"Dua jiwa bersimpul merah.
Tujuh kehidupan dan tujuh kematian.
Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."
Dari tiupan angin yang mengumandangkan laguan dari sang takdir, dari tempat terdalam dimana kegelapan terlelap, sepasang tangan yang terikat benang mera menggenggam sepetak cahaya. Dari tempat paling tidak terduga, sang pengelana akan datang untuk membawa sang cahaya, dan bersama melampaui batas dari keabadian sang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 | Tombak Airia
Menjelang malam, suasana kota itu ramai. Dengan jubah yang menutupinya, Kalara dan Levi bersembunyi dibalik dinding dicelah gang menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap.
"Kenapa kita harus bersembunyi?" tanya Levi setengah berbisik.
Kalara menatap Levi. "Kak Levi tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika ada yang tahu kita ada disini. Mereka, sangat menakutkan!"
Ucapan Kalara membuat Levi mengernyitkan dahinya. Apa yang menakutkan bagi gadis-nya ini? Apakah itu penjahat atau sesuatu yang lain? Apakah itu pria hidung belang? Jika benar, Levi akan langsung menghabisinya ditempat. Ketika suasana menjadi lebih sepi, Kalara melirik sekelilingnya dan dengan segera menarik Levi mengendap melewati tumpukan barang untuk menuju sebuah tempat.
Levi menatap sekilas tulisan ditoko yang tertutup itu. Toko Tuan Bambu asing ditelinganya.
Kota Gibo. Kalara dan Levi ada disana, dengan alasan utama yakni mengambil tombak Kalara yang telah dibuat ulang dengan tambahan mutiara roh air.
"Dimana kita?" bisiknya pada Kalara.
"Toko tuan bambu." Jawab Kalara dengan senyuman.
Tangannya mengetuk pintu toko itu setelah memastikan sekelilingnya dalam keadaan sepi. Suara langkah kaki terdengar mendekat, dan pria bertopeng muncul dan sedikit terkejut melihat Kalara. Tuan Topeng Bambu pun tertegun ketika melihat sosok yang ada dibelakang Kalara.
Kalara menyapanya, "Halo tuan topeng bambu~"
"Kala, kamu akan mengambil senjatamu?" tanya pria bertopeng.
Kalara mengangguk.
"Dan siapa pemuda ini?" tanyanya.
"Dia temanku tuan topeng bambu. Dan kak Levi, tuan ini adalah tuan topeng bambu. Ahli senjata dikota ini. Paman Kal bahkan sangat percaya pada kemampuan tuan topeng bambu." Kata Kalara.
"Siapa paman Kal?" batin Levi.
"Saya Levi. Senang bertemu dengan tuan." Kata Levi memperkenalkan diri dengan wajah dan nada yang senantiasa datar.
Pria bertopeng itu menganggukkan kepalanya dan mempersilakan keduanya untuk masuk. Dimeja kayu, sebuah kotak panjang dengan panjang lebih dari dua meter dan lebar tiga puluh centimeter diletakkan disana. Kalara yakin, jika tombaknya ada didalam sana.
"Bisakah aku membukanya?" Kalara bertanya pada pria bertopeng.
Pria bertopeng itu mengangguk. Sementara disisi lain meja, Kalara yang berdiri disamping Levi menggerakkan tangannya untuk membuka kotak itu. Sebilah tombak kaca semi transparan sama terlihat. Dibagian pangkal ujung mata tombak, sebuah mutiara melekat dengan sempurna. Memancarkan cahaya lembut dan mengalirkan aliran cahaya spiral disepanjang tombak. Cincin yang mengitari tombak itu berlipat menjadi dua dengan gerakan melingkar secara bergantian. Sementara disalah satunya terikat lonceng bulu.
Melihat keindahan tombak yang tak pernah dilihatnya itu, Levi sedikit tertegun dan terpukau. Sampai sedikit terkejut ketika melihat mutiara roh air yang benar-benar berkualitas tinggi dipangkal ujung tombak milik Kalara.
"Berapa biayanya tuan topeng bambu?" tanya Kalara.
Mendengar pertanyaan Kalara, Levi diam-diam hendak mempersiapkan uang untuk membayarkan biaya perbaikan senjata Kalara. Namun terhenti ketika pria bertopeng menjawabnya.
"Tidak ada biaya. Berilah nama senjatamu dan pergilah sebelum mereka datang."
"Tapi ini, ..."
"Tidak ada biaya." Tegas pria bertopeng itu membuat Kalara mengerucutkan bibirnya sebelum menatap kearah tombaknya.
Ia sedikit mengangkat tangannya dan bergumam samar, "Minette. Nama apa yang cocok?"
"Berikan saja namaku."
Mendengar itu Kalara mencebik pelan. Mengingat mutiara roh air itu, Kalara membuka bibirnya tanpa sadar.
"Tombak Airia." Gumamnya membuat tombak itu bercahaya selama sekian detik sebelum memudar.
"Baiklah, dia sudah memiliki nama. Pergilah!" tutur pria itu.
Kalara mengangguk sembari tersenyum. Ia menyimpan tombaknya didalam cincin dimensinya, "Baiklah. Ngomong-ngomong, tuan topeng bambu. Tidak baik untuk selalu menyembunyikan emosi. Kebahagiaan dan kebebasan, adalah milik semua orang. Tidak peduli bagaimanapun masa lalu dan siapapun orang itu."
Ucapan Kalara membuat pria bertopeng mematung sebelum menatap Kalara dengan sepasang mata yang rumit. Sementara Kalara, memasang senyuman tipis yang tulus. Sebelum mengucapkan selamat tinggal dan meninggalkan toko itu tanpa jejak dengan Levi mengikutinya.
Setelah Kalara berlalu, pria bertopeng melangkah dengan perlahan kesebuah lemari yang dikunci. Membukanya, didepannya adalah setelan baju zirah yang kokoh dan beraura kuat. Itu sepasang baju zirah yang tinggi dan bukan sembarangan.
"Apakah aku memang bisa, ... bahagia dan bebas?" gumamnya dengan suara yang benar-benar kecil.
...🌙...
Di perjalanan, Kalara dan Levi terbang dengan bola hitam milik Kalara. "Tombak itu, darimana kamu mendapatkannya?"
Kalara menggelengkan kepalanya dan seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Aku tidak ingat pasti. Tapi sepertinya, sejak awal memang sudah ada padaku."
"Dan mutiara roh itu. Seorang teman memberikannya padaku. Namanya Aletica, mungkin suatu saat nanti kalian bisa bertemu." Kata Kalara.
"Baiklah."
Levi menolehkan kepalanya, "Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa tahu ada tempat seperti itu dikota ini? Juga, kenapa kamu mengatakan hal-hal itu pada pria tadi?"
Kalara tersenyum dimatanya, "Aku pernah ada dikota ini selama beberapa waktu. Dan untuk tuan topeng bambu, entah kenapa sepertinya semua emosi yang dimilikinya memang tersimpan rapat dibalik topengnya. Perasaan bersalah dan perasaan terkekang juga kemarahan. Rasa seperti itu yang biasanya membuat seseorang, memilih bersembunyi karena takut untuk melihat dunia dan mengingat masa lalu yang kelam baginya."
"Apakah, ... begitu?" Gumam Levi.
Kalara hanya tersenyum samar. Membiarkan angin menerpanya dan membiarkan segala kata-kata terlarut dalam pemikiran masing-masing.
Di kota Terearl, Luitita memandang Gwenny yang baru saja menyebutkan nama Kalara dengan jelas ditelinganya. Kalara, Kalara. Nama itu terngiang dikepalanya selama beberapa saat sebelum senyumnya mengembang.
Itu adalah kejadian lama sekali..
...⭐...
"Jadi paman, apakah mereka benar-benar bukan orang yang dikenal oleh paman dan yang lain?"
Kalara duduk diatas kereta yang berjalan dan bertanya pada Cleus yang duduk disamping kusir. Kedua kakinya bergerak mengayun dan sesekali saling menyilang dan kembali berayun.
"Aku tidak tahu. Mereka mungkin pengacau tanpa pikiran." Dingin Cleus.
"Pengacau ya?" gumam Kalara sembari mendongak menatap langit biru yang cerah.
Aroma semerbak bunga yang ada disepanjang jalan membuat kedua pipinya bersemu dengan senyum yang merekah. Semerekah bunga mekar dimusim semi yang indah.
Kalara bergumam, "Apa yang membuat mereka melakukan itu?"
"Semua komoditas pangan benar-benar rusak dan sebagian tak bisa dimakan. Bagaimanapun, mereka adalah pengacau yang sangat buruk!" Geram seorang pria didalam kereta.
"Benar sekali! Bagaimana kerugian ini akan ditanggung?!"
Kalara melirik Cleus dan bergumam tipis. "Daripada pengacau, bukankah mereka terlihat seperti, ... ingin diketahui? Lagipula, kenapa harus menunggu sampai didekat kota jika ingin menyerang, bukankah bisa ditengah perjalanan?"
Kalara memandang kota besar yang ada didepannya. Ada banyak sekali binatang sihir yang belum dikontrak dan telah dikontrak disana. Bersembunyi didalam pohon, dibalik semak-semak, didalam air dan bahkan banyak yang melayang dilangit kota itu. Kota ini adalah, Terearl, kota binatang sihir.
"Minette, ada banyak sekali binatang sihir. Mungkinkah aku bisa mengontrak beberapa lagi?" tanya Kalara.
"Kamu sudah memilikiku Kala~ Mereka begitu berisik!"
"Maaf, maaf! Aku hanya bercanda. Aku hanya memiliki Minette. Tapi entah kedepannya, sih~" Ucap Kalara.
Suara Minette mengeras, "Jahat sekali kamu!"
Kalara hanya terkekeh geli dengan suara kecil. Menatap kota kemudian dengan sepasang mata yang melengkung membentuk segaris senyuman yang menawan.
"Kita bisa tinggal sesaat," gumamnya pada Minette.
Di waktu yang bersamaan, suara-suara bergema disebuah ruang kecil dengan pencahayaan yang minim itu. Lima orang duduk melingkar disebuah meja. Suasana itu dingin dan gelap. Membuat siapapun yang melihatnya tak akan merasakan kenyamanan sedikitpun.
Pemilik mata biru tajam itu berucap dengan nada dingin, "Bagaimanapun juga. Kita akan hancurkan kota itu."
gak ketebak