NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Rahasia di Balik Sulaman Melati

Bayangan Sang Macan jatuh tepat di atas tumpukan pakaian.

Arum menahan singlet loreng itu dengan telapak tangan. "Mayor perlu sesuatu?"

"Map biru di meja kerja."

"Saya ambilkan."

Ia berdiri terlalu cepat. Pergelangan kaki kanannya masih nyeri dan tubuhnya oleng. Bara menangkap siku Arum sebelum jatuh.

"Duduk."

"Sudah lebih baik."

"Kalau lebih baik, kamu tidak akan menyembunyikan wajah seperti baru mencuri sesuatu."

Arum spontan menutup tumpukan pakaian dengan kain lain. Tatapan Bara turun ke gerakannya.

"Apa yang kamu sembunyikan?"

"Tidak ada."

"Bohongmu buruk."

"Kata Mayor, saya tidak boleh menyentuh barang di ruang kerja. Saya hanya mau mengambil map setelah diminta."

Bara menatapnya beberapa detik, lalu berbalik. "Tetap di sini. Aku ambil sendiri."

Langkahnya menjauh.

Arum baru bisa bernapas setelah pintu ruang kerja tertutup.

Ia membawa pakaian bersih ke kamar Bara dan menyusunnya di lemari. Singlet yang ditambal diletakkan di antara dua kaus lain, motif melatinya menghadap ke dalam. Arum berharap Bara tidak memperhatikan jahitan kecil itu.

Harapan tersebut bertahan hanya sampai sore.

Bara membuka lemari untuk mengganti pakaian setelah mandi. Tangannya mengambil singlet paling atas, lalu berhenti ketika melihat tambalan baru. Ia membalik kain ke arah cahaya.

Lima kelopak kecil muncul di dekat bekas lubang.

Motif melati.

Jari kasarnya menyusuri benang putih itu berulang kali. Jahitannya halus, sengaja dibuat hampir tersembunyi. Bara mengangkat kain ke wajah tanpa sadar. Sabun dan sinar matahari melekat di sana, bersama sisa wangi melati yang sangat ia kenal.

Pintu kamar berderit.

Arum masuk membawa segelas air, lalu membeku.

Bara berdiri dengan singlet itu di tangannya.

"Saya bisa menjelaskan."

"Jelaskan."

"Lubangnya akan melebar kalau tidak ditambal. Motif itu hanya untuk menutup bekas jahitan."

"Kenapa melati?"

Arum menatap gelas. "Mudah dibuat."

"Ada bunga yang lebih mudah."

"Saya hanya tahu membuat melati."

"Bohongmu masih buruk."

Pipi Arum memanas. "Kalau Mayor tidak suka, saya bisa melepas benangnya."

Tangannya baru terulur ketika Bara menarik singlet itu ke dada.

"Jangan."

Satu kata, terlalu cepat dan terlalu tegas.

Mata Arum terangkat. Bara berdeham, lalu melipat kain tersebut dengan gerakan sangat hati-hati.

"Tambalannya kuat?"

"Kuat."

"Bagus. Mulai sekarang, pakaianku kamu yang cuci."

"Bukankah memang tugas saya?"

"Jangan serahkan kepada petugas laundry satuan. Aku tidak suka cara mereka mencuci."

"Selama ini pakaian Mayor dicuci mereka."

"Sekarang tidak."

Arum menahan senyum. "Baik, Pak Mayor."

Bara menyimpan singlet itu di bagian lemari paling dalam, terpisah dari pakaian lain. Tindakannya lebih jujur daripada semua alasan yang ia ucapkan.

"Lubang itu dari apa?" tanya Arum.

Bara menatap bagian lemari yang baru ditutup. "Serpihan logam."

"Dekat sekali dengan dada."

"Tidak cukup dekat."

Arum tidak ikut menganggapnya ringan. "Bagi orang yang menunggu di rumah, satu sentimeter pun terlalu dekat."

Kalimat itu membuat Bara menoleh. "Siapa yang pernah kamu tunggu?"

Arum mengusap ujung selendang yang tersampir di kursi. "Ayah. Waktu kecil saya sering menunggu suara motornya. Setelah beliau tidak pulang, saya masih duduk di depan pintu beberapa malam. Saya pikir kalau saya menunggu cukup lama, tugasnya akan selesai."

Wajah Bara kehilangan sisa senyum tipisnya.

"Maaf," kata Arum. "Saya tidak bermaksud membuat suasana sedih."

"Jangan minta maaf karena mengingat ayahmu."

"Saya hanya tidak suka melihat pakaian seragam berlubang."

Bara kembali membuka lemari dan mengeluarkan singlet tersebut. Ia memandang bunga kecil di dekat bekas serpihan.

"Karena itu kamu menjahitnya?"

Arum mengangguk. "Supaya lubangnya tidak terlihat seperti luka lagi."

Jari Bara menutup motif melati itu. Untuk sesaat, Sang Macan tampak seperti lelaki yang juga pernah menunggu seseorang pulang, meski Arum belum tahu siapa.

"Kalau begitu, jangan pernah melepas benangnya," ucapnya.

"Tidak akan."

Menjelang petang, petugas kesehatan satuan datang untuk mengganti perban punggung Bara. Prajurit muda itu baru membuka kotak obat ketika Bara berkata, "Tinggalkan perlengkapannya. Kamu kembali ke poliklinik."

"Tapi jadwal perawatan luka Mayor..."

"Ada urusan mendadak."

"Siap, Mayor. Apakah saya kembali satu jam lagi?"

"Tidak perlu."

Petugas itu menatap Arum yang berdiri di dekat dapur, kemudian memahami tanpa berani menunjukkan ekspresi. Ia memberi instruksi singkat tentang salep, menaruh sarung tangan, lalu pergi.

Arum menunggu pintu tertutup. "Urusan mendadaknya apa?"

Bara membuka kancing atas kausnya. "Ganti perban."

"Itu bukan urusan mendadak."

"Sekarang jadi mendadak."

"Petugas tadi lebih ahli."

"Tangannya kasar."

"Dia memakai sarung tangan."

Bara menatapnya. "Kamu mau membantah sampai malam?"

Arum menyerah. Ia mencuci tangan, mengenakan sarung tangan, lalu berdiri di belakang Bara. Kaus lelaki itu turun sampai pinggang, memperlihatkan punggung yang penuh bekas luka.

Tambalan baru di sisi rusuk tampak mengering, tetapi kulit di sekitarnya masih merah. Arum melepas perban perlahan.

"Kalau sakit, bilang."

"Aku tidak akan bilang."

"Kalau begitu saya akan melihat dari bahu Mayor."

"Apa?"

"Kalau bahunya mengeras, berarti sakit."

Bara tidak menjawab. Ketika kapas menyentuh luka, bahunya menegang persis seperti yang Arum katakan.

"Sakit," simpul Arum.

"Tidak."

"Bohong Mayor juga buruk."

Untuk sesaat, udara di kamar terasa ringan. Lalu Arum membungkuk sedikit untuk mengoleskan salep pada bagian yang sulit dijangkau. Rambutnya meluncur ke satu sisi. Wangi melati menguar di dekat tengkuk Bara.

Napas lelaki itu berhenti.

Arum merasakan perubahan tersebut. Jarinya ikut kaku di atas kasa.

"Kenapa berhenti?" tanya Bara, suaranya lebih rendah.

"Tidak apa-apa."

"Kamu gugup."

"Mayor juga."

Bara menoleh setengah. Jarak wajah mereka hanya selebar bahu. Arum buru-buru menarik tangan dan mengikat perban terakhir.

"Sudah selesai."

Ia keluar membawa kotak obat sebelum Bara melihat pipinya.

Malam itu, Arum tidur di ruang belakang warung Bu Inah dengan selendang ibunya di bawah pipi. Suara hujan tipis memukul atap seng. Setiap kali memejamkan mata, ia melihat jari Bara mengusap motif melati.

Di Blok C-3, Bara berbaring sendirian. Singlet yang baru ditambal terlipat di samping bantal, bukannya disimpan di lemari.

Ia sempat memakainya, lalu melepas kembali karena perban di punggung terasa tertarik. Namun, bukannya melempar kain itu ke keranjang cucian seperti biasa, ia meratakan lipatannya dengan kedua telapak tangan. Motif melati ditempatkan menghadap ke atas, tepat di sisi dadanya.

Ponselnya berbunyi. Seorang ajudan mengirim jadwal latihan esok pagi. Bara membalas singkat, lalu layar kembali gelap.

Rumah itu sunyi seperti malam-malam sebelum Arum datang. Bedanya, kini ada mangkuk yang tersusun rapi di dapur, jahitan putih di sisi bantal, dan wangi melati yang seolah tertinggal di udara.

Satu dinding gang dan beberapa rumah memisahkan mereka.

Namun, pada jam yang sama, keduanya sama-sama terjaga karena sebuah bunga kecil yang dijahit diam-diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!