Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.
Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.
Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.
Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.
Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Rapuh Sayap sang Senja
Detik seolah berjalan melambat di koridor Rumah Sakit Medika Utama. Alunan suara bising dari dalam ruang ICU dan bunyi konstan mesin indikator jantung milik Darma Amartya mendadak terasa senyap di telinga Senja. Pandangannya kabur, bergoyang hebat saat menatap punggung suaminya dan Rendra yang masih saling melemparkan tatapan penuh permusuhan.
Beban mental yang menumpuk selama tiga bulan sebagai sandera, ditambah hancurnya kenangan terakhir ibunya semalam, dan kini berita kritis sang ayah menjadi hantaman terakhir yang meruntuhkan benteng pertahanannya.
"Pa... pa..." cicit Senja untuk terakhir kalinya. Sebelum tubuh mungil itu menyentuh lantai rumah sakit yang dingin, Bara yang memiliki kepekaan tajam refleks bergerak. Dengan satu gerakan cepat, ia menangkap tubuh Senja yang luruh sepenuhnya. Kesadaran gadis itu telah hilang total. Wajahnya yang pucat pasi kini tampak begitu damai, kontras dengan badai penderitaan yang baru saja ia lalui.
"Senja!" seru Rendra panik, melangkah maju hendak meraih tangan Senja.
"Jangan berani-berani menyentuhnya!" bentak Bara, suaranya menggelegar rendah namun penuh penekanan yang mutlak.
Bara langsung menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh Senja, mengangkat tubuh istrinya yang terasa kian ringan ke dalam dekapannya. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi detak jantung yang berpacu liar karena rasa panik yang tak bisa ia bendung. Pemandangan Senja yang tak berdaya ini menghancurkan sisa-sisa keangkuhannya.
"Rian! Panggil perawat sekarang! Siapkan ruang perawatan terbaik!" teriak Bara pada asisten pribadinya yang baru saja tiba di ujung koridor.
Bara membalikkan badan, menatap Rendra dengan mata elang yang menyipit tajam, penuh kilat cemburu dan kepemilikan yang absolut.
"Dia istriku, Rendra. Tempatnya di pelukanku, bukan di tanganmu. Sekarang, angkat kakimu dari rumah sakit ini sebelum aku bertindak lebih jauh."
Tanpa menunggu balasan dari Rendra yang hanya bisa terpaku menahan amarah, Bara melangkah lebar membawa Senja menuju ruang instalasi darurat terdekat, meninggalkan Rendra yang mengepalkan tinju di koridor yang sunyi.
______________________________________________
Dua jam berlalu. Senja telah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang terletak tepat di sebelah paviliun ICU agar Bara tetap bisa memantau kondisi Darma Amartya sekaligus menjaga Senja.
Di dalam kamar yang tenang itu, Bara duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah Senja yang dipasangi selang oksigen kecil di hidungnya. Tangan kanan Senja terasa begitu dingin saat berada di dalam genggaman tangan besar Bara. Entah sejak kapan, Bara tidak lagi peduli pada status Senja sebagai anak dari musuh besarnya. Di matanya saat ini, Senja hanyalah seorang wanita rapuh yang jiwanya telah ia cabik-cabik tanpa ampun.
Cklek.
Pintu kamar terbuka perlahan. Rian melangkah masuk dengan kepala tertunduk sopan.
"Pak Bara, dokter yang menangani Pak Darma ingin menyampaikan laporan perkembangan terbaru."
Bara melepaskan tangan Senja dengan sangat hati-hati, lalu menarik selimut hingga sebatas dada istrinya. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang kini kusut akibat menggendong Senja.
"Tetap di sini, Rian. Jangan biarkan siapa pun masuk, termasuk pria Alatas itu."
"Baik, Pak."
Bara melangkah keluar menuju ruang dokter spesialis jantung di ujung lorong. Pikirannya bercabang antara kondisi Darma yang memegang kunci masa lalunya, dan Senja yang memegang kunci masa depannya yang kini mulai goyah.
Saat melangkah masuk ke ruangan dokter, pria paruh baya berjas putih itu mempersilakan Bara duduk dengan raut wajah yang teramat serius. Ia membuka sebuah map berisi rekam medis lama milik Darma Amartya.
"Pak Bara, sebagai menantu dan penanggung jawab penuh saat ini, saya harus menyampaikan hal yang sebenarnya mengenai kondisi fisik Pak Darma," ucap dokter itu tenang.
"Bagaimana kondisinya? Apakah serangan jantung ini karena syok?" tanya Bara dingin, mencoba mengembalikan topeng kaku pebisnisnya.
Dokter itu menggelengkan kepala perlahan, menghela napas panjang. "Bukan hanya karena syok akhir-akhir ini, Pak. Gagal jantung akut yang dialami Pak Darma adalah fase akhir dari penyakit karsinoma stadium lanjut yang sudah beliau diderita selama hampir sepuluh tahun terakhir. Beliau bertahan sejauh ini hanya dengan obat-obatan dosis tinggi."
Bara terpaku di kursinya. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. "Sepuluh tahun? Maksud Anda... dia sudah sakit parah sebelum perusahaan Amartya Group mengalami masalah utang?"
"Benar, Pak Bara. Bahkan berdasarkan catatan medis yang kami terima dari rumah sakit di luar negeri, sepuluh tahun lalu Pak Darma sempat melakukan pengobatan besar. Yang mengejutkan adalah... seluruh aset pribadi dan dana perusahaan yang dialokasikannya saat itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk membiayai yayasan panti asuhan korban kecelakaan lalu lintas," jelas dokter itu sembari menyerahkan selembar dokumen lama.
"Beliau selalu mengatakan pada kami bahwa dia sedang menebus dosa besar masa lalunya atas sebuah kecelakaan tragis lima belas tahun lalu yang tidak sengaja melibatkannya."
Mendengar frasa 'kecelakaan tragis lima belas tahun lalu', seluruh sendi di tubuh Bara mendadak kaku. Surat medis di tangannya bergetar hebat. Sebuah kenyataan baru yang teramat besar dan mengerikan perlahan mulai terkuak, menghantam dinding dendam yang selama ini ia bangun dengan darah dan air mata. Apakah selama ini ia telah menghancurkan orang yang salah? Dan yang lebih mengerikan, apakah ia telah membunuh jiwa wanita suci yang kini terbaring tak berdaya di kamar sebelah demi sebuah kekeliruan?
Bersambung