NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

API - Part 1

“Kenapa lo?” tanya seorang pria begitu melihat Gea yang duduk termenung di ruang tamu,menatap layar ponsel yang sedang menayangkan konten NCT di YouTube.

“Abaaaaang!” Gea langsung melompat dari sofa dan berlari menyambut kakaknya yang baru saja

melangkah masuk. Pria bertinggi 180 cm itu berdiri tegap dengan koper besar di sisi kirinya.

“Diem aja kayak kucing belom dikasih makan seminggu,” guyon Jamal sambil memeluk balik

adik bungsunya itu dengan erat.

“Kok gak ngabarin kalo mau balik, sih?” Gea masih menggelayuti tangan kanan kakaknya penuh manja. “Ibuuun, Papaa… Abang Jamal pulaaaang!” suara Gea menggelegar, memenuhi seisi rumah malam itu.

Ibun dan Papa bergegas keluar dari arah dapur dan menyambut kedatangan anak tengah

mereka dengan pelukan. Ibun memeluk Jamal cukup lama sembari mengusap-usap punggung lebar putranya yang sudah lama tak bersua.

“Kok gak ngabarin sih kalo pulang, Bang? Tau kamu pulang kan Ibun bisa masakin yang enak-enak,” protes Ibun seraya menuntun anak tenganya, Jamal, untuk duduk.

Jamal tertawa renyah, memperlihatkan lesung pipi di kedua pipinya, berkata, “masakan Ibun kapan gak enak sih, Bun,” godanya.

“Gimana tadi perjalanannya, Bang? Macet gak?” tanya Papa menimpali.

“Lumayan, Pa, jam pulang kerja. Papa tumben udah di rumah jam segini?” tanya Jamal balik saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 19.15.

“Sotoy ih Abang. Gak pernah di rumah juga,” ledek Gea.

“Papa juga belom lama sampe,” jawab Papa.

“Kamu mandi dulu sana, Bang,” sela Ibun, “Ibun siapin soto dulu.”

“Ibun bikin soto apa?”

“Soto Betawi, Bang,” jawab Ibun.

Tanpa sadar, jakunnya bergerak naik-turun saat menelan ludah. Matanya pun langsung berbinar

terang mendengar menu makan malamnya.

“Sounds yummy,” seru Jamal.

Belasan menit kemudian, ruang makan di rumah itu sudah ramai dengan berbagai macam

cerita. Mulai dari kisah Jamal selama bekerja sebagai juru masak di kapal pesiar, cerita Papa

tentang dunia kerjanya, hingga Ibun yang dengan bangga memerkan bahwa ia mulai menerima

tawaran endorsement wajan untuk kanal YouTube memasaknya. Gea tidak mau kalah, ia

menceritakan serunya pekan olahraga kampusnya dan jadwal untuk berlari lagi di hari Kamis esok.

Ledekan jahil dari sang kakak karena Gea berhasil lolos dari babak perempat final

membuat gelak tawa terus mengudara. Suasana rumah itu terasa makin lengkap dan hangat dengan kedatangan si sulung, Kian, yang langsung bergabung di meja makan.

“Dia ini udah punya pacar loh,” celetuk Kian, membuka kartu Gea.

Mata Jamal seketika terbelalak. Senyum jahil langsung tersungging di wajah belesung pipinya, “ada juga yang mau sama lo?” tanyanya dengan nada mengejek yang kental.

Gea langsung mengibaskan rambutnya ke belakang dengan centil yang dibuat-buat, berkata, “anaknya Ibun kan cantik!” sahutnya, membuat kedua orang tuanya tertawa.

“Siapa orangnya?” tanya Jamal santai sembari menyuap nasinya.

“Ada, temen jurusan aku, Bang.”

“Siapa namanya?”

“Jay.”

“Dia udah pernah ke rumah, Bun?” tanya Jamal, kini beralih menatap Ibun.

“Udah sering, Bang. Sering anter-jemput adekmu juga.”

“Nanti kalo dia ke rumah, suruh ketemu gue dulu ya, Ge,” kata Jamal santai, namun nada suaranya

menegaskan kalau dia tidak sedang bercanda.

“Mau ngapain, ih?” tanya Gea curiga.

“Mau ditatar sama Jamal,” kata Kian kompor.

“Udah kok sama Abang Kian.”

“Aah, Bang Kian mah pasti baek-baek nanyainnya. Gak seru.”

Gea mencibir, “ya emang kalo abang mau di ajakin apa? *sparing* di ring gitu?”

“Ya kalo anaknya bisa, sparing aja lah langsung. Biar ketauan mentalnya” jawab Jamal santai,

yang langsung dihadiahi tepukan gemas dari Ibun di punggungnya.

“Kamu itu, Bang, baru pulang udah macem-macem,” tegur Ibun.

“Cuma mau kenal aja abangmu itu, Ge,” bela Papa sambil tersenyum maklum.

Jamal meneguk air putihnya, lalu kembali menatap adik bungsunya. “Kapan lo lomba lari estafet deh, Ge?”

“Ih orang tua dasar. Perasaan tadi aku udah kasih tau deh,” Gea memutar bola matanya jengah,

“kamis besok, Abang Jamaaaaaal.”

“Oke.”

“Oke? Apanya yang oke?”

“Gua dateng hari Kamis besok. Mau liat lo masih cupu kayak waktu sekolah dulu atau emang

beneran bisa menangin itu lombanya,” tantang Jamal tengil.

Merasa ditantang oleh sang Abang, Gea langsung menegakkan punggungnya dan berkata, “oke! Kalo aku menang, Abang mau beliin aku apa?”

“Lo mau apa?”

Gea berfikir sejenak kemudian berkata, “tas. Beliin aku tas ransel ya?”

“Iya, gampang. Kalo lo menang, abis dari kampus kita langsung pergi beli tasnya.”

“Aseeeeeeeek!” Gea tertawa senang, membayangkan tas baru yang sudah di depan mata.

...****************...

Jam 16.40 sore, area sekitar lintasan lari sudah dipenuhi oleh para peserta lomba dan

penonton yang duduk berjejal di pinggir lapangan. Jamal, yang berjanji akan datang, rupanya sudah duduk di sana sejak 10 menit yang lalu. Mata sibuk memperhatikan sang adik di tengah lapangan yang sedang melakukan pemanasan bersama teman-temannya. Dari kejauhan, ia juga sekilas melihat Lyon yang sedang berlari. Sore ini, perlombaan lari kategori pria memang dijadwalkan bertanding terlebih dahulu sebelum kategori perempuan.

Begitu nama adiknya dipanggil oleh panitia melalui pengeras suara, Jamal bersorak riuh

rendah. Suaranya yang menggelegar dan penuh semangat sontak membuat sekelompok mahasiswa yang duduk di dekatnya menoleh. Pasalnya, wajah Jamal terasa sangat asing, namun pria itu tampak begitu menggebu-gebu memberikan dukungan khusus untuk Gea.

“Siapa tuh? Cakep juga,” bisik Putri pada Ria yang duduk di sebelahnya.

“Gak tau. Anak jurusan mana, kali.”

“Anjiiir. Senior kali ya? Belom pernah gua liat mukanya di kampus.”

“Gea Aster! Semangat, Dek!” seru Jamal lagi tanpa memedulikan sekitar.

Dukungan heboh itu membuat Gea yang baru saja selesai memakai nomor dada langsung menoleh ke arah tribun. Senyumnya mengembang lebar seraya melambaikan tangan dengan wajah sumringah ke arah sang kakak.

“Siapa deh? Kok si Gea banyak amat kenalan cowoknya. Mana ganteng-ganteng lagi,”

gerutu Putri lagi. Wajahnya berkerut bingung sekaligus agak ketus. “Heh, lo kenal, Jay?” tanya

Putri, menoleh pada Jay yang duduk di bangku belakangnya.

Jay tidak menyahut. Pandangannya lurus mengunci sisi samping pria berambut coklat

gelap dan tebal itu. Dari tempatnya duduk, Jay bisa melihat rahang tegas pria asing itu lengkap

dengan sebuah kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat Jay lagi-lagi didera rasa tidak nyaman yang familier.

Perlombaan berlangsung sengit, namun tim Arsitektur harus puas menempati posisi

juara kedua untuk ketagori lomba lari estafet perempuan maupun laki-laki. Untuk ketegori laki-laki, jurusan HI berhasil menyabet juara pertama dengan Lyon yang menjadi tombak, sementara kategori perempuan dimenangkan oleh jurusan ekonomi.

Begitu perlombaan selesai, Jamal langsung menuruni tribun dan menerobos pembatas

untuk menghampiri Gea yang masih berdiri mengatur napas di pinggir lapangan. Pemandangan itu tak luput dari perhatian Jay dan teman-temannya.

Dari pinggir lapangan, Jay menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana pria

berkacamata itu langsung merangkul bahu Gea dan memberikan pelukan ringan yang diikuti tawa lepas dari kekasihnya. Ditambah bumbu rasa kesal dari hari-hari sebelumnya, detik itu juga darah Jay rasanya mendidih panas.

“Gua cabut ya,” ucap Jay dingin tanpa melihat teman-temannya lagi.

Keempat sahabatnya saling bertukar tatap heran melihat kepergian Jay yang mendadak, sebelum

akhirnya Putri kembali bersuara dengan nada julid.

“Si Gea kenapa lenjeh banget deh jadi cewek. Udah tau cowoknya cemburuan, malah peluk-pelukan sama cowok lain di depan umum.”

“Ya temen lo aja yang sensian banget. Panas dingin banget jadi cowok, dikit-dikit ngambek”

semprot Adam, merasa tidak setuju dengan ucapan Putri.

“Kok lo malah sinis ke gue sih, Dam?!” suara Putri langsung meninggi.

“Ya berpikir positif aja dulu, Put. Siapa tau itu keluarganya? Kakaknya atau sepupunya

gitu, kan kita gak ada yang tau. Gue rasa Gea bukan cewek yang sembarangan peluk-peluk cowok juga,” balas Adam mencoba logis.

“Heh, lo liat dong dandannya rapi gitu. Jam segini orang kantoran atau orang kerja juga masih

pada di tempat kerja kali, mana ada yang gabut ke kampus orang!” ketus Putri membela opininya.

“Udah-udah, guys,” Ria segera menengahi sebelum perdebatan itu berujung ribut besar. “Mending kita ke lapangan aja deh sekarang. Itu temen-temen kita abis menang, kita malah berantem di sini.”

Ria menarik paksa tangan Putri yang masih memasang wajah kesal akibat omongan Adam barusan.

Dion dan Adam akhirnya hanya mengikuti kedua perempuan itu, berjalan menuju lapangan untuk bergabung dengan anak-anak Arsitektur lainnya yang sudah lebih dulu mengerubungi para pelari untuk memberikan selamat.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!