NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Keponakan Sang Mantan

Senja memindai kode WhatsApp Rayhan.

"Bukan buat aneh-aneh," katanya sebelum menyimpan ponsel. "Kalau saya sempat, saya bantu belikan makan."

Rayhan tersenyum lebar. "Siap, Sus Senja."

"Dan jangan panggil saya malam-malam."

"Galak juga sekarang."

Senja mendorong troli keluar sebelum percakapan mereka terdengar perawat lain. Baru beberapa langkah di lorong, ponselnya bergetar. Nama Wulan muncul.

Ia menjawab di sudut dekat tangga darurat.

"Halo, Wulan?"

Suara di seberang sangat pelan. "Kak, lagi sibuk?"

"Enggak. Kenapa?"

Wulan menarik napas. Uang kiriman Bapak belum datang. Ia butuh biaya pendaftaran kegiatan kampus dan laptop bekas untuk menulis tugas. Beberapa temannya sudah menawarkan cicilan, tetapi uang muka tetap terlalu besar.

"Aku bisa batal ikut," katanya cepat. "Laptop juga nanti saja."

Senja membuka aplikasi bank. Saldo yang tersisa cukup untuk hidup beberapa hari jika ia menghemat ongkos dan makan.

"Kirim nomor rekening penjualnya."

"Kak, jangan. Kamu juga baru menikah."

"Kirim saja. Laptopnya dipakai kuliah, kan?"

"Iya. Aku juga mau lanjut nulis."

"Berarti bukan pemborosan."

Setelah sambungan berakhir, Senja mentransfer hampir seluruh uangnya. Ia memandangi saldo baru, lalu memasukkan ponsel ke saku sebelum sempat menyesal.

Siang hari, pesan dari Rayhan masuk.

Tante, nasi rumah sakit ini kayak kapas. Tolongin pasien malang.

Senja mengernyit pada panggilan itu.

Belum jadi Tante siapa-siapa, balasnya.

Rayhan mengirim emoji tertawa, alamat kedai, lalu mentransfer Rp 1 juta. Jumlahnya terlalu banyak untuk satu porsi.

Senja mengembalikan selisih, tetapi transfer balik gagal karena rekening tujuan dibatasi. Akhirnya ia membeli bahan di minimarket rumah sakit dan meminta izin memakai dapur staf. Ia membuat bubur ayam tanpa banyak minyak, menambahkan sayur lembut, lalu membawanya ke kamar 18.

Pintu kamar terbuka.

"Makanannya datang," ujar Senja sambil masuk.

Kalimat itu berhenti di tenggorokan.

Damar berdiri di sisi ranjang Rayhan.

Jasnya tersampir di lengan. Ia baru saja menanyakan hasil pemeriksaan ketika tatapannya jatuh pada kotak makan di tangan Senja.

Tidak ada seorang pun bergerak selama satu detik.

"Pak Damar." Senja menunduk cepat.

Rayhan tertawa. "Kalian kenal?"

"Pemegang saham rumah sakit," jawab Senja terlalu cepat. "Semua pegawai kenal. Saya taruh makanannya, ya."

Ia meletakkan kotak itu dan keluar hampir berlari.

Damar mengikuti punggungnya sampai pintu tertutup. "Kamu dekat dengan perawat itu?"

"Senja? Kenal dari kampus. Mantannya teman aku." Rayhan membuka kotak makan dan mencium aromanya. "Kasihan. Demi uang mau bantu apa aja. Masakin juga."

Tatapan Damar menjadi dingin. "Jaga bicaramu."

"Lho, aku muji." Rayhan menyuap bubur. "Cantik, rajin, masak enak. Ditipu sedikit juga nggak apa-apa."

"Jauhi dia."

Rayhan mengangkat alis. "Kenapa Om Damar peduli?"

"Karena kamu masuk rumah sakit akibat kebodohanmu sendiri. Jangan tambah masalah."

"Om ini lebih cerewet dari Papa."

Senja yang masih berdiri di balik dinding mendengar panggilan itu. Om.

Ia menutup mulut dengan tangan. Mantan kekasihnya berteman dengan Rayhan. Rayhan ternyata keponakan Damar. Lingkaran yang ia kira luas mendadak menciut begitu rapat sampai ia sulit bernapas.

Ponselnya bergetar lagi. Rayhan mengirim foto bubur yang tinggal setengah, diikuti pesan singkat.

Enak. Besok bikin lagi, Tante.

Senja menatap kata terakhir itu. Rupanya Rayhan hanya menggoda karena Damar adalah pamannya, bukan karena mengetahui pernikahan mereka. Ia membalas bahwa besok belum tentu sempat, lalu mencatat Rp 1 juta itu di aplikasi catatan: uang muka makan Rayhan, wajib dihitung dan dikembalikan jika ada sisa.

Ia tidak mau satu rupiah pun berubah menjadi alasan orang menyebutnya murahan.

Sore hari, Senja pulang tepat pukul empat. Bik Inah menunggunya di ruang tengah bersama Bintang yang sudah berganti pakaian rumah.

"Kakak Senja!"

Bintang berlari memeluknya. Senja membungkuk, mencium rambutnya, dan untuk pertama kali sejak keluar dari kamar 18 merasa pundaknya turun.

"Hari sekolahnya gimana?"

"Bintang gambar rumah. Ada Papa, ada Kakak, ada Bintang."

Anak itu menarik Senja ke taman belakang untuk menunjukkan gambar krayon. Rumah dengan atap merah memenuhi kertas. Tiga orang berdiri di depannya, tangan mereka disambung garis hitam.

"Yang tinggi Papa," jelas Bintang. "Yang rambut panjang Kakak."

"Kenapa nama rumah ini Bintang Residence?"

"Karena Bintang punya." Anak itu menepuk dada. "Papa bikin buat Bintang."

Bik Inah yang membawa teh tersenyum. "Pak Damar sayang sekali sama Non. Apa pun buat Bintang."

Senja menatap gambar itu lebih lama. Mungkin benar, selama ia menjaga anak ini dengan baik, Damar tidak akan mengusirnya.

"Kak, beli es krim, yuk."

"Habis makan sore dulu."

"Satu aja. Kecil." Bintang menyatukan telunjuk dan ibu jari. "Minimarket dekat. Jalan kaki."

Senja memandang Bik Inah. Perempuan itu sedang dipanggil dari dapur dan hanya sempat berkata agar mereka tidak lama.

Mereka berjalan ke minimarket di dalam kompleks. Bintang memilih es krim stroberi, sedangkan Senja membeli yang paling murah. Di bangku depan toko, anak itu menggoyangkan kaki dengan senang.

"Habisin di luar, ya," bisiknya. "Jangan sampai Papa lihat."

"Kenapa?"

"Papa suka bilang enggak."

Senja tertawa kecil. "Kalau memang enggak boleh, kita seharusnya enggak beli."

"Tapi enak."

Alasan khas anak lima tahun itu membuat Senja mengalah. Mereka menghabiskan es krim, membersihkan tangan, lalu pulang sambil bergandengan.

Di tengah jalan, Bintang berhenti untuk menunjukkan seekor kucing yang tidur di bawah mobil. Senja menahannya agar tidak merangkak ke kolong.

"Pelan-pelan. Nanti dicakar."

"Kalau Bintang punya kucing, namanya Bulan. Biar Bintang sama Bulan teman."

"Minta izin Papa dulu."

Anak itu langsung menggeleng. "Papa bilang rumah sudah ramai karena Bintang."

Senja tertawa, lalu membersihkan noda es krim yang tertinggal di ujung hidungnya dengan tisu. Bintang memeluk lengannya tanpa diminta. Kedekatan kecil itu membuat Senja lengah pada satu hal penting: anak ini belum pernah memberitahunya bahwa makanan dingin dilarang bukan sekadar karena Damar terlalu tegas.

Sebuah mobil hitam sudah terparkir di depan rumah.

Damar berdiri di dekat pintu, baru menyerahkan kunci kepada petugas keamanan. Tatapannya turun pada Bintang yang menjilat sisa stroberi di sudut bibir.

Senja merasakan tangan kecil dalam genggamannya mendadak kaku.

Bintang berusaha menyembunyikan wajah di belakang pinggang Senja. Jari-jarinya yang lengket mencengkeram kaos Senja, sementara matanya mencuri pandang kepada ayahnya. Senja baru ingin menjelaskan bahwa dialah orang dewasa yang mengizinkan ketika perut anak itu berbunyi pelan dan wajah cerianya mendadak mengerut.

"Pak Damar," sapanya hati-hati. "Sudah pulang?"

Damar tidak menjawab. Ia hanya memandang wajah putrinya, lalu bungkus es krim yang masih menyembul dari tempat sampah kecil di tangan Senja. Bintang merapat ke kaki Senja, seolah tubuh perempuan itu dapat menjadi dinding yang melindunginya dari teguran Papa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!