Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Kalimat itu seolah menjadi pemantik terakhir yang membakar seluruh kesabaran Ammar.
Sorot matanya yang sejak tadi hanya dipenuhi kekecewaan, kini berubah menjadi bara kemarahan yang begitu jelas. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol, napasnya memburu. Untuk pertama kalinya sejak dewasa, Ammar benar-benar kehilangan kendali atas emosinya.
"Papa..."
Suaranya pelan, namun justru karena terlalu pelan, siapa pun yang mendengarnya tahu bahwa amarah itu sudah berada di batas paling berbahaya. Pak Wira masih berdiri tegak.
"Apa lagi?"
"Apa Papa benar-benar tidak punya hati?"
Ruangan kembali sunyi. Ratih langsung menoleh panik kepada putranya.
"Ammar."
Namun Ammar tidak lagi mendengar suara
siapa pun. Tatapannya hanya tertuju kepada laki-laki yang telah membesarkannya. Laki-laki yang selama ini selalu ia hormati, tetapi hari itu, Ia merasa sedang melihat orang asing.
"Papa menyuruh istri Ammar membujuk Ammar menikah lagi?" Ammar tertawa kecil, tawa yang terdengar begitu pahit. "Luar biasa." Ia menganggukkan kepala perlahan. "Luar biasa, Pa."
Pak Wira tidak bergeming.
"Apa yang salah? Permintaan papa tidak aneh aneh kok."
"Salah?" Ammar mengulang kata itu sambil tertawa getir. "Papa masih bertanya apa yang salah?" Tiba-tiba langkah Ammar bergerak maju dan semakin dekat. Tatapannya begitu tajam hingga bahkan membuat Ratih mulai merasa takut.
"Ammar!" Ratih buru-buru berdiri, namun Ammar tetap berjalan. "Ammar." Suara ibunya terdengar panik. "Kamu mau apa?"
Ammar berhenti tepat di depan ayahnya dan membuat jarak mereka kini hanya beberapa puluh sentimeter. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang anak berdiri menatap ayahnya tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Apa tidak cukup Papa menyakiti hati istri Ammar selama ini?" Suara Ammar bergetar. "Tidak cukupkah Papa membuat dia menangis setiap hari?"
Pak Wira tetap memasang wajah datar.
"Papa hanya menjalankan tanggung jawab."
"Jangan bungkus semuanya dengan kata tanggung jawab!" Bentak Ammar begitu keras. "Gara-gara tanggung jawab Papa itu, Salsa sampai rela menyerahkan suaminya sendiri!" Dada Ammar naik turun. "Apa Papa tahu seberapa hancur perasaan seorang perempuan ketika harus meminta laki-laki yang dicintainya menikah lagi?" Pak Wira tetap diam. Tak sedikit pun raut wajahnya berubah dan justru itu, semakin membuat emosi Ammar meledak. "Apa Papa pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi Salsa?"
"Untuk apa papa membayangkan menjadi Salsa?" Jawaban singkat itu membuat Ammar kembali membeku. "Karena semua perempuan yang menikah dengan keluarga Adhitama sudah tahu apa konsekuensinya."
Kalimat itu seperti menyiram bensin ke dalam api.
Brak!
Tinju Ammar menghantam meja marmer di sampingnya. Suara benturan keras menggema memenuhi ruangan hingga membuat Vas bunga yang berada di atas meja sampai bergetar. Ratih menutup mulutnya.
"Astaghfirullah." Salsa sendiri ikut tersentak. "Mas."
Namun Ammar seolah tak lagi mampu mendengar siapa pun.
"Apa papa tahu apa yang paling membuat Ammar marah?" Pak Wira menatap putranya.
"Ammar tidak marah karena Papa meminta Ammar menikah lagi. Ammar marah," Suara itu mulai bergetar. "Karena Papa tega menyuruh Salsa membujuk Ammar."
Tatapan Ammar perlahan beralih kepada istrinya. Perempuan itu masih berdiri dengan mata sembab. Wajahnya pucat. Tubuhnya bahkan masih gemetar sejak tadi. Melihat keadaan Salsa, dada Ammar terasa semakin sesak.
"Salsa bahkan masih memikirkan bagaimana caranya menghormati Papa." Ia kembali menatap ayahnya. "Tapi Papa...." Kalimatnya tercekat. "Papa justru menjadikan rasa hormat itu sebagai senjata."
Pak Wira menghela napas.
"Kamu terlalu berlebihan."
Kalimat sederhana itu, benar-benar menghapus sisa kesabaran Ammar. Dengan langkah cepat ia kembali maju, tangannya bahkan sudah terangkat.
"Ammar!" Ratih menjerit. "Astaghfirullah!"
Pak Wira sendiri tetap berdiri dan tidak mundur sedikit pun. Tatapan ayah dan anak itu saling bertemu. Sama-sama keras, sama-sama dipenuhi emosi. Beberapa detik lagi, bisa saja sesuatu yang tidak pernah dibayangkan siapa pun benar-benar terjadi.
Namun, sebuah pelukan menghentikan semuanya.
Bruk.
Tubuh Ammar mendadak tertahan. Dua lengan kecil melingkar erat di pinggangnya dari belakang dan membuat Ammar melihat tubuh perempuan itu gemetar hebat.
"Mas...." Suara lirih itu langsung membuat Ammar membeku. "Aku mohon," Salsa memeluknya semakin erat. "Jangan...." Air matanya kembali jatuh. "Jangan lakukan itu."
Ammar memejamkan matanya. Dadanya masih naik turun, napasnya masih memburu, namun suara istrinya perlahan mulai menariknya kembali dari puncak emosinya.
"Mas." Salsa menangis di balik punggungnya.
"Jangan sampai karena aku, kamu durhaka kepada Papa."
Kalimat itu, justru semakin menusuk hati Ammar. Perlahan ia menoleh dan dilihatnya Salsa yang masih memeluknya sambil menangis. Tubuh perempuan itu bergetar hebat, tatapannya penuh ketakutan. Bukan takut kehilangan rumah tangga, tetapi takut melihat suaminya melakukan sesuatu yang akan disesalinya seumur hidup.
"Mas." Salsa menggeleng berkali-kali. "Aku mohon, Jangan sakiti Papa."
Ammar menundukkan kepalanya. Perlahan, tangannya yang sejak tadi mengepal mulai mengendur. Ia menarik napas panjang berulang kali dan berusaha meredam api kemarahan yang hampir membakarnya hidup-hidup. Beberapa saat kemudian, Ia akhirnya membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah istrinya yang sudah dipenuhi air mata.
Dengan sangat pelan, Ammar mengusap pipi Salsa menggunakan ibu jarinya. Tatapan itu begitu lembut dan sangat bertolak belakang dengan tatapan penuh amarah beberapa detik sebelumnya.
"Sayang, kamu..." Suara Ammar nyaris berbisik. "Untuk apa kamu masih sempat memikirkan Papa? Dia tidak punya hati sama kamu, dia udah nyakitin perasaan kamu."
Salsa hanya menangis tanpa mampu menjawab sementara Ammar tersenyum tipis, senyum yang terasa begitu pahit. Lalu perlahan ia kembali menoleh kepada Pak Wira. Sorot matanya kini tidak lagi sekeras tadi, namun justru lebih menyakitkan karena kali ini yang berbicara bukan lagi kemarahannya, melainkan kekecewaan seorang anak kepada ayahnya. Ammar mengusap wajahnya perlahan. Napasnya masih belum benar-benar teratur. Dadanya naik turun menahan gejolak yang sejak tadi berusaha ia redam. Namun kali ini, ia memilih berbicara. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kekecewaan yang jauh lebih dalam. Ia menatap lurus ke arah Pak Wira.
"Papa." Suaranya terdengar lirih. "Tolong, lihat Salsa." Pak Wira mengernyit pelan sementara Ammar kembali melanjutkan perkataannya.
"Lihat baik-baik perempuan yang berdiri di depan Papa ini."
Ruangan kembali hening, semua mata kini tertuju kepada Salsa yang masih berdiri di samping Ammar. Wajahnya dipenuhi air mata, kedua tangannya saling menggenggam erat seolah sedang menahan tubuhnya agar tidak roboh. Ammar menatap istrinya beberapa detik sebelum kembali mengalihkan pandangan kepada ayahnya.
"Papa tahu tidak, waktu Ammar hampir kehilangan kendali barusan, siapa yang menghentikan Ammar?" Pak Wira tidak menjawab. "Perempuan ini." Ammar menunjuk lembut ke arah Salsa. "Perempuan yang setiap hari Papa sakiti dengan kata-kata tentang keturunan." Suara Ammar mulai bergetar. "Perempuan yang setiap hari masuk ke kamarnya sambil menangis." Tatapan Ammar terlihat semakin tajam. "Perempuan yang baru saja rela menyerahkan suaminya sendiri kepada perempuan lain." Ia menggeleng pelan. "Justru perempuan itu yang memeluk Ammar dan memohon supaya Ammar tetap menghormati Papa."