(Taka season 2)
Kisah ini lanjutan dari 'TAWAKU TERBALUT LUKA' sebelum membaca kisah ini, harap baca judul itu dulu agar menyambung dengan ceritanya.
Kisah cinta remaja. Sedih, romance.
Seorang pemuda bernama Taka harus berjuang untuk melawan penyakit kanker otak.
Sebelumnya pemuda itu dijuluki sebagai Pangeran Komedi, namun beberapa waktu berlalu julukan itu berubah menjadi Pangeran Kesedihan.
Disaat orang-orang terdekatnya mengetahui penyakit yang diderita, ia tak lagi membawa kebahagiaan. Melainkan kesedihan.
Ketika ia terjatuh dalam keterpurukan, pertama kali bertemu dengan gadis unik yang di panggilannya Hutapea(bukan nama sebenarnya)
Pertemuan pertama mampu tersimpan didalam memorinya. Dua kalimat singkat namun sarat makna yaitu 'Semangat dan Berjuang' membuat semangat dalam dirinya bangkit dan berusaha untuk melawan penyakitnya.
Akankah keduanya dipertemukan kembali? atau hanya satu kali itu saja?
Ayo ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si kecil yang gemesin
Beberapa waktu lalu Taka sudah selesai menjalani pemeriksaan. Mereka memberi waktu supaya Taka beristirahat.
Masih ada dua hari untuk melihat dan mengobrol dengan si malaikat tak bersayap. setelah itu, entah beberapa waktu lagi geng Taka bisa melihat Taka lagi. Meskipun akan sering melakukan video call, tapi tak seperti bertemu secara langsung.
Ayah Arsel sudah memberitahu Saka dan Seika tentang jadwal kepulangannya ke tanah air. Dimas dan Andre diberitahu oleh Dudung dan kawan-kawan.
Jam 6 sore Albert sudah kembali ke rumah sakit. Biasanya setelah menemui ibunya, ia tak langsung datang menemani Taka, ia akan menggunakan waktu untuk melakukan aktivitas lainnya. Tapi semenjak ada Nata, rasanya enggan untuk pergi lama. Secepatnya ingin kembali demi melihat gadis imut dan polos itu.
Kini Albert, Nata dan kawan-kawan lainnya tengah memenuhi kantin rumah sakit. Tidak seperti hari lalu yang memesan makanan dan dibawa ke ruang Taka, karna ada Arsel dan keluarga Nata maka mereka tidak nyaman.
"Tinggal dua hari lagi kita bisa melihat dan berbicara langsung sama si Bos. Setelah kita pulang, entah kapan lagi bisa kumpul bareng." ditengah mengunyah makanannya, Dudung membahas jadwal kepulangannya ke tanah air.
Albert terbatuk-batuk karna tersedak makanan. Dia yang tidak tau obrolan mereka begitu terkejut mengetahui geng koplak itu akan pulang. Yang artinya, gadis imut dan polos yang mampu menggetarkan hatinya juga akan pulang ke negaranya.
"Kak Albert kenapa batuk-batuk, kaget ya?" ucap Ali baba.
"Dua hari lagi kalian pulang?" tanyanya memastikan.
"Iya. Om Arsel tadi ngasih tau kita kalau 2hari lagi kita akan kembali ke indonesia." Mujiren menjawab.
Albert melihat kearah Nata, tapi Nata diam saja. Meski ada raut kesedihan tapi Albert bisa menebak Nata bersedih karna dia akan berpisah dengan saudara kembarnya. Berbeda dengan dirinya yang bersedih karna perpisahan mereka.
Albert ingin sekali berbicara berdua, tapi tidak ada kesempatan. Dia hanya berdo'a semoga ada cara agar dia bisa mengobrol berdua.
Selesai makan malam mereka lanjutkan dengan berbincang-bincang. Setelah pukul setengah sembilan malam mereka baru kembali.
Tepat pada saat itu Saka dan Seika dan baby Saf-Saf tengah berpamitan untuk pulang ke apartemen. Nata segera mendekati mereka.
"Kakak mau pulang ke apartemen?"
"Iya. Baby Saf-Saf udah capek dan ngantuk, Aunty, jadi mau pulang dulu. Besok pagi kesini lagi." Seika yang menjawab.
"Sini gendong Aunty, pengen cium juga." Nata merentangkan tangan. Tapi baby Saf-Saf menggeleng. "Au iut, U'um." baby Saf-Saf memilih ikut Om kesayangan.
"Sayang, Om masih lemes, nggak kuat gendong Adek, yang berat." Seika memberi pengertian.
"Nggak pa-pa Kakak ipar, sini biar aku pangku sebentar." kata Taka.
Seika memandang Saka dan yang lainnya untuk meminta persetujuan. Saka dan bunda Sensa mengangguk.
"Duduk disamping Om saja ya, Adek udah berat banget loh Om, nanti Om keberatan." kata Seika.
Ketika baby Saf-Saf duduk di samping Taka langsung kedua tangan mungilnya merentang dan memeluk Om kesayangan.
"Ndak au lang, U'um." rengeknya.
"Baby Nutrigel nggak mau pulang?" tanya Taka.
"Ya udah sini bobok sama Om," kata Taka, tangannya mulai menepuk-nepuk pelan pant** baby Saf-Saf seperti kebiasaan waktu dirumah dulu. Jika dulu dengan menimang-nimang untuk sekarang sudah tidak kuat. Tubuh Taka tak sekuat dulu.
"Mi, bitin tutu." pinta baby Saf-Saf pada uminya. Seika menggelengkan kepala dengan tersenyum lucu. Putrinya hampir pandai menguasai kosa kata, meski belum jelas dalam berucap, tapi sangat cerewet.
Seika berlalu untuk membuatkan susu.
Nata mencubit gemas pipi embul baby Saf-Saf.
"Ti, akal!"
Buk... Baby Saf-Saf memukul tangan Nata.
"Ish... ish... galak amat cih." ledek Nata.
"U'um, Ti akal." adunya pada Om kesayangan.
"Nanti Aunty Nata dijewer ya, kalau Nakal." jawab Taka.
"Adek, keponakannya jangan diganggu. Dia mau tidur, nanti pulang ke apartemennya kemalaman." bunda Sensa menyahut.
"Abis Nata gemas loh Bun. Pengennya noel si bakpao terus." Nata cekikikan. Bunda Sensa menggelengkan kepala pelan.
Setelah mereka pulang pasti sangat kesepian.
Seika memberikan botol susu pada putrinya, langsung saja diterima baby Saf-Saf dan dimasukan kedalam mulut. "Au bubu ama U'um." ucapnya tidak jelas.
"Besok kalau pulang ke Indonesia gimana ya, Bi? pasti rewel lagi." kata Seika pelan pada Saka.
"Iya, pasti rewel banget. Tapi mudah-mudahan nggak demam lagi." jawab Saka.
Karna sudah menahan kantuk sedari tadi, tidak lama baby Saf-Saf sudah terlelap disamping Taka.
Saka menggendong putrinya dengan pelan agar tidak terbangun. "Dek, Kakak pulang dulu ya. Kamu langsung istirahat." pamit Saka setengah berbisik, menggunakan tangan sebelah untuk menepuk punggung Taka beberapa kali.
"Iya Kak, setelah ini aku langsung istirahat. Kakak hati-hati."
"Kakak juga pamit ya, Om." giliran Seika yang berpamit.
"Iya Kak, makasih."
"Iya."
Dimas dan Andre mengantri lalu mendekati Taka. "Kakak, Aku dan Dimas pulang dulu. Kakak kalau tidur semoga mimpi indah." ucap Dimas memeluk pinggang Taka. Sedangkan Dimas ikut merengkuhnya.
"Iya, kalian anak-anak pintar. Tidur yang nyenyak dan mimpi indah juga. Besok kesini lagi ya," ucap Taka.
"Iya Kak. Besok kami nemenin Kakak lagi."
Setelah berpamitan pada semuanya, Saka dan Seika akan pulang ke apartemen dengan diantar pak Arman. Tak lupa Dimas dan Andre yang juga ikut pulang.
Ayah Arsel mengantar Saka keluar sekalian berpamit ingin mencari kopi hangat dikantin.
Sedangkan bunda Sensa menemani Taka yang mulai berbaring dan bersiap untuk tidur.
"Ren, Dung, Ba, Rah, aku nggak bisa nemenin kalian bergadang. Mataku berat banget. Maaf ya," Kata Taka pada teman-temannya.
"Iya Bos tidur aja. Kita tunggu diluar ya, takut ganggu Bos tidur." Jawab Mujiren.
"Kalian disini juga nggak pa-pa."
"Enggak Bos, kita diluar saja. Tau n'diri ni duo koplak kalau ketawa ngalahin mis Kunti, cekikikan nggak jelas." kata Mujiren.
"Hes.. Ren, kok bawa-bawa mis kunti sih. Kamu ini malah nakut-nakutin."
"Mis Kunti nggak serem Dudung. Yang serem tuh mata coplok yang kemarin." sahut Ali baba.
"Kata siapa mis Kunti nggak serem, itu sebelas dua belas sama Mujirah pas lagi ngamuk." Dudung cengengesan.
"Buset, kurang ajar koe Dung. Aku disamain sama mis Kunti! matamu blereng, nggak bisa bedain mis kecantikan begini." sungut mujirah menatap Dudung dengan kesal.
"Abangnya Mas poci, adeknya persis mis Kunti kalau ngamuk yak. Keturunan galak ya begitu, serem." Dudung berbisik pada Ali baba. Ali baba ikut menyengir.
"Cocoklah ya, Dung."
"Apa!! kalian bisikin aku, kan?!" tuduh mujirah kesal.
"Sudah-sudah. Ayo kita keluar, ganggu si Bos mau tidur kalau kalian masih tetap disini." Mujiren menggiring mereka keluar.
bnyak bngt pelajaran yg bisa di ambil dri cerita ini
kembali ke tawa lg ☺
soal nya air mata ku sudah kering 😂
makasih banyak author aq pada mu yg sudah meng obrak abrik hatiku 🤗
tetap semangat...
jaga kesehatan Tor ku