Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Rencana Operasi
Pikiran Satya melayang pada wajah lembut Melati, asmara yang membakar tekadnya untuk menjadi pria yang lebih baik dan sempurna di hari pernikahan mereka.
“Aku akan cek dulu. Jujur saja, karena operasi-mu butuh cangkok kulit, maka akan ada biaya. Dan itu jumlahnya tidak sedikit.” Tirta tersenyum pilu.
Ia bangkit, melangkah mendekati Satya lalu menepuk bahu pemuda itu dengan hangat. “Tapi kamu jangan khawatir. Urusan biaya, aku akan bicarakan ke Heru. Sekalian mau mendengar dari sisinya. Tentang alasannya membuangmu.”
“Paling juga jawabannya sama sepertiku,” cibir Satya. Ia memakai kembali maskernya, bersiap untuk menyembunyikan wajahnya dari dunia luar lagi.
“Hahahaha, kamu langsung menebak ya Bram. Tenang saja. Melihat luka di wajahmu itu. Aku bisa memastikan kalau semua akan berjalan baik-baik saja.” Tirta terkekeh, mencoba mencairkan atmosfer drama yang sempat menegang.
“Terima kasih, Paman dokter. Oh iya, tolong jangan panggil aku Bram. Namaku sekarang Satya. Kecuali kalau … identitasku sebagai keluarga Utama kembali. Tapi apa itu mungkin?” Satya tersenyum perih di balik maskernya.
Tirta menatap penuh selidik. “Mungkin saja kembali. Tapi risikonya, Heru di penjara.”
“Makanya itu. Aku nggak mau Paman di penjara. Biar bagaimana juga, dia tetap pamanku.” Satya berdiri, membetulkan letak jaketnya yang kusam.
“Kamu tetap anak baik ya, Bram … eh, Satya. Oh, iya, aku minta nomormu. Biar nanti kalau komunikasi kita bisa enak.” Tirta menyodorkan gawainya ke arah Satya.
“Siap, Paman.” Satya mengetikkan deretan nomor ponselnya dengan cepat.
Usai bertukar nomor. Ia pamit.
Satya melangkah tegap keluar dari ruangan bernuansa putih itu, menutup pintu perlahan.
Tanpa tahu, kalau sepeninggalan dirinya, Tirta mengambil ponsel dengan gerakan terburu-buru. Wajah sang dokter berubah sangat serius, jemarinya lincah mencari sebuah nama di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil untuk menghubungi Heru guna menuntut jawaban atas konspirasi besar yang baru saja terbongkar.
----
Heru menutup gawai. Menghela napas dalam. “Aku nggak menyangka Bram akan nekat menemui Tirta,” gumamnya, getir.
Menyadarkan tubuh di ranjang mewahnya yang terasa semakin dingin oleh kepungan konflik yang ia bangun sendiri.
Pintu terbuka. Risma datang dengan menjinjing tas belanjaan. Melempar serampangan barang-barang bermerek itu ke atas sofa beludru, lalu mengempaskan tubuhnya. Berdesis kesal, “Aku capek.”
“Capek apa kamu?” sindir Heru, menatap ketus pada istrinya yang gila harta.
Risma memicing sinis. “Mas kira belanja nggak capek apa? Jangan mentang-mentang Mas pusing memikirkan bisnis, lalu menganggap remeh urusanku!”
“Belanja? Capek?” Heru memiringkan sudut bibir, menatap sinis. “Ya sudah nggak usah belanja. Simple kan?”
“Belanja itu sudah jadi passion-ku. Toh aku belanja kebutuhan pokok wanita.” Risma nyengir, seakan mengejek suaminya yang tak berdaya.
“Tas dan perhiasan bukan barang pokok!” bentak Heru, emosinya mulai terpancing.
“Pokok dong. Aku harus ganti tas dan perhiasan setiap acara kumpul sosialita. Ini demi nama baik Mahesa Utama,” sergah Risma, tak mau kalah dalam drama adu gengsi ini. “Wanita di keluarga Utama sekarang cuma aku. Wibawamu itu aku, jangan sampai jatuh hanya karena aku tidak ganti tas dan perhiasan.”
“Cih. Daripada itu, mending kamu cari tuh anak kesayanganmu. Dia belum pulang dari semalam.” Heru memutus perdebatan. Mengalihkan bahasan ke yang lain.
“Apa? Memang Bagas ke mana? Kok nggak pulang?” Risma refleks bangkit, intrik di matanya mendadak berubah menjadi kepanikan seorang ibu.
Heru mengangkat bahu. “Kau tidak tahu. Nomornya tak aktif sejak semalam.”
Risma mendelik tajam. Tanpa berganti pakaian, ia memutar tubuh. Berjalan ke kamar sang putra.
Langkah kakinya yang terburu-buru mengentak koridor rumah mewah itu, dilingkupi firasat buruk yang mulai menggerogoti benaknya.
---
Bagas membuka pintu. Kaget saat mendapati sang ibu sudah berada di dalam kamarnya. Sambil bersedekap angkuh.
“Dari mana saja? Kenapa nggak pulang semalam?” tanya Risma tajam.
Bagas menelan ludah, menjawab, “Dari rumah teman, Ma."
“Teman? Siapa? Kenapa sampai menginap?” cercar Risma, menatap tajam putranya.
"Bagas! Mama tahu, kamu bohong. Katakan! Kamu dari mana? Dengan siapa?”
"Ah, Mama selalu saja curiga berlebihan," gerutu Bagas, mencoba melangkah melewati ibunya, sekilas mencium aroma tubuh wanita paruh baya itu. Sekelebat, justru mengingatkannya pada wangi tubuh Mawar, yang mungkin masih menempel di bajunya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Bagas! Jawab Mama!" bentak Risma, mencengkeram lengan putranya hingga kemeja Bagas sedikit tersingkap, hampir memperlihatkan tanda merah keunguan di dekat tulang selangkanya.
“Kalau aku bilang … aku mencari info tentang Bram. Apa Mama percaya?” Bagas tersenyum, menyusun kalimat secepat kilat.
“Apa maksudmu?” Risma tertegun, cengkeramannya mendadak lemah.
“Jangan pura-pura, Ma. Bagas sudah tahu kok … kalau … Bram masih hidup.”
Bagas tersenyum. Boroknya tertutupi, dengan mengalihkan pembicaraan tentang Bram.
“Bram sudah mati!” sumbar Risma. Keras kepala. Berusaha menutupi kebenaran tentang keponakannya.
“Apa iya?” Bagas memiringkan sudut bibir.
"Dia sudah terkubur tiga tahun lalu, Bagas! Jangan mengada-ada kamu!" seru Risma dengan napas yang mulai memburu, panik. Ia takut rahasia besarnya mulai terkoyak.
“Kamu kan ikut acara pemakamannya,” kelitnya lagi, berusaha tenang.
“Tapi Bagas nggak lihat mayatnya, Ma.” Bagas merapatkan tubuh. Menghela napas panjang, lalu mengambil duduk. “Bagas jujur saja deh. Kemarin malam. Bagas mendengar pembicaraan Mama dan Ayah, tentang Bram Satya Utama."
“Apa?” Risma berjingkat, tak menyangka kalau obrolan rahasianya terdengar oleh sang putra.
"Kalian pikir aku bodoh? Setelah aku mendengar itu. Aku langsung tahu segalanya, Ma," bisik Bagas, menatap ibunya dengan pandangan mengintimidasi.Menikmati kepanikan yang menjalar di wajah wanita itu.
“Bram mendatangi kantor Ayah. Meminta hak-nya. Dia juga izin mau menikah. Ayah nggak setuju, karena calon istri Bram orang miskin. Sementara Mama lebih acuh.”
“Mama acuh, karena Bram bukan anak Mama. Mau dia menikah dengan orang miskin, gembel, pengemis sekalipun. Mama nggak peduli!” sambar Risma tegas. “Kecuali kamu. Kalau sampai kamu memilih gadis miskin, baru Mama akan bertindak.”
"Memangnya kenapa kalau gadis miskin? Bukankah mereka justru lebih penurut kalau diajak berumah-tangga?" pancing Bagas dengan senyum binal.
"Jaga bicaramu, Bagas! Ini soal martabat keluarga kita!" maki Risma, wajahnya memerah padam.
Bagas menghela napas. Mendengar ceplosnya ibunya. Teringat, kalau dia habis meniduri gadis miskin, karyawan sang ayah.
Andai boleh jujur. Mawar termasuk gadis menarik. Kulitnya yang halus dan wajahnya juga cantik. Sayang, keluarganya masih memandang kasta.
Bagas lebih paham keadaan keluarganya. Keluarga Utama adalah salah satu elite di Nusantara. Sebagai orang golongan atas. Menikah dengan jelata sama dengan memeluk aib.
“Bagas, kamu dengar Mama nggak?” ulang Risma.
“Ya, aku dengar Ma,” cicih Bagas lemas.
“Sekarang jelaskan sama Mama. Kamu dari mana saja? Kenapa sampai menginap?” Risma mendesak sang putra, membalikkan tubuhnya. Hingga posisi keduanya berhadapan. “Jawab! Jangan berkelit!"