Menceritakan seorang gadis bernama Alisya yang begitu menyukai seorang cowok bernama Adrian secara diam-diam. Adrian sendiri tentu sudah memiliki kekasih bernama Tania.
Hingga Alisya mendapat kabar jika kedua orangtua mereka berdua akan menjodohkan mereka berdua dan menginginkan mereka segera menikah. Namun, dalam pernikahan itu hanya Adrian yang tak bahagia. Dikarenakan Adrian masih mencintai cinta pertamanya yaitu Tania..
Bagaimana dengan biduk rumah tangga yang hanya diisi rasa cinta sepihak dari Alisya? dan Apakah Adrian akan membuka hatinya untuk Alisya?
Bagi yang Penasaran silakan dibaca😁
Karena Saya masih seorang penulis pemula.. maaf jika banyak typo yang bertebaran di karya saya ini. Dan harapan saya sebagai penulis, saya harap kalian para pembaca menyukai karya saya ini. terima kasih😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
FLASHBACK
Adrian duduk terdiam didalam kelas. Di dalam kelas belum ada banyak siswa. Dikarenakan Adrian berangkat terlalu pagi ke sekolah. Sesekali dirinya menarik nafas lalu menghembuskan dengan kasar, seolah dirinya menyimpan banyak beban di dalam dirinya. Salah satu siswa masuk kedalam kelas. Melihat Adrian yang duduk termenung sendiri. Siswa itu menghampiri.
“Ada apa bro?” tanya Siswa itu yang merupakan teman sekelas Adrian bernama jefri sambil menepuk pundak Adrian.
“ Gak apa-apa.” Jawab Adrian.
“ Gak usah ditutupin begitu, jika ada masalah ceritakan saja. Kita sudah berteman sejak lama loh Ad.” Kata Jefri.
Jefri merupakan teman dekat Adrian. setiap Adrian ada masalah Jefri yang menjadi tempat untuk dijadikan sandaran. Maka jika Adrian menunjukan sikap yang tak biasa, Jefri sudah tahu jika teman itu memang sedang dalam masalah. Bahkan tentang pernikahannya dengan Alisya pun Jefri juga sudah mengetahui, karena itu bersifat rahasia. Sebagai sahabat dekat Jefri juga merahasiakannya.
“ Gimana udah dapat kabar tentang Tania?” lanjut Jefri bertanya.
“ Gak usah bahas tentang Tania. Dia sudah menghilang seperti ditelan bumi.” Jawab Adrian kesal.
“ Jangan sebal begitu bro. biasanya kalau dirimu begini palingan tentang Tania. Ah, jangan-jangan kamu ada masalah sama Istrimu yah.” Kata Jefri.
Mendengar perkataan Jefri, Adrian kembali menghembus nafas dengan kasar.
“ Wah kalau udah begini berarti benar nih!” kata Jefri.
Adrian terdiam sejenak, lalu dirinya membuka suara.
“ Jef!” panggil Adrian.
“Hmm..” jawab Jefri.
“ Menurut kamu aku salah gak si memperlakukan Alisya seperti itu.” Kata Adrian.
“ Bro! menurut aku kamu memang dari awal sudah salah. Alisya tidak tahu menahu soal kamu dan Tania. Dia juga korban dari orang tua kalian. Jadi jangan semuanya kamu lampiaskan ke Alisya. Dia tidak tahu apa-apa soal itu.” Jawab Jefri.
“ Iya aku tahu aku salah dalam hal ini.” Kata Adrian.
“ Jika kamu sudah tahu, apakah kamu sudah minta maaf sama dia?” tanya Jefri.
Lagi-lagi Adrian menghembus nafas dengan kasar lalu menggelengkan kepalanya sebagi bentuk jawaban atas pertanyaan dari Jefri.
“ Tadi malam aku sama Alisya berantem, aku benar-benar kesal saat Alisya bersama dengan dengan laki-laki lain. Aku marah kepadanya tetapi juga merasa kasihan saat melihat dia menangis.” Kata Adrian.
“ Jadi kamu bilang kamu gak suka liat Alisya dengan laki-laki lain?” tanya Jefri memperjelas kalimat yang baru saja dilontarkan sahabatnya itu.
Kemudian dibalas Adrian dengan anggukan.
“ Wah! Itu kabar baik.” Kata Jefri.
“ Maksud kamu apa?” tanya Adrian tak paham dengan pernyataan jefri.
“ Ya kabar baik. Karena kamu sudah mulai suka sama istrimu itu.” Jawab Jefri.
“Ya! Gak mungkinlah! Kamu juga tahu aku masih belum bisa melupakan Tania.” Kata Adrian menyangkal.
“ Ah! Kamu ini memang tak paham sama perasaan mu sendiri. Dengan kamu merah melihat Alisya bersama laki-laki lain itu tandanya kamu cemburu.” Kata Jefri.
“ Wajar dong aku marah karena aku suaminya, masa didepan suami dia berdiri dengan laki-laki lain! Bukan berati aku cemburu” sangkal Adrian.
Jefri mengacak rambutnya kesal karena melihat sahabatnya yang masih tidak dengan perasaannya sendiri.
“ Begini ya BRO! sejak kapan kamu mengakui Alisya sebagai istrimu hah! Dengan kamu kesal melihat Alisya bersama laki-laki lain itu tandanya kamu cemburu berarti kamu sudah punya perasaan dengan Alisya.” Kata Jefri.
Adrian hanya terdiam, mungkin sedang memikirkan apa yang jefri katakan padanya.
“ Dan ngapain juga kamu mengharapkan Tania. Tania saja sudah menghilang. Ingat! Sekarang yang ada di depan kamu adalah yang sudah berstatus sebagai istri meski itu karena orang tua kalian yang menjodohkan. Cobalah kamu membuka hati mu, menerima Alisya yang hadir sebagai istrimu. Dan lagi cinta itu datang karena sering terbiasa bersama. Mungkin kamu belum menyadari, tapi jika kamu mencoba untuk menerima istrimu. Cinta itu pasti akan datang. Pikirkan baik-baik kata aku Bro!’ kata Jefri lalu berdiri.
Melihat Jefri yang berdiri dan beranjak pergi Adrian pun bertanya.
“Kamu mau kemana?’ tanya Adrian.
“ Ke kantin! Datang kepagian gak sempat sarapan tadi.” Kata Jefri melenggang pergi.
Adrian terdiam memikirkan perkataan Jefri barusan. Apakah ini saat yang tepat bagi dia untuk menerima Alisya melihatnya sebagai seorang istri. Adrian lalu membuka tas sekolahnya dan mengambil benda yang dia butuhkan saat itu.
“Sialan! Ponselku ketinggalan di rumah lagi.” Kata Adrian dalam hati.
Selepas pulang sekolah, Adrian memanggil Jefri yang hendak mau keluar dari kelas.
“ Jef!” panggil Adrian.
“Ada apa?” tanya Jefri yang berdiri tepat di pintu kelas.
“ Aku titip ini ya! Tolong berikan kepada Alisya.” Kata Adrian.
Adrian memberikan sepotong kertas yang sudah dilipatnya.
“ Apaan ini! kamu kayak zaman jadul tau gak! Pake kertas segala!” kata Jefri terkekeh.
“ Kamu mau bicara sama dia, ketemu langsung aja sono! Malu-maluin aja pake kertas beginian.” Lanjut Jefri sambil menggoyangkan sepotong kertas yang diberikan Adrian padanya.
“ Diam! Pokoknya kamu harus kasi ini ke Alisya. Nanti kalau dia tanya dari siapa jawab saja kalau dia akan tahu sendiri.” Kata Adrian.
“ Serius kasih beginian ke Alisya. Hahaha.” Kata Jefri tertawa.
“ Udah sana!” usir Adrian sambil mendorong Jefri.
Jefri berjalan menuju gerbang sekolah, sedangkan Adrian mengikutinya dari belakang. Mereka berdua berdiri tak jauh dari gerbang sambil melihat setiap siswi yang lewat siapa tahu ada sosok Alisya di sana.
“ Jef! Itu Alisya.” Teriak Adrian sambil menarik sahabatnya itu kearah yang dia tunjukkan.
“ Aku ke parkir dulu. Jangan lupa kasihkan itu ke Alisya. Ingat! Jangan kasih tahu jika itu dari aku!” ancam Adrian.
“ Eh! Tunggu setelah ku kasih ini ke Alisya. Kamu gak perlu bantuan lagi kan?’ tanya Jefri.
“ Udah gak, cukup ini doang.” Jawab Adrian.
“ Baiklah setelah aku beri ini, aku langsung pulang.” kata Jefri.
Melihat Alisya sudah mendekat, Adrian segera pergi agar tidak ketahuan. Sedangkan Jefri berdiri sambil memerhatikan sepotong kertas itu.
“ Ad.. ad.. kamu kayak zaman emak aku saja, huft.” Keluh Jefri.
Saat melihat Alisya mulai mendekat Jefri memanggil.
“ Alisya..” panggil Jefri.
Namun, sang punya tak menoleh. Jefri terpaksa kembali memanggil.
“ Alisya..” panggil jefri lagi.
Alisya pun menoleh.
“ Ada apa ya?’ tanya Alisya.
“ Al, ini ada yang nitipin surat untuk kamu.” Kata Jefri sambil memberikan surat itu kepada Alisya.
“ Katanya nanti kamu juga tahu.” Jawab Jefri.
Mungkin karena penasaran, Bunga teman dekat Alisya juga bertanya. Namun Jefri kembali menjelaskan jika pemilik surat itu mengatakan bahwa Alisya akan tahu nanti. Sebelum Alisya dan Bunga kembali memberikan pertanyaan lagi. Jefri lalu pamit pergi meninggalkan Alisya dan Bunga.