NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Dasi Biru

Pada pagi hari ketiga, dokter mengizinkanku pulang.

Demam sudah turun dan aku bisa makan tanpa mual, tetapi tubuh masih lemas. Dokter memberi antibiotik yang harus dihabiskan, jadwal kontrol, serta surat istirahat kuliah selama satu minggu.

“Makanan lunak dulu,” katanya. “Banyak minum. Jangan begadang dan hindari tekanan emosi berlebihan.”

Om Bram berdiri di dekat jendela sambil mengetik semua instruksi ke ponsel.

“Antibiotik sesudah makan atau sebelum?”

“Sesudah makan.”

“Kalau demam kembali?”

“Di atas tiga puluh delapan setengah atau ada nyeri perut berat, kembali ke IGD.”

Dia menulisnya satu per satu seperti sedang menerima arahan rapat penting.

Selama dua malam terakhir, dia tidur di sofa kamar rumah sakit. Setiap kali aku terbangun untuk pemeriksaan suhu, lampu kecil di sudut masih menyala dan laptop terbuka di pangkuannya. Kami hampir tidak berbicara. Dia hanya memastikan gelas air terisi dan memanggil perawat ketika infusku terasa sakit.

Pagi ini, lingkaran gelap terlihat di bawah matanya.

“Om pulang saja setelah mengantar aku,” kataku.

“Saya akan kembali bekerja.”

“Tidur dulu.”

Dia menatapku, mungkin terkejut karena setelah semua yang terjadi aku masih peduli. “Saya tahu menjaga diri.”

Aku hampir tertawa. Kalimat itu terdengar sama menyebalkannya ketika keluar dari mulutnya seperti ketika keluar dari mulutku.

Dinda datang membawa pakaian bersih dan mengomel karena aku mencoba memasukkan barang ke tas sendiri.

“Duduk. Kepala kamu masih ada plesternya.”

“Cuma lecet.”

“Lecetnya didapat karena pingsan setelah nggak makan.”

Om Bram menoleh kepadaku. Aku pura-pura memeriksa obat.

Dinda harus pergi mengikuti ujian susulan. Sebelum keluar, dia berbisik, “Jangan bertengkar dulu. Dokter baru bilang hindari emosi.”

Aku tidak berniat bertengkar.

Namun ketika kami tinggal berdua, aku teringat kotak yang kusimpan di bawah bantal.

Hadiah itu kubeli seminggu sebelum ulang tahun Om Bram. Saat itu kami sudah jarang bicara, tetapi aku masih membayangkan bisa datang ke Puri Cendana dan menyerahkannya. Ulang tahunnya berlalu ketika aku sibuk pura-pura tidak peduli.

Aku memilihnya selama hampir satu jam. Penjual menawarkan motif yang lebih mencolok, tetapi Om Bram tidak suka menjadi pusat perhatian di luar pekerjaan. Dasi biru tua itu sederhana, rapi, dan hanya memiliki garis tipis yang terlihat jika terkena cahaya.

Sepanjang minggu aku membawa kotaknya di dalam tas, berharap bertemu secara kebetulan. Setelah pingsan, Dinda menemukannya dan memasukkan ke dalam barang rumah sakit tanpa banyak bertanya.

Aku mengambil kotak kertas sederhana tersebut.

“Om.”

Dia berhenti menutup tas obat. “Apa?”

“Ini terlambat.”

Aku menyerahkan kotak. Om Bram tidak langsung menerimanya.

“Hadiah ulang tahun,” jelasku. “Aku sudah beli sebelum pindah.”

“Sekar...”

“Cuma dasi. Nggak ada maksud lain.”

Itu bohong. Aku memilih warna biru tua karena pernah melihatnya mengenakan warna serupa dan merasa matanya tampak lebih hangat.

Om Bram akhirnya mengambil kotak. Dia membuka penutupnya. Jemarinya menyentuh kain sebentar, lalu berhenti.

“Terima kasih.”

Harapan kecil muncul di dada.

Dia menutup kotak dan mendorongnya kembali ke arahku.

“Tapi Om tidak bisa terus menerima semua ini.”

“Semua apa?”

“Hadiah, pengakuan, dan harapan yang tidak bisa Om balas.”

Aku tidak mengambil kotak itu. “Kalau memang nggak ada rasa, kenapa Om datang malam itu dengan wajah seperti mau pingsan?”

“Karena kamu sakit.”

“Kenapa kamar kosku diisi semua barang yang biasa kupakai?”

“Karena saya bertanggung jawab.”

“Kenapa Om selalu memakai tanggung jawab untuk menyembunyikan semuanya?”

Rahangnya mengeras. “Kita tidak membahas ini sekarang.”

“Om mau pura-pura sampai kapan?”

“Cukup, Sekar.”

“Aku sakit bukan supaya Om datang. Aku bahkan melarang Dinda menelepon.”

“Itu justru masalahnya!” Suaranya meninggi sampai ruangan terasa bergetar. “Kamu tidak makan, demam berhari-hari, lalu jatuh di tangga. Jangan main-main dengan tubuhmu hanya karena ingin membuktikan sesuatu kepada saya!”

Aku membeku.

Selama empat tahun, Om Bram tidak pernah berteriak kepadaku. Bahkan ketika aku memukul Reno, suaranya tetap terkendali.

Dia tampak sama terkejutnya. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

“Aku nggak melakukan itu buat Om,” kataku pelan.

“Lalu untuk apa?”

“Karena makan apa pun rasanya seperti batu.” Mataku panas. “Karena aku malu. Karena orang-orang menonton video itu, dan orang yang paling ingin kubicarakan justru mengusirku dari rumah.”

“Saya tidak mengusirmu.”

“Om bahkan tidak keluar saat aku pergi.”

Wajahnya berubah. “Saya ada di balik pintu.”

“Itu lebih buruk.”

“Kalau saya keluar, kamu akan menganggap setiap perhatian sebagai harapan.”

“Karena Om memang terus memberi perhatian.”

“Saya tidak bisa berhenti memastikan kamu aman.”

“Tapi Om bisa berhenti memperlakukanku seperti orang yang harus dijauhkan dari Om.”

Dia mengusap wajah. Kemarahan di matanya berubah menjadi kelelahan.

“Saya sedang mencoba melakukan hal yang benar.”

“Untuk siapa?”

Dia tidak menjawab. Diamnya terasa seperti pengakuan yang tidak cukup berani untuk memiliki suara.

Keheningan turun.

Om Bram mengambil kotak dasi dan memasukkannya ke tas barangku. “Kita pulang. Kamu perlu istirahat.”

Aku memalingkan wajah agar dia tidak melihat air mata.

POV Bram

Fikri menunggu di lobi dengan kunci mobil. Aku mengambilnya dan meminta dia kembali ke kantor menggunakan kendaraan lain. Sekar tidak mengatakan apa-apa ketika aku membukakan pintu penumpang.

Aku menaruh tasnya di kursi belakang. Saat dia sibuk memasang sabuk pengaman, kotak dasi terlihat dari celah tas.

Aku seharusnya membiarkannya di sana.

Sebaliknya, aku mengambil kotak itu dan menyelipkannya ke bagian terdalam tas kerjaku. Gerakanku cepat, memalukan, dan tidak terlihat olehnya.

Bahkan menolak pun aku tidak mampu melakukannya dengan jujur.

Mobil keluar dari area parkir. Sekar menyandarkan kepala ke jendela dan menatap ke luar. Plester kecil masih menempel di dahinya. Wajahnya pucat.

“Kita ke kos?” tanyaku.

“Iya.”

“Mbok Nah sudah menyiapkan bubur. Deni akan mengantar.”

“Terima kasih.”

“Obat pukul dua siang sudah dipisahkan di kantong depan. Tolong jangan melewatkannya.”

“Aku dengar dokter juga, Om.”

“Saya hanya memastikan.”

Nada formal itu lebih menyakitkan daripada bantahannya di kamar.

Aku ingin meminta maaf karena berteriak, lalu teringat bagaimana tubuhnya terbaring tidak sadar. Ketakutan yang kurasakan berubah menjadi amarah karena amarah lebih mudah kutanggung.

“Sekar.”

Dia tidak menoleh.

“Saya minta maaf sudah meninggikan suara.”

“Nggak apa-apa.”

Jawaban yang diberikan seseorang ketika semuanya jelas tidak baik-baik saja.

Aku membiarkan radio tetap mati. Tak satu pun dari kami mencoba mengisi kesunyian.

Di lampu merah, tanganku menyentuh sisi tas kerja. Kotak dasi berada di balik kulit hitam itu.

Sekar tetap memandang jendela. Aku memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lain tanpa sadar mengusap bagian tas tempat hadiah yang kutolak kini kusembunyikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!