik, Pak."
Pintu menutup di depan wajah penuh gosipnya.
Renard memberikan satu blotter baru kepada Liana. "Tunjukkan."
"Apa?"
"Cara kamu menilainya."
Liana memegang ujung blotter, mengayunkan perlahan di bawah hidung tanpa menempelkannya. "Pertama jangan terlalu dekat. Alkoholnya masih dominan. Tunggu tiga puluh detik."
Renard menyalakan timer. "Lalu?"
"Cium singkat, beri jeda. Kalau terlalu lama, hidung cepat lelah."
"Kamu pernah belajar?"
"Membaca dan mencoba sendiri."
Itu hanya separuh benar. Di kehidupan pertama, ketertarikan pada aroma menjadi satu-satunya hal yang tetap hidup ketika semuanya runtuh. Ia belajar dari buku bekas, sampel murah, dan ingatan terhadap setiap bau di sekitarnya.
Renard membuka kotak berisi dua belas vial. "Tutup mata."
Perintah itu membuat Liana menatapnya.
"Tes buta," jelasnya. "Bukan terapi."
Liana mengikat kain putih bersih yang disediakan lab. Posisi mereka terbalik. Kini ia yang tidak dapat melihat, sementara Renard berdiri mengawasi.
Vial pertama mendekat.
"Bergamot. Italia selatan."
Kedua.
"Kenanga. Ada jejak pelarut yang terlalu tajam."
Ketiga.
"Kapulaga hijau."
Keempat membuatnya berhenti lebih lama. "Cendana, tetapi dicampur cedar. Komposisinya sekitar tiga banding satu."
Renard tidak bergerak.
Liana membuka penutup mata. "Salah?"
"Semuanya benar."
Renard belum puas. Ia menyiapkan tiga campuran mini tanpa memberi tahu komposisinya. Liana menunggu masing-masing berkembang selama lima menit, lalu menyusun ketiganya dari paling seimbang hingga paling kasar.
"Yang ini punya melati terlalu bersih," katanya pada sampel terakhir. "Seperti bunga tanpa udara malam. Cantik, tapi tidak hidup."
"Aroma bisa hidup?"
"Kalau tidak, orang hanya membeli bahan kimia. Parfum yang baik membawa tempat dan ingatan."
"Kalau aroma tubuhmu?"
Pertanyaan itu datang terlalu tiba-tiba.
Liana menegang. "Saya tidak memakai parfum hari ini."
"Aku tahu."
Renard mengucapkannya pelan, lalu mengalihkan perhatian ke timer. Namun kecurigaan yang sama dari Sabtu malam jelas ada di matanya.
Liana mengambil blotter berikutnya sebelum aroma emosinya sendiri mengkhianati.
Ia menukar posisi dua vial tanpa diketahui Liana, lalu mengujinya lagi. Jawabannya tetap tepat. Dari dua belas sampel, Liana mengenali sebelas dan membedakan asal tujuh bahan.
"Kamu seharusnya bukan cuma seorang asisten," kata Renard.
Kalimat itu menyentuh tempat yang bahkan pujian mahal tidak pernah capai. Selama hidup, Liana terbiasa dianggap beruntung hanya karena diberi meja kerja. Renard melihat kemampuan yang belum sempat ia beri nama.
"Saya masih harus banyak belajar."
"Ajarkan aku cara kamu mencium perbedaannya."
"Bapak yang mengajari saya?"
"Aku mengajari metode. Kamu mengajari hidung."
Renard berdiri di belakangnya. Ia mengambil pergelangan Liana, lalu berhenti.
"Boleh?"
"Boleh."
Ia membimbing tangan Liana mengangkat blotter pada jarak yang tepat. Dada Renard tidak menyentuh punggungnya, tetapi panas tubuhnya terasa. Ibu jarinya menekan tepat di atas denyut Liana.
Tidak ada mual.
Sebaliknya, jantung Renard ikut mempercepat ritme.
"Jangan terlalu dekat," katanya, meski entah sedang membicarakan blotter atau tubuh mereka.
Liana menarik napas. Aroma sampel bercampur cedar dingin dari Renard dan manis kulitnya sendiri.
"Pak Renard."
Ia melepaskan tangannya. "Mulai minggu depan, kamu ikut evaluasi awal divisi parfum."
"Sebagai asisten?"
"Sebagai seseorang yang memiliki hidung lebih baik daripada setengah tim risetku."
Pintu terbuka. Rizal menjulurkan kepala. "Pak, dokumen yang tadi..."
Ia melihat posisi mereka yang masih dekat dan langsung menarik kepala.
"Saya tunggu di luar. Sangat jauh di luar."
Renard menutup pintu dengan satu tatapan.
Setelah Liana pergi untuk mengejar Rizal dan menyelamatkan reputasinya, Renard tetap di ruang sampel. Ia mengambil blotter yang tadi digunakan Liana.
Aroma bahan sudah lemah.
Namun ada sisa melati dan kamboja di tempat jemarinya menyentuh kertas.
Renard mengangkat blotter itu sekali lagi.
Ia memanggil kepala lab dan meminta semua catatan sampel Liana disimpan sebagai penilaian resmi. Ia juga menetapkan Liana boleh memakai ruang sampel dua jam setiap Jumat untuk belajar.
"Pak, dia masih asisten pribadi," ujar kepala lab dari seberang.
"Dan penilaiannya mengalahkan tim panel hari ini. Beri akses sesuai prosedur, bukan hak istimewa. Hasilnya yang menentukan kelanjutan."
Setelah sambungan berakhir, Renard melihat bekas sidik jari di blotter. Ia tidak sekadar ingin membawa Liana naik karena menyukainya. Kini ada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa tempat perempuan itu memang lebih tinggi daripada meja asisten.
Namun pertanyaan tentang aromanya tetap tak punya jawaban.
"Kenapa aromanya sama?"
Untuk pertama kalinya, dugaan itu terdengar seperti pertanyaan yang menuntut jawaban.
Renard tidak suka dibiarkan tanpa jawaban.