NovelToon NovelToon
Bukan Salahku Selingkuh

Bukan Salahku Selingkuh

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Patahhati / Balas Dendam / Cintapertama / Tamat
Popularitas:195.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ni R

WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁

Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁




"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.

"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"

Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.

Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.

Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

"Anak masih kecil udah hamil lagi. Ngurus yang dua aja gak becus sekarang malah hamil anak ketiga." Diana terus mengomel.

"Memangnya kamu pernah mengurus Azam dan Asya?" tanya Weni, "aku sama sekali tidak keberatan jika Winda dan Tama memiliki anak lagi. Aku malah senang."

"Ya kalau hamil terus mau jadi apa?" ketus Diana.

"Mah, udahlah. Winda yang hamil kenapa mamah yang sewot?" Tama geram sendiri mendengar ucapan mamahnya, "kalau mamah mau punya anak lagi, sana minta sama papah!"

"Kamu itu loh Tam, kalau di nasehati orang tua ngelawan aja. Kalau kamu dan Winda bercerai, apa gak kasihan sama anak-anak kalian?"

"Mah,....!" sentak Tama, "sampai kapan pun aku dan Winda tidak akan bercerai."

"Mamah ini memang suka membuat keributan. Ayo pulang, gak usah ikut campur urusan mereka. Mereka sudah besar!" ujar Herman langsung menarik tangan istrinya keluar dari rumah Tama dan Winda.

Diana terus mengomel, membuat kepala Winda sedikit pusing.

"Udah Win, gak usah di pikirin. Mamah senang kok kalau kamu hamil lagi, rumah mamah biar ramai dengan anak-anak kamu," tutur Weni yang tidak tahu jika Winda hamil bukan darah daging Tama.

"Kamu istirahat aja, biar aku mengurus Azam," ujar Tama.

"Ya udah, mamah pulang dulu. Untuk sementara waktu, Asya sama mamah aja dulu."

"Makasih mah," ucap Tama tak enak hati pada mertuanya, "kami selalu merepotkan mamah."

"Eh, gak kok. Mamah senang jika ada Azam dan Asya, kalian tahu sendiri kalau mamah kesepian di rumah."

"Besok aku akan jemput Asya, mamah dan papah kan mau pergi ke luar kota," ujar Winda yang baru buka suara.

"Iya, terserah kalian saja."

Rumah kembali hening, Winda hanya tiduran di dalam kamar sedangkan Tama mengurus Azam yang masih rewel.

"Bi, masak yang berkuah aja untuk makan malam. Winda sejak kemarin gak doyan makan."

"Iya mas," jawab bi Marni langsung pergi ke dapur.

Tama kembali ke kamar, mendapati istrinya tiduran sambil bermain ponsel. Melihat anak dan suaminya masuk, Winda langsung meletakkan ponselnya di atas nakas.

"Mamah,...!" Azam mengulurkan kedua tangannya, bocah ini ingin di gendong oleh Winda.

Tanpa banyak bicara Winda langsung mengambil anaknya dari gendongan Tama.

"Aku keluar sebentar," ujar Tama.

"Mau kemana kau?" tanya Winda yang masih bersifat dingin pada suaminya.

"Aku ada janji dengan klien sore ini. Hanya satu jam, sebelum magrib aku akan pulang."

Winda hanya mengiyakan, wanita ini kemudian menurunkan anaknya.

"Azam, kita pergi ke rumah nenek sebentar ya," ajak Winda pada anak lelakinya.

Winda mengambil tas dan kunci mobil kemudian kembali menggendong anaknya keluar menuju mobil.

"Kue,...Azam mau kue,...!" celoteh bocah kecil tersebut.

"Iya, kita akan mampir sebentar ke toko kue."

Winda memutar arah menuju toko kue langganannya. Tapi, mata tajam Winda tanpa sengaja melihat Tama sedang memasukan seorang perempuan ke dalam mobilnya.

Winda tersenyum sinis, hatinya sama sekali tidak sakit melihat Tama yang menggandeng tangan seorang perempuan yang keluar dari taksi lalu masuk kedalam mobil suaminya tersebut.

Huft,.....

Winda membuang nafas kasar, tetap santai di hadapan anaknya. Membiarkan mobil Tama pergi menjauh baru lah ia melajukan kembali mobilnya.

Turun dari mobil dan langsung masuk kedalam toko kue. Winda sudah tahu kue apa yang akan di pilih anaknya jadi ia langsung mengambil tanpa bertanya lagi. Dari toko kue, Winda langsung melanjutkan ke rumah mamahnya.

"Azam kan harus banyak istirahat, kenapa kamu ajak ke sini?" tanya Weni yang mengkhawatirkan keadaan cucunya.

"Winda tidur di sini malam ini mah. Winda bosan di rumah!"

"Kamu bertengkar lagi dengan Tama?" tanya Weni.

"Tidak, hanya saja aku sedang tidak ingin melihat wajahnya!"

"Kenapa lagi?" tanya Weni lesu.

"Pasti kau melihat suami mu bersama perempuan lain kan?" tanya Anwar yang baru saja masuk ke dalam rumah.

Kening Weni mengkerut, bingung dengan ucapan suaminya.

"Udahlah Win, kalau suami mu bisa main sama perempuan lain. Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama saja agar dia tahu bagaimana rasanya," ujar Anwar tanpa ia ketahui jika kelakuan anaknya tak kalah sama dengan Tama.

"Udahlah, gak usah di bahas. Winda capek!"

"Iya pah, kasihan Winda sedang hamil. Jangan di buat pikiran!" timpal Weni.

Masing-masing keluarga mereka memang terkenal sebagai keluarga terpandang. Baik Anwar maupun Herman lebih mementingkan nama baik keluarga mereka di banding dengan kebahagiaan anak-anak mereka.

Winda merebahkan diri di kamarnya, hanya seorang diri sedangkan kedua anaknya lebih senang bermain bersama neneknya apa lagi Weni sangat lemah lembut pada Azam dan Asya.

Winda mengusap perut yang masih datar, ia memikirkan siapa ayah anak yang ia kandung sekarang. Selama ini Winda memang menjalin hubungan dengan beberapa orang pria termasuk om Anton.

"Entahlah,...terserah mau seperti apa!" ucap Winda yang sudah pasrah. Entah mau sampai kapan Winda menjadi seperti ini, kehidupannya semakin hancur sejak kenal dan menikah dengan Tama. Jika tidak memikirkan orang tuanya, mungkin sudah lama Winda pergi jauh.

Malam menjelang, Winda sudah menidurkan kedua anaknya di bantu sang mamah. Tak berapa lama Tama datang untuk menjemput tapi Winda menolak untuk pulang.

"Pekerjaan ku baru selesai, aku langsung pulang dan kata bibi kamu dan Azam pergi ke rumah mamah."

"Pekerjaan apa?" tanya Winda santai, "pekerjaan menanam benih di rahim perempuan?" ketusnya, "kalau kelakuan ku buruk, jangan pernah menyalahkan aku. Tapi, salahkan diri mu sendiri yang tidak bisa berubah."

"Apa maksud mu dengan menuduh ku seperti itu hah?"

"Bukan aku, tapi anak mu sendiri yang melihat kau menggandeng perempuan lain. Tama, ku beri tahu ya, kita bebas bermain dengan siapa pun asal jangan di depan anak-anak."

Tama terdiam, mendengar kata-kata seperti ini ia sudah bisa menebak jika Winda pasti sudah melihatnya tadi.

"Dia teman SMP ku, apa salahnya kalau kami bertemu?"

Winda tertawa, geli sekali rasanya mendengar pertanyaan bodoh seperti ini.

"Makanya gak usah munafik kalau jadi orang. Kalau kerja ya kerja, kalau mau pacaran ya pacaran," ucap Winda mencibir Tama.

"Setidaknya aku tidak menghamili perempuan lain," singgung Tama.

"Tidak masalah jika kau menghamili perempuan lain. Bagus sekali malah, itu artinya kita bisa bercerai secepatnya."

"Win,....!"

"Jangan ganggu aku, pulang sana!" usir Winda.

"Kami hanya pergi makan, tidak melakukan apa-apa. Maafkan aku jika ucapan ku tadi sudah menyinggung mu!"

Winda acuh, tidak peduli dengan ucapan Tama. Sama saja, suami istri ini sama saja, mereka hanya pandai bermain drama di depan anak-anak mereka.

1
Nurul Aeni
baru jg tunangan kesalahan fatal di maafin,klo udh nikah makin menjadi nantinya
Rita Juwita
bagus thor...
mak² rempong
semoga mereka sama² bertaubat dan d beri hidayah oleh Allah.. dan semoga kebahagian akan menghampiri keluarga mereka
Rani Anggraeni
syukaaa karakter winda
hajar terus win 🤣🤣🤣
komalia komalia
balasan buat si Diana nya coba sampai
komalia komalia
sampai aku skip baca bab sebelum nya saking muter cerita nya jadi gitu gitu aja yang ada tambah mendidih ujung ujung nya masih juga bertahan
komalia komalia
berbelit tak berkesudahan terus aja gitu
Fay
Luar biasa
Dyah Oktina
wah...hamil lagi kah... haduh.. anak dah 2 ngak keurus. nambah anak lagi...anak siapa tuh...hah... pd bodoh ya..
Dyah Oktina
emang keluarga sableng...herman ini
Dyah Oktina
memiliki anak
Farika Willesden
Luar biasa
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🍾⃝ͩʟᷞɪͧʟᷡʏͣˢᵗᵃʳ💫ℛᵉˣ
cerita paling gila' yg pernah dibaca. serasa baca rumah tangga kucing 🗿
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi
Firgi Septia
tapi knapa sampai mengulangi perbuatannya berzinah dan hamil ke dua kalinya dengan laki2 lain
Firgi Septia
knapa mereka TDK bercerai padahal rumah tangganya sdh TDK bisa tertolong lagi
Firgi Septia
heran dgn kelakuan winda
Firgi Septia
bingung mau ngomong apa
Firgi Septia
memang ortu TDK benar ini
Firgi Septia
ayahnya ini begitu menjerumuskan anaknya ke hal yg salah bukannya menasehati malah mengajak anaknya berbuat salah
Firgi Septia
Winda jadi begitu kelakuannya sama saja dengan kelakuan suaminya dulu kalau sakit kenapa harus melakukan perbuatan zina knapa tidak berdoa dan meminta nasehat misalnya dari ustad dan ayahnya jg sebelumnya sdh mendukung perceraiannya knapa tdk bercerai saja,memikirkan kembali untuk melanjutkan pernikahan tetapi selingkuh berakhir zina dan hamil sama saja dengan kelakuan suaminya, jadi bingung mau bagaimana lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!